Bima memandang wajahnya di cermin. Ada beberapa bekas luka di sana. Namun, hal demikian justru semakin menambah kesan bahwa ia sangat jantan, dan panglima muda itu bukanlah lawan yang bisa dianggap enteng oleh musuh. Ia terpaku melihat matanya sendiri, kemudian teringat dengan tatapan muda lelaki yang mengaku bernama Suta. Bima menggeleng perlahan. “Rasa-rasanya tatapan mata sejahat itu hanya dimiliki oleh wanita saja. Tatapan mata yang sanggup mencuri akal sehat dan kekuatanmu.” Bima menampar wajahnya, ia menyadarkan diri sendiri bahwa masih banyak wanita yang bisa ia sukai daripada lelaki. “Jaga kehormatan keluarga, menyukai lelaki berarti mencari mati saja. Aku bisa dihukum kaki dan tangan diikat oleh kuda lalu ditarik terpisah dan dibuang begitu saja di tepi jurang.” Lelaki itu ber

