Selendang Ayu

1604 Words
Dua orang itu saling menjauh ketika menyadari telah terlalu lama terlena dalam situasi yang hanya mereka berdua ada di area kolam renang. Dahi bekas panglima perang itu menempel pada dahi Dayu, ia masih tak mau semuanya terlalu cepat berlalu. Terlalu jelas dalam ingatannya bagaimana tadi istrinya yang ingatannya masih belum kembali, juga begitu menyambutnya dengan hangat, manis dan memburu. Andai saja jika hal itu terjadi di rumahnya, tentu lelaki itu tak segan-segan untuk berbuat lebih jauh. Ada naluri alami yang menuntut untuk segera dipenuhi. “Kita pulang, aku nggak mau kena jam malam, udah bukan tinggal di rumah sendiri.” Dayu menyadari tadi perbuatannya kelewat batas, tetapi siapa yang bisa menolak buaian dan rayuan lelaki itu yang begitu hangat? “Aku antar, atau kalau kau mau tinggal di—“ “Nggak. Aku takut tinggal di sana nanti gak utuh lagi,” balas Dayu memotong perkataan Bima. “Maksudmu? Aku tak akan berniat macam-macam denganmu, hanya satu macam saja.” “Ya satu macam itu, ah udahlah, malas ngomong sama bapak-bapak kurang kasih sayang. Pikirannya ke sana terus.” Dua orang itu sama-sama masuk ke dalam mobil. Sengaja Bima mengajak gadis itu berputar-putar keliling kota terlebih dahulu, agar mereka tak lekas berpisah. Lelaki itu paham Dayu kedinginan usai menceburkan diri ke dalam kolam, gegas saja ia memberikan gadis itu sehelai kain berwarna cokelat dengan motif burung elang yang dicanting menggunakan tangan dan berusia hampir sama dengan hilangnya Dayu. “Hangat,” ujar gadis tersebut ketika kain itu menutupi leher hingga perutnya. “Itu kain milikmu, usianya juga sama hampir seribu tahun.” “Mulai ngelantur,” bisik gadis itu perlahan . “Tidurlah, kita masih lama sampainya.” “Ya iya, dari tadi muter-muter, kapan coba sampainya?” “Lalu kalau kau tahu, kenapa tak mencoba menghentikanku?” tanya Bima sembari menghentikan laju sedannya. “Ehm. Aku laper, habis kissing sama bapak-bapak, terasa banget hausnya,” jawab gadis itu asal. Mendengar tutur Dayu, Bima hanya tersenyum saja, ia lalu keluar untuk membeli dua gelas minuman dan juga makanan di pinggir jalan. Saat Dayu memegang botol air mineral yang diberikan Bima, ingatannya kembali melayang. Gadis itu serasa berada dalam tenda di mana Bima sedang mabuk minuman, dan mencoba untuk membuka helaian kain panjang yang menutupi tubuh Ayu, lalu dilanjutkan dengan adegan di mana Ayu menghantam kepala Bima dengan kendi minuman hingga lelaki itu pingsan, dan pikirannya kembali ke tempat di mana sekarang ia duduk. ‘Kepingan ingatan ini, aku harus bisa menemukan apa maksudnya,’ gumam dayu seorang diri. “Kau memikirkan apa?” tanya Bima ketika Dayu tak memakan ayam goreng tepung di tangannya. ‘Tapi wajah bapak ini dan lelaki dalam ingatanku sama. Apa jangan-jangan dia beneran jujur kalau aku istrinya yang katanya usianya hampir ribuan tahun,’ lanjutnya sembari memandang gambar di selendang di tubuhnya. Dayu merasa pernah mengenali dan memakan benda itu. “Ada masalah?” Bima mengibaskan lima jarinya di hadapan Dayu. ‘Warna kainnya sama dengan yang dipakai wanita dalam ingatanku tadi.’ “Kalau kau tak juga buku mulut. Aku cium kau untuk kesekian kalinya.” Mendengar ancaman Bima, refleks membuat Dayu menjatuhkan makanan di tangannya. Dengan cepat tangan kanannya meraih leher lelaki itu dan memberikan tekanan kuat di sana. Dayu sedang tak ingin diganggu dengan pikiran-pikiran aneh Bima yang sebenarnya juga tak pernah ia permasalahkan. Lelaki itu dengan mudah mematahkan kuncian di tangan Dayu, dan kini berbalik tangan gadis itu yang ia kuasai dan kembali mengancam istrinya agar tak berani menantangnya atau ... “Pulang!” jerit Dayu dengan rasa kesal. “Jam malam habis.” Bima melajukan kendaraannya dengan senyum penuh arti. Lelaki itu terus saja berkendara dan di taman mereka kembali turun meski malam semakin dingin. Ketika Bima hendak menggandeng tangan Dayu, sebuah motor besar melintas dengan cepat dan menabrak tubuh lelaki itu hingga Bima terpental dengan jarak beberapa meter. Melihat hal demikian, Dayu mematung di tempatnya berdiri, saat genting seperti itu ingatannya berputar-putar pada kejadian di sebuah halaman kerajaan dengan banyak prajurit, tombak, panah dan pedang yang diarahkan pada mereka berdua. Dayu menggeleng kuat, ia berlari menyusul Bima yang tergeletak di aspal, sementara sang penabrak telah hilang begitu saja. Suasana taman yang begitu sepi dan sunyi membuat gadis itu tak bisa meminta pertolongan, ia panik dan tak tahu harus berbuat apa. “Tenanglah, ini bukan apa-apa,” ucap Bima perlahan sembari menyentuh telapak tangan Dayu. “Bu-bukan apa-apa. Ini berdarah!” Dayu mengusap dahi Bima yang mengalirkan darah segar. “Tenanglah, jangan panik, biarkan aku berpikir sebentar.” Mendengar ucapan Bima Dayu hanya mengangguk saja sembari air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Seketika udara mulai hangat dan berputar dengan cepat. Dayu merasa mual dan ingin muntah, tetapi genggaman erat Bima padanya membuatnya menahan diri agar tak tumbang. Setelahnya, mereka berdua sampai di rumah besar tempat tinggal Bima. Bekas panglima perang itu mengaduh sembari terbatuk, hantaman motor itu pada tubuhnya tak bisa dibilang main-main meski lelaki itu abadi dan bisa bertahan. Gadis ribuan tahun itu mengikuti nalurinya yang dahulu seorang tabib dan kini hidup di zaman modern, ditambah dengan pengetahuannya karena rajin membaca buku, membuat Dayu beranjak dan bergegas membuka kotak P3K dan mengambil peralatan sederhana yang diperlukan. Ia segera membersihkan darah dengan kasa dan kapas. “Lukanya panjang dalam pula, kita ke rumah sakit, ya?” bujuk Dayu ketika lelaki itu memejamkan matanya. “Jangan, aku takut mereka mengenali—ku,” jawab Bima terbata-bata. “Terus ini, gimana?” Gadis itu mulai panik, ia takut Bima mati kehabisan darah. “Tenang dulu, dulu lukaku lebih parah dan kau bisa menyembuhkannya. Sekarang coba kau tarik napas dan pusatkan pikiranmu lalu sembuhkan aku.” “O, oh, iya, aku coba.” Dayu mengikuti perkataan Bima yang masih terus mengerang kesakitan. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan pikirannya dan bibirnya tergerak untuk merapalkan beberapa mantra kuno yang hanya ia saja bisa menyebutkannya. Tak lama kemudian kedua tangannya terasa hangat dengan cahaya berwarna biru terang, sama seperti warna kupu-kupu yang ada di bahunya. Dengan gemetar gadis itu menyentuh kepala Bima yang masih terluka parah, beberapa saat kemudian ia pun merapalkan kembali sebuah mantra kuno dan tak lama kemudian, luka dalam dan menyakitkan itu tertutup dan darah pun berhenti mengalir. Tak hanya di bagian itu saja, sekujur tubuh Bima juga disentuh gadis itu dengan kedua telapak tangannya. Secara ajaib, tulang Bima yang retak dan kulitnya yang memar sembuh begitu saja berkat pertolongan Dayu, hal demikian membuat lelaki itu menarik napas panjang karena rasa sakitnya telah mereda. “Terima kasih, Sayangku,” ujar Bima, lalu ia pun menutup mata dan bernapas layaknya orang tidur nyenyak. “Sama-sama.” Gadis berusia hampir ribuan tahun itu memandang telapak tangannya sendiri, ia semakin bingung dengan siapa dirinya sendiri, “Aku ini siapa dan kenapa, ya ampun. Bingung!” jeritnya. Namun, detik itu juga ia menutup mulutnya sendiri, sebab Bima telah terlelap dan butuh beristirahat. “Aku pulang sendiri aja.” Dayu berlalu dari kamar itu, dan lagi-lagi ia kembali, sebab tak sampai hati meninggalkan Bima seorang diri. “Oke, langkah pertama yang harus aku lakukan, ganti baju bapak-bapak ini.” Gadis itu mengembuskan napas panjang dan memejamkan matanya. Ia menutup tubuh Bima dengan selimut tebal, lalu membuka satu per satu kancing baju lelaki itu tanpa sama sekali melihat tubuhnya. “Jaga jarak, jangan sampai dia bangun, bisa-bisa terjadi hal-hal yang diinginkan.” Kemeja tersebut berhasil dibuka Dayu, ada bekas aliran darah yang menempel di sana. Ia lanjut membuka kaus dalam lelaki itu, hingga mau tak mau membuat jarak mereka semakin dekat. Dan lagi ... ingatan Dayu dibawa ketika mereka sama-sama berada di dipan yang sama sembari tertawa, lalu .... “Ah, pikiran nggak tahu tempat.” Usai membuka baju Bima, gadis itu mencari pakaian ganti di lemari besar di kamar itu. Ada begitu banyak kaus terlipat dan kemeja menggantung di sana. “Kaya banget bapak ini memang.” Dayu mengambil asal kaus hitam dan tak lupa pula celana pendek dengan warna yang sama. Dengan ragu gadis itu mulai membuka selimut yang tadinya menutupi tubuh Bima. Ketika kain tebal itu tersingkap, netra Dayu terpana memandang bentuk tubuh Bima yang terlihat sempurna untuk ukuran laki-laki tegap sepertinya. Dua tangannya bahkan nyaris menyentuh perut Bima. “Ups, jangan cari perkara. Orangnya lagi sakit, tiba-tiba sadar bisa aku yang diterkam.” Dayu memejamkan mata dan mengenyahkan pikiran kotornya. Ia kemudian memasangkan kaus itu pada Bima, sesaat ia pandang wajah lelaki yang terlelap begitu tenang. Ada rasa kerinduan yang mendadak muncul dari dalam hatinya. Dayu memasangkan kaus itu hingga menutup seluruh kulit cokelat Bima. Dayu terpana lagi, jemari lentiknya terulur menyentuh rahang Bima yang terdapat banyak bekas luka di sana. “Memang ganteng dan mempesona.” Netra Dayu tak lepas mengamati setiap inchi wajah Bima. Gadis itu melipat bibirnya sendiri. Ia memberanikan diri mencuri kesempatan ketika lelaki itu masih tertidur lelap. Baginya tak masalah, toh sudah beberapa kali mereka saling mengecap rasa satu sama lain dalam kepasrahan. Dayu mengecup Bima dengan lembut, sekali, lalu tergoda untuk kedua kalinya, dan berlanjut ketiga kalinya dengan waktu yang lebih lama. Meski tak ada balasan dari lelaki itu karena masih terlelap, ia tetap saja merasa puas karena rasa itu begitu melenakan. “Ya ampun, pasang celananya gimana?” Dayu menepuk dahinya sendiri karena teledor dan terbuai begitu lama. Gadis itu menyingkap selimut secara perlahan-lahan lagi. Ia dengan gemetar mulai menurunkan training itu dengan jantung yang berdegup luar biasa, dan ia melanjutkan memasang celana pendek sembari menarik napas panjang. “Selesai juga.” Dayu mengemas semua pakaian yang telah kotor bersimbah darah. Saat ia ingin ke luar dari kamar, ada sebuah pedang yang dipajang Bima. Dua buah senjata yang tak asing bagi Dayu, satu pedang untuk laki-laki dan satu pedang untuk perempuan. “Ini ....”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD