Mencari Tahu

1364 Words
Dengan ponsel di tangan, Dayu mencoba mencari resep masakan yang mudah dibuat. Gadis itu membuka kulkas yang sudah usang, benda yang ia cari tahu dari google sebagai tempat menyimpan bahan makanan juga minuman. Hanya ada beberapa butir telur di sana, juga ada nasi yang entah bagaimana bisa disimpan di dalam benda yang mengeluarkan udara dingin itu. Beberapa kali menelusuri hasil pencarian, akhirnya gadis itu menemukan resep mudah membuat nasi goreng. Makanan yang bisa dibuat dengan bahan-bahan yang mudah. Dengan kecepatan tangannya ia meracik semua bumbu yang ada, menuangkan nasi di atas wajah yang sudah menghitam di sana sini. Memasak beberapa butir telur. Setelah selesai ia hidangkan di dalam dua buah piring setelah ia cicipi. Rasanya tidak buruk untuk dirinya yang pertama kali mulai memasak. Seperti dugaannya, dua lelaki pemalas itu makan dengan lahapnya tanpa sisa. Ia sendiri enggan untuk berurusan dengan mereka, memilih masuk ke dalam kamarnya yang sangat berantakan. Perlahan-lahan gadis itu membereskan kekacauan yang ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Kamar itu sangat tidak layak, sempit bahkan sangat pengap. Bekas atap bocor terlihat dengan jelas. Kasur yang sangat keras bahkan mungkin saja berkutu. Tumpukan buku dan baju yang terlihat di mana-mana. Tidak ada peralatan untuk berhias, hanya ada cermin kecil dan sebuah sisir juga ikat rambut di dekat lemari yang bahkan kayunya nyaris roboh di makan rayap. “Apa aku semenyedihkan ini selama hidup? Huuh.” Dayu memegang kepalanya yang terasa sakit. Bayangan Bima kembali hadir dalam balutan pakaian zaman dahulu. “Aku sebenarnya kenapa? Terus lelaki itu siapa?” Meski sakit kepala hebat masih menyerang kepalanya. Gadis itu tetap membereskan kamar. Ia menyusun buku-buku sekolah miliknya dulu. Ia lalu mempelajari dengan cepat buku demi buku yang ada. Mulai menelaah apa saja yang harus ia siapkan untuk sekolah besok, hal pertama kali yang akan ia lakukan. Gadis itu memasukkan beberapa buku di tasnya yang bahkan terlihat hampir putus dan telah dijahit beberapa kali. Beruntung tadi Bima memberikannya ransel baru berwarna hitam, pria itu memaksa agar ia menerima pemberiannya. “Dia seperti tahu kesulitan apa yang akan aku terima. Apa dia peramal atau … ah sudahlah. Besok anggap saja petualangan di mulai.” Dayu melanjutkan menyeterika pakaian sekolahnya. Kemeja bagian atas berwarna merah muda serta rok yang tidak terlalu panjang berwarna abu-abu, dasi berwarna merah menjadi pemanis penampilannya besok. Ia juga melanjutkan aktivitas pencariannya di google. Tempat sekolahnya besok merupakan salah satu sekolah favorit yang ada di kota agak jauh dari rumahnya. Ia sendiri bisa sekolah di sana karena beasiswa atas kepintarannya, begitu menurut penuturan ibu yang memberinya gaji terakhir tadi pagi. Merasa lelah ia tertidur di ranjang dengan bantal yang juga sudah keras. Sebelum terlelap kembali bayang wajah Bima dan seorang wanita dengan pakaian zaman dahulu menghampiri dirinya. *** Gadis itu telah pergi sedari pagi buta. Sebelumnya ia telah mencari tahu jalan mana saja yang harus ditempuh untuk sampai ke sekolahan. Menaiki bis sampai tiga kali ganti, dan memakan waktu setidaknya satu jam lebih. Ia bahkan mengabaikan permintaan dua lelaki pemalas itu untuk menyiapkan makanan. Dirinya sudah cukup berbaik hati tadi malam. Ia telah sampai di seberang sekolahnya. Dayu memperhatikan beberapa anak yang berpakaian sama dengannya. Menyeberang, ia pun ikut di belakang. Sekolahnya cukup bahkan sangat luas. Ketika sampai di depan gerbang, beberapa lelaki yang nampak seumuran dan berpakaian sama dengannya menyapa dirinya. Gadis itu hanya tersenyum seperlunya. Ia yang kini duduk di tingkat 12 menuju ke kelasnya. Sepanjang perjalanan hampir semua mata memandangnya. Beberapa siswa lelaki bahkan tak mau berkedip, beberapa siswa wanita menampakkan wajah tak suka melihat penampilan baru Dayu. Bahkan mereka menerka gadis itu selama liburan melakukan operasi plastik untuk mempercantik dirinya. “Eh, itu Dayu, kan? Kok jadi sok cantik gitu, ya?” tanya seorang siswa wanita dengan dandanan berlebihan. “Pasang susuk kali,” sahut yang lain. “Emang punya duit, dia kan miskin kayak gembel. Untung pintar aja dia bisa sekolah di sini.” “Bodo amat. Awas aja dia ngerayu cowok kita mentang-mentang udah cantik. Kita rusak wajahnya.” Yang lain setuju dengan penuturan