Chapter 2: Ujian dari Theodoric

2414 Words
"Jadwal menstruasi ku sudah terlambat sangat jauh. Ada kemungkinan... aku hamil." Theo menatap lekat perempuan yang duduk diseberang nya. Dia melihat bagaimana perempuan itu berlagak tenang walau kedua tangannya bergerak saling meremas. Terlihat jelas jika perempuan ini gugup. 'Ini persis seperti yang dikatakan Samuel.' "Bagaimana jika aku memintamu menggugurkannya?" tanya Theodoric Gwen tersentak kecil. Kedua tangannya yang tadi sempat bergerak saling meremas di atas lututnya itu mendadak terkulai lemas begitu saja di samping tubuhnya. Dia menatap Celestine yang terlihat menatap Theodoric dengan tatapan marah. "Atau kau butuh uang? Aku akan memberikannya. Tapi gugurkan anak itu." lanjut Theodoric Gwen tersenyum tipis, dia menggelengkan kepalanya menolak tawaran menyedihkan yang diberikan Theo padanya. "Aku tidak membutuhkannya. Kalau begitu, aku permisi. Anggap saja aku tidak pernah bertemu ataupun mengatakan apapun kepadamu. Terima kasih atas waktumu. Maaf jika aku mengganggu." ucapnya. Gwen menoleh pada Celestine dan menepuk bahu sahabatnya itu, "Ayo pergi. Tidak ada yang bisa aku katakan lagi." Entah kenapa, hatinya berdenyut sakit mendengar semua kalimat yang dilayangkan pria itu padanya. Seolah olah Gwen datang untuk mengemis dan meminta bayaran padanya. Padahal Gwen hanya ingin mengabarkan apa yang terjadi kepadanya dan mungkin mendengar saran yang baik dari pria yang sudah melakukan hal itu kepadanya. Apalagi dia juga mengingat jelas jika pria itu mengatakan akan bertanggung jawab. Menyedihkan sekali dia. Gwen tidak pernah mengira jika tanggung jawab yang dimaksud hanyalah berupa uang. Dia bukan wanita club. "Gwen, kau gila? Kau tidak ingin meminta nya bertanggung jawab atau mendebatnya?" seru Celestine Gwen menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku tidak mau sakit hati lebih dari ini. Padahal pria itu hanya menghabiskan satu malam denganku, tapi kenapa aku merasa sakit mendengar ucapannya ya?" balasnya sambil tertawa lirih Celestine menatap kasihan Gwen yang menyembunyikan rasa sakit dibalik tawa nya. "Lalu kau mau bagaimana? Tidak mungkin kau tidak punya rencana untuk kedepannya, kan?" tanya Celestine "Tadinnya aku tidak bisa memikirkan apapun. Tapi setelah mendengar ucapan pria tadi, mendadak aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku akan menjalani pemeriksaan hari ini. Jika seandainya aku memang hamil, aku akan merawatnya sendirian. Aku tidak mau menggugurkannya. Toh aku yang salah karena tidak bisa menahan diri dan bodoh karena bisa terpengaruh oleh obat perangsang dan juga minuman." jawab Gwen Sesaat sebelum Gwen meraih pintu mobilnya, dia merasakan seseorang mencekal lengannya. Saat dia menoleh, dia menemukan Theodoric berada di belakang nya. Pria itu menahan pintu mobil yang hendak di buka nya dan menarik dirinya ke arah yang berbeda. "Hei, kau akan membawa Gwen kemana?!" teriak Celestine kesal "Pergi. Masih banyak hal yang harus kami bicarakan." balas Theo tanpa menoleh sedikitpun. Namun langkahnya terhenti saat Gwen mencoba meronta dan melepaskan diri dari dirinya. "Tidak ada yang perlu dibicarakan. Pembicaraan selesai di dalam tadi saat kau memintaku menggugurkan dan hendak membayarku!" ucap Gwen "Tidak. Belum. Yang tadi itu, aku hanya menguji mu." sangkal Theodoric Pria itu membuka sebuah pintu mobil berwarna hitam dan mendorong pelan tubuh Gwen untuk masuk ke dalam nya. Dengan cepat, dia berjalan ke sisi yang berbeda dan turut memasuki mobil yang sama. Tidak ingin berada di satu tempat yang sama dengan orang yang membuatnya tidak nyaman, Gwen mencoba untuk keluar dari mobil. Tetapi percobaan melarikan dirinya terhenti saat dirinya menyadari jika pintu mobil tersebut dikunci otomatis oleh Theodoric. Dan dia tidak bisa membuka nya. Gwen mendesah pelan, dia menatap Celestine yang terlihat bingung dikejauhan. "Kau akan membawaku kemana?" tanya Gwen "Perusahaan ku. Aku sudah meminta asistenku membelikan mu testpack. Dan juga memanggil dokter." jawab Theodoric tanpa menoleh sama sekali "Dokter? Untuk... menggugurkan kandunganku seandainya aku hamil?" tanya perempuan itu pelan "Bukan. Untuk memeriksa usia kehamilan mu." Gwen mengerutkan dahinya, pria di samping nya ini sangat sulit untuk di tebak. "Maaf karena membuatmu merasa tidak nyaman dengan sikapku tadi. Aku melakukan itu untuk mengujimu. Apakah kau orang yang baik atau bukan." jelas Theo yang mulai merasa tergelitik dengan ekspresi bertanya yang ditampilkan perempuan itu "Bohong." tukas Gwen "Terserah jika kau tidak percaya. Tapi aku hanya berkata jujur. Jika tadi kau menjawab kau ingin menggugurkan kandungan mu dan menerima uangku, aku mungkin akan mengira jika itu jebakan dan kau hanya ingin memerasku. Tapi kau menolak dengan tegas dan mengatakan hal yang membuatku merasa jika kau orang yang baik." sahut Theodoric Gwen melirik Theodoric dengan kesal, "Siapa yang membuatku naik ke atas ranjang, ya?" sindirnya "Temanku. Bukan aku. Tapi aku tetap merasa jika aku turut bertanggung jawab untuk hal itu. Jadi kau tidak perlu khawatir." *** Gwen mendongkak, menatap gedung perusahaan berlantai 30 di depannya. Di bagian depan nya, bertuliskan nama 'Blake Company'. Nama yang sama seperti yang dimiliki oleh Theodoric. Sekali lihat saja Gwen mengetahui jika perusahaan di depannya adalah milik pria itu. "Ayo masuk." ajak Theodoric Gwen langsung melangkahkan kaki nya untuk mengekor pria itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Di mobil, dia juga sudah mengirimkan sebuah pesan kepada Celestine, dia meminta agar perempuan itu pulang terlebih dahulu. Tak lupa Gwen juga mengatakan jika dirinya di bawa pergi ke perusahaan milik pria itu. Hanya untuk sekedar berjaga-jaga jika terjadi sesuatu. Sesaat setelah melangkahkan kakinya untuk memasuki perusahaan, Gwen bisa merasakan atensi banyak orang terarah kepadanya. Entah apa yang terjadi, namun Gwen bisa merasakan orang-orang menatapnya karena dirinya datang bersama dengan Theodoric. Di dalam lift, Gwen berdiri tepat di samping Theodoric. Dia melihat pria itu menekan sebuah tombol bertuliskan 'CEO's Room' sebelum akhirnya lift itu tertutup rapat. Benda besi itu merambat naik dengan kecepatan sedang. Keduanya menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya benda itu berdenting dan membuka pintu nya. "Selamat datang kembali, Tuan Blake." sapa seorang pria berpakaian rapi yang berada di depan lift. Kemudian pria itu menyingkir, memberi jalan untuk Gwen dan juga Theo agar bisa keluar dari lift. Theo menyodorkan tangannya ke hadapan pria itu, "Mana barang yang aku minta?" tanya nya Gwen melihat pria yang tadi menyambutnya itu menyodorkan tiga benda panjang dengan merk yang berbeda. Testpack. "Kau membeli tiga?" tanya Theodoric "Untuk hasil yang akurat. Ketiga nya adalah merk terbaik dengan potensi akurat sebanyak 98 persen." jawab pria tadi Theo kemudian kembali mengajak Gwen untuk melangkah masuk ke ruangannya. Perempuan itu tersentak kecil saat melihat ada dua pria lagi yang berada di dalam ruangan. Satu pria yang memakai setelan kantor dan pria lainnya memakai setelan berwarna putih. "Ini, kau bisa mencoba nya di dalam kamar mandi. Coba ketiga nya. Dan langsung keluar lagi saat hasilnya sudah terlihat." ujar Theodoric sambil menyerahkan ketiga testpack itu kepada Gwen Gwen langsung meraih benda itu. Dia melepaskan tas miliknya dan berjalan ke kamar mandi yang ditunjukan oleh Theodoric. Di dalam kamar mandi, Gwen mencoba membaca instruksi pemakaian testpack. Setelah dirasa jika dirinya mengerti, Gwen segera menjalankan test kehamilan mandiri nya. Sambil menunggu hasilnya muncul, Gwen termenung menatap lantai. Jujur saja, dia ketakutan. Dia takut jika dirinya belum siap menjadi seorang Ibu. Gwen tahu dirinya masih kekanakan, karena nya dia mencemaskan adanya kemungkinan dia hamil. Namun jika ada orang yang bertanya apa Gwen hendak menggugurkan kandungannya, maka Gwen akan dengan tegas menolak hal itu. Bagi Gwen, walau dirinya belum sedewasa usia nya, tapi dirinya lebih memilih untuk belajar menjadi Ibu yang baik ketimbang harus dihantui rasa bersalah seumur hidup karena lari dari tanggung jawab. Atensi Gwen kemudian terarah pada benda tipis nan panjang di tangannya. Dengan ragu, dia menyingkirkan Ibu jari yang menutupi hasil test nya itu. Garis dua. Hal itu membuat Gwen tercekat karena kecurigaan nya benar. Untuk memastikannya lagi, Gwen menatap testpack lain. Ketiga benda yang ada di tangannya itu memiliki dua garis. “Aku benar benar hamil…” Perempuan itu bergumam lirih dan menatap testpack yang ada di tangannya. Dia memang sudah menduga hal ini. Tapi dia tetap terkejut saat realita kembali menamparnya. Dia kembali tersadar saat mendengar suara pintu kamar mandi yang diketuk pelan. Bersamaan dengan suara berat seorang pria yang sejak tadi sudah menunggu nya. “Gwen? Apa hasilnya?” Karena tidak ingin menyembunyikan apapun, Gwen segera keluar dari kamar mandi dan menyerahkan hasil testpack nya. “Aku benar benar hamil…” “Kalau begitu, kapan kau ingin pernikahan nya dilaksanakan?” Mendengar itu, Gwen sontak mengangkat kepalanya. Pria itu serius? Kemana sosok nya tadi yang mengatakan untuk menggugurkan anak yang dia kandung? Gwen menatap Theodoric dengan dahi berkerut samar. Pria ini sulit untuk dimengerti. “Aku akan membesarkannya sendiri.” Tukas Gwen. Dia meraih tas miliknya yang ada di kursi dan hendak berjalan keluar dari ruangan yang dia yakini sebagai ruang kerja Theodoric. Sayang nya, belum sempat dia melangkah keluar dari pintu. Langkah nya harus terhenti karena Theodoric menghalangi satu satunya akses untuk keluar. "Tidak bisa. Aku tetap ingin bertanggung jawab untukmu dan bayi itu. Kita melakukan kesalahan itu berdua, Gwen. Jadi aku tetap akan bertanggung jawab. Kapan kau siap untuk menikah?" Sejujurnya, Gwen tidak berharap banyak dari Theodoric. Dia hanya ingin pria itu tahu soal kehamilannya dan mungkin... bersedia menjaga Gwen hingga bayi nya lahir nanti. Gwen juga hanya ingin agar Theodoric mengakui anaknya itu agar di masa depan, anaknya memiliki identitas yang pasti tentang siapa kedua orang tua nya. "Gwen, dengarkan aku. Aku mungkin belum mengenalmu, kau juga belum mengenalku. Tapi aku sudah cukup hanya dengan mengetahui jika kau adalah orang yang baik. Apa kau bisa menemukan jalan keluar lain selain pernikahan? Jangan bodoh, Gwen. Dunia adalah tempat yang kejam. Kau tidak bisa mengurusnya seorang diri dengan identitasmu yang seorang publik figur. Anak kita butuh identitas yang pasti tentang kedua orang tua nya agar tidak terasingkan dari lingkungan luar." desak Theodoric. Pria itu menyentuh bahu Gwen dan meminta perempuan itu untuk kembali duduk di sofa yang ada di ruangannya. "Duduklah. Pikirkan dengan kepala dingin. Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan kepadaku." ujar Theodoric yang lebih terdengar seperti sebuah perintah Gwen menurut. Dia duduk diam di sofa yang ada di ruangan itu. Kedua tangannya bergerak saling meremas, dia merasa seperti seekor tikus yang terpojokan oleh seekor elang. "Bagaimana jika ini bukan anakmu?" tanya Gwen pelan. Dia menipiskan bibirnya, "Bagaimana jika aku hanya datang untuk memanfaatkanmu?" "Rasanya mustahil jika itu bukan anakku. Aku ingat dengan pasti jika aku yang pertama melakukan hal itu denganmu. Aku yakin kau juga bukan tipe orang yang bebas melakukan hal itu. Kau hanya melakukan hal itu yang pertama dan terakhir denganku." tukas Theodoric yang langsung dibenarkan dalam hati oleh Gwen "Karena jika memang pergaulan mu sebebas itu, yang kita lakukan kemarin mungkin bukan yang pertama. Dengan usia mu yang sekarang, mungkin kau sudah melakukan hal itu berkali kali. Tapi nyata nya... kemarin adalah yang pertama kalinya untukmu, kan?" lanjut pria itu Gwen menarik nafasnya sebelum akhirnya mengangguk. Sudah tidak ada yang bisa ditutupi nya dari Theodoric. Entah kenapa Gwen merasa jika pria itu sudah mengenal atau mencari tahu seluk beluk kehidupannya. "Kalau begitu, apa lagi? Sudah jelas itu anakku." Bagai vonis hukuman mati, ucapan itu sama sekali tidak bisa dibantah oleh Gwen. Dia hanya bisa terdiam dengan kepala tertunduk. Hanya satu hal yang Gwen sesali. Kenapa pria itu mengatakan semua hal itu dihadapan 3 pria lainnya. Yang satu mungkin adalah seorang dokter. Yang satunya lagi adalah asisten atau tangan kanan pria itu. Tapi siapa pria terakhir?! "Aku mengatakan hal ini dihadapan orang-orang ini agar ada saksi yang mengetahui jika aku berjanji untuk bertanggung jawab kepadamu." ucap Theodoric seolah mengerti dengan tatapan Gwen. Dia berjalan mendekati Samuel yang duduk di dekat Dokter tadi, "Dan dia. Dia adalah orang yang menaruh obat perangsang di minuman mu." "Cepat minta maaf padanya, Samuel." "Maaf, Nona Gwen. Aku sangat menyesali ulahku yang menyebabkan mu mengalami kerugian." Gwen enggan menanggapi ucapan penuh sesal yang dilayangkan pria bernama Samuel itu kepadanya. Dia menatap lurus Theo yang juga tengah menatapnya. "...apa tidak masalah jika aku menikah denganmu?" tanya Gwen Theodoric mengangguk, "Aku mapan. Aku juga cukup dewasa. Mungkin ini berlebihan, tapi aku adalah pria yang bisa kau percaya seumur hidupmu." “Dan aku tidak punya istri. Jika itu yang kau khawatirkan. Kau tidak menjadi perusak rumah tangga orang lain.” *** Gwen melangkah memasuki apartemennya dengan langkah lesu. Pada akhirnya, kepercayaan dirinya untuk mengurus anak nya seorang diri mendadak sirna. Dia menyerah pada ketakutan tentang orang-orang yang menanyakan tentang identitas anaknya. Setelah dia menjalani pemeriksaan Dokter dengan peralatan seadanya di ruangan Theodoric itu, barulah dirinya diantar untuk pulang oleh pria itu. Dan pada akhirnya juga, dia mengambil keputusan besar memutuskan untuk menikah dengan Theodoric. Sepanjang perjalanan tadi Theodoric aktif bertanya tentang kapan pernikahan itu akan dilaksanakan, berapa tamu yang akan diundang, dan bahkan mengajak Gwen untuk menyiapkan semua nya sejak besok. Katanya mereka harus menikah sebelum orang-orang mencium kabar kehamilan Gwen. "Oh... aku belum mengatakannya pada Celestine." gumamnya pelan. Gwen melangkah menaiki ranjang nya dan berbaring dengan kedua mata terpejam erat. Satu tangannya meraih ponselnya yang ada di dalam tas. Gwen kembali membuka matanya dan menatap kosong layar ponselnya yang gelap. Dia mengaktifkan benda itu dan langsung mencari nomor sang Ibu. Sebelum Celestine mengetahui hal ini, Ibu nya harus menjadi orang yang pertama mengetahui kabar pernikahan dirinya. "Hai, nak. Apa kabar?" sapa sang Ibu yang membuat Gwen tersenyum "Baik. Bagaimana dengan Ibu? Apa Ibu baik-baik saja?" sahut Gwen "Sure, dear. Ibu baik-baik saja. Kenapa bisa kebetulan ya? Ada sesuatu yang ingin Ibu ceritakan padamu. Akhir akhir ini Ibu selalu memimpikan seorang anak kecil yang berlarian mendekati Ibu. Dia memanggilku dengan sebutan 'nenek'. Setiap terbangun, Ibu jadi merasa malu sendiri." Gwen tertegun. Dia tanpa sadar menyentuh perutnya sendiri. Mendadak perutnya dipenuhi sensasi asing yang menggelitik. Naluri Ibu nya menyeramkan. "W-wow. Mimpi Ibu... random sekali." sahut Gwen yang bingung bagaimana cara menanggapi sang Ibu yang entah kenapa terdengar kelewat excited "Iya, kan? Random sekali. Tapi akhir akhir ini mimpi nya jadi terasa semakin nyata. Ibu jadi bertanya-tanya siapa yang akan segera memanggilku Nenek. Sedangkan anak yang Ibu miliki kan hanya dirimu." balas sang Ibu sambil tertawa kecil Gwen menipiskan bibirnya. Kabar kehamilannya tidak akan bisa disampaikan lewat telfon. Dia harus datang sendiri, meminta maaf dan mengatakan kehamilannya kepada kedua orang tua nya secara langsung. "Oh iya, ada apa kau menelfon, Gwen? Tidak biasanya kau menelfon tanpa alasan. Kalau merindukan Ibu, kau juga biasanya langsung datang ke rumah." tanya Ibunya "Ibu, sepertinya aku akan menikah." ucap Gwen pelan Hening sejenak. Gwen jadi merasa canggung sendiri setelah mengatakan kabar besar seperti itu kepada Ibu nya. Hingga sesaat kemudian, terdengar Ibu nya terbatuk kecil. "Gwen, nak, jangan terbebani dengan mimpi yang Ibu ucapkan. Tidak ada yang memintamu untuk menikah dalam waktu dekat dan memberikan kami cucu. Tidak ada." Perempuan itu, Gwen menghela nafasnya. Itu suara Ayah nya. Sudah dia duga jika kedua orang tua nya akan langsung menempel sesaat setelah dirinya mengatakan kabar pernikahan itu. "Lagipula... dengan siapa kau akan menikah? Nak, jika Ibu dan Ayah tidak salah ingat, kau kan tidak punya pacar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD