Pada akhirnya Salma berada di rumah sakit setelah dikabari oleh orang yang membawa mbak Ana ke rumah sakit bahwa suaminya tidak bisa datang sementara mbak Ana perlu penanganan lebih lanjut dan butuh tanda tangan pihak terdekatnya.
Salma berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kamar tempat mbak Ana dirawat. Kamar mbak Ana berada di ujung lorong membuat perjalanan Salma menuju ke sana membutuhkan waktu. Untuk itulah dia mempercepat langkahnya agar cepat sampai di sana. Dia khawatir dengan keadaan mbak Ana dan tidak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada perempuan itu.
Di ujung lorong terlihat dua orang berdiri di depan ruang rawat mbak Ana, sepertinya itu orang yang menolong mbak Ana dan menghubunginya tadi.
"Permisi, ini benar ruangan atas nama Ana bukan ya?"
"Oh iya benar, Bu Salma ya?" salah satu pria yang sepertinya tadi menghubungi Salma berbicara kemudian mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
Salma menerima uluran tangan pria di depannya. "Iya benar saya Salma."
"Oh iya Bu, kenalin saya Rehan. Silakan langsung masuk saja Bu, sudah ditunggu sama dokter."
"Baik, saya duluan ya."
"Iya Bu."
Salma masuk ke dalam kamar rawat inap. Di sana sudah ada dokter dan satu orang yang sedang berbincang dengan dokter. Salma tidak bisa melihat wajah orang itu karena posisinya memunggungi Salma.
"Permisi."
Salma memutus obrolan, membuat seseorang itu berbalik, memperlihatkan wajahnya. Jantung Salma hampir saja berhenti berdetak ketika melihat wajah orang itu. Sudah seminggu dia tidak melihat wajah itu. Wajah yang mungkin saja Salma rindukan. Salma terbiasa melihat wajah itu minimal satu kali dalam sehari, tetapi ketika seminggu ini wajah itu tak terlihat, jujur saja ada ruang dalam hatinya yang merasakan kekosongan.
"Ardan?"
Sama halnya dengan Salma, Ardan juga sama terkejutnya dengan perempuan itu.
"Hai."
Dari sekian banyak kata yang ada, Salma heran kenapa yang keluar dari bibir Ardan hanya kata hai? Oh, ayolah itu membuat pria di depannya terlihat konyol.
"Ini Bu Salma yang bertanggung jawab atas pasien ya?" Dokter menghampiri Salma, mengalihkan atensi Salma dari Ardan.
"Iya benar, Dok. Saya sendiri."
"Mari Bu, saya antarkan untuk menandatangani berkas-berkas yang perlu ditandatangani."
Salma mengikuti dokter untuk menandatangani proses penanganan lebih lanjut mengenai kondisi mbak Ana. Setelah menandatangani berkas yang perlu ditandatangani, dokter melakukan tugasnya. Sementara Salma duduk di ruang tunggu, menunggu sampai dokter keluar dan menyampaikan hasilnya.
Kursi di samping Salma berderit. Seorang pria yang sudah Salma kenal betul menghampirinya dan duduk di sampingnya.
Ardan berdehem pelan untuk menyingkirkan suasana canggung di antara mereka kemudian melemparkan pertanyaan basa-basi pada Salma. "Orang yang di dalem itu temen kamu?"
"Iya, temen kantor gue."
Ardan mengangguk-angguk mengerti.
"Lo kenapa bisa ada di sini?" Kini giliran Salma yang bertanya.
"Oh, tadi itu aku lagi dalam perjalanan meeting sama karyawanku, ngga sengaja di jalan liat orang kecelakaan, jadi kita bantu buat bawa korban ke rumah sakit. Aku ngga tau sih, kalau salah satu karyawanku menghubungi kamu, tadi soalnya aku fokus sama keadaan korban yang emang ngga bisa dibilang cuma luka ringan."
Salma mengangguk mendengar penjelasan Ardan. Setelahnya diam menyelimuti mereka berdua. Seakan mereka kehabisan kata untuk memulai percakapan, padahal ada banyak sekali yang mengganjal di hati yang ingin diutarakan, tetapi hal tersebut seakan hanya berakhir di tenggorokan, tak bisa tersampaikan.
"Kamu ... Apa kabar?" Setelah diam yang cukup lama, akhirnya Ardan memulai perbincangan. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, dia sungguh-sungguh menanyakan kabar Salma. Pertanyaan itu bukan hanya sekedar basa-basi belaka. Dia penasaran dengan keadaan Salma seminggu pasca mereka memutuskan tak bertemu. Ah, lebih tepatnya Ardan yang berhenti menemui Salma dan menghilang dari hidup perempuan itu.
"As you see. I'm fine. Lo sendiri gimana?"
"Mau jawaban jujur atau bohong?"
Salma mengernyit. "Kenapa harus ada dua jawaban?"
"Karena manusia itu nggak cuma dilihat dari satu sisi. Dia harus dilihat dari dua sisi. Satu sisi otak dan satu lagi sisi hati. Logika dan hati selalu berjalan beriringan, kebanyakan dari mereka memiliki hal yang bertolak belakang."
"Oke. Gue pilih jawaban jujur."
"My life not fine without you."
Oke. Salma hampir tersedak ludah sendiri mendengar pengakuan Ardan. Terlalu mengejutkan memang, tapi dia bisa mengendalikan mimik mukanya agar tak terlalu kentara diperlihatkan.
"Kalau jawaban bohong?"
"Aku menjalani hidupku dengan baik. Pagi disibukkan dengan kegiatan kantor, setelah itu pulang dan melewati malam dengan tidur yang nyenyak. Semuanya berjalan lancar."
Salma tertawa. "Oke, jadi di antara jawaban jujur dan bohong yang lo sebut tadi, mana yang merupakan jawaban dari hati lo?"
"Tentu saja jawaban jujur. Hati ngga pernah bohong buat mengakui kalau duniaku ngga baik-baik aja selama seminggu ini tanpa kamu. Aku menahan mati-matian rindu yang datang setiap malam ketika menjelang tidur. Rasanya aku hampir dibuat gila seperti orang pesakitan ketika otak dan hati ini bergelut setiap harinya. Pilihan untuk tetap berada di garis amanku atau memenuhi rinduku buat nemuin kamu. Rasanya sulit."
Salma memilih tak menjawab. Dia hanya diam saja ketika dengan gamblang Ardan menyatakan perasaan padanya. Dari dulu memang seperti itu, Ardan yang akan bergerak mendekat ke arah Salma, sementara perempuan itu hanya diam, menunggu untuk didatangi.
"Jadi, setelah ini apa yang mau lo lakuin?"
"Apa?"
"Setelah lo ngungkapin apa yang lo rasa ke elo, apa yang mau lo lakuin?"
Ardan mengangkat bahu. "Nothing. Karena aku bilang gini pure karena aku pengin ngungkapin ke kamu supaya lebih lega dan aku ngga berharap apa-apa dengan pernyataan ini. Tenang aja, jangan jadiin kata yang keluar dari mulutku tadi beban buat kamu. Kamu ngga perlu merasa terbebani dengan perasaanku. Semua itu biar jadi tanggung jawabku."
Salma mengerti maksud Ardan. Harusnya dia merasa lega atau setidaknya senang dengan pernyataan Ardan. Itu artinya dia berhasil menyingkirkan pria yang menuntut hubungan serius dengannya. Dia bisa terbebas dari hubungan yang membawanya ke arah lebih serius dan mengikuti prinsip awalnya untuk tidak menikah. Seharusnya seperti itu, tetapi seperti ada yang salah dengan pernyataan Ardan yang membuat Salma justru merasakan sebaliknya. Dia tidak senang sama sekali, justru dadanya sesak mendengar hal itu. Kalau yang dikatakan Ardan benar adanya itu berarti setelah pertemuan mereka ini, Ardan tidak akan kembali bersikap seperti semula. Dia akan menjalani hidupnya tanpa Salma, tak lagi mengejar perempuan itu. Membiarkan Salma dengan zona nyamannya, tak lagi mengusik kehidupan perempuan itu. Harusnya Salma merasa senang, tetapi kenapa dia tidak merasakan hal itu?
***