gadis yang menyibakkan rambut panjangnya itu. Sampai di kelas, Dayu terlihat bingung. Ia tidak memperhitungkan sama sekali harus duduk di mana. Hingga seseorang menegurnya ketika bel masuk kelas telah berbunyi. “Kita duduk di depan, Yu. Kenapa malah bengong gitu, sih, nanti kesambet loh.” “Eh, iya, makasih,” balas Dayu. “Ih, kayak sama orang lain aja,” sahut temannya. Dayu membaca nama yang tertera di buku gadis itu, Sita. “Sita,” panggil Dayu, gadis di sebelahnya pun menoleh, “Eh, nggak jadi.” Dayu tersenyum dan memamerkan giginya yang sangat rapi dan putih. “Kamu habis operasi atau gimana, sih? Kok bisa cantik gini, gigimu juga jadi bagus banget loh. Sorry, emang kamu punya uang banyak untuk semua ini. Rapiin gigi kan gak murah, Yu. Kulitmu juga jadi halus bersih, rambutmu, ya ampuun, jadi hitam lebat halus juga. Aku jadi iri, Yu. Gimana caranya, sih. Aku sampai pangling tadi, loh, suer. Bahkan siswa yang lelaki sampai melongo mandangin kamu. Wah, wah, jadi primadona kalau gini kamu.” “Eh, gimana, ya? Aku cuma merawat diri selama liburan aja, soal gigi, aku ngumpulin uang udah lama, biar rapi juga,” jawabnya bohong. “Duh, kayaknya Diana bakalan ada saingan ini. Cowoknya tadi juga lihatin kamu, loh.” “Udah, ah, biarin aja. Kita fokus sekolah, ujian akhir sebentar lagi, kan?” Dayu mulai membuka tasnya. Obrolan mereka terhenti ketika guru telah memasuki kelas. Semua siswa dipresensi satu per satu. Ketika guru memanggil nama Dayu, pria tua itu pun harus menggosok matanya yang telah rabun berkali-kali. Guru itu pun sama, pangling dengan perubahan gadis itu. Hal demikian menimbulkan kedengkian di hati Diana, primadona kelas akhir di ruang yang sama dengannya. Seperti biasa, sukma Ayu yang berada di dalam tubuh Dayu mampu mempelajari semuanya dengan mudah. Tak heran, ia bahkan juara di kelasnya, penerima beasiswa selama tiga tahun berturut-turut. Hanya saja dulu dirinya sangatlah penakut, bahkan berkali-kali menjadi sasaran bulian yang lain. Begitu yang ia dengar dari Sita. “Hei, kepompong yang sok cantik jadi kupu-kupu. Seperti biasa, ya. Kerjakan PR kita-kita kalau kamu nggak mau dapat masalah lagi.” Diana memberikan empat buah buku di meja Dayu. Dayu memandang gadis di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tajam. Ia tak suka diperintah dengan cara yang sombong. Diamnya Dayu menyulut emosi Diana. Seisi kelas tertuju pada mereka berdua kini. Dengan berani Dayu melempar empat buah buku itu ke hadapan Diana. Hal itu membuat lawan di hadapannya murka. Ia bahkan nyaris menarik rambut panjang Dayu, tapi tak sampai karena terlebih dahulu tangan itu ditahan oleh pemiliknya. “Berani, ya, sekarang. Udah sok cantik mau sok jagoan juga ternyata, hah,” umpat Diana. “Aku nggak ada urusan sama kamu. Buat PR mu sendiri, salah alamat kamu manja sama aku.” Diana kembali melayangkan tangannya ingin menampar pipi putih Dayu, tetapi terlebih dahulu gadis itu menggulung buku tulisnya dan menghadiahi satu pukulan di kepalanya. Diana terdiam kaku di tempatnya. Tiga orang teman perempuannya yang lain datang membantu, mereka bergantian menarik baju dan rok milik Dayu. Pergerakan mereka tetaplah bukan tandingan Dayu, gadis itu kemudian menghadiahi juga satu per satu dari mereka pukulah buku di kepala. Tidak terlalu kuat tapi cukup untuk salam perkenalan bagi mereka. “Makin kurang ajar sekarang, aku aduin kamu sama cowok aku. Aku balas kamu dua kali lipat, Dayu.” “Aduin aja, aku tunggu pembalasan kalian.” Diana dan teman-temannya berlari meningalkan kelas. Seisi kelas kemudian bertepuk tangan melihat sikap heroik Dayu. Ia yang dahulu dikenal sebagai si cupu dan penakut telah berubah 180 derajat. Dayu membentengi diri sendiri, tidak boleh ada lagi yang menyakiti dirinya. *** Gadis itu berjalan dari kelas sendirian, keadaan di sekitar sangat sepi, padahal belum semua siswa pulang dari sekolah. Entah mengapa ia merasakan ada benda dari atas yang akan menimpa dirinya. Dayu mendongak, ia membelalakkan mata ketika sebuah pot bunga jatuh dari atas dan tepat mengarah ke dirinya. Sebuah tarikan tangan menghindari dirinya dari kejadian naas itu. Tubuh lelaki itu bahkan memeluknya sangat erat. Sadar dengan semua yang terjadi, gadis itu lalu melepaskan diri dari pelukan seseorang di hadapannya. Ia melihat wajah itu dan … “Eh, kok bisa di sini?” tanyanya sambil menjauh dari tubuh pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD