Bima memegang tangan kanan Ayu dengan kuat, kini gadis itu telah berada di atas ranjangnya. Sekuat tenaga tangan Ayu ke sana kemari mencari benda apa saja yang bisa menolongnya, sebab kesadaran lelaki yang kini menguasainya hampir kembali sepenuhnya. “Kau siapa? Katakan?” Bima semakin menekan tangan Ayu. Gadis itu tak bergeming, ia semakin mengunci bibirnya. Sesekali jeritan terdengar dari kedua orang itu. Teriakan yang terdengar sampai ke pondok Mahaputra. “Aku tak salah pilih bukan. Setelah ini aku yakin dia pasti jadi sepertiku juga.” Gelak tawa pangeran semakin membahana, ia memang setiap malam melewati hal serupa, berganti-ganti dari satu wanita ke wanita lainnya. Malam itu di pondok perbatasan, ketika semuanya seharusnya sedang bersiap-siap, kamar Bima malah menjadi tempat la

