Bima, mantan panglima perang Kerajaan Majapahit itu, mengerjap perlahan, dan bangkit dari tidurnya. Kupu-kupu biru bercahaya yang telah lama ia nanti hadir kembali. Hatinya menghangat, harapan akan bertemu dengan Larasayu kembali menyala. Sejatinya ia telah lelah hidup seorang diri selama hampir ribuan tahun lamanya.
Tak pernah lelah ia mencari jejak keberadaan Ayu. Kesetiaan telah menjadi harga mati baginya. Sekali pun ribuan wanita yang ia jumpai ketika melewati hari demi hari banyak yang menawarkan cinta padanya. Tak sedikit pun ia sanggup mengkhianati wanita yang rela berkorban untuknya.
Bima berjalan melompati gedung demi gedung, ia mengikuti kepak sayap indah kupu-kupu biru yang merupakan lambang peleburan kesaktian Ayu yang merasuk ke dalam raganya. Semoga kali ini ia tak mendapatkan harapan kosong lagi.
Makhluk-makhluk yang berbeda dimensi memeperhatikan langkah tegap panglima perang yang masih hidup hingga kini. Mereka takut tak berani mendekat. Bahkan ketika menjadi manusia biasa saja ia sangat hebat, apalagi setelah ia hidup abadi selama ribuan tahun.
Kupu-kupu biru itu berhenti di sebuah lapangan kosong, pun dengan langkah Bima yang tetap memperhatikannya dengan penuh harap. Serangga indah itu mengepakkan sayapnya dan berputar-putar di atas kepala Bima. Lelaki itu kemudian menengadahkan telapak tangannya.
“Ayu, kali ini jangan hilang lagi. Aku sudah tak kuat lagi menanggung rindu,” ucapnya pada kupu-kupu itu.
“Bertahanlah sekali lagi, Kanda. Aku juga sebenarnya lelah terus-menerus terbang hanya untuk bertemu denganmu dari waktu ke waktu. Semoga kali ini ada tubuh yang cocok denganku. Jangan pernah berhenti berjuang.”
Suara itu terdengar, lalu menghilang bersamaan dengan embusan angin dingin yang menerbangkan serangga biru itu ke arah barat. Bima segera melompat tinggi, dari pohon ke pohon, karena kecepatan terbang kupu-kupu itu sudah sangat kencang tidak seperti biasanya. Hinga Bima tertinggal sangat jauh di belakang walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga menyeimbangkan langkah.
***
Gadis di dalam rumah itu terus saja menangis tanpa henti. Sekujur tubuhnya penuh dengan siksaan keji ayah dan saudara tirinya. Gadis belia yang baru berusia delapan belas tahun itu dipaksa bekerja keras seusai pulang sekolah untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka yang menyiksanya.
Hingga ia tak tahan lagi, berteriak dan meminta mereka berdua agar angkat kaki dari rumah karena sejatinya rumah itu adalah miliknya sebagai warisan dari ibu yang telah dua tahun tiada. Namun, hanya tamparan, jambakan dan tendangan yang gadis itu dapati.
Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Ia bukan tak mencoba melawan, tapi tenaganya tak sanggup mengimbangi tubuh tinggi ayahnya dan tubuh gemuk saudara tiri lelakinya. Bahkan hidungnya mengeluarkan darah akibat bogem yang dihadiahi lelaki yang disebut ayah olehnya.
Kini ia terbaring lemah seorang diri, berharap mati menyusul kedua orangtuanya di surga. Ia terbatuk dan mengeluarkan darah. Kepalanya menjadi sakit tak tertahankan dan tubuhnya menggigil hebat. Sebelum menutup mata gadis itu sempat melihat kehadiran kupu-kupu berwarna biru yang hinggap di atas bahunya dan ia pun mengembuskan napas untuk selama-lamanya membawa rasa sakit untuk diadukan pada Yang Maha Kuasa.
Dari luar halaman, Bima merasakan peleburan sukma Larasayu dalam tubuh wanita yang baru saja mengembuskan napas untuk selama-lamanya. Artinya, ia bisa menyatu kembali setelah ribuan tahun lamanya terpisah.
Namun, ketika Bima hendak melangkah mendekat ke rumah itu, ia menjumpai lelaki yang mabuk dan mengoceh tak jelas ingin menjual wanita di dalam rumah itu ketika sudah sembuh dari luka-lukanya. Merasa geram, Bima membuat kumpulan tenaga di tangannya, dan menghantam tubuh lelaki itu hingga terpental menghantam tiang rumah dan pingsan bahkan mungkin mati.
“Tunggulah aku, Ayu. Aku pasti kembali, aku yakin kau kuat sama seperti dulu bahkan kau yang telah menjagaku dengan segenap jiwamu.”
Bima kembali ke rumah lewat dimensi udara dalam sekejap waktu. Ia tak sabar rumah yang terasa sepi selama beberapa tahun ini tak lama lagi akan diisi dengan kehadiran wanita yang telah lama dirindukan. Ia tersenyum lebar sepanjang malam, enggan menutup mata dan mengenang kembali perjumpaan pertama mereka yang konyol, lucu dan penuh petualangan.
“Aku dulu bahkan tak percaya bisa jatuh cinta dengan gadis gila sepertimu. Tapi semua itu layak setelah kulihat betapa besar pengorbananmu untuk keluarga dan juga diriku,” gumamnya seorang diri.
***
Tubuh gadis yang semalaman dianiaya oleh ayah dan saudara tirinya mengalami perubahan, bekas luka dan juga luka yang baru menghilang, rambut yang kusam dan kusut telah berubah jadi warna hitam legam dan sangat halus, dadanya yang cenderung tak berisi menjadi padat sesuai dengan ukuran tubuhnya. Kulitnya menjadi mulus dan bersih, giginya yang berantakan dan rontok akibat hantaman keras menjadi rapi dan sedap dipandang, serta warna bibirnya menjadi merah delima tanpa polesan lipstik sedikit pun. Tato kupu-kupu biru ada di bahu sebelah kanannya.
Ia mengerjap perlahan, memandang sekeliling dan juga dirinya sendiri. Kebingungan, ia bangkit dan membuka pintu tetapi dikunci. Dengan mudah kunci itu ia hancurkan dalam genggamannya. Ketika ia membuka pintu sosok lelaki gembrot yang sedang makan dengan lahapnya memandangnya seolah hendak menerkam wujud yang sangat menggoda naluri laki-laki itu.
“Ayu. Kamu, kok, sudah sadar? Tapi baguslah, beresin rumah sana. berantakan, jadi perempuan kok jorok banget, sih.”
Gadis itu masih mencerna perkataan pemuda tambun itu. “Kamu siapa? Kok, ada di sini, terus aku siapa? Kenapa juga ada di sini?”
“Hah. Dasar manja, berlagak lupa, ya. Gue Joni, saudara tiri lo. Lo itu Dayu Anjani, pembantu gue sama bokap gue. Gak usah sok lupa ingatan gitu deh, atau gue tambahin lagi siksaan dari tadi malam, tapi siksaan yang lain. Lo mau?”
“Dayu Anjani,” gumamnya perlahan.
Gadis itu masih bingung, ia sama sekali tak memiliki ingatan apa pun, pemilik asli tubuh ini telah berpulang semalam. Peleburan sukma Larasayu dalam tubuh Dayu memerlukan energi yang sangat besar hingga ia tak memiliki ingatan apa pun.
“Masih bengong lagi. Cepat sana, atau gue buka semua baju lo di sini.”
Lelaki tambun itu berdiri hendak menarik paksa pakaian yang sudah robek di tubuh Dayu. Sejenak gadis itu terhuyung dan jatuh di pelukan Joni. Bisa ia rasakan bau tak sedap pada tubuh yang ingin menguasainya.
“Hah, bilang aja lo memang pengen, kan?” makin Joni.
Mata Dayu tajam menatap Joni. Merasa terintimidasi, lelaki tambun itu menatapnya balik. Kalah, seolah ada kobaran api dalam netra Dayu. Joni lalu menarik rambut hitam lembut miliknya. Gadis itu meringis sesaat apalagi ketika tubuhnya ditarik kembali ke dalam kamar.
Dayu yang paham apa yang selanjutnya terjadi, segera berbalik menyerang Joni. Ia tarik tangan tambun itu, mencekik lehernya dan mengangkat tubuh itu kuat-kuat hingga kakinya menggelepar di udara.
“Mati saja manusia seperti kau. Hidup pun hanya jadi benalu dalam kehidupan orang.”
Dayu melempar tubuh itu di lantai. Sejenak Joni memandangnya dengan penuh kebencian. Ia terbatuk berkali-kali hingga tak sadarkan diri setelah mengatakan akan membalas perbuatan Dayu dengan lebih kejam.
Sedangkan di jarak beberapa kilometer di sana, Bima menyadari bahwa Larasayu yang telah melebur dalam tubuh Dayu kehilangan ingatannya, tetapi tidak kehilangan kekuatan dan keberaniannya. Ia lalu memikirkan cara untuk mengembalikan ingatan istri ribuan tahunnya. Dan Bima mencari tahu di mana Dayu gadis berusia delapan belas tahun itu bersekolah.