Chapter 4: Anggap saja seperti itu

1905 Words
'Yah... seharusnya aku sudah menduga nya, bukan? Dengan latar belakang yang bagus seperti itu, mustahil Theodoric adalah pria single. Justru aneh kalau diusia yang sudah tiga puluhan, dia masih sendiri.' 'Yah, seharusnya itu tidak aneh.' Gwen menipiskan bibirnya, "Tapi tetap saja aku terkejut. Apalagi bukan satu atau dua, melainkan tiga anak sekaligus." gumamnya Dia termenung menatap taman dari jendela kamar barunya dan Theodoric. Sedangkan pria yang menjadi suami nya itu tengah izin mengerjakan sesuatu di tempat lain. Dan dirinya sama sekali tidak beranjak dari sebuah sofa panjang yang ada di hadapan jendela itu. Lagipula, kemana dirinya bisa pergi? Beramah tamah dengan ketiga anak Theodoric? Tidak. Dirinya tidak bisa melakukannya saat ini. Gwen perlu membangun kepercayaan dirinya untuk kembali menampakan wajahnya di hadapan ketiga anak Theo yang terlihat dingin itu. Apalagi, sejak pertemuan mereka tadi, Gwen merasa jika ketiga anak itu memberi batasan dan jarak untuknya. Seolah memperingati Gwen untuk tidak mencoba akrab dengan mereka. "Tapi itu mustahil. Tidak mungkin satu keluarga yang tinggal di satu atap yang sama tidak bertegur sapa." ucapnya lirih Lahir dari keluarga yang harmonis, Gwen jelas tidak akan merasa nyaman untuk bertingkah acuh. Dirinya terbiasa menyapa seluruh anggota keluarga nya dengan riang dan ciuman singkat di pipi. Sesaat kemudian, Gwen tersenyum tipis. "Apa saat ini, di mata mereka aku adalah orang yang merebut posisi Ibu mereka?" tanya nya pada dirinya sendiri Gwen menoleh dan menatap cermin besar yang ada di samping nya. Dahinya berkerut samar, memikirkan jawaban dari pertanyaan yang tadi dia ajukan pada dirinya sendiri. Lalu kemudian kepalanya menggeleng pelan. "Tapi Theo bilang, aku tidak merebut posisi siapapun. Dia tidak memiliki istri. Lagipula, jika dia punya istri, tidak mungkin dia memaksa untuk bertanggung jawab. Jika dia punya istri, seharusnya dia senang saat aku memutuskan untuk membesarkan anak kami sendiri. Tapi dia justru melakukan hal sebaliknya dan bersikeras untuk bertanggung jawab." Gwen kemudian menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. "Sulit di mengerti. Sudahlah. Saat ini aku hanya perlu menyadari posisi ku." ucapnya pelan "Apa dan siapa yang harus menyadari posisi?" Suara berat dan sedikit serak itu membuat Gwen tersentak hebat dalam lamunan nya. Dia menoleh dan menemukan Theodoric berada di muka pintu. Pria itu menaikan satu alisnya, terlihat sedikit penasaran dengan apa yang baru saja terdengar olehnya. "S-sejak kapan kau disana?!" pekik Gwen terkejut "Sejak kau mengatakan sesuatu tentang 'menyadari posisi'." jawab Theodoric. Pria duduk di tepi ranjang dan menatap Gwen, "Kau memikirkan hal yang tadi?" "Sejujurnya, iya. Kenapa kau tidak mengatakan apapun soal anak anak mu? Maksudku, bukan nya aku tidak suka atau apa. Setidaknya aku bisa mempersiapkan diri. Jika aku tahu tentang ketiganya, mungkin aku bisa mencoba mendekatkan diriku pada mereka lewat sesuatu yang mereka sukai. Suasana nya mungkin tidak akan canggung seperti tadi." jelas Gwen. Dia mengatakan apa yang ada di hati dan pikirannya pada Theodoric, tidak ingin menyembunyikan apapun dari pria itu. Sejak bertekad untuk menikah, dia memang memiliki janji pada diri sendiri untuk tidak menutupi apapun dari Theodoric. Pria itu berhak mengetahui apa yang dipikirkannya dan apa yang dia rasakan. Lagipula, sepertinya mustahil juga untuk menyembunyikan isi pikirannya dari Theodoric. Gwen sangat buruk dalam menyembunyikan apa yang tengah dia rasakan. "Suasana tadi jadi terasa sangat canggung. Aku juga, entah kenapa merasa malu. Dan sedikit nya mengerti, bagaimana rasanya jika ada orang asing yang tiba tiba masuk ke dalam rumah lalu dikenalkan sebagai anggota keluarga. Pasti terasa aneh." sambung Gwen setengah bergumam "Puas? Kau sudah mengatakan semuanya?" tanya Theodoric dengan ekspresi tenang nya Gwen terdiam. Dia menatap kedua bola mata Theodoric yang berwarna hitam pekat sebelum akhirnya mengangguk. "Kemari." perintah Theo sambil menepuk tempat kosong di sisi nya, meminta Gwen untuk beranjak dari sofa dan pindah ke dekatnya. Gwen memutuskan untuk menuruti nya. Dia berjalan pelan dan duduk tepat di samping Theodoric. "Pertama, terima kasih atas kejujuran dan niat baikmu. Saat kita memutuskan untuk menikah, harus aku katakan, aku benar benar memberi semua perhatian ku pada keluarga mu. Apalagi aku juga menyadari jika kau masih memiliki orang tua yang utuh. Tentu saja, aku juga harus membuat kedua orang tua mu mempercayakan anak nya padaku. Karena itu, aku tidak memikirkan keadaan ku sama sekali. Untuk yang satu ini, aku minta maaf. Ini memang kesalahanku." sahut Theodoric tenang Pria itu terdiam sejenak, memberi jeda Gwen untuk mencerna penjelasan panjang nya sebelum kembali berniat mengutarakan hal lainnya. "Kedua, ini permintaan kedua orang tua mu. Gwen, jujur saja, aku menceritakan pada kedua orang tua mu tentang penolakanmu padaku." ungkap Theodoric yang membuat kedua mata Gwen melebar terkejut "Kau gila? Bagaimana jika Ayah dan Ibu mengalami serangan jantung?!" ujar Gwen ngeri "Jangan berlebihan. Kedua orang tua mu sama sekali tidak terkejut. Sifat mu yang nekad itu sudah membuat mereka kebal terhadap tingkah anaknya." tukas Theodoric sambil melirik Gwen dengan sebal Mendengar itu, Gwen terdiam. Perempuan itu menipiskan bibirnya dan tidak menyangkal tudingan tepat sasaran yang dilontarkan oleh Theodoric padanya. "Baiklah. Tapi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan ku tentang Grace, Lukas dan Ruby. Kenapa kau menyembunyikan mereka dariku?" ujar Gwen "Sikap nekad mu yang membuatku begini. Aku takut setelah mendengar jika kau tidak hanya harus menerima ku, tapi juga anak anakku, kau nekad membatalkan pernikahan kita." jelas Theodoric "Apa kedua orang tua ku tahu tentang status mu?" "Tentu. Mereka juga mengatahui soal anak anakku." Gwen termenung, "Ahh... ternyata itu alasan Ibu mengatakan jika aku harus menjadi Istri dan Ibu yang baik untuk anak anak." gumamnya. Dia menelan ludahnya, "Aku kira Ibu memintaku membuatkan nya cucu sebanyak banyaknya." lanjutnya pelan Theodoric menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya pelan. "Sudahlah. Jadi bagaimana? Apa penjelasanku sudah menjawab rasa penasaran mu?" tanya Theo "Ya. Sudah cukup aku kira." jawab Gwen Theodoric mengalihkan atensi nya pada Gwen, "Sekarang giliranku. Apa maksud ucapanmu tentang menyadari posisi atau apapun itu?" "Aku masih dianggap sebagai orang asing, kan? Jadi aku kira, aku harus menyadari posisiku. Aku akan berhati hati dalam bersikap." sahut Gwen "Kau sekarang adalah bagian dari keluarga ini. Lakukan saja apa yang kau mau. Jangan merasa tertekan atau segan. Lakukan sesukamu." sangkal Theodoric yang merasa jika tekad Gwen agak berlebihan "Menjalani hidup sebagai sepasang suami istri, mungkin awalnya akan terasa sulit bagimu. Apalagi karena kita tidak mengenal satu sama lain dengan jelas. Tapi aku harap, kau tidak terbebani dengan apapun yang ada di rumah ini. Jika kau berat menganggapku sebagai suami mu, anggap saja aku adalah sahabatmu. Jika ada yang mengganggu mu, katakan padaku. Jangan memendam nya sendirian." lanjut pria itu yang langsung disahuti dengan anggukan semangat oleh Gwen "Baiklah. Terima kasih karena sudah mengerti, Theodoric. Aku mungkin akan merepotkanmu kedepannya. Mohon bantuanmu." balas Gwen dengan seulas senyuman nya Theodoric terdiam. Pria itu menatap Gwen sebelum akhirnya mengangguk, "Aku juga. Mohon bantuan darimu. Karena aku juga mungkin akan merepotkan mu sesekali." "Oh ya. Theo. Kau bisa memanggilku 'Theo' tidak perlu memanggil nama panjang ku." *** "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Theodoric pada Gwen yang tengah memperhatikan sesuatu di layar ponselnya "Memperhatikan reaksi orang orang terhadap pernikahan kita." jawab Gwen tanpa menoleh pada Theo. Namun saat Theo tidak menyahuti jawaban nya, perempuan itu mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel dan mengerjapkan matanya sambil menatap Theo, seolah menunggu respon dari pria itu. "Dan...?" sahut Theo bingung "Dan mereka semua ternyata cukup mengenalmu ya. Beberapa temanku sepertinya tidak asing dengan mu." ucap Gwen sambil menonaktifkan ponselnya "Jangan jangan kau beberapa kali berkencan dengan model?" lanjutnya dengan mata memicing curiga "Tidak pernah." tukas Theo langsung, menepis kecurigaan Gwen. Pria itu mengerutkan dahinya, "Apa temanmu itu dari kalangan fotographer?" tanya nya "Um, ya. Kenapa?" "Kalau begitu, mungkin mereka pernah disewa perusahaanku saat ada event tertentu. Karena itu mereka mengenalku." jelas Theo Gwen mengangguk kecil. Perempuan itu terdiam menatap Theo yang berjalan menuju jendela dan menatap ke arah luar. "Usia kandungan mu hampir dua bulan, kan?" tanya Theo tiba tiba "Iya. Menurut dokter kandungan, minggu depan sudah memasuki usia dua bulan. Kenapa?" balas Gwen "Kalau begitu, kau tidak keberatan jika kita melewatkan perjalanan bulan madu, kan? Aku minta maaf sebelumnya, tapi perusahaan ku juga memiliki proyek yang harus dikerjakan dalam waktu dekat. Aku tidak bisa bepergian jauh karena hal itu. Mungkin aku akan meminta asistenku untuk menjadwalkan perjalanan bulan madu beberapa bulan lagi atau setelah kau melahirkan." ujar Theo tenang. Dia bersandar di pintu balkon dan mengalihkan perhatian nya pada Gwen. Dahi nya berkerut samar melihat perempuan itu hanya terdiam sambil menatapnya dengan salah tingkah. "K-kenapa kau serius sekali menjadwalkan bulan madu kita? Aku tidak masalah jika kita tidak melakukan perjalanan bula madu, serius." balas Gwen dengan sedikit terbata Theo terdiam menatap Gwen. Satu alisnya terangkat tinggi melihat semburat merah muda yang terdapat di pipi Gwen. Satu sudut bibirnya perlahan terangkat. 'Yah, bagaimana pun... dia masih sangat muda walau terlihat cukup tenang dan dewasa. Pembicaraan ini pasti akan terasa sangat canggung untuknya.' batin Theo Gwen berdeham, perempuan itu mencoba menetralkan ekspresi nya sebelum kembali menatap Theo. "Daripada itu, ada yang ingin aku tanyakan pada mu." tukas Gwen. Dia memiringkan wajahnya, "Makanan apa yang di sukai Grace, Lukas dan Ruby?" Mendadak, ekspresi Theo berubah. Pria itu berjalan mendekat ke arah Gwen dan duduk tepat di samping perempuan itu. Gwen mendadak kembali di dera oleh perasaan gugup saat Theo menatapnya dengan ekspresi yang sangat serius. "Apa yang akan kau lakukan?" tanya pria itu "Tentu saja mencoba mendekati mereka. Bagaimana pun, mereka sekarang adalah anak anak ku juga. Jadi aku harus mencoba menjadi Ibu yang baik untuk mereka." jawab Gwen ringan. Perempuan itu menjawab dengan seulas senyuman riang. "Kau tidak perlu melakukan nya, Gwen." sahut Theo dengan suara pelan. Pria itu terdengar ragu dan tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan Gwen. Bahu perempuan itu melemas, seolah kecewa dengan penolakan yang dilontarkan Theo pada dirinya. Bahkan sebelum dirinya melaksanakan niatnya. "Kenapa?" gumam nya kecewa "Anak anakku... mereka sulit untuk di dekati. Kemarin mereka mungkin hanya menatapmu dengan tajam. Tapi nanti, mereka mungkin akan melakukan hal yang membuatmu sakit hati. Kau ingat kata Dokter? Kau tidak boleh tertekan." balas Theo mengingatkan. Pria itu menatap Gwen dengan tegas, "Aku tidak mau kau tertekan. Itu akan berdampak pada kandunganmu." "Jika bisa, aku ingin meminta mu untuk jangan berurusan dengan anak anakku. Karakter ketiga nya berbeda, dan rumit untuk dipahami. Jika mereka sudah menarik batas dan jarak, maka jangan mencoba untuk mendekat." ucap Theo "Mustahil. Tidak mungkin sebuah keluarga hidup di rumah yang sama, namun saling mengacuhkan." sangkal Gwen bersikeras "Gwen, tolong mengertilah... Mungkin awalnya akan terasa sulit, tapi lambat laun kau pasti akan terbiasa." "Tidak. Tidak mungkin." elak Gwen. Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menatap lekat Theo, "Jangan bilang kau..." ucapnya menggantung Theo menganggukkan kepalanya, "Aku juga tidak terlalu dekat dengan Grace, Lukas dan Ruby." ungkapnya "Tapi kalian tinggal di atap yang sama!" pekik Gwen, tidak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya "Ya, tapi seperti yang kau lihat tadi. Kami hanya berbicara seperlunya. Aku terlalu sibuk, dan tidak menyadari sudah berapa tahun berlalu. Lalu tiba tiba, mereka sudah menjadi remaja. Dan saat aku menyadari hal itu, sepertinya semua sudah terlambat. Mereka sepertinya membenciku." imbuh Theo. Pria itu termenung menatap meja kecil yang berada di samping tempat tidurnya. Gwen menutup mulutnya rapat rapat. Dia menatap Theo dengan rasa bersalah. Secara tidak langsung, dirinya telah mengorek luka lama yang disimpan oleh pria itu. "Maaf." sesal Gwen "Kenapa meminta maaf? Kau sekarang adalah istriku. Kau berhak mengetahui keadaan tempat tinggal mu sekarang." sangkal Theo yang merasa tidak nyaman setelah melihat penyesalan di kedua mata Gwen "Tapi... bagaimana dengan mantan Istrimu?" tanya Gwen pelan "Apa dia... sudah meninggal?" sambungnya Theo menghela nafasnya. Pria itu mengusap pelan puncak kepala Gwen dan tersenyum. "Anggap saja seperti itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD