Cemburu

1218 Words
“Ini kos-kosannya. Sebelah kiri tempat kosku, dihuni anak laki-laki. Sebelah kanan tempat kos khusus perempuan. Ada jam malamnya juga, jadi nggak sembarangan bisa berkunjung.” Arkan menunjukkan lingkungan yang dihuni banyak anak-anak seusia mereka. “Berapa sebulannya, mahal, nggak?” tanya Dayu sembari mengingat sisa uang yang ia miliki. “Lima ratus ribu sebulan, sudah dengan kamar mandi didalam. Ada beberapa fasilitas dari ibu kos. Itu juga sudah harga anak sekolahan, kok. Makanya murah.” “Oh, aman kalau gitu. Aku bisa tinggal malam ini juga, kan?” “Bisa. Bisa banget. Aku minta kunci dulu sama penjaganya, ya. Tunggu bentar.” Dua orang yang berusia sama itu memasuki kamar tempat Dayu memutuskan tinggal sementara. Kamar yang cukup untuk gadis itu. Walaupun tawaran tinggal bersama Bima masih terus terngiang di benaknya. Namun, tak Dayu hiraukan, ia takut terjadi hal-hal di luar batas. “Makasih, ya, Arkan. Udah nolongin aku malam ini.” “Sama-sama, nggak usah sungkan. Besok pagi kita pergi ke sekolah bareng aja, ya?” Dayu mengangguk mengiyakan ajakannya. “Oh, iya, Day, aku suka gayamu yang sekarang. Lebih enak dilihat, cantik.” Entah mengapa dipuji seperti itu Dayu hanya biasa saja menanggapinya. Berbeda jika Bima yang mengatakannya. Dayu merebahkan tubuhnya di atas ranjang seukuran dirinya. Perlahan matanya memejam, lalu tak lama terbuka lagi. Ia saksikan sendiri sosok Bima kembali mengenakan pakaian lelaki di zaman dahulu bersama seorang wanita yang Dayu jumpai di dalam kolam. Mereka seolah terlibat peristiwa besar, baju Bima bersimbah darah, sedangkan wanita yang dipanggil Ayu tangannya terikat rantai. “Huh. Bayangan itu lagi. Sebenarnya aku siapa? Nggak ada sedikit pun ingatan tentang diriku. Lama-lama bisa gila sendiri aku.” Gadis itu mengambil ponselnya. Ia membuka chat WA-nya bersama Bima. Ada beberapa pesan masuk di sana. Seperti biasa menanyakan hal-hal remeh. Lalu dilanjutkan pertanyaan dari lelaki itu mengapa tak memilih tinggal di rumahnya saja. [Takut nyinyiran netizen, Pak. Apalagi lambe turah] Istilah yang Dayu pelajari baru-baru ini. [Kita suami istri, Ayu. Pernikahan kita tak pernah rusak walau hampir seribu tahun lamanya] Tak dijawab oleh Dayu, gadis itu lebih memilih melanjutkan tidurnya. Pagi hari ketika ia membuka pintu kamarnya, Dayu temukan seseorang mengantarkan makanan untuknya. Dari penjelasan kurir ia tahu bahwa seseorang telah membayar jasa katering untuk dirinya selama ia tinggal di sana. Gadis itu bisa menebak ulah Bima. Siapa lagi kalau bukan dia, pria yang selalu mengaku sebagai suaminya. *** Pelajaran olahraga hari itu di kelas Dayu kedatangan seorang guru baru. Gadis pemberani tersebut hanya mengembuskan napas panjang ketika yang mengajarnya adalah lelaki itu lagi. Namun, ia tak punya pilihan, jika tak menuruti perkataan gurunya bisa-bisa ia tak lulus pelajaran akhir. “Cih, sengaja banget ngajar di sini. Pasti pengen ambil kesempatan seperti ...” Gadis itu malu mengingat kebersamaan mereka berdua. “Guru baru, ya? Cool banget gayanya,” bisik murid-murid yang lain. Entah mengapa mendengar itu, hati Dayu serasa dipercik oleh api yang membara. Ia seakan tak rela ada yang memuja dan memuji Bima. “Yah, emang aku siapa, ya, melarang orang-orang suka sama Pak Bima,” gumamnya pada diri sendiri, “Lagian ngapain juga tebar pesona di sini,” lanjutnya lagi. Tak lama setelahnya Bima menoleh pada Dayu, tersenyum hangat dan membuat Dayu salah tingkah. Lalu kembali lelaki itu dikerumuni oleh banyak siswa perempuan. Menanyakan hal-hal yang membuat gadis itu merasa cemburu. “Eh, kalau gak salah, kan, itu guru baru yang pernah dekat sama Dayu, ya?” bisik salah seorang siswa di belakang Dayu. Sontak gadis itu menoleh ke belakang. Matanya lurus dan tajam seolah mengintimidasi siswi lain di belakangnya. Merasa terancam, dua orang itu pun pergi menjauh dari tempat Dayu berdiri. Gadis itu masih memandang Bima dan kerumunan siswi yang masih terus mendatanginya. “Istri. Katanya aja. Nyatanya, siswi lain yang mendekat pun diladeni juga,” umpat Dayu di depan loker. Ia memutuskan mengakhiri sendiri pelajaran olahraga meski belum ada perintah dari Bima. Hari telah menunjukkan pukul 15.30 sore. Jam pelajaran seluruhnya telah usai. Rencana hari itu sebenarnya Dayu ingin mencari tahu lagi perihal siapa Bima sebenarnya dari artikel yang bisa ia temui di internet. Namun, moodnya telah rusak. Hatinya serasa diremas-remas lalu dibanting hingga pecah. “Pulang bareng lagi, Day,” ajak Arkan padanya. “Nggak usah, ngerepotin aja,” jawab Dayu sambil tetap berjalan. “Ya ampun, kita, kan, searah, yuk.” Arkan memberikan helmnya lagi pada Dayu. Akan tetapi, niat itu tak terlaksana. Bima terlebih dahulu memanggil Dayu agar ikut dengannya ke suatu tempat. Lelaki itu mendapatkan tatapan tajam dari Arkan. Bima balas memandang, sejenak ia menarik napas, menyadari Arkan bukan orang sembarangan dan punya niat tersendiri dengan Dayu. “Ok, nggak usah berantem. Arkan, kamu pulang duluan aja, ya. Aku ada urusan yang belum selesai juga sama bapak guru olahraga kita yang baru ini.” Tanpa menjawab Arkan meninggalkan dua orang itu di tepi jalan. Dayu menatap sinis mata Bima. Gadis itu tanpa diperintah berjalan sendiri dan membuka mobil Bima, ia duduk tepat di sebelahnya. “Kena—“ Belum selesai Bima berujar, perkataannya telah dipotong terlebih dahulu oleh gadis yang duduk di sebelahnya. “Asyik, ya, dari tadi dideketin sama siswi dari semua penjuru kelas. Nempel-nempel banget dari tadi.” Gadis itu melipat dua tangannya, ada rasa aneh yang menjalar di hatinya. “Kau cemburu?” tanya Bima kembali. “Nggak!” “Lalu, tadi itu apa?” tanya lelaki itu sambil tersenyum, “jelas-jelas kau tak suka aku berdekatan dengan perempuan lain, seperti dulu.” “Dulu, dulu, ituu aja terus yang Bapak bilang. Kita hidup di zaman sekarang, Pak. Bicara aja tentang masa depan, bukan masa lalu.” Bima menghentikan mendadak mobilnya. Ia tak terima jika masa lalunya dianggap tak penting. Hampir seribu tahun, bukan waktu yang sebentar baginya untuk menunggu mereka bertemu. “Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Lelaki itu kembali melajukan mobilnya. “Kemana? Aku harus pulang.” “Kita akan buka ingatanmu kembali, sedikit demi sedikit. Habis sudah kesabaranku menunggumu, Ayu.” Dayu hanya diam mendengar ucapan Bima. Ia tak ingin membantah, sejujurnya gadis itu pun ingin segera tahu mengapa terkadang di dalam mimpi ia merasa pernah hidup ribuan tahun silam. Namun, ketika ia ingin mencari tahu lebih dalam, sinar terang yang membuat tubuhnya merasa kaku dan ketakutan datang lagi. Napasnya sesak dan tulangnya serasa ingin rontok. Gadis itu kembali memandang kedua telapak tangannya. Ia juga merasa dua tangan ini telah melakukan banyak hal. “Apa di zaman dahulu itu aku orang penting?” tanyanya di sela-sela perjalanan. “Benar, kau itu istriku,” jawab Bima. “Selain itu?” teriaknya. “Kau seorang saudara yang baik. Kau punya kembaran, menggantikan posisinya yang seharusnya ada di sampingku.” “Kau juga orang penting di pasukanku.” “Ehm, anu, itu, terus peristiwa di dalam kolam itu, gimana?” tanyanya malu-malu. Pipi Dayu merona merah. “Kau benar-benar ingin tahu. Itu awal kita—“ “Eh, nggak usah, biar aku cari tahu sendiri. Aku takut Bapak berbohong dan memanfaatkan kesempatan.” Mereka sampai di suatu tempat. lapangan yang telah di sewa oleh Bima. Ada beberapa busur dan juga anak panah di sana beserta papan target. “Dulu, kau sangat mahir memanah. Cobalah.” Dayu mengikuti nalurinya. Gadis itu menyiagakan tangan dan kaki, merentangkan anak panah di tali busur. Ketika matanya lurus memandang target. Ia serasa di bawa ke masa di mana Dayu pernah tinggal dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD