Setiap sebentar Ayu menunggang kuda, ia selalu menoleh ke belakang. Ia merasa ada yang mengikutinya dari tadi. Terbukti dari beberapa pepohonan yang dahannya senantiasa bergerak tanpa ada angin yang bertiup. Belum lagi suara siulan yang memantul dari satu dahan ke dahan lainnya. “Seram sekali tempat ini,” gumamnya perlahan. Bahkan bulu kuduknya lebih merinding daripada ketika ia memasuki gua kegelapan tempat lelaki c***l tempo hari meregang nyawa. Suara deheman membuat Ayu semakin waspada, tak salah lagi memang ada yang mengikutinya. Entah berniat baik atau buruk ia pun tak tahu. Wanita itu tak membawa senjata apa pun. Hanya tangan kosong saja yang menjadi andalannya. Suara tawa lelaki memantul kembali di telinganya, detak jantung Ayu semakin terpacu. Ia melihat memutar ke atas langit

