Chapter 6: Naluri seorang Ibu

2056 Words
Bohong jika Gwen tidak mendengar semua perkataan pekerja yang bekerja di rumah Theo. Namun dia lebih memilih bungkam dan tetap melanjutkan langkah nya ke dalam kamar nya. Sesampainya di dalam kamar, Gwen menghela nafasnya dan menundukkan kepalanya. 'Ini baru awal, Gwen. Bahkan belum ada satu hari sejak kau datang ke rumah ini. Apa kau mau menyerah begitu saja?' pikirnya "Benar. Ini mungkin hanya karena anak anak Theo belum mengenalku, karena itu mereka seperti ini. Jika mereka sudah mengenalku, perlahan sikap mereka pasti akan menjadi lebih baik." gumam Gwen yakin Bertepatan dengan itu, suara nada pering ponselnya membuat Gwen kembali mengangkat kepalanya. Dia mengedarkan tatapannya sebelum menemukan ponselnya berada di atas meja kerja Theo. Perempuan itu berjalan cepat dan meraih benda itu. Senyuman tipis terukir di bibir Gwen saat melihat jika yang menelfon nya adalah sang Ibu. Sesaat sebelum mengangkat telfon nya, Gwen tersadar dan meyakini jika Ibu nya akan menanyakan keadaan nya disini. Setelahnya... Gwen mulai merasa ragu. Haruskah dia menjawab panggilan itu dan berbohong? Belum sempat Gwen bereaksi, panggilan itu sudah terputus dengan sendirinya. Perempuan itu sempat terpaku untuk sesaat sebelum akhirnya menghembuskan nafasnya lega. Bukannya dia tidak mau menjawab telfon nya, tapi Gwen tidak siap jika harus berbohong kepada Ibu nya sendiri. Sesaat setelahnya, pintu kamar nya diketuk dengan pelan. Terdengar suara Bibi yang mengatakan jika beliau mengantarkan s**u untuk Gwen. Dengan cepat Gwen membuka pintu kamarnya dan meraih segelas s**u yang dibawakan oleh Bibi. "Kalau butuh sesuatu, panggil saja aku, Nyonya." ujar Bibi sambil tersenyum Gwen membalas senyumannya dan mengangguk. Belum sempat Gwen mengucapkan terima kasih, ponselnya kembali bergetar. Dia melirik benda itu dan menipiskan bibir nya saat melihat nama Ibu nya kembali menghubunginya. Gwen menatap Bibi dengan ragu. Entah kenapa, dia merasa tidak nyaman jika percakapannya nanti dengan sang Ibu didengar oleh pekerja di rumah ini. "Bibi turun lagi ya, Nyonya. Nanti gelasnya simpan saja di kamar Nyonya, biar Bibi ambil." seolah mengerti, wanita paruh baya itu tersenyum dan pamit untuk undur diri Gwen membalasnya dengan anggukan kecil, dia menyimpan segelas s**u itu diatas meja sebelum akhirnya berjalan mengikuti Bibi turun ke lantai satu. Berbeda dengan Bibi yang melangkah menuju dapur, Gwen melangkahkan kakinya ke halaman belakang. Dia menghembuskan nafasnya untuk mengusir rasa gelisahnya sebelum menekan icon hijau untuk menjawab panggilan sang Ibu. "Morning, Gwen. Kau tidak terbangun karena Ibu telfon, kan?" sapa Ibunya Gwen tertawa kecil, "Tidak, Ibu. Aku baru selesai sarapan. Ponselku, aku tinggalkan di kamar. Jadi aku tidak langsung mengangkat telfon dari Ibu." sahut nya beralasan Sesaat setelah mengatakan hal itu, Gwen termenung. Kebohongan pertama nya. Dia terpaksa melakukan hal ini agar Ibu nya tidak khawatir ataupun merasa cemas. "Oh, tak apa. Baguslah kalau begitu. Ibu kira kau baru bangun tidur. Ingat, sekarang kau punya keluarga yang harus kau urus setiap paginya. Walau mungkin Theo memiliki pekerja yang mengurus kalian, tapi kau harus membantu mereka sesekali." "Iya, Ibu... Tenang saja. Aku akan melakukan hal itu." balas Gwen lembut. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum menambahkan, "Tadi pagi, aku bahkan sudah memasakan sarapan untuk Theo dan anak anak. Ibu jangan khawatir." Terdengar seruan senang dari sang Ibu di seberang panggilan telfon itu. "Wahh, kau juga sudah bertemu dengan anak anak Theo? Bagaimana mereka? Apa mereka menyukai masakanmu?" tanya sang Ibu. Dari suaranya, Gwen bisa menilai jika saat ini Ibunya tengah merasa antusias. 'Oh Tuhan, maafkan aku. Aku berbohong agar Ibu ku tidak perlu mengkhawatirkan aku.' sesal Gwen dalam hati "Mereka semua baik, Ibu. Mereka... menerima ku. Grace, Lukas dan Ruby, mereka semua memakan masakanku dengan sangat lahap. Aku senang sekali." jawab Gwen. Entah hanya perasaan nya atau bagaimana, tapi dia merasakan sesak yang jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya. Tidak hanya menerima penolakan, pagi ini dirinya bahkan terpaksa berbohong pada sang Ibu. Biarlah kondisi dirinya disini tidak diketahui oleh Ibu nya. Gwen takut jika Ibu nya mengetahui perlakuan menyedihkan yang Gwen terima di rumah ini dan mencemaskannya. "Nak..." "Kau baik baik saja?" Gwen menutup mulutnya rapat rapat, sebuah pertanyaan singkat dari sang Ibu, berhasil membuatnya hampir menangis. Gwen merasa tersentil saat Ibu nya menanyakan hal itu kepadanya. Padahal, dia yakin jika dia mengatakan semua kebohongan itu kepada Ibu nya dengan nada yang normal. Tapi Ibu nya justru menanggapi nya dengan pertanyaan seperti itu. Apakah ucapan Gwen mengusik naluri keibuan yang dimiliki Ibu nya? Ekspresi Gwen berubah sendu, dia ingin mengatakan jika dirinya jauh dari kata baik baik saja. Namun Gwen tahu, dirinya tidak bisa mengatakan hal itu. Karena nya, Gwen bergumam pelan dan mengatakan jika semuanya baik baik saja. "Gwen, Ibu senang mendengar nya. Ibu harap, kau bisa dekat dengan anak anak Theo. Sebelumnya Ibu khawatir apakah mereka akan menerima mu... tapi mendengar ceritamu, sepertinya hubungan kalian baik." Gwen menanggapi ucapan sang Ibu dengan seulas senyuman tipis. Dalam hati, dia bersyukur karena Ibu nya tidak melihat ekspresi sendu yang ditampilkan nya saat ini. Karena jika Ibu nya melihat hal itu... Gwen yakin Ibu nya tahu jika ada sesuatu yang tidak beres di rumah Theo. "Kalau begitu, Ibu tutup telfon nya ya. Sampaikan salam Ibu pada Theo dan anak anak kalian. Nanti Ibu akan berkunjung sesekali. Jika terjadi sesuatu, hubungi Ibu. Jangan sampai Ibu menjadi orang terakhir yang mengetahui keadaan mu." ujar Ibu Gwen "Iya, Ibu. Sampai jumpa nanti. Akan aku sampaikan salam Ibu pada Theo dan anak anak." sahut Gwen pelan. Dia menatap layar ponselnya dan menutup panggilannya dengan sang Ibu. Saat dirinya berbalik, dia melihat Lukas berada tepat di belakangnya. "Lukas?" sapa Gwen dengan seulas senyuman tipis "Pembohong." decak Lukas. Remaja laki laki itu bersidekap dan menatap Gwen dengan pandangan meremehkan, "Apa sebegitunya kau menginginkan pernikahan dengan Ayahku hingga berpura pura jika pernikahan kalian sangatlah bahagia? Apa yang dijanjikan oleh Ayahku hingga kau seperti ini? Kemewahan? Walau tidak dicintai dan dihargai?" "Aku heran. Orang asing tiba tiba masuk ke dalam rumah kami dalam keadaan hamil. Kau tidak menjebak Ayahku agar bisa masuk ke rumah ini, kan?" lanjut Lukas Gwen terdiam. Apakah saat ini anak kedua Theo itu tengah merendahkannya? Anak itu seolah-olah mengatakan jika Gwen menjadi bagian dari keluarga Theo setelah menjual tubuhnya. Kasarnya, Theo mengatakan Gwen seperti jalang yang haus dengan kekayaan hingga menjual dirinya sendiri. Seharusnya Gwen marah. Tapi dia justru hanya tersenyum tipis untuk menanggapi ucapan Lukas yang terdengar seperti menyudutkannya itu. "Aku berbohong karena aku mendengar jika sudah menikah, masalah di dalam rumah maka harus diselesaikan di dalam rumah juga. Pihak luar tidak boleh mengetahuinya." sahut Gwen. Dia melangkah mendekati Lukas dan mendongkak menatap anak itu, "Dan, menurutku tidak ada salahnya berbohong demi kebaikan. Aku tidak ingin Ibu ku sakit karena mencemaskan ku disini." Gwen tersenyum tipis sebelum kembali berjalan melewati Lukas. "Ah, berasal dari keluarga yang baik, ternyata. Tapi kenapa dia menikah dengan Ayah? Apa dia... berasal dari keluarga yang harmonis tapi miskin?" Mendengar itu, Gwen kembali melirik Lukas. Dia menghela nafasnya sebelum kembali melanjutkan langkah nya memasuki rumah. Di dalam, dia berpapasan dengan Grace dan Ruby yang juga sudah siap dengan seragam sekolahnya. Tidak ada sapaan ataupun basa-basi yang dilontarkan keduanya. Tidak ada juga obrolan hangat antara adik-kakak yang usia nya terpaut lima tahun itu. Gwen juga tidak mau berkomentar banyak. Sesaat sebelum menaiki tangga, dia melihat ada dua mobil yang berjejer didepan rumah melalui jendela. Ruby dan Grace memasuki mobil yang berbeda, sementara Lukas terlihat pergi dengan sepeda motornya. Melihat hal itu, Gwen mengerutkan dahinya. Seingatnya... dilihat sekilas pun, seragam yang dipakai oleh ketiganya menandakan jika mereka satu sekolah. "Tapi kenapa berangkat secara terpisah seperti itu?" gumam Gwen Di hari pertama dia berada di rumah ini, Gwen sudah menyadari ada yang tidak beres di dalam nya. Semua penghuni rumah terlihat acuh satu sama lain, bahkan mungkin mereka tidak berbincang sama sekali. Gwen kemudian kembali melangkah menuju kamarnya. Dia meminum hingga tandas s**u yang ada di dalam gelas sebelum akhirnya mengganti piyama nya dengan pakaian rumahan. "Apa yang sekarang harus aku lakukan?" gumam Gwen. Dia mengedarkan tatapannya ke sekeliling kamar dan hanya bisa menghela nafasnya saat tidak menemukan hal yang menarik di kamar Theodoric. Kemudian dia memutuskan untuk berkeliling. Lagipula, dia belum berjalan-jalan dan menjelajah bagian dalam rumah Theo yang berukuran besar ini. Gwen melangkahkan kakinya menyusuri lantai dua. Dia yakin, di lantai ini hanya ada kamar Theo dan ketiga anaknya. Namun Gwen tetap memutuskan untuk melihat lihat. Dan benar saja, dia bisa melihat pintu bertuliskan nama Grace, Lukas dan Ruby. Tadinya, Gwen ingin melangkah memasuki kamarnya. Namun dia mengurungkan niatnya karena takut jika hal itu hanya akan membuatnya makin dibenci oleh ketiga anak Theodoric. Karena nya, Gwen melangkahkan kakinya ke arah yang berlawanan. Dia berjalan menuju sudut lain lantai dua dan menemukan tiga kamar tamu sebelum akhirnya melihat tangga menuju lantai tiga. Lagi, Gwen kembali menaiki tangga untuk mengakses lantai tiga. Apa yang dilihatnya setelah itu, membuat dirinya tidak habis pikir. Lantai tiga diisi oleh piano berukuran besar dan satu set sofa yang juga berukuran besar. Sepertinya tempat ini dipakai untuk melihat pertunjukan piano. Gwen kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah lain, dia membuka satu dari dua pintu yang ada disana. Ruang pertama ternyata adalah ruang gym. Sedangkan ruang kedua, terlihat seperti bioskop pribadi di mata Gwen. "Oh wow. Theo sepertinya sangat memaksimalkan lantai ini." gumam Gwen Karena tidak banyak hal yang bisa dilihat di lantai tiga, Gwen kemudian melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga di lantai empat. Lagi lagi, dia dibuat terdiam. Bukan karena takjub seperti sebelumnya. Melainkan karena kekosongan yang ada di lantai tersebut. Lantai 4 itu hanya terdiri dari sebuah ruangan besar tanpa sekat sama sekali. Karena ukurannya yang sangat besar, Gwen sempat mengira jika lantai 4 mungkin dikhususkan untuk menjadi aula seandainya rumah ini mengadakan pesta. Karena tidak ada yang bisa dilihat olehnya, Gwen memutuskan untuk kembali ke lantai 3. Tidak seperti sebelumnya yang sepi tanpa orang, kini dia melihat beberapa pelayan yang tengah membersihkan lantai tersebut. Beberapa dari mereka menatap Gwen dan menganggukkan kepala kecil untuk menyapa. Merasa jika tidak ada yang bisa dikerjakan oleh nya, Gwen melangkahkan kakinya menghampiri seorang pelayan yang tengah membersihkan piano dengan telaten. "Hai." sapa Gwen sambil tersenyum ramah. Dia melirik piano berukuran besar tersebut sebelum kembali menatap pelayan yang tengah membersihkan nya, "Siapa yang suka memainkan piano di rumah ini?" tanya nya "Ah itu... Nona Grace dan Nona Ruby. Keduanya bisa memainkan piano. Tapi biasanya, Nona Grace lah yang lebih sering memainkan nya. Sedangkan Nona Ruby, lebih sering melukis dan bermain biola akhir-akhir ini." jelas pelayan tadi Gwen berseru takjub. Dia tidak tahu terlalu jelas tentang keluarga Theo. Tapi dari penjelasan pelayan itu, dia bisa memastikan jika darah seni sepertinya mengalir di anak-anak Theodoric. "Uhm, apa aku boleh memainkan nya?" tanya Gwen "Seharusnya boleh. Ini bukan properti pribadi siapapun. Tapi lebih baik jika Nyonya meminta izin terlebih dahulu pada Tuan Theodoric." jawab pelayan tadi sambil meringis Satu alis Gwen terangkat, bertanya-tanya apa maksud dari ucapan pelayan di hadapannya itu. Apa maksudnya jika dirinya masih dianggap sebagai orang asing yang tidak boleh memakai benda yang ada di dalam rumah? Tidak cukup diasingkan oleh anak-anak Theodoric, apakah dia juga akan diasingkan oleh para pelayan? Seolah menyadari jika Gwen yang tiba-tiba terdiam, pelayan tadi meringis. "S-saya bukan bermaksud buruk. Tapi tadi... saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Nyonya dengan Tuan Lukas. Akan lebih tidak nyaman jika Nona Grace atau Nona Ruby mengatakan hal yang sama kasarnya. Maaf jika saya lancang." ucap pelayan itu. Nada bicaranya terdengar penuh penyesalan dan keraguan. Mendengar itu, Gwen tertawa kecil. Dia menggaruk pelan pipi nya. Merasa bersalah karena telah menuduh hal yang tidak baik pada pelayan tadi. "Ahh begitu ya." gumam Gwen. Dia tersenyum dan mengangguk, "Aku akan meminta izin terlebih dahulu jika akan menggunakan piano ini." "Oh! Dan satu lagi, tolong jangan katakan soal pembicaraan ku dan Lukas tadi kepada siapapun. Termasuk pada Theo. Jangan biarkan dia tahu." lanjut Gwen Pelayan itu terlihat bingung. Pasalnya, dia dan pelayan lainnya sempat menerima perintah dari Theodoric untuk melaporkan semua yang terjadi di dalam rumah, lebih tepatnya tentang apa yang terjadi pada Nyonya rumah mereka yang baru. "Tolong, ya. Aku mohon. Dari pengamatan ku, hubungan Lukas dan Theo sedang tidak bagus. Aku tidak mau membuat hubungan mereka semakin renggang, apalagi alasannya hanyalah karena percakapan tadi." Melihat Gwen yang memohon kepadanya, pelayan tadi memutuskan untuk mengangguk. Dalam hati, dia meminta maaf kepada Theodoric karena tidak bisa menjalankan perintah dari pria itu. Dia tidak tega melihat raut wajah penuh permohonan yang ditunjukan sang Nyonya rumah baru. 'Yah... tak masalah, kan? Kelihatannya, Nyonya Gwen adalah orang yang baik. Mungkin saja hubungan keluarga ini akan membaik dengan keberadaan nya.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD