Keesokan pagi nya, Gwen terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang sedikit tidak menentu. Dia melirik Theo yang masih tertidur pulas disamping nya.
'Mungkin aku tidak terlalu nyenyak karena ada orang lain. Biasanya aku tidur sendirian.' batin perempuan itu
Gwen kemudian melirik jam yang berada diatas nakas yang menunjukan pukul setengah enam. Dia meregangkan tubuhnya sebelum kemudian bangkit dari ranjang. Sepanjang malam, dia sudah memutuskan untuk tetap mencoba mendekati anak anak Theo walau pria itu sudah melarang nya dengan alasan demi kebaikan Gwen sendiri.
Mendengar hal itu, Gwen jadi bingung, apanya yang demi kebaikannya sendiri?
Gwen akan lebih nyaman jika lingkungan tempatnya tinggal juga harmonis. Lingkungan yang baik, akan menciptakan hal yang baik pula. Setidaknya begitu apa yang dia percayai selama ini.
Gwen kemudian berjalan menuju kamar mandi, dia membersihkan dirinya disana dan keluar setelah kegiatan nya selesai.
Perempuan itu melangkah keluar dari kamarnya dengan hati hati. Dia tersentak kecil saat menyadari jika keadaan di sekeliling nya sangatlah gelap gulita. Dia menjadi seperti orang yang buta karena hal itu.
Kedua matanya mengerjap pelan, menyesuaikan penglihatan nya dengan kegelapan sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya menuju lantai 1.
Keadaan rumah Theo terasa sangat asing bagi Gwen, belum lagi dengan luas nya yang terasa tidak masuk akal. Jika Gwen adalah orang asing atau pencuri, dia yakin jika dia akan tersesat di rumah ini. Beruntung nya, kemarin Gwen sempat berkenalan dengan semua asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Theo, dia juga jadi mengetahui kemana kaki nya harus melangkah jika ingin ke dapur.
Dia cukup tersentuh saat Theo memperkenalkan dirinya sebagai Nyonya rumah pada orang orang itu.
"Eh? Nyonya?"
Gwen tersenyum dan mengangguk singkat saat seorang wanita paruh baya yang bekerja dibagian dapur menyapa nya dengan sedikit terkejut.
"Hai, Bi." balas Gwen
"Pagi, Nyonya. Sedang apa Nyonya disini?" tanya Bibi itu
"E-eh? Apa aku tidak boleh menginjak dapur?" tanya Gwen canggung
Alih alih menjawab pertanyaan Gwen, Bibi yang bekerja di dapur itu malah tersentak kecil. Seolah terkejut dengan pertanyaan yang diutarakan oleh Nyonya rumah baru tersebut.
"B-bukan begitu, Nyonya. Saya sedikit terkejut. Saya kira Nyonya tidak akan pernah menginjak area dapur. Biasanya semua hal yang ada di rumah ini dikerjakan oleh asisten rumah tangga. Nyonya tidak perlu repot melakukan apapun." jelas Bibi itu sambil tertawa kecil
"Kalau begitu, apa bedanya aku dengan pajangan?" gumam Gwen. Dia menggelengkan kepalanya dan berdiri tepat di samping wanita paruh baya itu, "Aku akan membantu Bibi memasak. Aku juga harus tahu selera penghuni rumah ini, kan? Aku harus tau apa yang disukai oleh Grace, Lukas dan Ruby." sahut Gwen
Bibi yang bertugas di dapur itu tertegun sebelum akhirnya tersenyum. Istri baru Tuan rumah nya ternyata tidak seburuk perkiraan nya. Malah, cenderung ramah dan perhatian.
"Biasanya... apa yang Grace, Lukas dan Ruby makan untuk sarapan?" tanya Gwen sambil membuat secangkir teh untuk dirinya sendiri
"Biasanya Nona Grace hanya akan memakan s**u dan roti. Tuan Lukas dan Nona Ruby biasanya akan memakan apapun yang dimasak. Tidak ada yang pilih pilih soal makanan." sahut Bibi
Gwen mengangguk mengerti. Dia memiliki ide apa yang harus dimasak untuk sarapan pagi ini.
"Uhm, bibi, bagaimana jika kita memasak pasta Aglio Olio? Itu cocok untuk sarapan karena mudah dibuat dan rasa nya enak." usul Gwen
"Bibi tidak tahu resepnya." balas Bibi itu
Sesaat kemudian, keduanya tertawa. Gwen menyesap pelan teh hangat nya sebelum kembali berdiri di samping Bibi yang tengah memasukan beberapa bahan masakan ke dalam kulkas.
"Aku bisa membuatnya. Bibi duduk saja dan lihat aku bekerja di dapur." tukas Gwen dengan seulas senyuman lebar nya
"E-eh? Mana bisa begitu? Nyonya, nanti Bibi dimarahi jika membiarkan Nyonya memasak di dapur." tolak Bibi secara halus. Niat Gwen baik, tentu saja. Tapi selama dia bekerja di rumah ini, tak ada satupun penghuni rumah yang mau menginjakan kaki di dapur.
Karena itu, saat Gwen datang ke dapur saat hari masih sangat pagi, membuat wanita paruh baya itu sangat terkejut.
Gwen menggelengkan kepalanya, "Siapa yang akan memarahi Bibi? Aku akan mengatakan jika aku yang memaksa Bibi membiarkan ku memasak. Lagipula, aku sudah bangun awal seperti ini. Tidak mungkin aku tidur lagi."
Gwen kemudian menipiskan bibirnya, "Bibi, apa yang biasanya Theo minum di pagi hari?"
"Kopi. Biasanya Tuan Theo akan meminta dibuatkan kopi." jelas Bibi
Gwen kemudian kembali melangkahkan kakinya ke pantry, dia meraih cangkir berwarna putih sebelum akhirnya membuatkan kopi dengan instruksi dari Bibi yang sudah terlebih dahulu mengetahui selera Theo. Tak lupa, Gwen juga membuatkan Lukas, Grace dan Ruby masing masing segelas s**u.
Sesekali, Gwen akan menanyakan banyak hal tentang anak anak Theodoric. Tentu saja, hal ini dia lakukan untuk mendekatkan diri pada ketiga anak Theodoric.
Setelah semuanya selesai, Gwen kembali mengulas senyuman cerah nya. Dia menatap Bibi yang berada tak jauh darinya dan mengucapkan terima kasih karena sudah memberitahukan banyak hal tentang penghuni rumah besar itu.
"Aku mau mengantarkan kopi dulu untuk Theo. Nanti aku kembali lagi untuk membuat pasta. Tunggu aku ya, Bi." pamit Gwen sambil meraih cangkir milik Theo dan menaruhnya diatas nampan sebelum keluar dari dapur
Sementara yang menjadi lawan bicara Gwen hanya tersenyum dan mengangguk.
Sementara itu di dalam kamar, Gwen melihat Theo sudah bangun dari tidurnya. Pria itu terlihat tengah mengumpulkan semua kesadarannya.
"Kopi mu aku taruh di atas meja, ya." ucap Gwen
"Iya, Bi. Taruh saja di situ." balas Theo dengan suara seraknya
Mendengar sebutan apa yang Theo sematkan padanya, Gwen menatap sebal pria itu dan bersidekap.
"Apa aku terlihat seperti Bibi?"
Mendengar suara yang berbeda dari biasanya, Theo mengerutkan dahinya dan menoleh. Dia terdiam saat melihat sosok perempuan yang sudah menjadi istri nya itu.
"Oh astaga, maaf. Aku lupa jika aku sudah menikah." tukas Theo
Gwen menghela nafasnya, "Sudahlah lupakan. Pokoknya aku sudah membuatkan kopi untukmu. Nanti setelah membersihkan diri, turun kebawah untuk sarapan ya." ucapnya
Setelah melihat Theo mengangguk, barulah Gwen kembali keluar dari kamarnya. Dia menghembuskan nafasnya dan menggelengkan kepalanya pelan, tidak habis pikir dengan Theo yang tidak bisa mengenali suaranya.
Saat hendak kembali menuruni tangga, Gwen berpapasan dengan Lukas yang juga terlihat hendak turun ke lantai satu. Melihat itu, Gwen tersenyum riang dan mengangkat satu tangannya, hendak menyapa anak kedua Theodoric itu dengan ucapan selamat pagi.
Namun saat melihat ekspresi tak suka yang ditunjukan Lukas padanya, Gwen pun mengurungkan niatnya. Senyuman riang nya berganti dengan senyuman tipis dan kemudian melanjutkan langkah nya untuk menuju dapur.
Saat dia melewati ruang makan, dia melihat dua anak Theodoric, yaitu Grace dan Ruby sudah berada di meja makan. Sama seperti sebelumnya, Gwen hendak menyapa keduanya tapi tatapan yang ditunjukan oleh dua anak itu sama tajam nya seperti Lukas. Hal itu membuat Gwen kembali tertampar fakta jika tidak ada anak Theodoric yang menerima keberadaan nya di rumah ini.
Jujur saja, nyali dan keberanian Gwen sedikit menciut karena hal itu. Dalam hati, dirinya bertanya tanya apakah dia sanggup jika harus menerima tatapan tak suka seperti itu setiap harinya?
'Ah, tidak. Mereka mungkin seperti itu karena belum mengenalku. Lambat laun, mereka pasti akan menerima keberadaan ku, kan?' pikirnya
Gwen kemudian menundukan kepalanya, dia mempercepat langkah nya menuju dapur dan mulai membuat pasta Aglio Olio yang sebelumnya dia katakan pada Bibi di dapur.
"Wahh, apa sebelumnya Nyonya terbiasa di dapur?" tanya sang Bibi
Gwen menganggukkan kepalanya, "Sebelum menikah, aku tinggal sendiri. Jadi tentu saja, agar bisa tetap hidup aku harus makan. Ibu ku selalu mengatakan jangan terlalu banyak makan fast food, jadi sudah tentu aku harus memasak sendiri." jelasnya
Wanita paruh baya yang menjadi teman bicara Grace itu mengangguk mengerti. Dia tersenyum sambil dalam hati memuji Nyonya baru rumah ini.
"Nah, Bi, coba ini." pinta Gwen sambil menggulung pasta yang ada di atas wajan dan menyodorkan nya pada sang Bibi
Wanita itu menerima suapan Gwen dan sontak menaikan kedua alisnya, terkejut dengan makanan buatan sang Nyonya rumah yang melebihi ekspektasi nya.
"Enak!" puji Bibi
Kedua mata Gwen sontak berbinar saat mendengar pujian tersebut, "Benarkah? Apa menurut Bibi, semua nya akan menyukai masakanku?" tanya nya antusias
Bibi yang bertanggung jawab untuk urusan dapur itu langsung menganggukkan kepalanya.
"Pasti, Nyonya." jawabnya yakin
Gwen tidak bisa menahan senyumannya. Setelah dirasa kematangan pasta buatan nya sudah pas, perempuan itu segera mematikan api dan menyerahkan pasta itu pada Bibi untuk dibagi ke beberapa piring agar Theo, Grace, Lukas dan Ruby bisa memakannya sebagai sarapan.
Grace hanya terdiam di dapur saat Bibi menaruh semua piring piring itu ke meja makan. Samar-samar, dia mendengar Ruby dan Lukas yang bertanya apa yang akan mereka makan sebagai sarapan.
Dari balik dinding, Grace mengintip suasana meja makan. Kedua matanya berbinar menatap penuh antusias ke arah ketiga anak Theodoric, menunggu komentar ketiga nya terhadap masakannya.
"Tunggu, kemana Theo?" gumamnya pada dirinya sendiri. Dari dapur, dia menghitung piring yang disimpan Bibi diatas meja sudah berjumlah lima.
Untuk dirinya, Theo, dan ketiga anak pria itu.
Namun Theo justru tidak terlihat di meja makan, sementara ketiga anaknya terlihat sudah menunggu dan bersiap untuk makan.
Gwen mengedarkan kepalanya ke sekeliling. Tidak mungkin Theo tengah bersembunyi untuk melihat reaksi Grace, Lukas dan Ruby sama sepertinya, kan?
"Nyonya, sedang apa disini? Pergilah ke meja makan dan sarapan." ucap Bibi
"O-oh iya, Bi. Sebentar." sahut Gwen sambil merapikan pakaiannya. Dia menghembuskan nafasnya gusar sebelum akhirnya melangkah keluar dari dapur.
Waktu seolah menjawab pertanyaan yang Gwen ucapkan saat di dapur. Bertepatan dengan Gwen yang melangkah menuju meja makan, suara langkah kaki yang berderap menuruni tangga membuat perhatian Gwen teralih.
Dia mengalihkan pandangannya ke sumber suara dan mengerutkan dahinya saat melihat Theo turun dari kamar sudah lengkap dengan setelan kerja nya.
"Theo," panggil Gwen
Saat Theo menoleh ke arahnya, Gwen melirik jam besar yang ada di ruang makan. Benda itu baru menunjukan pukul enam lebih lima belas menit.
"Kau mau kemana sepagi ini?" tanya Gwen
Theo terlihat gelisah. Pria itu menyerahkan tas kerja nya pada sang supir sebelum akhirnya menatap Gwen yang tadi bertanya kepadanya.
"Terjadi situasi darurat di kantor. Aku harus pergi menangani nya. Sarapannya masukan saja ke kotak bekal. Nanti supir ku yang akan kembali untuk mengambilnya." jawab Theo dengan tergesa. Dia melirik sekilas semua orang yang ada di ruang makan sebelum akhirnya berbalik pergi untuk keluar dari rumah tanpa berkata apapun lagi.
Melihat itu, Gwen tertegun. Langkah nya terhenti seketika. Dia tahu Theo adalah orang yang sangat penting di perusahaan nya. Tapi dia tidak tahu jika pria itu sangat sibuk hingga bahkan harus melewatkan sarapannya.
Gwen kemudian melirik ketiga anak Theodoric. Mereka semua tidak bereaksi. Wajah datar yang ditampilkan Grace, Lukas dan Ruby, entah kenapa membuat Gwen sedikit merasa ketakutan. Padahal dulu, bahkan waktu seusia Ruby, Gwen akan merengek jika Ayah nya tidak bisa menemani nya sarapan.
Seharusnya sikap yang ditunjukam Grace, Lukas dan Ruby membuat Gwen terpukau, tanda nya mereka sudah dewasa.
Namun entah kenapa kedewasaan yang ditunjukan ketiganya, malah membuat Gwen merasa takut... dan sedih disaat yang sama.
Sesaat kemudian, Gwen tersadar dari keterpakuan nya. Dia melanjutkan langkah nya dan mendekati kursi kosong yang bisa dia tempati. Belum sempat dia mendudukkan pinggulnya diatas kursi, ketiga anak Theodoric itu justru berdiri dari tempat duduk mereka.
Ketiganya kompak beranjak pergi dari sana meninggalkan Gwen seorang diri. Seolah tidak sudi untuk duduk bersama dengan orang asing sepertinya.
Lagi-lagi, Gwen dibuat tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya yang lemas, langsung terduduk begitu saja di kursi nya. Gwen termenung. Dia kemudian melirik semua kursi kosong yang ada di sekeliling nya dengan tatapan kosong.
Entah karena hal apa, tapi Gwen merasakan kedua matanya mulai berkaca kaca. Dia menarik nafas panjang dan menundukan kepalanya. Saat ini, Gwen tahu jika para pekerja di rumah ini mulai berlalu lalang. Dia tidak mau mereka tahu jika saat ini dirinya hampir menangis.
Gwen terdiam di posisi nya selama beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum, mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk tetap tegar. Setelah dirasa kedua matanya tidak lagi berkaca kaca, Gwen kembali menegakkan kepalanya.
Dia menemukan beberapa pelayan menatapnya dengan wajah kasihan. Gwen kemudian menipiskan bibirnya, dia menatap ke arah dapur dimana Bibi yang tadi membantunya memasak juga tengah menatapnya dengan raut mengasihani.
Melihat itu, Gwen tersenyum. Dia seolah mengatakan jika dirinya baik baik saja. Setelah nya, perempuan itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Bibi yang berdiri di depan pintu dapur.
"Bibi, aku tahu pasta tadi masih tersisa banyak. Dibagikan saja. Aku tahu banyak orang yang bekerja di rumah ini." ucap Gwen pelan
"Nyonya... tidak apa apa?" tanya Bibi cemas
Gwen hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman. Sepertinya, senyum adalah satu satunya hal yang bisa dilakukannya dengan baik di rumah ini.
"Memang nya aku kenapa?" balas Gwen sambil tertawa kecil
Tawa nya terdengar lirih, membuat siapapun yang mendengar pasti mengetahui jika orang yang tengah tertawa itu sedang menyembunyikan luka nya.
"Jangan lupa dibagikan ya, Bi. Bungkus juga untuk Theo. Aku akan kembali ke kamar." ujar Gwen
"T-tapi Nyonya belum makan!" timpal Bibi tanpa menghilangkan raut khawatirnya. Tentu saja, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jangankan makan, sang Nyonya bahkan baru saja duduk tapi ketiga anak tiri nya sudah beranjak pergi dan menolak kehadiran sang Nyonya baru.
"Sebelum nya, aku model, Bi. Aku belum lapar." tolak Gwen
"Tapi sekarang beda. Nyonya sedang hamil, kan? Kemarin juga Nyonya melewatkan makan malam. Pagi ini, Nyonya juga hanya minum teh hangat." tukas wanita paruh baya itu.
"Makan ya, Nyonya? Kasihan bayi nya." lanjutnya
Mendengar hal itu, Gwen tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri. Dia baru ingat jika saat ini ada kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Namun meskipun begitu, dia tetap tidak merasa lapar.
"Atau mau Bibi kupaskan buah? Setidaknya ada sesuatu yang masuk ke perut Nyonya. Jangan terlalu kosong." desak Bibi
Gwen kembali menggelengkan kepalanya, "Aku minum s**u saja. Nanti aku akan makan jika lapar."
"Kalau begitu, biar Bibi buatkan. Nyonya tunggu saja di kamar. Nanti bibi antarkan ke kamar. Nyonya pasti lelah karena sudah memasak pasta."
Kali ini, Gwen mengangguk. Dia berbalik dan beranjak pergi untuk kembali ke kamarnya dan Theo.
Kepergiannya diiringi dengan tatapan kasihan dari pada pelayan. Mereka menyayangkan apa yang terjadi pada sang Nyonya baru.
"Kita memang terbiasa menerima sikap kurang mengenakan dari Tuan dan Nona. Tapi mereka tidak seharusnya seperti itu pada Ibu baru mereka."