Dayu memejamkan matanya ketika busur panah telah lurus ia rentangkan, ketika ia melesatkan anak panah berujung tajam meski tanpa perintah Bima, gadis bertubuh langsing itu serasa pernah ada di tempat yang sama. Ia mengerjapkan mata dengan cepat ketika panahnya tak tepat sasaran.
“Jangan gugup, tarik napas dulu dalam-dalam,” ujar Bima sembari berkacak pinggang. Lelaki itu juga seperti terbawa ingatan hampir ribuan tahun ke belakang ketika mengajari Dayu yang menyamar sebagai laki-laki.
Gadis berusia hampir ribuan tahun itu menggeleng, ia mengambil kembali busurnya, berkali-kali mencoba hingga nyaris tepat sasaran. Pada anak panah yang terakhir Dayu langsung mengambil dua busur dan melesatkannya tepat di titik hitam paling tengah dan ia langsung menarik napas panjang sembari keringatnya turun menetes di ujung hidungnya.
“Sempurna, kau memang tak berubah sedikit pun.” Bima tepuk tangan melihat perkembangan istrinya yang belum juga menemukan ingatannya. Ingin sekali rasanya lelaki itu membawanya pergi ke berbagai tempat untuk mengembalikan ingatannya, tetapi perbedaan waktu yang terlalu jauh membuatnya mengurungkan niat, sebab tempat mereka tinggal dulu pun kini telah berubah menjadi kota besar.
“Aku merasa pernah ada di situasi lebih genting daripada ini,” ucap Dayu sembari memandang dua tangannya sendiri.
“Benar. Kau bahkan beberapa kali hampir mati karena menolongku, kau anak buah yang baik, juga wanita yang cantik, juga istri yang baik bahkan di atas ranjang ka—“
“Eh, eh, apa-apaan di atas ranjang dibahas. Please jangan mulai lagi.”
“Tapi hatimu tidak mengingkarinya, bukan?”
“Siapa bilang?” bantah Dayu dengan jantung yang berdetak lebih kencang. Memang hatinya tak menampik semua perkataan Bima, tetapi ia malu untuk mengakuinya.
“Itu, wajahmu memerah. Zaman dahulu kalau wajah perawan memerah itu tandanya mereka menyimpan rasa malu di dalam hati.”
“Zaman sekarang wajah merah karena keringetan. Capek tau, Pak. Eh, tapi, ada sarana olahraga lain, gak di gedung ini, boleh coba sampai jam delapan malam, habis itu kita pulang, entar aku gak boleh masuk ke kos-kosan lagi.”
Bima berjalan lurus sembari diikuti Dayu dari belakang, lelaki itu mengajaknya ke tempat dengan ring tinju di dalamnya. Dayu tak tahu, bahwa arena olahraga itu sebenarnya adalah milik suami ribuan tahunnya, sebab itulah mereka bebas keluar masuk tanpa ada yang menghalangi.
“Mau coba adu ketangkasan dan kecepatan?” Bima masuk ke dalam ring tinju dan mengenakan dua sarung tangan berwarna biru.
“Boleh, tapi aku gak suka pakai ini. Kita coba tangan kosong. Aku menghajar penjahat aja bisa apalagi menghajar Bapak yang cuma sendirian, kecil itu.” Dengan sombong Dayu menantang bekas panglima perang di hadapannya. Ia tak pernah paham, kesendirian yang dilewati Bima selama hampir ribuan tahun telah membuatnya berurusan dengan banyak penjahat dan juga orang jahat lainnya.
“Bersiaplah,” ujar Bima sembari menguatkan dua kakinya.
Dayu terlihat melakukan hal yang sama, bahkan kini ia memperkokoh bahu dan dua tangannya. Sesekali pula wanita itu menggeleng ketika ia melihat Bima bak orang zaman dahulu yang mengenakan pakaian serba kain berwarna hitam dan cokelat serta ikat di kepalanya.
“Jangan mimpi jam segini.” Dayu mengerjapkan kedua matanya lagi.
“Takut?” tantang kembali Bima.
Gadis itu maju dengan memberikan satu buah pukulan dengan sangat cepat, tetapi Bima bisa menghindarinya dengan mudah. Lelaki itu lanjut dengan menendang kaki gadis itu hingga Dayu yang tak menyadari kecepatan gerakan Bima terjatuh di ring tinju sembari mengaduh, melihat hal demikian gegas Bima datang menolong.
“Maaf, aku tak berniat mencelakaimu tadi.”
Senyum licik terbit di bibir Dayu, dengan cepat ia menggerakkan kakinya hingga ia telah mengunci leher Bima dan lelaki itu tak bisa bergerak. Bima diam tanpa perlawanan, ia tahu dari dulu Ayu yang kini ada di tubuh Dayu memang kerap kali tak mau mengalah dengannya.
“Kenak, kan, makanya jangan anggap remeh lawan.” Dayu semakin menguatkan kunciannya di leher Bima.
Namun, dua mata gadis itu membesar ketika dengan mudah Bima membuka kuncian kakinya tanpa bersusah payah terlebih dahulu. Kini tangan bekas panglima perang itu bahkan meraih kaus yang dikenakan Dayu, mengangkat tubuhnya hingga kini tinggi mereka telah sejajar.
“Bukan begitu caranya melawan suami, Sayangku. Kau tak pernah belajar dari kesalahan.” Bima menurunkan tubuh Dayu yang masih terus melawan, ia bahkan mengunci kedua tangan gadis itu setelah membalikkan tubuhnya dan membuat istrinya jatuh ke lantai lagi dengan napas cepat.
“Gerakanmu masih kaku, wajar sudah lama kita tak latihan bersama.” Bima menekan punggung Dayu ke lantai hingga gadis itu menoleh ke hadapannya.
“Lepas, atau aku teriak di sini!” ancam Dayu.
“Teriak saja, tak ada siapa pun di sini, kau bisa apa?”
“Aku bisa marah, lepas!” jeritnya lagi.
“Tentu, dengan satu syarat.” Bima semakin menekan kedua tangan Dayu, ia tahu gadis itu menahan perih, tetapi Bima pun seolah-olah tak bisa lepas dari memandang lekuk tubuh istrinya yang dibalut training ketat pemberiannya.
“Apa?”
“Ulangi lagi peristiwa malam itu, baru aku lepaskan kau dari cengkeraman ini.”
“Cih, dasar bapak-bapak. Nggak mau!” Dayu masih meronta untuk lepas dari tangan Bima, tetapi pegangan lelaki itu memang tak main-main.
“Aku sanggup di sini sampai pagi.” Bima melirik jam tangannya, hari telah lewat dari jam delapan malam.
Lama Dayu terdiam di lantai ring tinju, berharap Bima berbelas kasihan dan melepaskannya, tetapi tak ada perubahan, lelaki itu begitu kuat pendirian.
‘Yah, sekali ini aja, lain kali aku cari kesempatan untuk membalaskan semua pikiran kotormu itu,’ gumam Dayu dalam hati.
“Bagaimana? Mau sampai pagi terikat?” Bima menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
“Iya, oke, tapi ingat cuma kita berdua yang tahu, jangan sampai ada yang—“
Lampu arena olahraga telah mati ketika Dayu belum menuntaskan ucapannya. Cengkeraman tangannya telah dilepaskan, serta tubuhnya kini diangkat oleh Bima hinga Dayu telah berdiri di hadapan lelaki itu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Bima lekas melepas kerinduan dengan istri yang begitu ia cintai. Awal mulanya gadis itu menolak, tetapi semakin lama ia pun semakin terbuai dalam pertukaran napas yang dimulai oleh Bima, bahkan gadis itu kini berjinjit demi menyamakan tinggi dengan seseorang yang mengaku sebagai suami ribuan tahunnya. Tak ada yang ingin menghentikan kegiatan menyenangkan itu, meski beberapa kali mereka mengatur ulang napas dan terbuai kembali lebih dekat.
Beberapa saat kemudian Dayu melihat Bima mengenakan pakaian kuning keemasan dengan hiasan bunga kamboja di telinganya, begitu juga dengan dirinya yang telah bertukar pakaian dengan kain jarit kuning yang melilit kaki jenjangnya, serta aneka bunga segar yang disematkan di kepala Dayu. Kembali gadis itu melihat kedua tangannya sendiri, lalu mendorong tubuh Bima menjauh dan menyudahi kedekatan mereka yang begitu tanpa jarak.
“Sudah. Saya nggak mau kelewatan,” ujar Dayu dan kembali bersikap ketus dengan Bima, ia lalu ke luar dari ring tinju tanpa berkata apa-apa lagi pada Bima.
Bekas panglima perang itu mengembuskan napas panjang. Sesaat tadi ia begitu bahagia, sebab rasa rindu menyentuh istrinya dapat terobati walau sesaat. Ia pun paham sedikit demi sedikit ingatan Dayu mulai terbuka, tetapi seakan-akan ada yang menghalanginya untuk kembali. Bima hanya menekan jantungnya yang terasa nyeri, rasa sakit akibat mantra abadi Ayu dahulu dan hanya Ayu saja yang bisa menyembuhkannya.
“Sampai kapan aku harus menunggu? Kau begitu kejam tak mengenali suamimu sendiri. Apa kau tahu berapa banyak wanita yang ingin menyerahkan diri dalam pelukanku, tapi aku abaikan sebab besarnya rasa cintaku padamu.” Bima melangkah ke luar ring menyusul Dayu, ia meredam segala amarah di dadanya. Bisa saja ia memaksa Dayu untuk menyerah di bawah kendalinya, seperti dulu di dekat kolam saat ia tahu siapa sebenernya Ayu, tetapi ia tak mau Dayu justru membencinya. Ia hanya butuh kesabaran lebih lagi, sebab ia juga yakin hati kecil Dayu tak mengingkari semua ingatan dan sentuhan kecilnya.
“Kau mau kemana?” tanya Bima ketika Dayu terus saja jalan tanpa arah.
“Nggak tahu,” jawab Dayu sembari menyentuh bibirnya sendiri dengan telunjuk. Ada rasa manis yang tertinggal di sana, sudah dua kali mereka saling bersentuhan. Anehnya gadis itu tak marah, hanya saja ada yang berusaha membuatnya menjauh dan juga takut.
Dua orang itu terus berjalan, hingga sampai di dekat kolam renang.
“Dalamnya hampir tiga meter, jangan ke sana, kau buruk di dalam air.” Bima mengingat kembali bagaimana dulu Ayu mengorbankan nyawa membawa tubuhnya naik dari derasnya air sungai.
“Tau nggak? Orang semakin dilarang semakin dikerjakan, terus aku merasa malam ini panas karena peristiwa tadi, jadi gak ada salahnya dicoba.” Dayu berlari menjauhi Bima sembari tertawa. Hal demikian membuat lelaki itu turut tersenyum lebar.
Tanpa melepas sepatu dan juga baju, Dayu langsung menceburkan diri ke dalam kolam renang. Di dalam sana air begitu dingin dan gelap. Gadis itu menoleh ke sana kemari karena pandangaan matanya mengabur di dalam air.
Ia pun serasa kembali terbawa ke dalam peristiwa yang pernah ia lewati. Peristiwa di dalam sungai, mayat-mayat bergelimpangan jatuh, darah mengubah warna air menjadi merah, hujaman anak panah, kuda yang ikut jatuh bersama tuannya, pedang, tombak, batu, kayu, semua hal yang terus terlukis di ingatannya. Dayu merasa pusing, air masuk ke dalam hidungnya, ia sesak napas dan tak bisa naik ke permukaan, perlahan-lahan tubuhnya terus turun ke dasar kolam dan dalam sisa-sisa kesadarannya ia melihat Bima menceburkan diri, datang menarik tangannya hingga mereka saling berhadapan dan lelaki itu memeluk tubuh Dayu dari belakang serta membawanya naik ke permukaan.
Tubuh dingin Dayu dibaringkan di lantai, Bima menekan perut dan juga uluhati Dayu, tetapi gadis itu tak juga membuka matanya. Bima lantas melakukan hal yang juga pernah dibuat Ayu dulu demi menyelamatkan dirinya, memberi gadis itu napas buatan berkali-kali hingga dua bibir itu kembali bersentuhan.
Dayu terbatuk sembari memuntahkan air di dalam perutnya. Matanya memerah begitu juga hidungnya, Bima beberapa kali menepuk punggungnya agar sisa airnya keluar. Namun, hal yang berbeda dilihat Dayu. Ia melihat seorang wanita dengan mengenakan pakaian lelaki keluar dari sungai sembari berusah payah membawa Bima yang tubuhnya jauh lebih besar. Lalu wanita itu membawanya ke tepi sungai dan berusaha untuk mengusap-usap telapak kakinya agar lelaki dengan wajah sama seperti Bima segera sadar. Tak juga ada perubahan, wanita itu memberinya napas dari mulut ke mulut beberapa kali sampai lelaki itu terbatuk dan memuntahkan air di perutnya.
Usai lelaki yang ditolong itu sadar, wanita itu gegas berdiri, sebab rambut indahnya yang panjang begitu jelas menampakkan dirinya sebagai seorang wanita cantik. Ia pun berbalik dan bergegas mengikat rambutnya sembari lelaki yang ia tolong mengusap matanya berkali-kali.
“Kau seperti perempuan,” ujar Bima yang didengar Dayu ketika melihat dirinya mengikat rambut di tepi sungai.
“Dayu, kau tak apa-apa?” Bima kembali mengguncang tubuh gadis itu agar menyudahi lamunannya.
“O, oh, iya, nggak apa-apa, makasih tadi ditolongin.” Pemandangan masa lalu tadi hilang ketika Bima menegurnya.
“Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau tetapi saja menceburkan diri ke kolam.”
“Ah, iya, tak apa-apa, itu bukan masalah bagiku,” balas Dayu sembari menutup mulutnya sendiri, ia heran mengapa gaya berbicaranya begitu berbeda dan nyaris sama seperti Bima.
Lelaki itu menatap Dayu dengan tajam, “Apa yang kau lihat tadi?”
“Sungai, ada kau dan juga seorang perempuan atau laki-laki yang menolongmu.” Dayu balas menatap Bima dengan tajam juga.
“Itu pertama kali aku meragukanmu sebagai lelaki dan kali pertama juga hatiku berdebar hanya karenamu.” Tak berkedip netra Bima mengatakan masa lalu mereka.
“Ah, apaan, sih? Aku mau pulang, cukup sudah khayalan hari ini, capek, ntar jam malam nggak boleh masuk kos-kosan lagi.”
Dayu meninggalkan Bima lagi seorang diri. Tak ingin kenangan itu hanya terlupakan begitu saja, Bima membuat tubuh istrinya membeku di tempatnya berdiri, dan sekali lagi mereka berdua kembali mengulangi kejadian yang kini menjadi ketiga kalinya, tanpa ada yang mengganggu, tanpa ada kenangan yang melintas, sesuka hati dan sampai dengan kerelaan sendiri mereka menyudahinya.