“Kenapa bisa di sini, Pak?” tanya Dayu pada Bima.
“Lain kali hati-hati kalau mau jalan. Bahaya mengintai kapan saja tanpa kamu sadari.” Bima menyingkirkan pecahan pot bunga yang nyaris menghantam kepala Dayu.
“Eh, iya, makasih ya, Pak. Tapi kenapa Bapak bisa ada di sini?”
“Saya guru baru di sini. Bisa kamu tunjukkan di mana ruang komite sekolah? Daripada mencari terlalu jauh, lebih baik berjalan sama kamu, iya, kan?” Bima tersenyum melihat penampilan cerah gadis itu. Seragam sekolah yang ia kenakan sangat pas di tubuhnya.
“Oh, gitu. Komite sekolah ada di sana, Pak.”
“Antarkan, anggap ini membalas kebaikan yang terus kamu bilang dari kemarin.”
Dayu mengantarkan Bima menuju ruangan yang dimaksud. Jalan yang dari tadi sepi ketika dilewati gadis itu mendadak ramai, siswa wanita terlihat berbisik-bisik begitu juga beberapa siswa lelaki yang memandang dengan tatapan mengintimidasi.
Penampilan Bima kali ini cukup membuat jantung Dayu berdebar kencang. Lelaki itu terlihat lebih maskulin daripada semalam. Baju kaos berkerah yang ia kenakan memamerkan tangannya dengan otot-otot yang sangat padat. Wajar saja, suami masa lalu Dayu itu dahulunya ada panglima perang, usia yang hampir ribuan tahun tak membuat kemampuannya memudar sedikit pun.
“Ini dia, Pak. Ruangannya, kalau begitu saya permisi dulu.”
“Tunggu,” Bima mencekal tangan Dayu, hal itu membuat siswa lainnya saling berbisik.
“Tunggu aku di mobil, ini kuncinya, kita pulang bersama seperti kemarin.” Bima memaksa gadis dengan tato kupu-kupu itu menerimanya.
Walau terpaksa, Dayu tetap menerimanya, sepanjang jalan ia harus menahan dirinya dicemooh oleh siswa lain.
“Kecentilan.”
“Pantes cantik, ternyata jadi sugar baby.”
“Seleranya om-om tajir ni yee.”
“Masih perawan gak, tu?”
“Sugar dady dan baby satu sekolah, awas jadi aib besar.”
Sepanjang jalan ia menelan saja semua penghinaan atas dirinya. Dayu malas untuk membuat keributan dengan siswa yang lain. Fokusnya adalah menemukan kembali ingatan dirinya yang hilang. Ia menganggap angin lalu semua penghinaan itu.
Lama gadis itu menunggu di dekat mobil Bima. Ia tak menghiraukan lagi pandangan mata jahat siswa siswi di sekitarnya. Hingga lelaki itu datang setelah menunggu sejam lebih.
“Kenapa nggak tunggu di dalam?”
“Nggak tahu cara bukanya,” jawab Dayu polos.
Bima menunjukkan cara membuka pintu besi itu secara berurutan pada istri masa lalunya. Dayu hanya berusaha menutupi wajahnya dengan tangan, ia bisa menebak pastilah bisik-bisik tentang dirinya semakin menjadi.
“Ngerti?”
“Eh, iya … ngerti, Pak.”
“Kalau gitu coba.”
Berulang kali gadis itu mencoba tetapi tidak juga berhasil, wajar saja, benda mati itu masih terkunci karena ulah Bima.
“Gini caranya. Aku ulang sekali lagi.” Bima membelakangi tubuh mungil Dayu, sekilas terlihat lelaki dewasa itu seperti memeluk tubuh Dayu dari belakang.
Berhasil, Dayu kemudian masuk dan duduk di kursi sebelah Bima. Mereka berdua pulang setelah menyisakan beberapa tatapan iri pada sejumlah siswi wanita. Wajah tampam dan tegas Bima membuat banyak gadis terpesona. Begitu juga dengan berubah drastisnya kecantikan Dayu, membuat tak sedikit siswa lelaki mendadak berdebar melihat senyuman dari bibir merah meronanya.
“Kamu mengingatkanku dengan seseorang,” ucap Bima menhentikan kesunyian di antara mereka.
“Siapa, Pak?”
“Seorang wanita yang sangat berarti.”
“Pacar?” tanya Dayu dan Bima hanya menggeleng.
“Terus, istri?”
“Belahan jiwaku, dia terlalu lama pergi membawa kepingan hati ini. Hidupku serasa mati dibuatnya.”
“Gombal,” sahut Dayu.
“Aku harap kamu bisa mengingatnya dengan cepat, Ayu.”
“Ngomong sama aku, Pak?”
“Memang di dalam mobil ini ada siapa lagi?”
“Ya nggak ada, tapi namaku Dayu, bukan Ayu, kurang huruf D!” tegas gadis itu.
“Kau tak berubah sedikitpun, Ayu. Tetap berani seperti dulu. Sampai kapan aku harus menahan kerinduan di dekatmu.”
“Aduh, Pak, please, ngomong apa, sih dari tadi.”
Bima menghentikan kendaraannya di tepi jalan. Ia memijit kepalanya sejenak, pikirannya kalut dan juga merasa lelah, wanita yang ia nanti selama ini tak mengingat apapun tentang mereka. Entah berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuka kembali pikirannya.
“Pak Bima, nggak apa-apa?”
“Kepalaku sakit, tunggu sebentar lagi baru kita pergi.”
Dayu memegangi dahi lelaki di sebelahnya, tidak terasa suhu tubuhnya panas. Ia kemudian menawarkan diri untuk memijit pelipis Bima. Lelaki di sebelahnya tidak menolak sedikitpun. Sentuhan kulit itu menimbulkan reaksi sendiri di tubuh tegapnya. Berbeda dengan Dayu yang tidak merasakan apapun. Sekian menit mereka habiskan untuk menikmati kebersamaan itu.
Bima membuka matanya, netra dua orang itu saling tatap penuh arti. Di mata Dayu ia seperti melihat seseorang dengan tampilan masa silam, rambut panjang dan mengendarai kuda. Sedangkan di mata Bima, ia melihat kebersamaan mereka dulu yang sangat bahagia sebelum tragedi mengenaskan itu menyerang dan membuat mereka terpisah.
“Dayu.” Bima memegang bahu gadis itu dengan sangat erat.
“Ap-apa,” jawab Dayu gugup sembari menahan napas, jarak mereka kini sangat dekat bahkan ujung hidung mereka hampir bersentuhan.
“Aku lebih suka melihat rambutmu dibiarkan begitu saja.” Bima menarik paksa ikat rambut Dayu yang menahan gerakan indah apabila surai legam itu tertiup angin.
Dayu menarik napas panjang hampir serupa mendesah. Hal itu membuat Bima memejamkan kembali matanya. Alasan panas membuat Dayu harus mengikat rambut panjangnya. Tak ingin terkurung lebih lama hingga membuat diri lelaki itu melampiaskan semuanya pada Dayu, Bima pun mengendarai mobilnya lagi.
Namun, bukan rumah gadis itu yang ia tuju, melainkan sebuah danau di tengah taman. Bima masih berusaha membuka kembali setiap kepingan ingatan istri ribuan tahunnya yang berserakan.
“Kenapa kita kesini, Pak? Hari udah hampir malam, loh.”
“Dulu, di tempat seperti inilah aku mengungkapkan perasaan dengannya.”
“Terus urusannya denganku apa?” gumam Dayu dalam hati.
“Tentu saja ada hubungannya denganmu, Ayu.”
“Dayu,” tegas gadis itu. Ia merasa terkejut karena pria itu seolah-olah mendengar isi hatinya barusan.
“Dulu, Ayu membuat hidupku di tengah peperangan terasa semakin rumit, juga … berwarna.”
Bima duduk disebelah Dayu yang menopang dagunya dengan tangan. Gadis itu enggan mendengar cerita masa lalu pria di sebelahnya tetapi ia juga sungkan untuk menolaknya secara langsung.
“Apa kau tak juga ingat bagaimana pertemuan pertama kita?”
“Mulai deh ngelantur lagi,” ujar Dayu dalam hati.
“Kau tak ingin mendengar cerita itu dariku. Siapa tahu ingatanmu langsung terbuka setelah ini.”
“Nggak, aku mau pulang, Pak. Hari udah gelap, kalau nggak mau antar, aku pulang sendirian, jalan kaki.”
Bima menarik napas berat dan dalam. “Baiklah, aku akan mengantarmu, Ayu.”
“Ck, Dayu, Pak, Daaayuuu.”
“Terserahku mau memanggilmu apa, lagi pula nama kalian hampir sama.”
“Di bahu sebelah kirimi ada tato kupu-kupu berwarna biru, bukan?”
Dayu tersentak mendengar perkataan Bima, bagaimana mungkin pria di sebelahnya tahu tentang hal itu. Apa ia pernah melihat bahunya dulu?