D U A P U L U H L I M A

1015 Words
"Tumben banget akhir-akhir ini lo ngga dianter sama pacar lo? Eh, pacar bukan sih? Udah jadian 'kan?" Ini masih pagi. Jam baru menunjukkan pukul 07.16, tetapi Salma sudah dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan yang membuat mood-nya pagi ini langsung turun. Semalam dia sudah lelah bergelut dengan pikirannya sendiri, membenarkan atas tindakannya pada Ardan dan meyakinkan diri tidak akan menyesal ketika pria itu pergi dari hidupnya. Setelah berhasil mengenyahkan pikiran itu dan tidur dengan nyenyak, paginya Salma harus kembali diingatkan oleh kenyataan itu lewat perantara pertanyaan Aya. "Gue lagi males bahas cowok. Udah minggir sana, gue mau kerja." Aya tak langsung menyerah begitu saja. Perempuan itu malah makin mendekat ke arah Salma, tak peduli wajah Salma yang kini tak lagi enak dipandang. "Kok tumben respon lo kayak gitu, kenapa? Putus, ya?" "Apaan sih, udah sana minggir." "Fix si, Salma putus ini." "Siapa yang putus?" Salma memutar bola mata ketika dari belakang Raja menyahut. Pria itu baru datang dan langsung menghampiri kubikel Salma, bergabung bersama Aya. "Nih, Mrs. Penakluk Pria mau nambah satu lagi koleksi mantannya. Bilang aja putus, pake sok-sokan lagi ngga mood bahas cowok. "Sama cowok yang mana nih?" Salma yang merasa Raja menganggap dia punya banyak cowok dalam satu waktu atau dalam bahasa simpelnya, tukang selingkuh memukul bahu pria itu. "Eh, anjir, sakit Sal! Lo tuh hobi KDRT sama gue ya, dikit-dikit mukul, dikit-dikit ngelempar bolpoin. Merasa teraniaya gue di sini." "Hilih, bacot lo! Gue juga ngga bakal kayak gitu kalo omongan lo itu ada benernya sedikit." "Lah gue salah apa coba?" Raja merasa tidak terima. "Eh, kutu kampret, lo kira gue cewek apaan sampe punya banyak cowok gitu. Nih ya, gue kasih tau. Gini-gini walaupun gue terkenal punya banyak mantan dan koleksi cowok gue banyak, gue masih punya etika. Gue kalo lagi berhubungan sama satu cowok ngga akan ngelirik cowok lain. Sorry to say, gue bukan tukang selingkuh." "Nggih, Ndoro. Siap." Raja sungkem pada Salma membuat Salma makin gemas dengan tingkah laku Raja. Memang ya, rekan kantornya tidak ada satu pun yang waras. Orang serius dikira bercanda, giliran bercanda malah makin bobrok. Sulit, sulit. "Gue turut berduka cita ya Sal, atas kandasnya hubungan elo. Lo kalau butuh bantuan gue buat melampiaskan rasa galau lo, bilang aja. Gue pasti bantu kok." Aya menyalami tangan Salma, entah niatnya baik atau hanya sekedar mengolok-olok Salma, tetapi opsi kedua lebih masuk akal sih, jika yang melakukannya Aya. "Ya elah, Ya, orang modelan Salma mah anti galau-galauan. Prinsipnya itu putus satu tumbuh seribu. Putus sama satu orang ngga ngaruh buat hidup dia, masih banyak stok di gudang." Salma berdeham. Seharusnya yang dikatakan Raja benar adanya. Selama ini siklusnya selalu seperti itu. Salma tidak pernah merasa galau ketika habis putus dari pacar-pacar sebelumnya. Bahkan baginya, putus atau tidak, harinya tetap sama, tidak ada yang berubah. Namun kali ini, semuanya serasa berbeda. Dia merasakan kosong setelah kepergian Ardan dari hidupnya. Padahal jelas-jelas Ardan itu bukan pacarnya, pria itu tak bisa dikategorikan sebagai mantan karena sebelumnya mereka berdua tak punya ikatan. Ardan hanya pria asing di hidupnya, orang yang tidak penting, tak berpengaruh dalam hidupnya. Namun, justru kenyataannya tidak seperti itu, ini berbanding terbalik dengan apa yang logikanya mau. Sisi lain dalam dirinya menolak pernyataan itu, membuat Salma kembali berpikir ulang, apa benar selama ini Ardan hanya satu dari sekian banyak pria yang singgah di hidup Salma dan tidak memiliki arti apa-apa? Ah, semakin dipikirkan, semakin membuat kepala Salma pening. "Woi, Sal! Lo denger ngga sih yang gue bilang tadi?" Raja menepuk pundaknya, menyadarkan Salma dari pikirannya. "Ah, ya, gimana?" "Ngelamunin apa sih, lo? Pantesan diajak ngomong dari tadi cuma diem aja, taunya lagi semedi." "Apaan si, jayus banget lo. Udah sana minggir lo berdua, gue mau kerja, jangan ngumpul di meja gue ntar kalo pak Arga liat dikira gue lagi nyebarin gosip yang engga-engga." "Ah, elah, rajin banget si lo, baru juga setengah delapan njir. Masi ada waktu lah buat ngobrol-ngobrol." "Mata lo masa ada waktu, jam masuk kantor kita itu Kam setengah delapan ege! Udah sana balik ke meja lo, jangan gangguin gue." Mau tidak mau Raja menuruti perintah Salma. Pria itu kembali ke kubikelnya yang berada persis di depan kubikel Salma, sementara Aya duduk di sampingnya, tepatnya kubikel perempuan itu berada di sampingnya kirinya persis. "Tumben banget jam segini Mbak Ana belum dateng, kenapa ya?" Raja mengangkat bahu. "Entah, kena macet kali." Iya juga ya, tumben sekali Mbak Ana jam segini belum datang, padahal biasanya ibu dua anak itu selalu jadi yang pertama datang di antara mereka berempat. "Coba gue telpon dulu deh," inisiatif Salma. Salma sudah menghubungi nomor Mbak Ana berkali-kali, tetapi hasilnya nihil, jawaban yang didapatnya hanya suara dari mbak-mbak operator yang suaranya berulang seperti kaset rusak. "Gimana?" tanya Raja memastikan. Salma menggeleng. "Ngga aktif nomernya. Kemana ya dia?" "Udah, ngga usah dipikirin, paling sepuluh atau lima belas menit lagi juga dateng kok." Aya mencoba menenangkan Salma, tetap berpikir positif. "Tapi firasat gue ngga enak Ya, kalau terjadi apa-apa sama Mbak Ana gimana? Gue jadi khawatir sama dia." "Ya amit-amit lah! Lo jangan gitu. Positif thingking aja." Pada akhirnya Salma memutuskan untuk menuruti perkataan Aya untuk tetap berpikir positif. Dia mencoba mengalihkan pikirannya pada pekerjaan yang terlihat menumpuk di depannya. Melihatnya saja sudah membuat Salma sesak rasanya. Saat sedang fokus mengetikkan sesuatu di layar komputernya ponsel Salma bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Salma meraih benda pipih itu, mendapati nama mbak Ana menari-nari di atas layar ponselnya, memulai sebuah panggilan. Salma menggeser ikon hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan dari mbak Ana. "Halo, Mbak? Kenapa?" "..." "Iya, saya teman kantornya, kenapa ya? Kok bisa HP temen saya ada di Bapak? Temen saya di mana?" Salma mencecar suara di seberang teleponnya dengan berbagai pertanyaan membuat Raja dan Aya yang tadinya fokus dengan pekerjaan masing-masing jadi melirik kepo." "..." "Hah?! Kecelakaan? Dimana?" Kali ini Aya dan Raja bangkit dari kursinya, menghampiri kubikel Salma. "Iya, iya, baik saya akan hubungin keluarganya." Panggilan di seberang telepon diputus. Aya dan Raja langsung mencecar Salma dengan berbagai pertanyaan. "Mbak Ana kecelakaan, gue juga ngga tau cerita detailnya. Yang penting sekarang kita harus hubungin suaminya. Mbak Ana butuh suaminya." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD