BAB 11

1210 Words
            “Aduh,” Perry menggaruk-garuk tangannya yang gatal.             “Aku tidak tahu harus bagaimana, Mandy membuat semuanya jadi kacau.” Ranne menyesap caffe latte dengan wajah yang masih memancarkan kekesalan dan kekecewaan.             Pagi itu dia mengajak Perry ke kedai kopi di kota. Perry mengiyakan pada jam istirahat. Dan dia sudah menebak kalau Ranne mengajaknya bertemu adalah membahas soal Alena. Dan si kutu Mandy. Atau parasit. Atau apa pun yang jelek-jelek.             “Aku juga heran—kenapa kalau sama Leo dia bisa terbuka begitu ya.”             “Terbuka bagaimana?” Ranne bertanya dengan dahi mengkerut.             “Ya, seperti ada kecocokan saja.”                                          “Siapa si Leo itu?”                              Perry menceritakan soal Leo yang menginap di rumah Alena karena mobilnya mogok. “Aku juga bingung, Ran.” Perry mengangkat bahu.             Mata Ranne tertuju pada lukisan di dinding batu bata kedai. Sebuah lukisan melankolis yang aneh karena seorang wanita bersayap tanpa mata. Namun, ada air mata di pipinya. Tidak punya mata tapi bisa menangis?             Dalam diamnya, Ranne merasakan kekhawatiran yang aneh. Dia takut Leo mengambil Alena darinya meski Alena bukan miliknya. Tapi dia sudah memberikan hati dan otaknya untuk Alena. Lalu apa yang harus dilakukannya? Ranne merasa menjadi pria t***l gara-gara Alena?             Ponselnya berdering. Tertera nama di layar, Carmel. ***             Malam begitu rumit hingga Alena tidak bisa tidur dengan pulas. Setiap kali matanya terpejam bayangan esok pergi menonton dengan Leo terus menghantuinya. Dia takut. Sangat takut. Entah apa yang ditakutinya. Benarkah keramaian? Ataukah perasaan yang mulai menggagunya? Berduaan dengan Leo memberikannya sensasi yang aneh di hatinya. Dia tidak menyukai sensasi itu. Dia selalu menghindari sensasi aneh di hatinya. Lalu pikirannya berkelana pada Ranne. Pria tampan itu... tidak! Alena tidak membencinya hanya kesal saja. Dia berasumsi kalau Ranne menyuruh Mandy mengintip rumahnya dari jendela. Dan jelas Alena tidak suka kepecundangan itu.             Benarkah Ranne yang menyuruh Mandy atau Mandy sendiri yang berinisiatif mengintipnya dari jendela. Dulu mungkin dia diam saja saat Mandy membuatnya benar-benar seperti gadis cilik yang jahat, tapi dia harus berubah. Dia sudah dewasa dan Mandy pun dewasa. Harus ada perubahan dalam dirinya dan dalam diri Mandy, bukan semakin membuatnya lebih buruk dari masa kecilnya.             Alena bangkit dari ranjangnya dan memilih menikmati secangkir kopi. Dia melihat Fle tertidur di sofa abu-abu. Dia memilih untuk duduk di kursi kayu favoritnya dekat jendela. Dia membuka gorden dan—matanya membelalak. Seorang pria bermantel hitam dengan topi rajut masuk ke dalam kebun. Pria itu membawa sebuah boneka berukuran cukup besar. Alena tidak bisa melihat wajahnya karena dia berjalan memunggungi Alena.  Pria itu—bukan Ranne. Bukan pula Kris atau pekerja kebun karena dia tampak seperti pria berwibawa. Malam-malam begini ada seseorang yang berkeliaran di sekitar rumahnya?             Alena memilih tidak tidur semalaman karena merasa ketakutan. Dia ingin menelpon Leo, tapi dia tidak berani mengganggu pria itu. ***             Alena dan Leo duduk di dalam bioskop untuk menunggu film terbaru bergenre romance diputar. Alena menolak menonton film romance karena menurutnya film bertema percintaan selalu mendramatisir. Membuat orang-orang sedih hingga mennagis tersedu-sedu hanya untuk menarik lebih banyak uang. Ya, orang-orang di belakang sebuah film romance selalu menyuguhkan hal-hal yang menyakitkan dan anehnya manusia cenderung membangkitkan sebuah memori di masa lalu yang menyakiti dirinya. Entah itu dari film atau sebuah lagu melankolis.             Leo asyik melahap popcorn dengan taburan keju. Dia terlalu antusias dan selalu bersemangat hingga Alena heran makhluk ini memiliki berapa kadar semangat dalam dirinya. Mungkin di atas rata-rata. Bola mata hitam Alena menelusuri rambut Leo yang diikat, lalu matanya menuju ke atas lagi. Ke bentuk alis yang tebal dan berantakan. Hidung mancung. Jambang pendek dan bibir tipis menawan. Alena terkesiap. Dia tidak boleh berharap pada siapa pun. Jangan berharap—adalah salah satu prinsip hidup Alena karena harapan akan memberikan luka dan kecewa.             “Ini, aaaa...” Leo hendak memasukkan popocorn di tangannya pada mulut Alena. “Buka mulutmu, Alena.” titahnya.             Alena membuka mulut dan melahap popcorn dari tangan Leo.             Awalnya Leo berniat memborong semua tiket di tempat mereka sekarang duduk agar Alena merasa nyaman. Tapi, Alena menolaknya. Ini bukan weekend—alasannya. Sehingga bioskop pun tidak akan terlalu ramai.             Sepanjang film yang diputar, Alena menonton dengan fokus. Film itu bercerita tentang seseorang yang patah hati dan berniat bunuh diri, namun seseorang dari masa lalunya kembali hadir sehingga seseorang itu mengurungkan niat untuk bunuh diri.             “Karena terlalu mencintai orang lain sampai sebegitu dalamnya dia mau bunuh diri.” komentar Leo sinis.             “Cinta memang terkadang bisa membunuh seseorang.” Alena menoleh pada Leo.             “Makanya aku benci cinta,” ujar Leo asal.             “Kita saja sebagai manusia tidak paham makna cinta sesungguhnya.” balas Alena dingin.             “Oh ya? Memangnya apa makna cinta sesungguhnya?” tanya Leo. Alena kembali menoleh. Mata mereka bersitemu.             Leo tersenyum. Alena datar. Selalu seperti itu.             “Kalau kau bertanya padaku soal makna dari cinta, kau salah orang, Leo. Perry ahli dalam memaknai banyak hal. Bertanyalah pada Perry.”             Mendengar nama Perry dan membayangkan jawaban dari Perry membuat Leo terbahak hingga orang-orang yang ada di dalam bioskop mengatakan, “usssttt!” karena pas ketika Leo terbahak, adegan yang ada di film adalah adegan berciuman.             Leo menatap ke atas sembari berkata ‘ma’af’. Lalu ke sampingnya seorang wanita berkaca mata. “Ma’af ya,” dia menangkupkan tangan di atas d**a dan mengangguk. Permintaan ma’af resmi.             “Iya, aku ma’afkan.” ujar wanita itu dengan tatapan terpesona pada Leo.             Leo tersenyum pada wanita berkaca mata itu lalu menatap Alena yang menatapnya tajam seakan mengindikasikan kecemburuan. Oke, mereka seperti sepasang kekasih saja. ***             Leo dan Alena duduk di Kedai Kopi Alaska. Bau hazelnut menguar enak. Alena memesan espresso begitupun Leo dan kentang goreng. Camilan favorit Alena selalu kentang goreng. Leo yang tidak terlalu suka pada kentang goreng akhirnya menerima camilan itu dan menyukainya seperti dia menyukai Alena. Ya, semudah itu. Apa pun yang berhubungan dengan Alena pasti disukainya. Tidak peduli seberapa tidak sukanya dia dengan jeruk kalau Alena suka dia akan menyukai jeruk juga.             “Mari kita bicara soal cinta lagi sambil menyesap espresso dan makan kentang goreng.” Leo mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Entah kenapa tingkah pria ini selalu saja berhasil menciptakan kurva senyuman di bibir Alena meski dia berusaha untuk tidak tersenyum.             Leo menyesap espressonya. Matanya memandang ke arah jendela di sampingnya. Langit gelap dan dia yakin sebentar lagi hujan akan turun. Dia suka terjebak di kedai saat hujan turun dengan bau kopi, hazelnut dan cokelat.             “Jadi, menurutmu cinta itu apa?”             Alena memutar bola mata. “Aku tidak tahu.”             “Kau hanya ingin tidak tahu soal cinta, hemm.”                          “Cinta adalah penyakit serius bagi jiwa—kurang lebih begitulah kata Pluto.”             Leo tertawa mendengar perkataan Alena.             Alene memberengut. “Apanya yang lucu?”             “Penyakit serius bagi jiwa.” Leo kembali tertawa.             “Itu kata Pluto.”                                                 “Kau setuju dengan Pluto?”             Alena mengangkat bahu. Hujan turun dengan deras menambah romansa ganjil antara dirinya dan Leo. Pria yang dinaungi warna merah jambu yang melambangkan semangat, cinta  sekaligus kemelankolisan yang rapuh. Alena menyesap espresso, mengambil satu kentang dan menggigitnya.             “Aku tidak punya definisi apa pun soal cinta.” Alena menatap kosong jendela yang mulai dibasahi air hujan. Ya, dia tidak punya definisi apa pun soal cinta karena dia belum pernah merasakan cinta.             “Cinta sejati adalah pengabdian membabi buta, penghinaan diri sepenuhnya, kepercayaan dan keyakinan menentang diri sendiri dan seluruh dunia, penyerahan seluruh hati dan jiwa kita kepada pujaan hati—itu kata Miss Havisham dalam novel Charles Dickens.”             Alena menatap Leo yang baru saja mengeluarkan penyataan dengan suara bernada serius. “Mengerikan sekali! Itu sebabnya orang yang mencintai bisa bunuh diri saat ditinggalkan yang dicintainya.”             Leo menjulurkan leher, menatap Alena dengan tatapan serius sekaligus nakal. “Jadi, intinya lebih enak dicintai, kan?”  ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD