Dia Seorang Panglima?

1263 Words
Lembar demi lembar buku sejarah gadis itu baca di dalam perpustakaan. Dimulai ketika jam istirahat berbunyi hingga bel masuk kelas terdengar. Ia menandai halaman yang belum selesai dibaca. Rasa penasarannya sangat tinggi. Entah mengapa ia sangat tertarik membaca sejarah kerajaan Majapahit yang disebutkan memiliki kekuasaan yang sangat besar melalui monopoli perdagangan hingga sampai ke negeri Singapura, bahkan memiliki hubungan yang dekat dengan Tiongkok. Dayu berjalan ke kelas, di mejanya terdapat beberapa kuntum mawar merah dengan coklat yang terbilang mahal. Ketiga kalinya dalam minggu ini ia mendapatkannya. Dan seperti biasa, coklat yang ada ia bagi-bagikan dengan teman sekelas. Dayu tak lagi dikenal sebagai gadis penakut dan sasaran bulian. “Murahan,” ujar Diana ketika lewat di meja Dayu. “Ini cokelat mahal, mau?” Dayu menawarkan sembari setengah mengejek. “Sugar baby, lo kira gue gak bisa beli!” “Yaudah kalau nggak mau, pergi deh daripada kepalamu jadi sasaran buku tebal ini. Heran, gak pinter-pinter sampai sekarang.” Diana ingin menghajar Dayu seperti dulu, tetapi ia urungkan karena kekuatannya tak sebanding dengan gadis yang digosipkan berubah drastis karena operasi plastik. Saingan Dayu yang angkuh itu pergi begitu saja. Diana kembali merancang rencana untuk mengusilinya agar menjadi sorakan teman-teman yang lain. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Bel pulang sekolah telah berbunyi. Gadis dengan tato kupu-kupu biru itu tak berniat pulang. Ia memilih kembali menghabiskan waktu di pustaka sekolah dengan fasilitas internet lebih lengkap dan juga kencang. Halaman demi halaman ia baca. Hingga Dayu sampai ke zaman Majapahit di mana ketika wilayah itu diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dan dibawahi oleh Mahapatih Gajah Mada yang terkenal. Gegas tangannya membuka laman web untuk mencari informasi yang tak ia dapatkan di buku. Laman demi laman ia baca hingga tak sadar waktu telah berlalu lebih dari dua jam. Belum juga ia dapatkan bacaan yang memuaskan hatinya. Hingga dirinya mengklik sebuah tulisan berwarna biru dengan garis bawah. Kisah lain yang tidak diceritakan di sejarah manapun. Dayu mengklik tulisan itu. Dalam laman itu tertulis bahwa Mahapatih Gajah Mada memiliki tiga orang bawahan yang sangat hebat, salah satunya bernama Panglima Bima Wiraja, ia terkenal sebagai kesatria paling muda serta tegas diantara dua yang lain. “Apa Bima Wiraja itu Pak Bima, ya?” tanyanya sendiri sambil menggigit jari. Terus ia membaca artikel itu. Disebutkan juga Panglima Bima Wiraja mempunyai peran besar dalam menggempur musuh atau penghianat. Ia juga tak segan-segan melatih langsung prajurit yang baru direkrut. Kesetiaanya sebanding dengan penghargaannya, kekayaannya sebanding dengan ketampanannya. Dan penghianatannya tak sebanding dengan pengorbanannya. Panglima Bima Wiraja disebutkan menghilang setelah diketahui nyaris membunuh putra mahkota karena terlibat skandal dengan seorang wanita. Selesai. Tak ada lagi informasi yang bisa dibaca. Gadis itu membuka laman yang lain, tak ada lagi cerita yang sama. Ketika ia ingin menutup layar web, Dayu membaca lagi sebuah tulisan. Ilustrasi Wajah Bima Wiraja. Tanpa ragu ia mencoba lagi mencari tahu seperti apa wajahnya, tetapi ketika tampilan hampir penuh, listrik di sekolah itu padam. Gadis itu mendesah kecewa, generator pun tak hidup selama beberapa saat. Petugas pustaka bahkan memintanya pulang karena waktu menunjukkan sudah sangat sore. “Ya sudahlah, besok aja lagi, semoga artikelnya masih tersimpan,” gumamnya sendiri. “Btw, Pak Bima mana, ya? Katanya ngajar olahraga di sini, tapi udah tiga hari nggak kelihatan. Teleponnya juga gak aktif. Eh ngapain juga nanyain dia. Pembual, ngomongin masa lalu terus,” gerutu Dayu seorang diri. Gadis itu melangkah terus tanpa peduli banyak mata lelaki yang memandangnya. Bis kota yang seharusnya datang belum juga sampai. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menaiki angkot walau ia harus beberapa kali bertukar kendaraan dan ongkos yang dikeluarkan jauh lebih mahal. Pada rute terakhir, supir angkot membawanya ke sebuah tempat yang sangat sepi. Dayu yang tertidur karena kelelahan tak sadar dirinya dibawa ke sebuah gedung kosong tak bertuan. Ia tersadar ketika tangan sopir yang hitam legam itu menyentuh betisnya. “Hei, mau apa kau?” Dayu meninggikan suaranya dan terdengar sangat tegas. “Jangan melawan cantik. Aku mau bawa kamu seneng-seneng. Jangan takut, kita nggak sendiri, temenku ada dua lagi di dalam, yuk.” “Lancang!” Tangan kanan Dayu sontak menampar pipi lelaki yang giginya tak beraturan itu. Napasnya bau rokok hingga tercium sangat busuk. “Kurang ajar, berani, lo, ya!” Lelaki itu bersiul memanggil dua temannya yang lain. “Mampus, lu. Sebentar lagi bakalan mohon-mohon minta ampun, sombong!” Gadis yang dahulunya merupakan pendamping Bima di masa lalu itu tidak sedikit pun kehilangan kekuatannya. Matanya menoleh ke sana kemari, mencari benda yang bisa ia ayunkan sambil memberi pelajaran tiga lelaki yang kini berusaha menyentuh dirinya. Dayu masih mengelak ke kiri dan ke kanan menghindari tangan-tangan jahil tak tahu diri. Ia belum melakukan tindakan apa pun. Namun, pergerakannya yang sangat cepat membuat mereka bertiga semakin beringas dan tak tahu diri. Salah seorang lelaki itu mengambil batu. Cepat ia lemparkan ke kepala Dayu yang menunduk mengambil sebatang bambu yang tergeletak di tepi jalan. Ketajaman insting gadis itu membuatnya cepat mengelak. Batu yang semula nyaris mengenai bahunya, kini telah berpindah ke tangan kanannya. Ia melakukan serangan balasan, melemparkan kembali batu itu dengan tepat mengenai tenggorokan lelaki berambut gondrong dan penampilan urakan. Ia terjatuh sembari memegang lehernya yang merasakan sakit luar biasa. Hantaman gadis itu tidak main-main. Dua lelaki lainnya datang mendekat, mencoba menarik rambut Dayu. Sebelum mereka menyentuh bahkan ujung kuku Dayu, gadis itu telah terlebih dahulu mengayunkan sebilah bambu hingga tepat mengenai perut para lelaki yang ingin mencelakainya. Dua orang itu muntah akibat libasannya. Jatuh sambil menekuk lutut ke perut untuk menahan sakit. “Lemah, nafsu besar tenaga tak ada. Cuih!” Dayu berludah di dekat mereka bertiga. Ia lalu berjalan lurus hingga sampai di jalan besar. Entah di mana Dayu berada saat itu. Insting bertahannya mengatakan untuk berjalan ke arah kanan. Ada sesuatu yang berbisik pada dirinya agar pergi ke sebuah rumah yang jauh dari tepi jalan besar. Hingga gadis itu sampai di sebuah rumah yang tidak kecil tapi juga tidak bisa disebut mewah. Rumah itu tertutup pagar besi dengan ukiran yang sangat rumit. “Buka nggak, ya? Tapi ntar dibilang maling. Tapi nggak enak kalau kata hati nggak diikutin.” Ragu-ragu ia akan sikapnya lagi. “Ah, buka ajalah. Bilang aja nanti nyasar.” Gadis itu membuka pagar yang tak terkunci. Rumah ini jauh dari rumah lainnya. Tak padat seperti tempat tinggalnya. Dayu masih mengikuti suara yang terus berbisik pelan. Dengan memastikan diri ia membuka pintu yang juga tidak terkunci. Perlahan gadis itu menangkap suara rintihan yang menahan sakit luar biasa. “Pasti dia butuh bantuan, makanya ada yang menuntunku ke sini.” Dayu membuka pintu arah suara itu berasal. Gadis itu terkejut ketika menemukan seseorang yang dikenal meringkuk di atas ranjang, sambil memegang d**a sebelah kirinya. “Pak Bima, kenapa? Sakitkah?” Bima membuka matanya perlahan, agak membayang ia melihat Dayu. Tapi suaranya terdengar sangat jelas. “Kenapa kau kemari, Ayu?” tanyanya pelan. “Nggak tahu, ada yang menuntun saya ke sini, Pak. Kalau sakit banget ayo kita ke rumah sakit.” “Jangan. Dokter tak bisa menyembuhkan penyakitku.” “Terus. Kita diem aja, gitu?” “Cuma kau yang bisa mengobatinya, Ayu.” “Pak, please, di jam gini nggak usah ngelantur deh.” Bima menangkap tangan kanan gadis itu. Bola mata Dayu nyaris keluar dari tempatnya. Perlahan lelaki itu menuntun telapak tangannya agar menyentuh jantungnya yang tak berdetak tak keruan sangat cepat. “Ingatlah semuanya, Ayu. Apa kau tak juga heran darimana kekuatanmu berasal? Itu semua karena kebersamaan kita dulu.” Gadis itu menelan saliva mendengar tutur Bima. Pikirannya tertuju pada artikel yang ia baca tadi sore. “Apa nama bapak, Panglima Bima Wiraja dari zaman Majapahit?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD