Banyak hal yang dilakukan Gwen untuk membuat kedua orang tua nya percaya jika dirinya akan menikah. Salah satunya adalah mendatangkan Theodoric ke hadapan keduanya.
Aneh nya, Ayah dan Ibu nya baru percaya saat Theodoric yang mengatakan hal itu.
Mungkin karena Theodoric beralasan jika usia nya sudah sangat matang untuk menikah dan bisa mengimbangi Gwen yang masih terhitung sangat muda. Belum lagi karena usia Theodoric yang sudah matang, membuatnya tidak bisa menjalin hubungan sejenis berpacaran dalam waktu yang lama. Karena itu mereka memutuskan untuk menikah.
Setidaknya, begitu alasan Theodoric.
'Boleh juga alasannya.' batin Gwen
Sekarang, Gwen sama sekali belum memiliki keberanian untuk mengatakan kabar kehamilannya. Tapi dalam hati, dia berjanji untuk mengatakan hal ini sebelum dia menikah.
Karena sudah mendapatkan restu dari kedua orang tua nya, dimulailah berbagai persiapan pernikahan yang anehnya berjalan lebih lancar dari yang di harapkan.
Tidak ada kendala yang berarti. Mereka langsung menyetujui tempat yang disarankan oleh WO, dekorasi dan bahkan makanan yang akan dihidangkan saat pesta.
Hanya saja, karena semuanya serba mendadak, Gwen tidak bisa membuat desain khusus untuk gaun pernikahannya. Dia hanya bisa membeli gaun yang sudah tersedia.
"Tak apa, kan?" tanya Theodoric
"Tak apa. Lagipula desainnya cantik." balas Gwen
Theodoric menyerahkan black card nya kepada pegawai butik yang sejak tadi menemani mereka mencoba gaun.
Jantung Gwen berdebar dengan kencang, dia menunduk dan menatap desain undangan yang sudah siap untuk disebar.
Besok. Dirinya besok akan mulai menyebarkan undangan ini kepada semua kenalannya.
Begitu juga dengan Theodoric. Pria itu mengundang banyak orang dari pihaknya.
Dan satu minggu kemudian, pernikahan mereka akan digelar.
***
Setelah semua persiapan yang dilakukan dengan sangat tergesa dan terasa seperti mimpi, Gwen akhirnya benar benar sampai pada tahap lain di dalam kehidupannya.
Perempuan itu menatap pantulan wajahnya di cermin tanpa ekspresi, seolah bertanya tanya apakah semua yang terjadi hari ini adalah sebuah mimpi atau kenyataan.
Wajahnya sudah tidak dipenuhi riasan lagi. Wajah Gwen sudah polos tanpa riasan apapun. Rambutnya yang panjang sudah terurai, gaun pengantin yang dipakai olehnya seharian juga sudah berubah menjadi piyama tidur berbahan satin.
Saat terdengar pintu terbuka, Gwen melirik ke arah kamar mandi dari cermin nya. Dia bisa melihat Theodoric keluar dari sana dengan rambut yang basah dan bertelanjang d**a.
"Besok kita akan langsung pulang ke rumah ku." ujar Theodoric
"Ah, baik." sahut Gwen singkat. Perempuan itu beranjak dari meja riasnya dan menaiki ranjang. Tanpa mengatakan apapun, dia berbaring dan mulai memejamkan matanya.
Dahinya berkerut. Niatnya untuk tidur mendadak menghilang saat dia merasakan sesuatu atau mungkin seseorang menaiki ranjang.
Gwen sontak membuka kedua matanya, dia menoleh dan menemukan Theodoric juga ikut berbaring bersama dengannya. Mulut perempuan itu terbuka.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya nya pelan
Pergerakan Theodoric terhenti, pria itu menoleh pada Gwen, "Mencoba untuk tidur."
Menyadari maksud ganda dari pertanyaan yang diajukan oleh Gwen, Theodoric mengubah posisi nya menjadi duduk dan bersidekap, "Jangan bilang kau memintaku untuk tidur di lantai?"
"Jangan kejam, Gwen. Tubuhku sakit beberapa hari ini karena pergi ke beberapa tempat sekaligus dalam satu hari." tegur pria itu
Gwen langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku tidak bermaksud begitu. Tapi... apa kau memang selalu tidur tanpa memakai pakaian mu?"
"Tidak. Aku harap kau tidak keberatan. Kau harus terbiasa." sahut Theodoric
Gwen mengangguk kecil. Perempuan itu memutuskan untuk menurut. Lagipula, di matanya, setelah sekian hari menghabiskan waktunya dengan pria itu, dia tersadar jika Theo tidak seburuk itu.
Malah, Theodoric sangatlah baik. Walau dengan ekspresi datarnya, tapi pria itu selalu menawarkan untuk membeli sesuatu saat Gwen menatap makanan atau benda selama lima detik.
Unik. Tapi disaat yang sama terasa menyebalkan bagi Gwen.
"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Tidak ada. Hanya saja, aku merasa kau adalah orang baik." ungkap Gwen
Terdengar suara Theodoric yang mendengkus, "Memang selama ini kau mengira aku orang jahat?"
"Tentu saja. Orang baik mana yang sempat memintaku menggugurkan kandunganku?" sahut Gwen setengah menyindir
"Hanya 'seandainya', Gwen. 'Seandainya'. Aku sengaja mengatakan itu untuk mengetahui sikapmu." tegas Theodoric. Pria itu memijat pelan dahinya yang terasa berdenyut karena lagi dan lagi, Gwen menyindirnya.
"Ya, ya, ya. Terserah. Tapi jangan harapkan aku meminta maaf karena kau sangat menyebalkan saat itu." ketus perempuan itu sambil berbalik membelakangi Theodoric dan kembali bersiap untuk tertidur.
"Tidak ada yang menginginkan permintaan maaf darimu." tukas Theodoric sambil menatap punggung perempuan itu dengan satu alis terangkat tinggi.
"Dasar aneh. Sepertinya dia perempuan paling random yang pernah aku temui." gumam nya lirih
***
Keesokan paginya, mengabaikan tatapan menggoda dari teman teman sesama modelnya Gwen menghabiskan sarapannya dengan tergesa.
"Pelan saja. Aku tidak akan meminta makananmu." tegur Theodoric
"Ssst, diam. Aku tidak sanggup lebih lama berada di dekat mereka. Aku sedikit merasa tertekan." sahut Gwen setengah berbisik
Theodoric berdeham dan mengedarkan tatapannya. Pria itu menatap restoran hotel yang didominasi oleh keluarga dan teman teman Gwen. Satu alisnya terangkat saat menyadari jika mereka semua tengah menatap ke arah mereka.
"Mereka pasti mengira jika kita melewati malam ala pengantin." gumam Theodoric
Gwen mengangguk kecil. Perempuan itu mengusap sudut bibirnya dengan tissue sebelum menatap serius pria yang duduk di hadapannya.
"Mereka tahu nya kita menikah karena cinta." ucapnya pelan. Sambil merapikan pakaian nya, Gwen perlahan bangkit dari duduknya.
"Eh? Gwen? Kau mau kemana?" tanya salah satu temannya
"Aku akan pulang hari ini." jawab Gwen sambil tersenyum
"Serius? Astaga, jangan bilang privasi kalian sebagai pengantin baru terusik karena keberadaan kami~" gurau Ibu Gwen sambil tertawa kecil
Untuk pertama kalinya, Theodoric meloloskan tawa nya. Entah kenapa, pria itu senang melihat Gwen yang terpojok dan kebingungan menjawab candaan dan gurauan yang dilontarkan oleh orang orang di sekelilingnya.
Untuk berakting sebagai suami yang baik, Theodoric bangkit dari duduknya dan melingkarkan lengannya di pinggul Gwen. Menciptakan suasana suami istri yang saling mencintai dengan baik.
"Aku juga tidak tahu. Gwen ingin pulang secepat ini. Padahal aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua dengannya di hotel."
Bagai mengatakan apa yang ingin didengar oleh orang orang, sesaat setelah Theodoric mengatakan hal itu, seruan menggoda kembali terdengar oleh Gwen. Wajah perempuan itu merona merah. Dia menyikut pelan perut Theodoric dan dengan ekspresi kaku menarik kaos bagian lengan yang di pakai oleh pria itu.
"Jangan bercanda. Kau yang mengajakku pulang." desis Gwen
Theodoric tersenyum dan mengusap rambut perempuan itu dengan lembut.
"Iya, aku tahu kau sudah tidak sabar untuk pulang. Kalau begitu, ayo kita ke kamar dan bergegas." balas pria itu
Gwen merasakan jantung nya seolah terlilit oleh usus. Perutnya mendadak dipenuhi oleh sensasi menggelitik saat dirinya mendongkak dan menemukan Theodoric tengah menatapnya dengan hangat.
"Kalau begitu, kami pamit dulu ya. Nikmati waktu kalian." ujar Theodoric sambil melambaikan tangannya pada semua orang yang ada disana.
Keduanya kemudian berjalan keluar dari restoran. Gwen dan Theodoric menyusuri lorong panjang yang menghubungkan restoran dan hotel dengan tangan yang saling menggenggam.
"Nikmati saja kehidupan kita, Gwen. Jangan terlalu kaku. Lagipula, walau tanpa cinta, kita serius dalam menikah. Seiring berjalan nya waktu, bukan tidak mungkin perasaan cinta akan hadir diantara kita, kan?"
Kedua netra Gwen perlahan melebar, perempuan itu menghentikan langkahnya dan menatap Theodoric dengan terkejut sesaat setelah mendengar hal itu keluar dari mulut pria itu.
Gwen yang menghentikan langkahnya membuat Theodoric menoleh. Pria itu mengeratkan genggaman tangannya pada Gwen.
"Kenapa? Kau terkejut aku mengatakan hal ini?" tanya Theodoric
"Uh, ya. Tentu saja. Siapa yang tidak akan terkejut mendengar kalimat itu keluar dari mulutmu. Jika Celestine ada disini, aku yakin dia akan mengira jika kau kerasukan." jawab Gwen
"Aku mengatakan ini karena kau terlihat merasa bersalah. Wajah mu yang murung seperti itu akan membuat orang lain curiga. Jadi, jalani pernikahan ini dengan wajar. Kita telah menjadi suami istri yang sah. Lakukan apa yang biasanya suami istri lakukan. Menurutku, cinta akan hadir seiring berjalannya waktu. Walau tentu saja bukan sekarang ataupun hari ini, tapi tolong percaya saja rasa itu akan segera datang diantara kita. Jangan merasa bersalah." jelas Theodoric
Gwen tertegun, "Apa rasa bersalah ku terlihat sejelas itu?"
Theodoric mengangguk, "Ya. Sangat. Aku mengatakan ini karena khawatir, Gwen. Dibandingkan perempuan yang baru saja menikah dengan bahagia, kau lebih terlihat seperti anak dibawah umur yang dipaksa menikah dengan pria paruh baya."
"Aku bukan anak anak. Aku wanita dewasa." sangkal Gwen
"...ya. Terserahmu."
***
"Semua nya sudah selesai?" tanya Theodoric
"Iya. Kau yakin kita hanya perlu merapikannya tanpa perlu membawa nya ke bawah sana?" sahut Gwen ragu
"Simpan saja disini. Nanti asistenku akan datang dan membawakan nya untuk kita. Pastikan saja semua pakaianmu sudah masuk ke dalam koper agar tidak ada yang tertinggal." ujar Theodoric
Gwen terdiam dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, sudah selesai. Pakaianmu dan pakaianku yang kita pakai selama di hotel ini sudah aku masukkan ke dalam koper." cetus Gwen
"Kalau begitu, ayo turun ke bawah. Kita pulang." ajak Theodoric. Pria itu kembali menggenggam tangan Gwen dan melangkah keluar dari kamar mereka.
Bertepatan dengan itu, diluar kamar, sudah ada kedua orang tua Gwen yang baru saja hendak mengetuk pintu kamar mereka.
"Oh? Kalian benar benar akan pergi sekarang?" tanya Ayah Gwen
"Iya, Ayah. Apa Ayah mengira aku baru saja bercanda?" sahut Gwen sambil tersenyum
Kedua orang tua Gwen terkekeh.
"Nak, kau sudah menikah. Jaga nama baik suami mu baik baik. Rawat anak-anak mu dengan penuh kasih sayang juga tanpa memperdulikan apakah mereka darah daging mu atau bukan. Cintai suami mu dan jaga dirimu baik baik." ujar Ibu Gwen. Wanita paruh baya itu membelai pelan wajah Gwen dengan lembut, "Kau pasti bisa menjadi istri sekaligus Ibu yang baik. Jangan segan meminta bantuan pada Ayah dan Ibu jika kau membutuhkan bantuan." sambung nya
Gwen tersenyum dan mengangguk, dia memeluk kedua orang tua nya tanpa menghilangkan senyumannya.
"Terima kasih Ayah, Ibu. Maaf jika aku belum bisa menjadi anak yang baik, tapi malah menikah tanpa sempat membalas budi." sahut Gwen
"Apa yang kau bicarakan? Pergi sana. Selama ini kau sudah menjadi anak yang baik. Sekarang tugasmu bukan lagi berbakti pada kedua orang tua mu, tapi pada suami dan keluargamu." balas Ayah Gwen
Setelah pembicaraan singkat yang cukup mengharukan itu, Gwen dan Theodoric diantar oleh kedua orang tua nya untuk turun ke lobby.
Sesaat sebelum memasuki mobil Theodoric, Gwen melambaikan tangannya pada kedua orang tua nya. Perempuan itu kembali menyunggingkan senyuman tipis nya sebelum benar benar menghilang dibalik mobil.
Mobil itu kemudian melaju keluar dari hotel.
Gwen memakai seatbelt nya dan menghela nafasnya pelan. Seolah tengah benar benar menyiapkan dirinya untuk berkeluarga.
"Kau beruntung sekali." ujar Theodoric tiba tiba
"Aku? Kenapa?"
"Keluarga mu adalah keluarga yang harmonis. Sekarang aku tidak heran kenapa kau dewasa dan cerdas disaat yang sama. Saat pertemuan kita yang kedua kalinya, kau juga terlihat sangat tenang walau melihat respon yang kurang baik dariku. Aku yakin, keluarga mu berperan banyak dalam kedewasaan mu." jelas Theodoric
Gwen tersenyum mendengarnya, "Kau benar."
"Karena itu aku bilang kau beruntung, kan?" ucap Theodoric
Gwen mengangguk. Dia mengakui hal itu.
'Theo adalah pria yang baik. Aku rasa, aku bisa mempercayakan kehidupan ku padanya.'
Gwen tersenyum kecil, perasaan nya benar benar baik. Dia kira, kehidupan nya juga akan berjalan dengan lancar dan baik baik saja tanpa masalah apapun.
Theodoric tidak menuntut banyak hal. Namun, Gwen tentu saja adalah perempuan yang cerdas. Dia tahu bagaimana harus bersikap. Karena itu, dia benar benar bertekad menjadi istri yang baik untuk Theo dan menjadi Ibu yang baik.
Untuk pernikahan tanpa cinta ini, Gwen sudah memantaskan diri.
***
Mobil milik Theodoric berhenti di sebuah rumah bergaya eropa berukuran besar yang didominasi oleh warna putih dan gold. Bangunan besar yang terlihat memiliki empat lantai itu memberikan kesan angkuh dan mengintimidasi siapapun yang melihat nya. Kesan yang sama dapat ditemukan pada pemiliknya, Theodoric.
Gwen mendongkak saat merasakan sesuatu mengawasi nya dari dalam rumah.
Dahinya berkerut samar saat melihat sekelebat bayangan yang menjauh dari salah satu jendela di lantai dua. Namun dengan cepat, perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan. Tidak ingin menduga duga siapa yang ada di dalam sana.
Terlebih, dia merasa jika dirinya diawasi oleh bayangan tadi.
"Ayo masuk." ajak Theodoric
Gwen mengangguk dan mengikuti pria itu dari belakang. Pintu yang berada diatas tangga itu terbuka dengan sendiri nya saat Gwen baru menginjakan kaki nya di anak tangga pertama.
"Dimana mereka?"
Gwen mengerutkan dahinya saat mendengar samar samar Theodoric yang menanyakan sesuatu pada kepala pelayan yang terlihat menyambutnya di dalam rumah.
"Ada di ruang tamu. Sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuan." jawab si Kepala pelayan
Gwen melirik dan menyapa kepala pelayan itu dengan seulas senyuman tipis.
"Ayo ikuti aku. Aku harap kau tidak terkejut." pinta Theodoric
Gwen kembali melangkahkan kakinya mengikuti Theodoric. Dia mengedarkan tatapannya, menyapu bagian dalam rumah Theo yang terlihat sedikit mirip dengan rumah kedua orang tua nya.
Hingga kemudian, netra Gwen menangkap sesuatu.
Ada tiga sosok manusia yang tengah duduk tenang di sofa dan berada jauh di depannya.
Seorang perempuan yang lebih dewasa dari dua sosok lainnya terlihat tengah sibuk dengan sebuah buku.
Sementara di tempat lain namun masih di ruangan yang sama, ada seorang pria yang terlihat hanya lebih muda satu tahun dari perempuan yang sebelumnya, tengah sibuk dengan ponselnya.
Lalu sosok terakhir, seorang anak perempuan yang terlihat berusia 12 tahun hanya terdiam dengan pandangan kosong menatap lantai. Dipelukannya, ada sebuah boneka kelinci putih berukuran besar. Kelihatannya, dia lah yang paling muda diantara dua sebelumnya.
Walau kegiatan mereka berbeda, ada satu kesamaan yang dapat Gwen lihat.
Ketiga nya terlihat acuh dengan keadaan di sekeliling nya.
"Gwen, perkenalkan. Ini anak anakku."
Gwen menoleh dengan kaku pada Theodoric yang baru saja mengatakan hal tadi.
"Ini Grace, anak pertama ku." ujar Theo sambil menunjuk seorang remaja perempuan yang tengah membaca buku tersebut
Saat perempuan itu mendongkak dan menatapnya, Gwen yang hendak menyapa, langsung dibuat terdiam.
"Ini anak kedua ku, Lukas."
"Dan ini anakku yang terakhir, Ruby."
Gwen menurunkan tangannya yang tadinya hendak melambai untuk menyapa ketiga nya. Dia mengganti sapaan riang yang ingin dia sampaikan itu dengan seulas senyuman.
"Hai. Aku Gwen. Senang bisa bertemu dan berkenalan dengan kalian."
Gwen dibuat tertegun saat ketiga orang yang ada di hadapannya itu menatapnya dengan datar.
Jangankan untuk menganggap jika mereka menerima nya. Untuk balik menyapa atau tersenyum saja, ketiga anak Theodoric itu terlihat enggan.
Sorot mata yang dingin dan datar itu menunjukan satu arti.
Ketidak sukaan.
Mereka tidak menyukai kehadiran Gwen diantara mereka.
Sikap acuh yang mereka tunjukan sebelumnya itu, bukan berarti mereka tidak sadar akan keberadaan Gwen. Hanya saja, mereka tidak menginginkannya.