BAB 10

1146 Words
            Bukan hari yang buruk dengan kedatangan Leo dan Evans di rumah Alena. Alena tentu tidak bisa menolak kedatangan Evans begitu pun dengan Leo. Pria itu langsung menyosor masuk tanpa basa-basi ketika Alena membukakan pintu. Dia langsung bergabung dengan Evans dan Fle yang duduk di atas lantai kayu dengan cemilan masing-masing. Tapi Leo tak pernah berminat menyapa Fle, dia masih dendam karena kucing itu pernah menindihnya dan mengejarnya. Kucing galak.             Alena setia mengenakan style khasnya tutleneck hitam dan celana jeans hitam. Leo sempat menatapnya sekilas karena menyangka Alena tak mengganti bajunya yang selalu saja hitam. “Alena, besok kita nonton yuk!” ajak Leo menatap Alena yang duduk di meja favoritnya dekat jendela dengan gorden yang terbuka. “Tapi jangan pakai baju hitam ya.”             “Aku tidak bisa.” jawab Alena. “Aku tidak suka nonton.” Alena beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur. Leo menyusul. Fle memberi tatapan tajam pada pria itu tapi Leo seakan tak peduli.             “Apa dia pacar Kak Alena?” tanya Evans yang memanggil Alena dengan awalan ‘kak’ pada Fle yang dijawab dengan mengeong. Evans tidak paham arti suara kucing hitam itu tapi dia paham kalau Leo menyukai Alena.             Alena berdiri di penggorengan. Dia berniat membuat kentang goreng yang dibelinya dari supermarket. Leo memilih duduk di meja makan. “Alena, ayo nonton.”             “Aku tidak suka keramaian.” jawabnya tanpa menoleh pada Leo.             “Nanti bioskopnya aku sewa deh, biar bisa berduaan. Aku beli semua tiket kursi di satu ruangan untuk kita.” katanya dengan meyakinkan.             “Tidak usah. Aku tidak mau nonton. Aku tidak mau keluar ke tempat-tempat ramai.”             “Ya ampun, besok aku ulang tahun, lho, nambah tua, nih. Masa kau tidak mau menemani pria setampan Leonardo D Caprio ini nonton film. Anggap saja semacam kado ulang tahun darimu.”             Alena menyalakan kompor.                                Hening.                                   Tik... tok... tik... tok...             Leo melepas blazzer-nya. Lalu kaosnya. “Besok kau mau menemani aku nonton atau aku telanjang di hadapanmu sekarang.” sontak Alena menoleh dan mendapati pria itu hendak melepaskan sabuknya.             “Apa-apaan ini?!” tanya Alena dengan dahi mengerut tebal.             “Pilih mana?” Leo tersenyum jail.             “Pakai bajumu, di sana ada anak kecil.”             “Xoxoxo,” Leo terkikik.             “Iya, aku akan nonton besok.” Alena berkata dengan terpaksa. Makhluk dari mana ini ya Tuhan?             Leo kembali mengenakan bajunya. Alena mulai menggoreng kentang.             “Kau percaya tidak kalau malaikat itu bersayap?” Leo mendekati Alena.             Alena terdiam sejenak seolah mencari jawaban. “Aku tidak tahu. Tapi sepertinya mereka memang memiliki sayap.”             “Haha, salah! Itu anggapan kuno. Malaikat tidak bersayap—sepertimu Alena.”             Alena menatap mata Leo. Itu hanya bualan. Tapi Leo mengatakannya dengan tulus.             “Aku bukan malaikat.” Alena kembali fokus pada kentang-kentangnya.             “Kau menolongku. Kau malaikat, Alena.”             “Malaikat tidak suka baju warna hitam.” elak Alena yang berhasil membuat Leo tertawa.             “Kau pernah patah hati?” tanya Leo mengganti topik pembicaraan.             Alena kembali terdiam. Patah hati? Pernahkah dia jatuh cinta? Alena mengingat-ngingat masa sekolahnya dan masa kuliahnya. Semua suram. Tak ada cinta. Dia tak pernah jatuh dalam cinta. Dia selalu menghindar.             “Tidak,” ujarnya akhirnya.             “Aku pernah patah hati, Alena. Itu rasanya seperti mau mati saja.” Leo tampak muram. Melihat pria ini berekspresi sedih dan muram bukannya kasihan Alena malah tertawa.             “Apanya yang lucu?” tanya Leo tersinggung.             “Bukannya kebanyakan pria ya, yang membuat para wanita patah hati?” bukannya menjawab Alena malah balik bertanya.             Leo memutar matanya. “Tidak semua pria seperti itu, Alena. Wanita juga bisa membuat pria patah hati.”             Alena mengangkat kentang goreng yang sudah matang. Dia menyajikan kentang itu di atas meja makan. “Silakan dicoba.” ujarnya seraya meletakkan saos tomat dan saus ekstra pedas di atas mangkok kecil.             “Kau buat kentang goreng untukku—aku sangat terharu dan menjadi semakin menyukaimu, Alena.” Tatapan tajam Alena mengarah pada Leo. “Ini buat Evans—sebenarnya.” “Owh,” Leo agak kecewa. Alena membawa serta Evans dan Fle ke meja makan untuk menikmati kentang goreng buatannya. Mereka bertiga asyik melahap kentang goreng sembari berbincang banyak hal, khususnya Leo dan Evans. Mereka terus-terusan saja membicarakan soal planet, asteroid, bulan, matahari, bintang dan lain-lainnya. Alena tidak menguasai topik itu dan dia memilih lebih banyak diam. “Kak Leo, dulu di kebun anggur itu ada yang bunuh diri, lho.” Alena tersentak saat Evans membicarakan topik lain. Topik yang berhubungan dengan dirinya. Dengan ayah dan selingkuhannya. “Oh ya? Bunuh diri bagaimana?” tanya Leo, dia tampak agak ngeri. Leo adalah tipe orang yang sangat mengutuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Menurutnya, terlalu sayang untuk mati sebelum saatnya kecuali Tuhan yang mematikanmu. Leo membenci orang yang bunuh diri, apa pun alasannya. “Iya, katanya itu ayah, Kak Alena,” mata Leo menoleh pada Alena yang wajahnya tampak sendu. Dia hanya menekuk wajah lalu mendongak dan menatap Leo seperti biasa seakan tidak apa-apa. Evans hanya anak kecil yang tidak mengerti. Memang begitulah anak kecil tak memahami perasaan orang dewasa. Dia bercerita seakan ayam yang mati bunuh diri. Leo tidak menanggapi perkataan Evans. Fokusnya hanya Alena. Matanya hanya tertuju pada satu titik fokus favoritnya. Wajah Alena. Leo tidak peduli soal kematian orang tua Alena yang jelas—menyisakan luka yang belum atau tidak akan sembuh dari hati Alena. Leo dapat melihatnya, melihat kesenduan, kesedihan, kekecewaan yang dilukiskan wajah dingin dan datar wanita itu. Leo seakan bisa menebak banyak hal dari Alena. Dia tahu bahwa wanita itu jarang menangis. Bukan karena Alena tidak bisa menangis, tapi karena dia berusaha kuat. Di balik semua sikap dingin dan cueknya, Alena tidak sepenuhnya tidak peduli. Dia hanya selalu berpura-pura tidak peduli pada semua yang ada di sekitarnya. Dia menutup diri karena tahu rasanya kehilangan orang yang disayanginya. Leo ingin membuat perubahan pada wanita itu. Dia tidak ingin hanya ada satu warna dalam hidupnya. Harus ada warna lainnya yang membuat wanita itu hidup nyata. Dunia harus melihatnya ada sebagai Alena yang tidak hanya menyukai warna hitam, tetapi juga warna-warni lainnya. ***             Ranne melihat mobil pria itu lagi. Mobil Jeep Wrangler yang menunjukkan sisi maskulin seorang pria. Siapa sebenarnya pria itu? Ranne menerka-nerka dalam hatinya. Mungkinkah dia memang kekasih Alena? Ranne menggeleng. Tidak mungkin wanita sedingin itu memiliki seorang kekasih.             “Tuan, aku mencarimu tadi di rumah. Tapi kau sudah di sini saja.” ujar Mandy dengan senyum berlebihan yang membuat Ranne semakin sebal dengannya. “Tuan, ada mobil pria itu lagi. Pasti mereka sedang berkencan lagi.” Mata Mandy menatap sipit rumah Alena.             Ranne tidak membiarkan ocehan sinting Mandy meracuninya. Dia hanya perlu kembali mendekati Fomalhaut-nya. Bintang paling kesepian—Alena. Dia hanya perlu mencari cara agar wanita itu mau mengobrol lebih lama dengannya. Dan dia jelas butuh bantuan Perry.             Alena dengan rambut cepol asal-asalannya datang. Mata Ranne berbinar. Wanita itu mendatanginya. Wanita dingin itu...             “Aku menemukan ini di dekat jendela,” dia mengangkat tangannya yang membawa sebuah dompet feminim berwarna merah muda.             Mata Mandy menganga dan mulutnya terbuka.                         “Tuan Ranne yang terhormat, bisakah Anda menyuruh pekerja Anda untuk tidak mengintip di rumahku?” binar di wajah Ranne langsung lenyap. “Ini sudah kedua kalinya saya melihat—“ Alena menatap Mandy sekilas. “dia mengintip ke jendela rumah saya.”             “Aku tidak mengerti maksudmu?” kata Ranne bersungguh-sungguh.             “Tanyakan pada wanita di sebelah Anda.” Alena menyerahkan dompetnya pada Mandy. Lalu dia melesat pergi.             Ranne menatap Mandy dengan kemurkaan yang tidak bisa dijelaskan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD