D U A P U L U H T U J U H

1036 Words
"Kamu mau langsung pulang?" Ardan mengantarkan Salma sampai ke halaman depan rumah sakit setelah urusan soal mbak Ana selesai. Sebenarnya urusan Ardan selesai sampai pihak terdekat pasien datang, tetapi pria itu sengaja menemani Salma selesai dengan urusannya baru dia bisa pulang dengan tenang. "Iya, gue harus balik ke kantor. Kerjaan gue udah numpuk soalnya." "Oh, gitu. Kalo gitu hati-hati, ya." "Lo sendiri, langsung balik kantor?" "Iya." "Lo ... ngga ada niat ngajak gue keluar makan siang gitu?" Oke, Salma tolong, ini benar-benar memalukan! Sungguh! Salma tidak tau kenapa kata itu bisa keluar dari mulutnya. Refleks bibirnya yang tidak bisa dikontrol membuat dia mengeluarkan kata yang ada dipikirannya tanpa disaring lagi. Ardan di depannya memandang Salma dengan raut wajah terkejut. Tentu saja, bagaimana tidak? Bahkan perempuan di depannya tadi bilang bahwa dia harus segera kembali ke kantor karena pekerjaannya. Tidak sampai satu menit perempuan di depannya malah seolah menawarkan dia untuk makan siang bersama. Berkebalikan dengan apa yang disampaikannya tadi. "Hah? Gimana tadi maksudnya?" Salma yang sudah kepalang malu memalingkan wajah. Dia terbiasa melakukan hal yang memalukan di depan orang banyak, tetapi itu tidak sebanding dengan apa yang dikatakannya pada Ardan barusan. Dia lebih memilih menukar semua keberuntungan dalam hidupnya untuk menarik kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi. "Ngga. Bukan apa-apa kok." "Aku kira kamu sibuk jadi ngga enak aja mau ajak keluar, tapi semisal aku ajak keluar emang kamu mau?" Salma hanya diam. Lidahnya kelu hanya untuk menjawab pertanyaan Ardan. Terdengan simpel memang pertanyaan pria itu, tetapi itu menentukan harga dirinya. Mau bilang iya, gengsi. Mau bilang tidak, tapi dia ingin. Sudah seminggu dia tidak mengobrol banyak dengan pria ini, menghabiskan waktu sekedar mengobrol obrolan tidak penting, tetapi menyenangkan. Jujur saja di dalam lubuk hati Salma yang paling dalam, dia merindukan momen-momen itu, tetapi gengsinya terlalu tinggi untuk mengakuinya, bahkan pada dirinya sendiri. Itulah seringkali terjadi banyak penyangkalan-penyangkalan antara logika dan hati Salma hingga dia bingung sendiri ingin mengikuti nalar atau logika. "Why not? Gue kan ngga punya masalah apa-apa sama lo, kenapa harus ngga mau kalo diajak keluar?" Ardan tersenyum mendengar jawaban Salma. "Kalo gitu, kamu ada waktu luang kapan? Jam makan siang kantor kamu juga udah mau lewat. Gimana kalau makan malam aja? Nanti aku jemput di kantor kamu." Salma mengangguk. Dia berusaha keras mengontrol wajahnya agar tidak kentara terlalu senang. Image-nya bisa rusak di depan Ardan kalau hal itu sampai terjadi. "Oke. Boleh aja kalo lo ngga keberatan. Tapi gue bawa mobil hari ini, biar ngga repot gimana kalau kita langsung ketemuan aja di sana? "Oke. See you nanti malem. Nanti aku kabarin lagi tempat makannya, biar aku share location ke kamu." "Oke." Setelah itu mereka berpisah menuju kantor masing-masing dengan membawa mobil sendiri. Salma masing berusaha menormalkan detak jantungnya ketika dia berhasil mendudukan diri di kursi mobilnya. Ternyata sedahsyat ini efek diajak makan oleh Ardan. Kenapa? Padahal Salma biasa mendapat tawaran makan malam bersama laki-laki lain, tetapi efeknya tidak sedahsyat ini. Hanya karena seorang Ardan Pramudya, dapat memberikan rasa yang berbeda dari apa yang pernah dirasakan Salma bersama orang lain. Kenapa begitu? Sebenarnya apa yang terjadi pada Salma hingga dia bisa merasakan hal aneh ini? *** Salma membereskan barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Sebelum pulang dia menyempatkan diri untuk touch up. Dia bahkan me-remake tatanan rambutnya agar tampak berbeda dari tampilannya tadi pagi. Entah kenapa dia ingin terlihat menarik di depan Ardan. Walaupun mungkin dia memang sudah menarik di mata pria itu, tetapi tetap saja, hari ini ada first time dia bertemu lagi dengan pria itu. Dia ingin ada sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya. Setelah selesai dengan penampilannya kemudian terakhir mematut dirinya di depan cermin, Salma berbalik keluar dari toilet menuju tempat parkir kantornya yang ada di basemen bawah. Dia melajukan mobilnya menuju tempat yang di-share location oleh Ardan. Tempatnya memang tidak jauh dari kantornya, tetapi karena ini merupakan jam pulang kantor berjamaah, jadilah Salma harus bersabar terjebak di tengah-tengah kemacetan. Salma Pangesti : Gue kayaknya bakal telat deh, soalnya ini masih kejebak macet. Ardan Pramudya : Oke, ngga papa. Salma Pangesti : Lo udah di sana? Ardan Pramudya : Udah ini, baru sampe. Salma Pangesti : Sori banget ya, kalo nanti harus nunggu lama. Ardan Pramudya : It's okay, aku bisa nunggu kok. Setelah itu Salma fokus pada jalan di depannya dan berusaha menembus kemacetan kota. Butuh sekitar 45 menit untuk Salma sampai di tempat tujuan. Padahal jika dalam keadaan normal, jarak tempuh ke tempat ini hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit saja. Salma memasuki restoran tempat dia dan Ardan membuat janji temu. Dia menyebutkan nama Ardan yang telah me-reservasi tempat itu terlebih dahulu pada pegawai restoran. Setelah itu dirinya ditunjukkan meja tempat Ardan berada. "Terima kasih, ya Mbak," ucap Salma pada pegawai itu yang dibalas dengan senyuman lebar. Salma mengikuti arah petunjuk pegawai restoran dan menemukan Ardan yang sedang duduk di antara ramainya pengunjung di restoran itu. Namun, tunggu! Kenapa ada orang lain yang menduduki tempat yang seharusnya menjadi tempat duduknya. Siapa orang itu? Dilihat dari belakang, sudah jelas kalau itu adalah seorang perempuan. Pertanyaannya siapa perempuan itu dan mengapa dia bisa berada di situ. Salma memutuskan menghampiri mereka berdua. Berjalan seolah tak tahu apa-apa dan menyapa pria itu ketika sampai di depan Ardan. "Hai, sori ya nunggu lama," sapa Salma. "Iya ngga papa kok," jawab Ardan Salma beralih menatap perempuan itu, seseorang yang menempati kursinya. Salma sengaja memasang wajah pura-pura tak tahu lalu menanyakan lewat tatapan mata pada Ardan. "Oh iya, kenalin Sal, ini Aghni, adik temen aku. Kebetulan tadi kami ketemu jadi sekalian aku ajak ngobrol dia di sini sambil nunggu kamu. Aghni, ini Salma temen sekaligus konsultan pajak kantorku. Jadi Salma ini yang nanganin perusahaan aku terkait permasalahan dan perencanaan perpajakan." Perempuan bernama Aghni itu tersenyum ramah pada Salma, mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. "Kenalin saya, Aghni." "Salma." "Ya udah, Mas, kalo gitu saya permisi dulu. Have fun sama temennya." Setelahnya Aghni pergi, meninggalkan Salma dan Ardan berdua. Namun, ada yang mengganjal sejak Ardan memperkenalkan dirinya pada Aghni. Kata teman yang disematkan Ardan pada Salma tadi sangat menggangu indera pendengaran Salma. Hal itu memang tidak salah. Ardan memang tidak punya hubungan khusus dengan Salma, hubungan mereka tidak salah jika disebut teman, tetapi kenapa Salma justru aneh dan tidak senang dengan panggilan itu? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD