Setibanya di pekarangan rumah, Sia mendadak seperti orang yang sedang mengalami jet lag. Padahal, dia tidak sedang baru turun dari pesawat dengan jarak tempuh yang sangat jauh. Melainkan, dia hanya baru turun dari mobil yang mana dikendarai oleh seorang pria penyuka sesama jenis.
Sialnya, pria itu adalah calon suami pilihan mama papanya sendiri.
Entah takdir macam apa yang sedang merundungnya sekarang. Sehingga tanpa disangka-sangka, dirinya kelak akan memiliki sesosok suami yang tak tertarik pada lawan jenisnya sendiri.
"Aduh ... yang baru diantar pulang sama calon suaminya. Bengong bengong gitu, deh. Awas kesandung batu ya, Nak!" Tiba-tiba saja, sebuah suara sontak terdengar dari arah beranda rumah bersamaan dengan sang gadis yang masih berjalan gontai di sepanjang pekarangan yang dilaluinya.
Untuk sesaat, Sia pun melayangkan pandangannya ke arah suara yang menyapanya barusan. Dilihatnya, sang mama sedang berdiri santai sembari bersedekap di ambang pintu.
"Gimana kesannya pulang bareng sama calon suami? Pasti ada manis manisnya gitu, kan? Udah mama bilang, pilihan mama sama papa tuh gak pernah salah. Itulah sebabnya kami semangat menjodohkan kamu dengan putra sahabat kami. Karena, selain good looking, dia pun good attitude, right?"
Mendengar pernyataan mamanya, kontan saja Sia kurang setuju. Namun, sayang sekali dia tak bisa membantah perkataan sang mama. Dikarenakan si pria memintanya untuk tidak menceritakan soal fakta dirinya kepada pihak lain terutama orang tua keduanya, maka mau tak mau Sia pun harus menelan kenyataan pahit tersebut sendirian.
Sesampainya di beranda rumah, Sia langsung saja mendudukkan diri di atas kursi yang tersedia. Menyebabkan mamanya menatap bingung, hingga kemudian ia pun menghampiri putrinya dengan kening berkerut.
"Kamu kenapa? Kok, mukamu pucat begitu? Kamu sakit? Coba, mama periksa keningmu. Panas atau enggak."
"Perjodohannya boleh dibatalin aja gak, sih, Ma?" Belum sempat mamanya menyentuh kening Sia, tetapi dengan cepat gadis itu malah sudah keburu melontarkan sebuah kalimat yang menyebabkan mamanya melotot.
Sehingga dalam sekejap, ia pun buru-buru meraba kening sang anak sembari berkata, "Keningmu gak panas, sayang. Tapi, kok, tiba-tiba aja omonganmu melantur gitu, sih? Ada apa, hem?"
Mama menatap serius sekaligus mencari tahu perihal penyebab putrinya berkata semengejutkan itu. Bukannya senang habis diantar calon suami, tetapi yang terjadi malah Sia ingin dibatalkan perjodohannya.
"Kamu berantem sama Raha?" Lagi, mama pun mencoba menebak-nebak perihal apa saja yang sekiranya membuat Sia berkata seaneh itu.
Sia bungkam. Ingin berkata jujur tetapi terhalang oleh rasa ragu yang sangat besar dan mengganjal. Sehingga tanpa mampu berkata-kata lagi, ia pun lantas bangkit dan melengos masuk meninggalkan mamanya.
Melihat sikap janggal yang ditunjukkan oleh Sia, mama pun bergegas merogoh ponsel dari dalam sakunya guna segera menelepon calon besannya. Barangkali saja hal serupa terjadi pada Raha. Maka ada baiknya jika pihak orang tua lekas bertindak untuk meluruskan apa-apa yang sekiranya mendadak bengkok.
***
Raha baru saja tiba di kantornya lagi setelah sebelumnya sempat mengantarkan Asia tepat ke depan gerbang rumahnya. Akan tetapi, sedetik setelah ia duduk, tahu-tahu ponselnya berdering. Mengharuskannya segera menjawab panggilan, karena ternyata mamanya lah yang menghubungi.
"Ya, hallo!" Sembari menyalakan laptop, Raha pun mulai menyahut panggilan mamanya.
"Raha, kamu tadi abis anterin Sia pulang ke rumahnya langsung, kan?"
"Iya. Seperti yang saya bilang ke mama tadi. Memangnya kenapa?"
"Kamu gak apa-apain dia di tengah jalan, kan?"
Dilontari pertanyaan semacam itu, kontan saja Raha pun mengernyit. "Maksud mama apa? Memangnya Sia bilang apa ke mama? Perasaan kami hanya ngobrol saja selama di perjalanan. Saya bahkan gak berani sentuh tangannya sedikit pun," tukas Raha jujur.
"Bohong kamu! Masa gak diapa-apain Sia tiba-tiba minta perjodohannya dibatalin. Ngaku aja kamu sama mama. Atau jangan-jangan, kamu bawa dia ke hotel dulu buat di tes drive ya?"
Mendapatkan tuduhan kejam seperti itu dari mamanya, mata Raha pun terbelalak sempurna seiring dengan tak jadinya ia mengecek surel dari sekretarisnya.
"Memangnya saya pria apaan, Ma? Mama lebih tau saya gimana. Masa tiba-tiba aja tega nuduh anak sendiri berbuat jahat hanya karena anak orang ngadu gak jelas. Ayolah, Ma ... saya bahkan gak punya niatan sedikit pun untuk berbuat m***m ke dia. Selera aja enggak," celetuknya keceplosan.
Namun dengan cepat, Raha pun segera meralat. "Maksud saya, karena kami belum sah menikah. Makanya saya belum selera buat apa-apain dia."
Di seberang sana, Jennie pun terdengar mendecak. "Ya udah, mama percaya sama kamu. Tapi kenapa ya, kok, tiba-tiba aja mamanya Sia bicara gitu. Katanya sehabis diantar kamu pulang, Sia malah bilang pengen batalin perjodohannya. Kira-kira, hal apa ya yang bikin dia sampe berubah pikiran?"
Sepintas, Raha termenung. Sepertinya Raha tahu jawabannya kenapa. Hanya saja, tentu Raha tak akan membeberkannya kepada sang mama. Mengingat ini ada kaitannya dengan pengakuannya di mobil tadi, maka lebih baik Raha sendiri saja yang menyelesaikannya.
"Namanya juga masih labil, Ma. Biar itu jadi urusan saya saja. Mama gak usah mikirin apa-apa. Saya pastikan saya sama Sia bakalan jadi nikah, kok. Tenang aja," pungkas Raha sebelum akhirnya memutuskan panggilan secara sepihak.
Untuk sesaat, dia pun tampak tertegun menatap kosong ke layar laptop. Kemudian sedetik setelahnya, ia kembali melanjutkan kegiatannya yang terjeda dan mungkin akan mengajak Sia berbicara lagi ketika ada waktu luang nanti.
***
"Sudah cukup lama saya menjalin hubungan dengan Rey. Bahkan, kami sempat memiliki impian yang sama untuk keberlangsungan kami di masa depan. Saya berniat hidup bersama dengan Rey di suatu tempat yang tidak ada seorang pun yang bisa melarang kami untuk bersatu. Meski tidak tahu kapan hal itu bisa kami wujudkan, tapi saya yakin bahwa someday kami akan mendapatkan momen yang pas dan juga tepat."
Masih terngiang penjelasan Raha sewaktu Sia menanyainya perihal hubungannya dengan kekasih sesama jenisnya. Sungguh sangat romantis jika itu didengarnya oleh para manusia beraliran serupa.
Namun, tentu saja beda lagi cerita jika itu didengar oleh telinga Sia. Alih-alih terkesan romantis, yang ada Sia malah selalu mual setiap kali mengingat Raha yang menceritakan kisah asmaranya dengan si Rey pacarnya itu.
"Demi dewa amore yang bertugas memanahkan panah cinta ke kaum manusia! Ini seriusan gue bakal dinikahin sama cowok gay kayak Raha? Dia emang ganteng, keliatan macho dan juga terpelajar. Tapi ... kenapa dia harus seorang gay? Masa iya nanti gue saingannya sama pacar cowoknya, sih? Kan, gak etis banget kalo diceritain sama orang sekitar. Sial banget gak, sih, jadi gue? Udah dipaksa nikah di usia semuda ini, eh ... cowok yang bakal dinikahinnya malah gak suka sama lawan jenis alias homo. Horor banget, sih, hidup gue!"
Merengek sendiri, Sia pun merasa jika kehidupannya baru saja terjungkir balik 180 derajat.
Wajah tampan dan juga macho ternyata tidak menjamin jika dirinya normal 100%. Masih seperti hidup di alam mimpi, tidak lama lagi, Sia akan menyandang status istri dari seorang gay. Setelah menikah nanti, Sia bahkan tidak bisa membayangkan betapa hidupnya akan kacau karena memiliki seorang suami yang tak akan tertarik kepada dirinya walau kelak ia mencoba bertelanjang bulat di depan matanya sekalipun.
Poor, Sia!
"Selamat datang di dunia kesialan. Sebelum hidup gue dinyatakan benar-benar absurd, clubing dulu boleh kali," gumamnya penuh niat.
Setelah itu, ia pun bergegas meraih ponselnya dan buru-buru menghubungi seseorang yang dia pikir akan berminat besar untuk menemaninya ke diskotek nanti malam.