Gadis bermata cokelat itu mandi ketika tubuhnya merasa gerah. Ia cepat belajar dari lingkungan sekitar. Dayu mengenali bahwa tempat yang ia tinggali saat itu merupakan rumahnya, walau aroma neraka sangat kental terasa di sana.
Ia masuk ke dalam kamar di mana Joni masih pingsan, mencari kain untuk berganti pakaian. Dengan pikirannya ia tanggap bahwa dress dengan warna lusuh itu adalah miliknya. Naluri sebagai orang hebat di zaman dahulu membuatnya mudah beradaptasi. Dayu kemudian melangkah ke kamar mandi dan mengguyur dirinya dengan air dingin.
Perlahan ia meraba dirinya sendiri. Ia bahkan menatap tato kupu-kupu biru yang ada di bahunya. Gadis itu berusaha keras mencari tahu siapa dan apa yang terjadi dengan dirinya. Dayu menuang sampo sachet ke dalam tangannya. Aroma bunga itu ia sesap dan ia merasa tenang menciumnya, menghadirkan ketenangan, bahkan ketika aroma itu berubah menjadi kumpulan busa yang membersihkan kepalanya. Dalam hatinya ia bertekad akan mencari tahu semua pertanyaan dalam hatinya.
Usai membersihkan diri dan mengenakan baju ala kadarnya. Dayu bergegas pergi ke luar rumah. Ia ingin mempelajari semua pergerakan sekitar. Gadis itu hanya tak ingin terlihat bingung sendiri dengan lingkungan yang baru saja ia tinggali. Ketika ke luar rumah, ia berpapasan dengan ayah tirinya yang turut menganiaya tubuh tempat sukmanya tinggal.
Dayu tak ambil pusing, selama dua lelaki itu tak coba menyentuh dan menyiksanya lagi, ia tak akan bersikap lebih berani. Namun, tatapan ayah tirinya berbeda, air liurnya bahkan nyaris menetes ketika melihat perubahan fisik anak tirinya. Kecantikan luar biasa yang terpancar serta tubuh yang padat berisi membuat kelelakiannya tergugah, tetapi karena masih sakit akibat hantaman angin kencang semalam, Ayah tirinya itu pun mengurungkan niatnya terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan hampir semua tetangga memperhatikan dirinya dengan rasa takjub. Bahkan beberapa pengendara motor pun nyaris terjatuh karena enggan memalingkan pandangan darinya. Merasa dirinya menjadi bahan perhatian, gadis itu lalu berjalan lebih cepat entah ke mana, hingga perutnya terasa lapar.
Ia ingin makan, tetapi bingung harus bagaimana. Dayu memperhatikan pergerakan di sekitarnya, mereka yang ingin makan memberikan beberapa lembar uang terlebih dahulu untuk mendapatkan sepiring kudapan lezat. Sementara dirinya tak memiliki uang sedikit pun.
“Eh, Dayu, kan, ya? Kok berubah jadi cantik begini, kayak habis operasi plastik aja?” ujar seorang Ibu pemilik tempat makan.
“Oh, i-iya.” Dayu bingung harus menjawab apa karena ia tak mengenal wanita di hadapannya.
“Masuk, yuk. Udah makan belum? Kamu ke sini pasti mau ambil upah kerjamu, kan?”
“I-iya, Nyoya.”
“Haduh, apaan, sih. Panggil nyonya segala. Panggil ibu aja seperti biasa.” Mereka berdua masuk ke dalam ruangan tempat orang-orang memesan makanan.
Wanita paruh baya itu kemudian memesan makanan untuk dirinya juga Dayu. Walau Dayu hanya menjawab terserah untuk apa yang harus di makan. Gadis itu masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan semuanya.
Sepiring nasi uduk tersaji di hadapan mereka, juga ditemani segelas teh hangat sebagai kawan. Mereka berdua menikmati kudapan itu, terlebih Dayu yang terlihat sangat lapar dan menghabiskan hidangan dalam waktu singkat.
“Mau tambah lagi?” tanya Ibu itu. Dayu hanya mengangguk.
“Iya, harusnya seperti itu, Nak. Kamu makan yang banyak, jangan mementingkan ayah dan saudara tirimu, lihat badanmu jadi kurus gitu seperti kekurangan gizi.”
Dayu menangkap perkataan ibu di hadapannya sebagai isyarat bahwa dirinya dahulu tersiksa tinggal di neraka itu.
“Terima kasih, Bu.”
“Ya ampun, kayak sama orang lain aja kamu itu. Tapi bener loh, kamu berubah, baru sebulan nggak kerja di sini. Perawatan di mana, sih? Mahal, nggak? Kalau kamu cantik kayak gini, mau deh Ibu jodohin sama anak Ibu yang sebentar lagi lulus kuliah.”
Gadis itu masih diam, tak tahu harus menjawab apa.
“Ehm, Bu, kalau boleh Dayu tanya. Dayu kenapa udah sebulan nggak datang ke sini?”
“Loh, kamu lupa? Kan kamu mau fokus persiapkan ujian. Beberapa bulan lagi, kan, ujian akhir. Katanya mau les dan segala macamnya. Gitu, kan?”
“Oh. Gitu. Jadi Dayu nggak bisa kerja di sini lagi?”
“Bisa aja, Nak. Tapi ibu takutnya kamu nggak kuat. Udah kerja, belajar, terus ngurusin dua orang penggangguran di rumahmu lagi.” Dayu mulai mencerna semua maksud perkataan wanita paruh baya itu.
“Ujian akhir di mana, ya, Bu?”
“Ya, ampun Dayu, kayaknya otakmu juga ikut dioperasi, ya? Ujian akhir di sekolahmu. Habis itu kamu bilang mau kuliah, kan? Masak gitu aja kamu lupa.”
“Sekolah,” gumamnya dalam hati, “Apa itu, ya? nanti aku harus cari tahu lagi.”
Usai menyantap makanan mereka berdua berbincang sejenak, Dayu mencoba mencari tahu tentang jati dirinya. Ia bahkan dengan singkat mempelajari kegunaan benda canggih yang disebut orang-orang sebagai ponsel.
Dengan cepat Dayu berselancar di google mencari tahu apa yang dimaksud dengan sekolah. Ia memperhatikan hasil pencarian, keluar berupa sekumpulan pria dan wanita yang menggunakan seragam yang sama, berkumpul di sebuah gedung dan terdapat lapangan luas di sana.
“Lalu, aku sekolah di mana, ya?” tanyanya seorang diri.
Usai wanita paruh baya itu memberikan upah selama sebulan bekerja sebagai asisten rumah tangga. Dayu pamit pergi, setelah berjanji akan sering berkunjung kemari untuk melepas rindu. Bahkan wanita paruh baya bernama Sekar, memaksanya datang ke rumah ketika anaknya telah kembali dari menuntut ilmu. Dayu hanya meng-iya-kan ajakan Sekar saja.
Lembaran yang ia terima sekitar 15 berwarna merah. Bahkan tak hanya itu, Ibu Sekar juga memberinya ponsel walaupun bekas agar mereka tetap bisa saling terhubung. Jumlah uang yang menurutnya sangat banyak itu tidak ia lipat dan simpan, melainkan dipegang begitu saja sambil berjalan kaki. Hal itu membuat sepasang mata lelaki jahat berniat buruk padanya.
Dengan langkah cepat, lelaki berpakaian hitam yang mengintai Dayu menarik uang di genggaman tangan gadis itu. Namun, uang itu tidak berpindah tangan, justru lelaki itu terjatuh karena tarikan balik dari Dayu. Gadis itu sendiri bahkan heran dengan kekuatan dirinya. Ia lalu melipat lembaran rupiah dalam genggaman dan menyimpan di balik dalaman miliknya, kebiasaan orang di zaman dahulu.
“Kasih uang itu, Cantik. Kalau nggak aku rusak wajah kamu.” Lelaki itu mengarahkan sebilah pisau tajam di dekatnya.
“Pergi. Aku nggak mau cari masalah sama kamu!” jawab Dayu tegas.
“Halah, banyak omong.”
Lelaki itu mengarahkan pisau ke pipi Dayu, tetapi gerakan itu kalah cepat dengan tangan kanan gadis itu. lalu tanpa ragu Dayu memutar tangan itu ke bagian belakang dan menendang lutut lelaki itu hinga berlutut sembari memekik kesakitan. Pisau itu kini berpindah ke leher lelaki itu.
“Cepat pergi kalau kamu nggak mau terluka di tanganku. Jangan berniat mencuri lagi kalau tak mau lututmu aku patahkan jadi beberapa bagian,” ujarnya lagi.
Lelaki itu berlari setelah Dayu melepaskan belitan di kakinya. Tanpa melepaskan tatapan tajam, gadis itu terus bertanya pada dirinya sendiri. Ia sendiri bahkan tak tahu dirinya siapa. Setelah melihat ke kiri dan kanan, sepi, ia pun bergegas pulang. Dayu mengingat jalan kembali walau baru satu kali melewatinya.
Dari arah belakang sebuah mobil sedang mengikutinya. Bima yang menyetir tersenyum tiada henti menyaksikan ulahnya lagi. Ia bahkan tak harus turun tangan membantu istri ribuan tahunnya untuk menghadapi penjahat gadungan tadi.
Dayu mendadak berhenti di tengah jalan begitu saja, seketika itu juga Bima menghentikan laju pelan mobilnya. Dayu berbalik menatap benda besi yang bergerak mengikutinya. Sadar ditatap sangat dalam oleh istrinya, Bima lalu keluar dari kendaraan miliknya.
Dua manik itu saling bertemu lagi, setelah sekian lama terpisah, kenangan indah bangkit dan menari di pikiran Bima. Namun, tidak dengan Dayu yang masih mencari ingatannya. Bima bahkan harus bersandar di mobilnya dengan melipat kedua tangannya di d**a. Mencegah dirinya memeluk Dayu dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Rasa rindu itu sungguh menyesakkan dirinya. Walau wajah mereka sedikit berbeda sekarang, tapi cinta untuk istrinya Ayu yang ada dalam tubuh Dayu tak pernah pudar sedikit pun.
“Kamu, siapa? Kenapa mengikuti aku dari tadi?” tanya Dayu membuyarkan lamunan Bima.
Sungguh pertanyaan dari bibir Dayu bagai simfoni merdu bagi Bima. Sekuat tenaga ia menahan diri ingin menarik gadis itu dalam pelukannya. Namun, ia benar-benar harus bersabar hingga Bima bisa membawa gadis itu mengingat kembali siapa jati dirinya. Sepertinya ujian cinta untuk mereka belumlah berakhir.
“Ditanya diam aja, ya sudah kalau gitu.” Dayu membalikkan tubuhnya dan kembali melangkah menuju kediamannya.