Prolog
Malam yang seharusnya Keyra lewati seperti malam-malam sebelumnya. Pulang, makan, dan tidur di kost-nya yang nyaman justru menjadi malam paling menakutkan bagi Keyra.
Tentang tangan-tangan kasar yang menyeretnya ke dalam gelap. Tentang napas yang tercekat karena mulutnya dibekap. Dan tentang tatapan menjijikkan yang membuat tubuhnya gemetar tanpa kendali.
Keyra masih mengingat semuanya dengan terlalu jelas. Dimana langkahnya yang tergesa menuju parkiran. Suasana sepi yang terasa salah. Lalu… mereka hadir menyergapnya.
Empat pria.
Dan dunia yang seketika berubah menjadi mimpi buruk.
Keyra melawan, memberontak, namun tenaganya tak sebanding. Ketakutan merambat, menggerogoti keberaniannya sedikit demi sedikit hingga akhirnya ia hampir menyerah, pasrah.
Sampai pria itu datang. Seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Tanpa banyak bicara, tanpa ragu, ia menghajar mereka satu per satu. Suaranya dingin. Gerakannya tegas. Dalam hitungan menit, semuanya berakhir menyisakan tubuh-tubuh yang terkapar dan napas Keyra yang tersengal.
Untuk pertama kalinya malam itu, Keyra merasa aman. Namun yang Keyra tidak pernah siap hadapi adalah apa yang terjadi setelahnya.
Di antara sisa ketakutan dan tubuh yang masih gemetar, ia berpegang pada pria itu seolah hanya itu satu-satunya hal yang nyata. Jarak yang seharusnya ada… lenyap begitu saja. Napas mereka bertaut dalam jarak yang terlalu dekat. Tatapan yang seharusnya dihindari justru saling mencari.
Ia seharusnya melepaskan. Keyra seharusnya menjauh. Namun tidak ada yang melakukannya.
Ada garis yang samar dan malam itu, mereka hampir, atau mungkin sudah, melangkah melewatinya.
Tanpa nama. Tanpa janji. Tanpa keberanian untuk mengakuinya.
Hanya kesalahan yang lahir dari ketakutan dan sesuatu yang lebih berbahaya dari itu.
Perasaan.
Hal terakhir yang diingat Keyra sebelum kesadarannya runtuh adalah sentuhan pria itu yang masih tertinggal, dan suaranya yang tetap tenang seolah apa yang baru saja terjadi di antara mereka tidak pernah ada.
Namun bagi Keyra, semuanya berubah sejak saat itu.
Karena di malam paling buruk dalam hidupnya, ia tidak hanya diselamatkan tapi ia juga kehilangan sesuatu yang tak bisa ia minta kembali.
Dan bertahun-tahun kemudian, Keyra menyadari satu hal yang jauh lebih kejam. Pria yang menjadi dosanya malam itu adalah pria yang kini berdiri di sisi kakaknya. Pria yang digenggam tangannya dengan penuh kebanggaan.
Dan diperkenalkan pada dunia dengan satu sebutan sederhana,
“Suamiku.”