bc

Kontrak Ranjang Dengan Pengacara Dingin

book_age18+
31
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
contract marriage
family
HE
fated
forced
kickass heroine
heir/heiress
drama
tragedy
lighthearted
bold
city
cheating
lies
rejected
secrets
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Blurb

SLOW BURN ROMANCE! ALUR LAMBAT, BUAT YANG GAK SABARAN, BISA SKIP.

Evelyn Hutama terpaksa menyeret Edric Santoso ke dalam sebuah pernikahan dengan berpura-pura hamil anak pria itu, demi lolos dari fitnah yang menghancurkan hidupnya.

Karena merasa ditipu, Edric membalas kebohongan itu dengan kontrak pernikahan yang merugikan Evelyn. Di depan semua orang mereka akan terlihat seperti pasangan sempurna, tapi di belakang layar, mereka hanya dua orang asing yang terikat di ranjang tanpa cinta.

Semua hubungan menjadi rumit saat kekasih Edric kembali dari luar negeri dan menuntut janji pernikahan yang pernah terucap.

chap-preview
Free preview
Chapter 1. Kontrak di Malam Pertama
"Pelan, Edric ... sakit ...," rintih Evelyn yang malam itu berada dalam kungkungan pria yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya. Air mata wanita berusia 28 tahun itu tak mampu terbendung seiring dengan hentakan kuat Edric Santoso. Kedua tangannya yang berkuku panjang mencakar punggung kekar pria itu sebagai pelampiasan rasa perih pada inti tubuhnya. Akan tetapi, Edric sama sekali tak menghiraukan rintihan kesakitan sang istri. Ia memperlakukan istrinya dengan kasar, menjadikannya pelampiasan amarah yang terpendam. Bukan tanpa alasan ia bertindak demikian. Semua itu ia lakukan karena Evelyn telah menipunya, hingga membuatnya terjebak dalam pernikahan yang tak pernah ia inginkan. "Nikmati rasa sakitmu, Evelyn! Rasa sakit yang kamu terima ini tak sebanding dengan sakit hati yang aku rasakan," geramnya tertahan, masih dengan gerakan kasar yang tak memberi jeda. Suara desahan dan rintihan bercampur, mengisi malam panas yang penuh ketegangan. Hingga beberapa saat kemudian, tubuh Edric menegang sesaat sebelum akhirnya menyemburkan cairan hangat ke dalam rahim Evelyn. Setelah itu, ia bangkit dari atas tubuh sang istri, lalu memungut celana yang tergeletak di lantai dan mengenakannya dengan gerakan cepat tanpa menoleh. Evelyn segera menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya. Ia menyandarkan diri pada kepala ranjang, sementara isakan lirih masih terdengar, memenuhi kamar pengantin tersebut. Wanita itu hanya memerhatikan pergerakan sang suami dalam diam. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah map dijatuhkan kasar ke atas pangkuannya. "Segera tanda tangani! Aku ingin mengakhiri pernikahan yang menjijikkan ini secepatnya," kata Edric dengan nada dingin. Evelyn membuka berkas tersebut dengan tangan gemetar. Mata yang semula memerah karena tangis, kini berubah diselimuti amarah saat membaca isi surat tersebut. Perjanjian Kontrak Pernikahan. Di bawahnya, tertera nama Edric Santoso sebagai pihak pertama dan namanya sebagai pihak kedua. Seketika, tatapan nyalang ia layangkan ke arah pria yang masih berdiri angkuh di hadapannya. "Apa ini, Edric? Kamu anggap pernikahan ini hanya permainan?" geramnya tertahan. Namun, Edric justru membalas dengan senyuman sinis. "Sejak awal ini memang sebuah permainan, bahkan kamu yang memulainya." Edric melangkah mendekati ranjang, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh Evelyn dengan kasar. "Bagaimana jadinya kalau bercak darah ini aku tunjukkan pada semua orang? Nama baikmu yang sudah hancur itu akan semakin buruk di mata mereka. Semua orang akan tahu kalau kamu cuma hamil palsu. Kamu gak pernah hamil anakku dan kamu menjebakku!" teriaknya di akhir kalimat sambil menunjuk wajah sang istri. Evelyn tertegun masih dengan tubuh yang terbalut selimut seadanya. Tatapan penuh amarah yang sempat menyala kini perlahan memudar menjadi tatapan kosong. Tangannya meremas kuat selimut dalam dekapannya. Edric benar, pernikahan ini memang ia yang memulainya. Semua masalah ini bermula di malam pernikahan kakak sulungnya, Nathalia Wijaya. Waktu itu, Adrian–kakak keduanya menyebarkan sebuah fitnah tak berdasar, yang menuduhnya menggoda suami Nathalia. Tuduhan itu dilontarkan tanpa ragu, bahkan menyertakan bukti-bukti berupa foto kebersamaannya dengan sang kakak ipar yang tengah tidur bersama di sebuah hotel. Semua potret mesra itu terlihat nyata, padahal ia sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan kakak iparnya. Dan bukti tersebut cukup untuk menghancurkan reputasi Evelyn dalam sekejap. Nathalia yang biasanya selalu memercayainya pun ikut terhasut oleh tudingan itu. Ia terus menangis sambil memaki dirinya. Sementara anggota keluarga lainnya memandang Evelyn dengan jijik, seolah ia benar-benar w*************a. Evelyn berkali-kali mencoba membela diri. Namun, tidak ada seorang pun yang mau percaya atau pun sekadar mendengar pembelaannya. Ia sendirian. Benar-benar sendirian seperti terdakwa tanpa pembela. Sampai akhirnya, dalam keputusasaan, ia melakukan satu hal yang tidak pernah ia rencanakan sebelumnya. Ia mengaku hamil anak Edric Santoso. Detik itu juga, Keluarga Wijaya langsung gempar. Edric Santoso adalah bagian dari keluarga yang selama ini menjadi rival mereka. Dalam sekejap, arah tuduhan berubah. Evelyn bukan lagi sekadar penggoda suami kakaknya, tapi berbalik arah dianggap sebagai pengkhianat keluarga yang berani menjalin hubungan dengan keluarga musuh. Namun, Evelyn tidak peduli dengan tuduhan itu. Baginya, ini adalah satu-satunya jalan keluar. Dengan menyeret Edric ke dalam masalahnya, ia punya kesempatan untuk keluar dari neraka itu. Sampai akhirnya, terjadilah pernikahan ini. Pernikahan yang dianggap sangat menjijikkan oleh Edric. "Baca dan pahami isi perjanjian itu! Setelah itu segera tanda tangani, kalau kamu masih ingin pernikahan ini berlanjut!" Suara Edric kembali menggema memecah keheningan kamar, yang berhasil menarik paksa kesadaran Evelyn. Evelyn menuruti permintaan pria itu. Dengan saksama, ia membaca poin demi poin yang tertera di dalam surat perjanjian itu. Semakin dipahami, isi perjanjian itu terasa seperti jerat tambang mengikatnya. Ia diwajibkan untuk tidak mencampuri urusan pribadi Edric, dalam bentuk apa pun. Di hadapan semua orang, mereka harus bersikap seperti pasangan suami istri yang harmonis. Tidak boleh ada celah yang menimbulkan kecurigaan. Namun, di belakang layar, mereka harus bersikap layaknya orang asing yang tidak saling mengenal. Pernikahan mereka akan otomatis berakhir jika Renata, wanita yang dicintai Edric sewaktu-waktu kembali dari luar negeri. Satu poin yang berhasil menyita perhatian Evelyn. Ia diwajibkan untuk siap melayani Edric di ranjang kapan pun pria itu menginginkannya, tanpa boleh menolak. Ia tertegun saat membaca bagian itu. “Wajib melayanimu di ranjang kapan pun kamu menginginkannya.” Suaranya terdengar bergetar mengulang salah satu poin perjanjian itu. “Ini gak adil.” Evelyn mendongak menatap nyalang suaminya. Edric tertawa kecil, tanpa rasa bersalah. “Pernikahan ini dari awal juga gak adil untukku, Evelyn. Asal kamu tahu ... beberapa bulan lagi aku akan menikah dengan kekasihku, dan gara-gara kamu ... rencana itu harus tertunda!" Evelyn terdiam di tempat dengan bibir terkatup rapat. Ia seakan kehabisan kata-kata untuk membela. “Tapi semua aturan ini cuma nguntungin kamu.” Ia memberanikan diri untuk memprotes. “Gak semuanya,'' timpal Edric cepat, ''Kamu tetap dapat keuntungan, berupa status, perlindungan, dan reputasimu.” Evelyn yang merasa kesal melemparkan berkas yang masih terbuka itu ke atas kasur. "Aku gak mau tanda tangan! Aku gak mau dirugikan." Tolaknya tegas. Penolakan itu berhasil membangkitkan amarah dalam diri Edric. Pria itu dengan cepat mendekati sang istri, lalu mencengkeram kuat kedua pipinya menggunakan satu tangan. "Kalau gak mau menandatangani perjanjian ini ... aku akan menuntutmu," ancamnya dengan suara rendah yang terdengar mengerikan. "Di sini kamu yang bersalah ... kamu menipuku," lanjut Edric dengan suara lebih rendah, "Aku bisa menuntutmu dengan pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Dan kamu akan mendekam di dalam penjara." Kedua mata Evelyn membola sempurna mendengar ancaman itu. Ia langsung menggeleng keras disertai kepanikan yang tergambar jelas di wajahnya. Ia tak ingin masalah ini sampai masuk ke ranah hukum. Ancaman itu bukan sekadar gertakan. Jika Edric yang mengatakan, maka itu bisa menjadi kenyataan. Sebagai seorang pengacara akan sangat mudah bagi Edric untuk menjerat Evelyn, bahkan menyeretnya ke balik jeruji besi. Ini masalah pribadi. Ia tak ingin semuanya menjadi semakin rumit. "E-Edric, tenang, ya ... tolong, jangan bawa-bawa hukum. Kita selesaikan baik-baik," ucapnya terbata, dengan sorot ketakutan yang tergambar jelas di matanya. "Cara menyelesaikannya cuma satu ... tanda tangani kontrak pernikahan itu." Edric menekan paksa berkas yang sempat dibuang ke tangan Evelyn. Setelah itu, ia berdiri dan menghempaskan kasar wajah wanita itu hingga tertoleh ke samping. Evelyn menatap nanar berkas di tangannya. Tangannya sudah tergerak ingin membubuhkan tanda tangan. Namun, kembali terhenti saat terbesit sebuah ide di otaknya. Tanpa meminta persetujuan Edric, wanita itu menambahkan satu poin pada bagian terakhir dalam perjanjian itu dengan tulisan tangannya. Jika pihak pertama telah jatuh cinta lebih dulu pada pihak kedua sebelum waktu yang ditentukan. Maka semua kesepakatan yang tertulis di dalam surat perjanjian ini otomatis batal. Setelah menuliskan poin terakhir tersebut, tangannya dengan ringan menggoreskan tinta pada bagian bermaterai yang tertera namanya. Setelah menandatangani surat perjanjian tersebut, Evelyn segera menyerahkan berkas tersebut pada suaminya dengan senyum terkembang. Edric merebut kasar berkas yang diberikan. Ia penasaran dengan apa yang ditulis Evelyn pada surat perjanjiannya. Dan detik itu juga rahangnya mengeras dan menunjuk tegas ke wajah istrinya. "Berani-beraninya kamu–" "Apa? Ini perjanjian kita berdua ... bukan kamu saja yang berhak menuliskan kesepakatan di dalamnya." Evelyn menurunkan pelan telunjuk sang suami yang berada tepat di depan wajahnya. Edric mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah yang nyaris meledak. “Kamu pikir aku akan jatuh cinta sama penipu sepertimu?” Suaranya terdengar rendah penuh ejekan. Evelyn tersenyum tipis mendengarnya. "Jangan terlalu benci. Ingat! Kebencian bisa jadi cinta."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
718.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
956.4K
bc

A Warrior's Second Chance

read
345.4K
bc

Not just, the Beta

read
341.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook