“Menyelinap?” tanya Ayu pada lelaki yang sedang berdiri di antara para bawahannya. “Benar. Kita berangkat sekarang!” Bima melompat ke kudanya diikuti dengan beberapa pasukannya yang lain. Mereka menambatkan tunggangan sedikit jauh dari wilayah perbatasan. Beberapa di antara pasukan mengendap-endap. Salah satunya berhasil menangkap prajurit Kerajaan Panungkaran. Namun, lelaki itu tak mau membuka mulutnya. Ia lebih memilih menghabisi hidupnya sendiri dengan meminum racun. Terlambat bagi Ayu untuk menyelamatkannya. “Salah satu diantara kita harus masuk ke dalam tenda pasukan Panungkaran. Menyamar dan mencari tahu apa yang mereka rencanakan,” ujar Bima pada lima orang yang mengikutinya. “Apa itu tidak curang namanya?” sela Ayu yang mendapat tatapan tajam dari semua yang ada. “Merek

