Malam semakin pekat ketika Ayu tak juga mau terpejam, padahal tubuhnya kelelahan usai menemani anak lelaki Lindu bermain seharian. Matanya tertuju pada pemandangan di luar jendela, ia menatap tanpa batas seolah-olah ada yang ditunggu di luar sana. Hatinya juga tak bisa berbohong jika tabib itu mulai merindukan seseorang. “Harusnya aku tak menyamar sebagai lelaki. Lalu bertemu dengannya. Semuanya jadi runyam sekarang,” ujarnya sembari menahan dingin yang mulai merasuki kulitnya. Wanita itu memandang kedua telapak tangannya. Dulu, Bima menggenggamnya terlampau erat, sampai-sampai Ayu terpaksa harus melepaskan diri dari belenggu itu. Namun, kini ia yang merasa hampa. “Perasaan tak tahu diri,” gumamnya ketika ia mengingat sentuhan itu lagi, “Aku harus cepat pergi dari sini. Mata Lindu su

