First Touch

1188 Words
Kembali jemari Dayu menelusuri laman web di ponselnya untuk mencari keterangan Diah Ayu Pitaloka, tapi tidak ada petunjuk sama sekali. Tidak ada segelintir informasi pun yang ia dapat. Bahkan halaman yang menyediakan informasi Bima Wiraja juga raib entah kemana, padahal ia belum menyimpan sketsa wajahnya sama sekali. Ketukan di pintu menyadarkan gadis dengan tato kupu-kupu biru itu dari lamunannya. Bima memanggilnya untuk makan bersama. Dayu yang mengenakan dress panjang selutut berwarna kuning membuat lelaki itu enggan mengedipkan matanya. “Kau sama seperti dulu, suka dengan pakaian berwarna kuning keemasan.” Ucapan itu tak dijawab oleh Dayu. “Ceritakan bagaimana kau bisa sampai ke sini tadi malam?” tanya Bima. “Oh, itu … ada suara-suara aneh yang menuntun saya untuk ke sini. Ditambah dorongan hati takut kalau yang punya rumah butuh bantuan. Kenyataannya iya, kan?” “Bahkan instingmu pun masih tajam seperti dulu. Dulu juga kau pernah memperingatiku bahaya yang akan kita hadapi. Tapi aku mengabaikannya, akibatnya kita jadi terpisah seperti ini.” “Tadi malam saya habis berkelahi dengan tiga orang lelaki. Mereka membawa saya ke gedung kosong, waktu itu ketiduran di dalam angkot, mau pulang.” Bima menghentikan kegiatannya mengaduk kopi mendengar cerita istri masa lalunya. “Tinggallah di sini. Aku bisa menjagamu lebih leluasa, walau aku yakin kau bisa mengatasi semuanya.” “Nggak semudah itu juga, Pak. Apa kata orang? Di sekolah aja udah dibilang sugar baby.” “Lalu mau sampai kapan tinggal di sana. Mereka bahkan tak ada hubungan darah sama sekali denganmu. Kau tahu pemilik asli tubuh ini sudah mati karena disiksa oleh dua lelaki pemalas itu?” “Hah?” Dayu mengerutkan kening. “Iya, aku sudah mencari tahu. Gadis yang tubuhnya kau pinjam ini, mati kelelahan karena sepulang sekolah lanjut bekerja, belum lagi siksa keji dan ayah dan saudara tirinya ketika dia tidak memberikannya uang.” “Sekejam itukah? Tapi sekarang mereka nggak berani sama saya, sih? Semenjak saya menghajar si Joni itu habis-habisan.” “Kemampuanmu itu, dulu aku yang melatihnya? Sebelumnya kau hanya seorang tabib muda dengan ilmu yang tidak bisa dianggap remeh. Lalu kau demi menyelamatkan nama baik keluarga masuk ke dalam barisan pasukan baru. Hingga kita bertemu dan hubungan kita berlanjut sampai ikrar suci pernikahan?” Dayu mulai tertarik mendengar penjelasan Bima. “Tabib, maksudnya dokter, gitu?” “Seperti itulah.” “Terus kenapa bisa jadi pasukan perang atau apalah gitu?” “Selain tabib hebat, istri yang baik kau juga saudara yang penyayang. Kau menggantikan tempat kakak lelakimu yang sakit. Dari situlah kisah kita dimulai. Makanya tadi malam panas tubuhku cepat turun, itu karena ilmu yang kau miliki masih ada. Ilmu yang kau temukan di dalam hutan, ketika aku pertama kali memandangmu bukan sebagai laki-laki.” “Serumit itu hidupku dulu?” “Kau juga mendapatkan berkat para dewa, kau bisa meleburkan semua kesaktianmu padaku. Dan kau pun berkelana jauh selama ribuan tahun. Hingga kita bisa bertemu lagi sekarang, dan kau melupakan semuanya.” “Oh, ya? Lalu selama ribuan tahun itu, Bapak hidup seorang diri tanpa wanita lain sekalipun? Pembohong, mana ada lelaki setia seperti itu?” “Selama hampir ribuan tahun aku melewati banyak jenis kehidupan. Banyak wanita yang datang dan pergi menawarkan diri padaku. Tapi tak pernah kugubris, hatiku sudah kau ambil semuanya.” “Masak, sih? Kok saya nggak percaya?” cemooh Dayu sembari menaikkan alisnya yang terbentuk rapi. “Apa yang membuatmu tak percaya?” “Sudah menikah, kan? Pasti sudah pernah itu … ngerti, kan, maksud saya. Emang gak sakit kepala kalau nggak ngulang lagi selama ribuan tahun. Please deh, mahluk yang namanya lelaki itu lebih dominan nafsu daripada perasaannya.” “Jujur saja sebenarnya nafsu itu pasti ada. Ada cara lain untuk meredamnya. Tapi jujur saja sedekat ini denganmu sekarang membuatku …” Bima menarik napas panjang menahan debaran di dadanya. “Eit, jangan macam-macam. Aku belum ingat satu pun yang bapak bilang tadi. Sampai saat itu tiba jangan menyentuhku seujung kuku pun.” Dayu menajamkan matanya pada lelaki yang sibuk menguyah makanannya dari tadi. “Lanjutkan makannya, aku mau keluar sebentar.” Bima berlalu meninggalkan gadis itu makan seorang diri di meja. Sebelum pergi ia sempat menarik ikat rambut Dayu supaya rambutnya tergerai indah seperti dulu. “Nyebelin!” ketus Dayu. Selepas itu, Dayu lebih memilih untuk berbaring seharian di kamar sembari merenungi semua perkataan Bima. Ia memandangi kedua telapak tangannya. Saat ia mengompres kepala Bima tadi malam memang terasa ada getaran hangat yang keluar begitu saja, dan hal itu juga yang menyebabkan ia masih kelelahan bahkan sampai sekarang. Gadis itu telah terpejam setelah tak lama ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk yang disediakan Bima. Tak lama setelahnya lelaki itu masuk dan menutup tubuh ramping gadis itu dengan selimut. Tergoda tangannya untuk membelai rambut halusnya seperti dulu. Debaran di dadanya kian menjadi seolah menuntut untuk dipenuhi. Bima sekuat tenaga menahan diri agar ia tak menyentuh lebih. Ia masih ingin memperoleh kepercayaan gadis di hadapannya. Namun, seperti kata Dayu tadi lelaki adalah mahluk yang dominan nafsu daripada perasaannya. Perlahan ia mendekati wajah Dayu yang terlelap. Semakin dekat dan ketika niatnya hampir terlaksana, gadis itu mendadak membuka matanya. Dua orang itu saling pandang dalam diam beberapa saat. “P-pak, apa, mau apa?” terbata-bata ia menanyakan niat Bima, walau ia takut tapi tak ingin menghindar. “E-em, itu, maaf, aku terbawa perasaan.” Bima menjauhkan wajahnya dari Dayu. “Harusnya juga saya kunci pintu,” ujar Dayu. “Harusnya juga aku ketuk pintu dulu,” jawab Bima. Lelaki itu keluar setelah berusaha sekuat tenaga menghilangkan debaran di hatinya. Ia menuju ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap semua hasratnya padam. Salah besar ia menawarkan Dayu tinggal di rumah ini dengan dalih menyelamatkannya dari dua mahluk pemalas. “Tapi dia itu istriku, kan? Bukankah wajar aku ingin merengkuhnya lebih dalam?” tanyanya pada angin dingin yang berembus. “Kenapa. Harusnya tadi aku menghajarnya langsung. Tapi kenapa seolah tadi aku ingin dia melakukan lebih.” Dayu memegang bibirnya sendiri, “agh, pikiranku kenapa kotor? Jangan sampai terjadi yang nggak-nggak.” Dayu mengacak rambutnya sendiri. Dua orang itu menonton televisi bersama di ruang tamu. Sejatinya pikiran mereka berjalan ke sana ke mari. Ditambah embusan angin dingin yang menyebar dari AC. Wangi parfum maskulin yang menguar dari tubuh Bima membuat gadis itu menikmatinya. Perlahan pula gadis itu kembali tertidur di sofa tempat mereka duduk bersama. Bima membiarkan istri ribuan tahunnya berbaring di sana setelah mengatur tempat yang lebih nyaman untuk berbaring. “Kau … dari dulu memang memesona.” Bima mengelus pipi Dayu perlahan. Tanpa diduga lelaki itu lengan putih Dayu menangkap pergelangan tangan yang membelai lembut dirinya. “Entah kenapa, kadang aku melihatmu mengenakan pakaian serupa pangeran di zaman dahulu.” Lelaki itu menarik napas panjang. “Itu memang aku yang sebenarnya. Bahkan aku sering melihatmu mengenakan pakaian putri di zaman dahulu kita tinggal.” Tanpa ada yang memaksa, dan dengan kerelaan masing-masing hati, dua orang itu saling mendekatkan wajah. Merasakan dingin dan hangat yang bergantian membelai wajah mereka. Sesekali dua orang itu berhenti untuk mengambil napas lalu melanjutkan kembali hingga tak terasa waktu berlalu sekian jam dalam keindahan yang hanya terjadi di satu tempat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD