II. PERTEMUAN TAK BERKESAN

1411 Words
"Raha, pokoknya kamu wajib nyusul ya setelah pekerjaanmu di kantor selesai. Awas kalo enggak! Mama bakalan hukum kamu kalo sampe kamu mungkir dari pertemuan ini," ucap Jennie tegas penuh ancaman. Berharap jika putranya tidak berniat macam-macam seusai ia sendiri yang menyetujui untuk datang ke pertemuan malam ini. "Iya, Mam. Raha usahakan selesai secepatnya. Ya udah ya, Mam, Raha tutup dulu telponnya. Bye, Mam!" Percakapan telah usai selepas sang anak memutuskan sambungannya secara sepihak. Sejenak, Jennie pun sempat didera dongkol andai Jordi tak keburu memberi tahunya bahwa yang ditunggu oleh mereka ternyata sudah tiba di lokasi. "Hei!" Jennie pun memekik spontan tatkala mendapati teman karibnya yang tengah berjalan mendekat bersama suami juga putrinya yang cantik. Acara cipika cipiki ala-ala ibu sosialita pun berlangsung tanpa bisa dihalangi. Sementara itu, para pria paruh bayanya hanya perlu beradu peluk sewajarnya saja dengan saling bertukar tanya kabar satu sama lain. Membuat sang gadis merasa diabaikan di tengah masing-masing orang tua yang sedang bercengkerama. Setelah tadi pagi terpaksa mengiyakan pinta sang papa, Sia akhirnya tak bisa mengelak lagi dari niatan orang tuanya yang ingin menikahkannya dengan pria pilihan mereka. Hingga pada malam ini, Sia pun dituntut untuk ikut ke acara pertemuan pertama antar keluarga yang akan berbesanan. Ya, tidak lama lagi orang tua Sia akan mewujudkan impiannya bersama besan karib yang diidamkan. Meskipun Sia sendiri merasa terpaksa menerima perjodohan ini, tetapi Sia bisa apa? Menolak pun imbasnya pada kesehatan sang papa. "Sia, sini, Nak. Kenalan dulu, yuk, sama om Jordi dan tante Jennienya." Setelah menunggu beberapa menit lamanya, akhirnya Sia dipanggil juga oleh mamanya. Mengharuskan Sia sigap beringsut menyalami pasangan suami istri yang usianya sama-sama setara dengan mama papanya. "Wah, cantik banget, sih, calon mantu aku. Udah besar ya kamu. Padahal terakhir kali aku ketemu, tuh, kayaknya Sia masih TK, deh. Gak kerasa banget, ya ... tau-tau udah tumbuh jadi gadis cantik aja putri semata wayangmu ini," lontar Jennie melirik mamanya Sia. Setelah sempat memuji, ia pun kini lanjut bernostalgia mengenai kali terakhir di mana mereka pernah bertemu sebelum Jennie diboyong suaminya ke Jerman. "Oh ya, Sia. Umurmu berapa sekarang?" Giliran Jordi yang bertanya. "Dua puluh, Om." Sia menjawab seperlunya saja. Mengingat ia yang kurang suka berbasa-basi kepada orang tua, maka sewajarnya saja ia menyahut. "Good, girl. Usia yang udah dirasa cukup untuk menikah. Semoga kamu gak keberatan ya diperistri sama anaknya Om," ujar Jordi terkekeh. Ditimpali oleh papa Sia yang kala itu mulai menimbrung lagi hingga membahas beberapa kenangan di antara mereka. Lagi, Sia diabaikan. Tapi apa peduli Sia? Selagi mama papanya sibuk berceloteh, Sia hanya bisa menunggu meski aslinya ia kebosanan. *** "Sasti bakalan lompat kalo Kak Raha masih aja gak mau menikah! Kak Raha ngerti gak, sih? Pacar Sasti ngancem mau putusin Sasti kalo sampe akhir tahun ini, kita gak bisa nikah cuma gara-gara Kak Raha gak mau ngalah." Tidak pernah Raha sangka, adik semata wayangnya tahu-tahu saja nekat hendak melompat dari balkon kamarnya sendiri dengan dalih bahwa Raha tak pernah mau mengalah kepadanya. Padahal, Raha sendiri sudah mempersilakan adiknya untuk menikah duluan dan Raha rasa itu termasuk ke dalam bentuk mengalah. Akan tetapi, rupanya bukan hal sejenis itu yang dimaksud mengalah bagi nona bernama lengkap Prasasti Ganesha. Raha bersedia dinikahkan adalah bentuk dari kategori mengalah yang perempuan itu inginkan. Secara refleks, Raha sampai memukul setir mobilnya geram di tengah ia yang masih mengemudikan audi hitamnya menuju ke restoran di mana orang tuanya yang sudah menunggu. "Kalo aja saya gak sayang sama Sasti, mungkin saya gak harus seribet sekarang," gumam pria itu kesal. Di tengah keterpaksaannya, ia pun tetap saja mengarahkan jalur kemudinya ke kawasan restoran bintang lima yang tersohor. *** Acara makan malam sudah dimulai, tapi bahkan sosok yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. Selain Sia yang kebosanan, rupanya Jennie juga merasa cemas kalau-kalau putranya tidak datang. "Ya ampun, Pa. Kok, Raha belum juga muncul ya? Mungkin gak, sih, kalo dia--" "Ma, Pa ... maaf Raha telat," cetus sebuah suara menyela gumaman Jennie sebelumnya. Dalam sekejap, semua perhatian pun tertuju langsung ke arah suara di mana seorang pria berperawakan tinggi tegap tengah berdiri santai di belakang kursi yang Jordi duduki. Untuk sesaat, Sia pun sempat terpana akan ketampanan berikut berewok tipis yang menghiasi bagian rahang serta dagunya. Malah, ada kumis tipis juga yang mendukung ke-macho-an si pria. Ditambah dengan kedua alis tebal yang menjadikannya semakin terlihat tampan bak dewa Yunani. Menyebabkan Sia tak berkutik hingga bibirnya tergerak untuk melengkungkan senyuman ramahnya andai saja si pria tak keburu mendelik dingin dan tak acuh padanya. Menyadari itu, Sia pun urung untuk tersenyum. Bahkan, kini ia mendadak sebal dan ikut-ikutan buang muka seakan enggan berminat untuk sekadar melirik kembali calon jodohnya. "Raha, ini om Farid dan tante Dara. Mereka orang tua Asia yang akan kamu peristri kelak. Dan gadis cantik yang duduk di kursi itu adalah Asia. Dialah yang akan kami jodohkan denganmu. Papa harap kamu bisa cocok ya sama dia," tutur Jordi penuh semangat. Disusul dengan gerakan tangan Raha yang terulur bergantian menyalami calon mama papa mertuanya. "Salam kenal, Om, Tante. Maaf saya telat. Tadi sedikit macet di jalan," gumamnya agak berbasa-basi. Paling tidak, dia sudah menunjukkan kesungguhannya untuk menjadi menantu bagi pasangan suami istri tersebut. "Gak masalah, Nak Prahara. Oh iya, ini Sianya gak disapa? Dari tadi dia udah bete, lho, nungguin calon suaminya yang gak kunjung datang," celetuk mama Sia iseng. Dalam sekejap, putrinya pun terbelalak horor karena apa yang baru saja mamanya ucapkan adalah salah. Sia memang bosan, tapi bukan berarti Sia juga merasa bete gara-gara calon jodohnya belum juga tiba di lokasi. "Mama apaan, sih? Suka banget, deh, ngarang cerita," bisik Sia memprotes. Sementara itu, mamanya malah terkikik sendiri di tengah Raha yang hanya menatap datar ke arah Sia. Sepintas, Sia pun merasa pernah melihat Raha di suatu tempat. Hanya saja, Sia lupa pernah melihat Raha di mana. Membuat ia merasa kesal sendiri karena ternyata dirinya pelupa sekali saking terlalu seringnya ia bertemu dengan para pria pemelihara berewok tipis seperti yang Raha punya. "Duduk di sini, Raha! Biar kamu bisa lebih leluasa untuk bertanya-tanya pada calon istrimu. Enjoy, ya. Kami gak akan ganggu selagi kalian ingin saling mengenal," tukas mama Sia paling semangat. Demi supaya Sia dan Raha bisa berbincang santai, ia sendiri rela memilih pindah kursi sekaligus mengajak suaminya juga untuk memberi jarak pada anak berikut calon menantunya. *** "Gimana kesan kamu setelah bertemu dengan Sia? Dia cantik dan kekinian, kan, seperti yang sempat Mama bilang sebelumnya? Mama yakin, kamu pasti gak akan nyesel punya calon istri seperti Sia," ungkap Jennie sesaat setelah keluarga Asia pamit pulang. "Biasa aja, Ma. Standar cewek cewek pada umumnya. Gak ada yang istimewa. Udah ah, Raha malam ini pulang ke apartemen ya, Ma. Bilangin ke Sasti, jangan ada drama mau lompat dari balkon lagi! Sesuai keinginannya, Raha bakal segera nikah sama cewek standar pilihan papa dan mama," celetuk Raha sedatar itu. Tanpa basa-basi, ia pun melengos pergi bahkan sebelum sang papa menyusul nimbrung. Melihat kepergian putranya yang sudah melenggang duluan, Jordi yang baru kembali dari toilet pun menepuk pelan pundak istrinya. "Prahara mau ke mana, Ma?" Menoleh, Jennie yang semula sempat termangu bengong pun lantas menjawab tanya suaminya sehabis menghela napasnya pasrah. "Raha mau pulang ke apartemen katanya. Dan masa dia bilang Sia cantiknya standar kayak cewek pada umumnya. Matanya buram apa gimana, sih, tuh anak? Heran, deh." Mendengar itu, kontan saja Jordi semakin yakin jika dugaannya selama ini tidak meleset. Maka dari itu, ia pun merasa perlu untuk buru-buru menentukan tanggal pasti di mana Raha akan menikah dengan calon istrinya nanti. "Ayo kita pulang, Ma! Biar aja anak itu mau bicara apa pun tentang Sia. Dia udah bersedia menikah aja kita harusnya bersyukur," cetus Jordi menggandeng istrinya. Menggiringnya meninggalkan pelataran restoran menuju ke tempat di mana ia memarkirkan mobilnya semula. *** "Suka gak sama Raha?" Melirik, Sia lalu menggedikan bahunya sambil menjawab tanya dari sang mama "Gak tau. Dianya aja kayak yang dingin gitu." "Lho, wajar, dong. Namanya juga permulaan. Nanti juga lambat laun menghangat," sahut mama mendengkus. "Iya, Sia. Cowok emang begitu. Dulu juga Papa cuek dulu sama mama kamu. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya Papa bisa luluh juga." Ikut menimbrung, papanya pun kontan terkekeh di tengah kegiatannya menyetir. Sia terdiam. Tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa kepada orang tuanya. Tapi sungguh, Sia merasa jika Raha tidak sehangat lelaki pada umumnya. Seperti ada benteng kokoh yang sengaja didirikan. Entahlah, apakah ini hanya perasaan Sia atau Raha memang sengaja tak mau menunjukkan sikap hangatnya kepada Sia. Jika begitu, lantas apakah mungkin Sia bisa hidup bahagia dengan sosok suami sedingin Raha?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD