“Kok, Pak Bima tahu aku punya tato kupu-kupu biru, Jangan bilang?”
“Meskipun aku bisa, aku tak akan melakukan hal itu padamu, Ayu.”
‘”Dayu!” sanggah gadis itu.
“Kupu-kupu biru itu adalah sukmamu yang terbang selama hampir ribuan tahun. Selama itu juga kamu menyiksaku dengan rasa rindu yang mendalam. Kau tahu rasanya lebih sakit dari ribuan panah yang menusuk tubuhku.”
“Bapak ngelantur lagi, ya?” tanya Dayu heran.
“Terserah kau mau katakan apa. Yang harus kau tahu, aku tak akan menyerah mengejarmu. Sampai kau ingat semua kenangan kita, juga rasa sakit yang menderaku selama ini. Hanya kau yang bisa menyembuhkannya.”
“Ok. Kita pulang sekarang, Pak. Makin malam Pak Bima makin bicara yang nggak-nggak.” Dayu mulai memijat kepalanya sendiri yang mulai terasa pusing.
“Bersabarlah, Ayu. Setiap hari kau akan melihatku seperti ini. Apalagi mulai besok aku akan mengajar di sekolahmu. Mata pelajaran olahraga. Di sana aku akan membuka sedikit demi sedikit ingatanmu. Bertahanlah walau terasa sakit.”
“Ya, ampuun. Aku merasa seperti dikejar om-om.”
Dayu berjalan cepat ingin menghindari lelaki yang ia anggap bicara tak menentu. Segera Bima mengejarnya dan menyeretnya masuk ke dalam mobil. Sepanjang jalan mereka diam tanpa ada yang berniat memecahkan keheningan. Bima merasa ia sudah cukup banyak bicara hanya butuh pembuktian saja.
Kali ini Bima mengantar Dayu sampai di depan rumah walau harus memarkir kendaraannya jauh. Ia tetap berjalan kaki walau gadis itu mendorongnya berkali-kali. Bima merasa de javu dengan sikap konyol Dayu. Sampai di depan rumah mereka berdua melihat pemandangan dua orang laki-laki tengah mengepulkan asap dari mulutnya.
“Ayu, kalau kau tak mau tinggal di sini. Rumahku selalu terbuka kapan saja untukmu.”
“Aku bisa mengatasinya, Pak.”
“Tentu, aku percaya denganmu. Tapi jujur saja aku ingin menikam perut mereka dengan pedang. Lelaki lemah yang hanya tahu menindas wanita.” Terlihat jelas pancaran kemarah di wajah Bima.
“Pak. Bisakah nggak usah pakai bahasa formal seperti zaman kerajaan gitu, lidah saya serasa terbalik harus menyusun SPOK kalau bicara.”
“Kita memang pasangan dari zaman kerajaan. Suatu hari nanti kau pasti bisa mengingatnya.”
“Dan sebelum suatu hari itu datang. Please, bersikaplah biasa aja. Risih tahu, Pak. Belom lagi pemandangan anak-anak di sekolah tadi.”
“Baik, jika memang itu maumu, Ayu.”
“Dayu,” bantah gadis itu lagi.
“Selamanya akan tetap Ayu,” tegas Bima Kembali.
“Terserah. Pulang sana, Pak. Hari juga hampir malam.”
“Jaga dirimu baik-baik, Ayu.”
“Ya ampun. Udah kayak mau pergi perang jadinya.”
“Iya, kita dulu pernah pergi perang Bersama. Waktu itu kau—”
“Ah, udahlah, makin ngelantur jadinya.”
Dayu kembali mendorong tubuh kekar Bima menjauh dari rumahnya. Lelaki itu meskipun ingin, harus menahan diri untuk membawa istri ribuan tahunnya pergi dari rumah yang serupa dengan neraka itu. Ia hanya berharap agar usahanya besok membuka ingatan Dayu sedikit menunjukkan hasil. Berat baginya untuk terus berada dalam dekapan rasa rindu yang tidak bisa sampai pada temu.
Bima membiarkan tubuhnya disiram air hujan yang baru saja turun. Baginya hujan juga merupakan saksi perpisahannya dengan Ayu. Ketika tubuh istrinya melebur dan sukmanya terpisah tetesan air langit itu juga turun seolah merasakan kepedihan dua insan itu.
Sementara itu, Dayu kembali ke luar rumah ingin mengejar Bima dan memberinya payung, walaupun telah usang. Namun, langkahnya kembali ditahan oleh Herman, lelaki itu meminta sejumlah uang untuk membeli rokok, mulutnya terasa asam karena hanya sedikit yang ia hisap dari pagi.
“Kalian seperti nggak ada kerjaan lain aja. Makan, tidur, merokok. Dasar otak pemalas.” Dayu melempar selembar uang berwana hijau pada mereka.
“Ini nggak cukup untuk kami berdua, Yu,” jawab Herman.
“Terserah. Kerja sana, jangan nyusahin orang terus.”
Dayu berjalan cepat menyusul Bima kembali. Ada yang menuntun hatinya agar mengikuti kemana lelaki itu pergi saat ini.
Bima masih belum pergi dari tempat itu. Ia memegang daging yang membalut tulang rusuknya, terasa sakit dan perih terkena guyuran air hujan. Rasa itu seringkali datang bersamaan dengan air langit yang semakin lebat turun. Ia hanya menggeram, tidak ada obat untuk meredamnya, kecuali ….
“Buka pintunya, Pak.” Dayu mengetuk jendela mobilnya.
“Ke-kenapa kau kembali. Ini sudah malam, istirahatlah,” gumam Bima sambil menahan rasa sakit.
“Pak Bima sakit apa? Itu mukanya sampai memerah begitu.”
“Sakit di hati. Hanya kau yang bisa menyembuhkannya.”
“Gombal!”
“Aku serius, Ayu.” Kembali lelaki itu memegang jantungnya, rasa nyeri semakin kuat melanda.
“Bapak baik-baik aja, kan? Atau kita perlu ke rumah sakit?”
“Tidak usah. Nanti juga hilang sendiri. Aku sudah terbiasa dengan sakit ini selama hampir ribuan tahun terpisah darimu.”
“Ribuan tahun? Emang Bapak lahir di zaman dinosaurus, gitu?”
“Bukan. Kita terlahir, dipertemukan, dan dipisahkan di zaman Majapahit.”
“Ok, terserah. Terus sekarang aku harus gimana?”
“Tidak ada, temani saja aku di sini sampai rasa sakitnya hilang.”
Rasa sakit luar biasa itu berangsur menghilang dari raga tegap Bima. Perlahan matanya terpejam, lelah karena menahan nyeri yang tidak berkesudahan dari dulu. Dengkur halus terdengar oleh telinga Dayu. Ia mengambil beberapa helai tisu. Membersihkan air hujan dan keringat yang menyatu di wajah lelaki itu. Ada rasa iba menelusup dari hati Dayu, tetapi ia bisa apa? Gadis itu bahkan tak ingat siapa dirinya. Ia hidup mengandalkan kemampuan berpikirnya yang cepat.
“Semoga bapak dipertemukan dengan orang yang tepat. Entah itu pacar atau istri. Kasihan rasanya melihatmu ngelantur terus-menerus dari tadi.”
“Apa sakit hati karena kehilangan itu rasanya seperti ini, ya? Terus kenapa juga bapak bersikeras bilang kalau aku Ayu. Apa karena wajah kami mirip?” gumamnya lagi seorang diri.
Usai membersihkan tubuh Bima, gadis itu menutupinya dengan jaket usang miliknya. Ia sejujurnya merasa tergugah dengan kegigihan lelaki itu selama dua hari berjumpa. Namun, ia tetap belum bisa mengingat apa pun walau sedikit.
“Apa aku ini memang Ayu yang bapak maksud? Kalau aku tak bisa mengingat semuanya, apa bapak bisa menerimaku seperti ini, sebagai Dayu?”
Gadis itu memegang telapak tangan Bima yang terasa dingin. Ia mengingat sedikit perkataan Bima tentang kerajaan Majapahit. Rasa ingin tahunya yang besar menuntunya untuk mencari tahu tentang misteri semua yang dikatakan Bima. Ia meletakkan tangan Bima dan berniat keluar, tetapi langkahnya ditahan kembali oleh lelaki itu.
“Kau tetap istriku dari dulu, Ayu. Tak akan berubah sampai kapan pun.” Bima kembali menutup matanya setelah menegaskan kepemilikan gadis itu padanya.
“Lebih baik aku kembali ke rumah. Lama-lama bisa digerebek orang kalau kedapatan berduaan dalam mobil gelap-gelap gini.”
Gadis itu pergi, meninggalkan raga yang masih dan terus merasakan sakit, hanya ia sendiri yang bisa menyembuhkan luka tak berwujud itu. Namun, takdir seolah masih enggan menyatukan kisah cinta mereka kembali. Kisah cinta yang membuat iri siapapun di zamannya saat itu.
“Aku harus pelajari lagi apa itu kerajaan Majapahit dan semua silsilahnya. Kalau memang benar apa yang dibilangnya, aku juga harus tahu apa penyebab kenapa kami harus berpisah.” Gadis itu berjalan di bawah gerimis sambil bergumam sendiri.
“Eh, tunggu. Itu artinya Pak Bima berusia ribuan tahun juga? Terus kenapa bisa awet muda?”