Memulai Perkenalan

1158 Words
Bima berjalan dengan cepat menuju tempat Dayu berdiri memandangnya. Lelaki mantan panglima perang itu dengan sengaja menabrakkan bahunya pada tubuh istri ribuan tahunnya, hingga tanpa perhitungan Dayu, ponsel pemberian Ibu Sekar terjatuh di dalam got yang airnya berwarna hitam. “Sengaja atau apa, sih, maunya?” sungut Dayu ketika ia berjongkok dan melihat ponselnya telah tenggelam di dalam sana. Ia kemudian menjulurkan tangannya, berniat memungut kembali benda itu, sebab sungkan pada yang memberikannya. “Sedang apa?” tanya Bima tanpa rasa bersalah. “Menurutmu, apa aku terlihat sedang masak?” ketus Dayu, dan detik itu juga ia mengalami kilasan ingatan, seakan-akan pernah mengalami kejadian yang sama dengan sekarang dalam jangka waktu yang berbeda. Sekelebat ingatan yang membuat gadis itu menggelengkan kepalanya. “Sudah, tidak usah diambil, sebagai gantinya akan kubelikan yang baru.” “Tidak, lagian dari dulu juga sepertinya aku nggak pernah pakai benda seperti ini. Aku tidak peduli,” jawab Dayu sembari menepuk bibirnya sendiri. Ia merasa aneh dengan gaya bicaranya sendiri, ada rasa ingin menggunakan bahasa yang lebih kaku, tetapi mendengar orang lain berbicara dengan santai, ia pun ingin seperti itu. “Ayolah, aku memaksa. Sebagai permohonan maaf.” Bima mengulurkan satu tangannya pada Dayu yang sedang menatapnya sembari berjongkok. Lagi, gadis itu merasa seperti pernah melewati kejadian yang sama. Dengan tanpa rasa sungkan ia memberikan tangan kanannya pada Bima, kemudian ia menurunkannya lagi. “Nggak usah, bisa sendiri, aku bukan perempuan manja.” Bima tersenyum sembari memamerkan giginya yang putih terawat. Istri ribuan tahunnya yang sedang kehilangan ingatan itu tidak berubah sedikit pun. Tetap menjaga jarak dengan pria yang tidak ia kenal. Meski lelaki dihadapan Dayu adalah suaminya, dulu, sebelum tragedi buruk melanda. Mantan panglima perang itu kemudian membuka pintu mobil sedannya untuk Dayu. Gadis itu mengangguk saja ketika dipersilakan untuk masuk. Dayu melihat di dalam mobil Bima, kendaraan itu terlalu mewah baginya. Bima mendekat ke arahnya, hingga Dayu memundurkan kepalanya meski harus terbatas dengan kursi mobil. “Mau apa?” tanya Dayu dengan tatapan tajam. “Pasang seat belt, nanti kita bisa berurusan dengan punggawa, ck, maksudku polisi.” Lelaki itu memastikan pengaman tersebut terpasang pada istrinya. Sejenak dua mata itu beradu pandang, dan saat itu juga Dayu memalingkan wajahnya, ia tak mau terlalu hanyut memandang lelaki yang baru saja ia jumpai. Dan lebih gilanya lagi, ia menurut saja ketika disuruh masuk ke dalam mobil. ‘Aku ini sebenarnya siapa, dan dia siapa? Kenapa aku merasa dia bukan orang jahat padahal kami baru saja bertemu,’ gumam Dayu dalam hati. Beberapa waktu berjalan membuat gadis dengan tato kupu-kupu itu memejamkan matanya di dalam pengharum mobil yang membuatnya Dayu mengantuk. Ketika lampu merah di tepi jalan menyala, Bima memandang Dayu yang tertidur lelap. Kesempatan itu ia gunakan untuk menyentuh pipi istrinya yang terasa dingin. Berbanding terbalik dengan hati lelaki itu yang terasa sangat hangat. Bima tergerak untuk menyentuh ujung hidung gadis tersebut, tetapi detik itu juga ia mengurungkan niatnya, sebab klakson dari mobil lain membuat Dayu tersentak dari tidurnya. Mereka kembali berjalan dalam keheningan, sesekali dua pasang mata itu bertemu di spion mobil Bima, lalu Dayu pun membuang wajah. Ada rasa aneh yang menjalar di dalam dadanya. Bima terus melajukan mobil menuju sebuah Mall di tengah kota. Lelaki itu tetap memaksa Dayu memenuhi ajakannya. Gadis itu sebenarnya merasa malu berjalan beriringan dengan lelaki yang baru saja ia kenal. Penyebabnya tak lain karena pakaian yang ia kenakan begitu lusuh, sedangkan setelan yang dipakai Bima begitu rapi dan wangi. “Pulang aja, nggak usah beli ponsel lagi.” Dayu berbalik dan hendak meninggalkan Bima, tetapi dengan cepat lelaki itu menangkap tangannya. “Jangan memaksaku. Ayo, jangan takut, aku tidak memakan orang.” Tanpa ingin membuat keributan, Dayu menurut saja ketika Bima meraih tangannya. Tempat yang disebut Mall oleh Bima membuat gadis itu terpukau sesaat. Deretan patung dengan baju yang begitu indah, deretan perhiasan emas yang membuatnya tersenyum, lalu berbagai makanan ringan yang membuat perutnya tanpa sadar berbunyi lagi. Beberapa toko ponsel telah Bima singgahi, dan mereka akhirnya memilih satu ponsel baru untuk Dayu dengan fitur terbaru dan harga yang sudah pasti mahal. Dengan penuh rasa sungkan gadis itu menerimanya. Ia tersenyum sedikit dipaksakan ketika Bima benar-benar mendesak dirinya untuk menerima semuanya. Usai membeli sebuah ponsel, mereka kembali berjalan, tangan Bima ingin sekali untuk mengenggam Dayu. Namun, gadis itu selalu saja menghindar, ia lebih memilih memandang kembali orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. Seolah-olah ia dan Bima adalah pasangan yang tidak serasi. Paham apa yang dirasakan oleh istri ribuan tahunnya, lelaki itu menarik tangan Dayu, memaksanya kembali untuk masuk ke dalam gerai makanan cepat saji. Mereka berdua duduk berhadap-hadapan. Hidung gadis itu mencium aroma makanan yang begitu sedap. Tak lama kemudian sepiring ayam dengan balutan tepung renyah tersaji di hadapan mereka. “Makanlah, jangan sungkan,” ucap Bima. Dengan lahap Dayu menyantap semua hidangan di depannya. Ia tak ambil pusing dengan tatapan orang-orang padanya. Gadis itu merasa ia seperti habis melakukan perjalanan jauh hingga memerlukan banyak asupan makanan untuk pulih kembali, entah pulih dari keadaan apa yang membuatnya masih bingung hingga sekarang. Lelaki itu tak makan, ia menyodorkan jatah miliknya pada Dayu. Jadilah sore menjelang malam itu beberapa potong ayam krispi habis disantap oleh gadis itu seorang diri. Bahkan tak segan lelaki bertubuh tinggi tersebut membeli untuk dibawa pulang, dan lebih gilanya lagi, di perjalanan pulang di dalam mobil, Dayu kembali menyantapnya hingga tulang ayam itu bersih. “Nafsu makan yang menakjubkan,” tutur Bima, “kau pasti lelah setelah perjalanan yang sangat panjang,” lanjutnya lagi. *** Dayu menutup pintu mobil Bima ketika ia minta diturunkan saja di tanah lapang dekat rumahnya. Ia tak mau pandangan orang yang tadi pagi aneh padanya terulang lagi. “Semoga kita ketemu lagi, ya. Jadi aku bisa balas utang budi beli ponsel ini,” ujar Dayu sebelum berlalu. “Kita pasti ketemu. Aku tahu kamu sekolah di mana.” Bima menurunkan kaca mobilnya, dan kembali memandang punggung istrinya yang pergi menjauh. Lagi, lelaki itu harus menahan rindu untuk memeluk tubuh lembut Ayu. “Sekolah,” gumam Dayu seorang diri, “ayo kita cari tahu di mana aku bersekolah.” Sampai di dalam rumah, Dayu terpana melihat ayah dan saudara tirinya hanya bermalas-malasan saja di atas sofa yang sudah usang. Ingin rasanya ia menghajar hingga mereka babak belur. Namun, satu kata dari mulut bau alkohol lelaki tua itu membuat Dayu urung. “Buatkan kami makanan, kami lapar dari pagi belom makan!” kata ayah tirinya dengan mulut mengembuskan asap rokok. Dayu berlalu, segera Joni menarik tangannya ingin kembali membuat perhitungan dengan saudari tirinya yagn berubah menjadi cantik jelita, tetapi belum sampai niat itu terlaksana, tangan Joni telah dipelintir terlebih dahulu. “Sekali lagi kamu macam-macam, aku cekik lehermu sampai kehabisan napas.” Dayu melepaskan cengkeraman tangannya pada siku Joni. Gadis itu kemudian berlalu ke dalam kamar, meletakkkan beberapa barang yang diberikan Bima padanya. Ia pun lalu membuka ponselnya kembali, menelusuri beberapa hal yang berkaitan dengan sekolahnya lagi, dan tak lama kemudian terdengar teriakan meminta makan dari dua orang pemalas di dalam rumahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD