“Kau, sudah mengingat semuanya, istriku?” Bima menyentuh pelan pipi Dayu, tapi segera ditepis olehnya saat itu juga.
“Jawab dulu,” bantah Dayu.
“Iya itu … aku. Katakan, apa kau ingat semua tentang kita.” Lagi lelaki itu memegang jantungnya yang merasa nyeri. Ada harapan akan kesembuhan akan sakit yang ia derita.
“Nggak. Saya tadi baca di google. Cerita lain yang tak banyak orang tahu. Penghianatannya tak sebanding dengan pengorbanannya. Masalah dengan wanita padahal dahulunya adalah seorang panglima muda yang hebat, gitu.”
“Itu tak benar, Ayu. Kita sama-sama difitnah.” Lelaki itu duduk perlahan, sakitnya sedikit mereda dengan kehadiran Dayu.
“Fitnah karena seorang wanita? Siapa wanita itu?” tanya Dayu sambil memicingkan matanya.
“Kau benar-benar ingin tahu?”
“Sebetulnya iya, Pak. Tapi biarlah saya cari tahu sendiri, takutnya Bapak banyak bohong untuk kepentingan diri sendiri lalu memanfaatkan ketidaktahuan saya.”
Sakit di lubuk hati Bima mendengar penolakan Dayu. “Baiklah kalau memang itu maumu, Diah Rahayu Pitaloka.”
Tersentak Dayu mendengar nama yang terdengar tak asing baginya. Seketika itu juga kupingnya berdengung hebat. Kepalanya terasa sakit dan hidungnya mengeluarkan sedikit darah.
“Jangan dilawan, Ayu. Biarkan pikiranmu mencari jawaban sendiri.”
Gadis itu menggeleng kuat. Iya berusaha menahan dirinya yang nyaris dibawa menjauh melalui cahaya yang sangat terang. Jujur saja, Dayu merasa sangat takut, ia merasa ada kenangan sangat buruk yang sangat menyakitkan ketika cahaya itu memaksa matanya terpejam.
“Nggak.” Dayu menarik napas cepat, “Biar semuanya berjalan apa adanya, Pak. Kalau memang benar kita memang suami istri dari zaman Majapahit dulu, pasti akan ada cara saya bisa mengingat semuanya. Saya tak mau memasuki cahaya terang tadi. Takut, nggak bisa pulang!”
Bisa Bima baca ketakutan dari istrinya. Memang, apa yang dikatakan Dayu tak sepenuhnya salah. Cahaya terang itu juga menjadi puncak perpisahan mereka. Jika memang itu keputusan darinya, maka Bima sekali lagi harus bisa bersabar lebih lama. Cinta sejati dua insan itu memerlukan waktu yang sangat lama untuk bersatu lagi.
Berdua mereka duduk diam lama di atas ranjang yang sama. Tubuh Bima kembali di dera rasa panas. Ia merebahkan diri dan tak lama dengkur halus terdengar dari dirinya. Dayu yang menyadari hari telah sangat malam berniat pulang. Namun, langkahnya terhenti ketika lelaki dewasa itu tak kunjung berhenti mengigaukan nama Ayu.
Dayu berjalan ke dekat lelaki itu berbaring. Menempelkan punggung tangannya di dahi Bima. Panas sangat terasa. Gegas ia berjalan menuju ke dapur, berniat mengambil air dingin dan es batu untuk menurunkan demam.
Akan tetapi, langkahnya terhenti di depan sebuah lukisan dengan ukuran yang sangat besar. Sepasang pengantin dengan pakaian yang sangat megah berwarna kuning keemasan. Sang lelaki dan juga wanitanya tersenyum dengan penuh kebahagiaan. Di sudut lukisan itu tertulis nama Diah Rahayu Pitaloka. Nama yang disebutkan Bima tadi.
“Kenapa semuanya jadi penuh tanda tanya gini? Apa memang aku bener wanita di dalam lukisan itu?”
Dayu berjalan ke arah cermin di ruang tamu, ia memandangi dan bergumam bahwa wajahnya dan wajah wanita dalam lukisan itu tidak sama persis walau ada kemiripan. Dari lukisan itu bisa Dayu simpulkan Bima sangat mencintai istrinya. Bahkan bualan masa lalu terus ia tanamkan sebagai sugesti pada Dayu. Namun, gadis itu memilih mencari jawabannya sendiri.
Gadis dengan rambut hitam dan lebat itu duduk di sebelah Bima, dengan telaten ia mengompres dahi lelaki yang masih terus mengigau sampai sekarang. Meskipun rasa kantuk mendera, Dayu tetap menahannya demi kesembuhan Bima.
Semakin malam Dayu tak bisa lagi menahan matanya dari serangan ke alam mimpi. Perlahan kepalanya jatuh tepat di sisi ranjang Bima berbaring. Dua manusia yang masih dipermainkan takdir itu terlelap bersama seperti dulu.
***
Bima terbangun ketika rasa panas di tubuhnya sudah mereda. Ia memegang dahinya, ada sapu tangan menempel di sana. Yang lebih membuatnya terkejut adalah Dayu yang tertidur dengan posisi duduk di dekatnya. Gadis itu pasti berusaha menurunkan demam di tubuhnya karena tidak ada orang lain lagi di sana.
“Kau pasti kelelahan menyembuhkanku. Kau tak berubah sedikit pun, Sayang. Dulu juga kau selalu menyembuhkan luka-luka di tubuhku. Aku berhutang banyak padamu. Aku merasa tak berguna karena tak bisa melindungimu dari fitnah yang membuatmu hancur berkeping-keping. Maaf,” lirih terdengar sesal Bima.
Lelaki itu bangkit perlahan. Memindahkan Dayu yang masih tertidur lelap dengan seragamnya. Ia membuka ikat rambut gadis itu, rambut indahnya tergerai sempurna. Bima membaringkannya di peraduan miliknya.
Ada gelora besar yang tumbuh di dadanya ingin merengkuh penuh Dayu dalam pelukannya saat itu juga. Membawanya mengingat masa-masa indah yang pernah mereka lalui, tapi hal itu ia urungkan. Gadis di hadapannya masih mencari ingatannya yang terserak. Ia hanya mencuri kecupan kecil di bibir Dayu yang berwarna merah alami. Merasa dirinya telah sehat dari tiga hari sebelumnya, ia memilih duduk di ruang tamu sembari memandang lukisan dirinya dulu bersama Diah Rahayu Pitaloka.
Dayu bangun sambil tersentak kaget. Ia dapati dirinya berbaring di ranjang tempat Bima tidur semalam. Segera ia melihat pakaian sekolahnya. Masih lengkap. Gadis itu bernapas lega. Ia sempat mengira lelaki dewasa itu mencuri kesempatan ketika dirinya lengah tadi.
Ia melihat jam dinding di kamar Bima. Pukul 08.00 pagi, artinya ia terlambat ke sekolah. Dayu berdiri dan merapikan diri ala kadarnya, setengah berlari membuka pintu dan mau tak mau ia menabrak tubuh Bima yang juga akan masuk ke dalam kamar.
“Kau mau kemana, ini masih pagi?” tanya Bima heran melihat Dayu seperti dikejar setan.
“Ya sekolah, Pak. Ini udah terlambat satu jam. Nanti ada ulangan.” Gadis itu berlari dan telah sampai di depan pintu.
“Ini kan hari sabtu, Yu. Sekolah libur.”
Mendengar jawaban Bima, terpaku tubuh Dayu di tempatnya berdiri.
“Oh, gitu. Maaf, lupa,” jawabnya santai.
“Tapi saya tetap harus pulang, Pak. Rumah saya bukan di sini.”
“Sampai rumah mau ngapain. Jadi babu dua orang pemalas itu lagi.”
“Ya, nggak. Terus mau ke mana lagi, kalau bukan ke rumah.”
“Sudahlah, itu kamar belakang. Pakailah untuk istirahat kalau kau masih mengantuk. Ada baju-baju lengkap untukmu di sana tanpa kekurangan sedikit pun.”
Dayu menajamkan pandangannya pada Bima, berpikir lelaki itu akan mengambil keuntungan darinya.
“Aku tak akan berbuat tak senonoh. Kalau mau tadi malam saat kau tidur aku bisa melakukannya.”
“Cih. Aku hajar sampai pingsan baru tahu.”
Bima tertawa mendengar jawab Dayu.
“Sana. Bersihkan dirimu, pakailah rumah ini sesuka hati. Semua milikku adalah milikmu juga. Dan aku baru selesai masak, perutmu pasti lapar, kan? Seharian mencari tahu tentang masa lalu dan juga menjagaku, pasti kau sangat lapar.”
Dayu menggeleng membantah perkataan Bima. Seketika itu juga perutnya berbunyi sangat kuat. Harum makanan mengalahkan rasa gengsinya. Gadis itu kemudian menunduk dan menuruti kata Bima tadi. Ia masuk ke dalam kamar yang sangat nyaman. Jauh beda dengan rumahnya yang sangat jorok dan hampir roboh.
Lemari besar tiga pintu ia ia buka, berbagai macam pakaian tergantung dan terlipat rapi di sana, ada sepatu, tas dan juga berbagai perhiasan masa kini, semuanya lengkap disiapkan Bima ketika sukma Ayu telah menemukan tubuh yang tepat untuk menyatu.
Tangan gadis itu membuka salah satu laci pakaian. Beberapa pakaian dalam membuatnya membelalakkan mata, rasa malu mendominasi.
“Dia ini, seperti tahu kalau aku akan menginap di sini hari ini. Diah Rahayu Pitaloka, apakah aku adalah kau, atau kau adalah aku?”