III. KABAR MENGEJUTKAN

1251 Words
Sia baru saja keluar dari kelas terakhirnya di hari ini. Namun, sebelum pulang, gadis itu berencana untuk mampir dulu ke kantin guna membeli sesuatu yang bisa mengganjal perutnya. Kebetulan di tengah jalan, ia bertemu dengan Agnes. Teman satu fakultas yang belakangan ini jarang sekali kelihatan batang hidungnya. "Hei, Sia! Mau ke kantin?" Menoleh ke sumber suara, Sia pun lantas mengangguk dan berkata, "Agnes? Hei ... iya, nih. Ke mana aja? Akhir-akhir ini, kayaknya gue baru liat lo lagi, deh." Jika tidak salah ingat, terakhir kali Sia melihat Agnes sekitar satu bulan yang lalu. Sejenak, Agnes pun tersenyum tipis di tengah kedua tangannya yang saling meremas. Membuat Sia tampak mengernyit, sekaligus menatap temannya itu dengan pandangan penuh tanya. "Lo kenapa, Nes? Are you okay?" Meringis, Agnes yang sempat terlihat ragu pun lalu tiba-tiba saja menarik lengan Sia dan membawanya ke tempat yang agak sepi agar dirinya bisa bercerita. "Ada apa, sih?" Merasa tak mengerti, Sia pun kembali bertanya di tengah keningnya yang berkerut bingung. "Gue udah telat sebulan anjir." "Hah? Maksudnya, lo hamil?" Mata Sia melotot lebar bersamaan dengan mulutnya yang menganga. "Ssst." Refleks, Agnes pun membekap mulut Sia di tengah raut panik yang menghiasi wajahnya. "Gak usah diperjelas juga bisa, kan?" Lagi, mata Sia pun terbelalak sempurna di sela kepalanya yang mengangguk-angguk. Sementara itu, Agnes sendiri sudah menjauhkan tangannya dari mulut Sia. Sehingga dengan begitu, Sia pun bisa kembali bertanya walau harus agak mengurangi volume suaranya. "Seriusan lo hamil, Nes? Tapi, gimana bisa lo kecolongan begini, sih? Maksud gue, bukannya lo sendiri yang selalu ingetin gue soal pengaman. But, why? Kenapa lo bisa lupa?" Merasa tidak habis pikir, Sia pun mencoba menginterogasi teman akrabnya ini. Untuk sesaat, Agnes pun malah menggigit bibir bawahnya sendiri seraya mengedikan bahunya bingung. "Gue juga gak tau kejadiannya kayak apa. Tapi yang jelas, gue yakin banget kalo Tedi pasti sengaja gak pake pengaman mentang-mentang gue lagi mabuk. Gila emang dia! Padahal, gue selalu wanti-wanti supaya dia gak sampe lepas dari pengaman kalo mau tidur ama gue. Tapi si Tedi emang b*****t. Gue gak tau sekarang harus gimana," tukas Agnes mengumpat. Matanya berkaca-kaca, tetapi sekuat tenaga dia menahan diri untuk tidak menjatuhkan air mata. Sia turut prihatin. Selain itu, ia pun ikut kesal pada ulah Tedi yang seenaknya sendiri. Jika sudah begini, maka siapa yang harus disalahkan? "Ya ampun, Nes. Gue sendiri masih syok banget dengan kabar yang lo bawa ini. Tapi sumpah, gue beneran gak tau harus ngomong apa di tengah lo yang baru aja kena musibah begini. Sini peluk gue. Gue paham, rasanya pasti kayak baru aja nginjek t*i, kan?" Secepat kilat, Sia pun menarik tubuh Agnes ke dalam rangkulannya. Selang beberapa detik, tangisnya pun pecah tanpa bisa dihalang-halangi lagi. *** Setelah berhasil menenangkan Agnes, Sia pun melanjutkan rencananya yang ingin mampir ke kantin untuk membeli makan. Namun, saat baru saja ia mendudukkan diri di atas kursi kantin yang kosong, tahu-tahu ponselnya berdering mengejutkan. Pertanda ada panggilan masuk, tetapi dari nomor baru yang tak dikenalnya. "Siapa, nih?" Sia bergumam lirih sebelum akhirnya menjawab panggilan tersebut. "Hallo! Ini siapa ya?" Tanpa basa-basi, si penelepon pun balas berkata, "Saya ada di parkiran kampus kamu. Kalo kamu lagi luang, boleh temui saya untuk kita bicara?" Mendengar dari suara dan bahasanya yang formal, sepertinya Sia hafal siapa sosok penelepon tersebut. Hingga tanpa sempat memesan apa pun meski ia sudah duduk di kursi kantin, Sia pun langsung bergegas menuju pelataran parkir demi memastikan dugaannya semula. Dan benar saja tebakannya. Raha si pria dingin itu sedang berdiri sok cool sambil menyandarkan pinggangnya ke muka mobil. Secepat kilat, Sia yang masih merasa kaget akan kemunculannya di kampusnya pun buru-buru saja mempercepat ayunan langkahnya untuk kemudian bertanya, "Kok, bisa tau aku kuliah di sini?" Begitulah bunyi tanya Sia setibanya ia di hadapan sang pria. "Kita bisa ngobrol di dalam mobil sambil saya antar kamu pulang," sahutnya tanpa ekspresi. Bahkan tanpa seulas senyum yang terpatri, ia pun melengos masuk ke dalam audi hitamnya. Menciptakan perasaan dongkol di hati Sia, tetapi dituntut untuk tetap menurut patuh untuk menyusul masuk ke dalam mobilnya. Keduanya sudah duduk bersebelahan di kursi masing-masing. Selepas sabuk pengaman terpasang, Raha pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan areal parkir kampus sang gadis dengan kecepatan rata-rata. "Saya perlu bicara serius sama kamu sebelum kita benar-benar dinikahkan," celetuk Raha memulai percakapan. Untuk sesaat, Sia pun sempat melirik di tengah sang pria yang sedang fokus menyetir. "Sebenarnya, berat bagi saya untuk menerima perjodohan ini. Tapi apa boleh buat? Demi supaya adik saya bisa segera menikah dengan pacarnya, saya terpaksa mengiyakan permintaan orang tua saya untuk dijodohkan dengan kamu. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kamu tau sebelum saya benar-benar resmi menjadi suami kamu," ucap Raha serius. Jika diperhatikan dari samping, Sia seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi sialnya, sampai sekarang bahkan Sia masih belum ingat tepatnya di mana dia pernah melihat pria ini. Akan tetapi, Raha ini termasuk ke dalam kategori pria tampan dengan berewok tipis yang menghiasi dagu dan rahangnya. Seperti aktor film bernama Refal Hady, ketampanan Raha pun sama imbangnya dengan aktor tersebut. "Sia, apa kamu dengar saya?" Terkesiap, gadis itu pun mengerjap kaget tatkala Raha menyadarkannya dari lamunannya tentang Refal Hady. "Eh, gimana? Sori, sori, tadi aku—" "Its okey. Saya ulangi lagi perkataan saya kalau memang kamu gak mendengarkan," ujar Raha tak keberatan. Cenderung kaku, pria itu pun seperti tidak mengerti cara berbicara dengan seorang perempuan. Sehingga tanpa pernah memiliki niatan untuk mengajak sang gadis ke suatu tempat—setidaknya ke sebuah kafe atau lainnya—Raha pun malah mengutarakan perbincangan seriusnya tersebut di dalam mobil tanpa berbasa-basi pula. "Jika kamu berharap bahwa saya akan mencintaimu setelah kita menikah nanti, maka lebih baik kamu tidak usah berharap besar akan hal itu kepada saya. Sebab sejujurnya, saya ini tidak suka perempuan. Bahkan, saya memiliki kekasih sesama jenis yang tidak bisa saya tinggalkan begitu saja," ungkap Raha to the poin. Untuk se-per-sekian detik, Sia merasa seakan jantungnya baru saja terlepas dari tempatnya. Sehingga di detik selanjutnya, gadis itu pun tampak melotot horor seiring dengan gerak kepalanya yang menoleh ke arah sang pria secara slow motion. "A-apa kamu bilang? Maksud kamu barusan, ka-kamu seorang ... gay?" Tidak tahu apakah kalimat tanya Sia terbilang sopan atau tidak, yang jelas Sia hanya perlu memperjelas tanyanya karena merasa takut kalau-kalau ia sedang salah dengar. Terlihat tenang dan tak gentar, Raha pun mengangguk mengiyakan. Dalam sekejap, hal itu pun menyebabkan Sia menelan ludahnya kesat di sela Raha yang mulai menepikan mobilnya untuk kembali berkata, "Maafkan saya. Tapi kenyataannya saya memang bukan pria penyuka lawan jenis. Melainkan sebaliknya. Itulah kenapa saya tidak punya niatan untuk menikah meski usia saya sudah kepala tiga. Karena memang, saya gak punya rencana berumah tangga. Saya hanya ingin hidup bebas dan bahagia dengan pacar sesama jenis saya. Walaupun tidak bisa bersatu, tapi yang penting kami bisa bertemu jika sedang sama-sama rindu." Entah kenapa, tiba-tiba saja perut Sia mendadak mual. Bahkan, sepertinya sekarang Sia sudah ingat di mana dia pernah melihat Raha. Ya, dia pernah melihat Raha di club malam di mana Sia ada di sana juga. Pasangan sesama jenis yang sempat Sia lihat sedang berciuman panas di lantai dansa itu ternyata salah satunya adalah Raha. Pria matang yang terkategori jantan dan cool ini rupanya adalah sosok penyuka sesama jenis yang menyebabkan Sia merasa mual hingga berujung muntah-muntah juga di toilet club malam tempo lalu. Dan sekarang, hal serupa terjadi kembali. Sia ingin muntah. Maka dengan cepat, gadis itu pun bergegas turun dari mobil agar bisa segera memuntahkan isi perutnya tepat di tepi jalan di mana Audi hitam Raha dihentikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD