“Tergantung.”
Dahi Leo mengernyit. “Tergantung apa?”
“Tergantung apakah kau bisa mengendalikan perasaan atau tidak?”
“Kalau kau lebih memilih dicintai apa mencintai?”
Sejenak Alena terdiam. Mencintai atau dicintai?
“Kenapa topik kita hanya membahas soal cinta? Berhentilah mengoceh tentang cinta.”
“Ya, aku hanya ingin tahu pendapatmu soal cinta.” Leo membenarkan duduknya dan melahap satu kentang.
Alena melirik ke arah sebelah dengan ekor mata—dia memberitahu Leo. Leo mengikuti arah lirikan Alena. Seorang wanita dengan hair extension cokelat palsu duduk di sebelah meja Leo.
“Aku berani bertaruh wanita-wanita seperti itu pasti suka dengan pria pialang saham tingkat tinggi.”
“Terlalu sok tahu,” kata Alena sinis.
“Terus maksudmu dengan ini—“ Leo menirukan lirikan mata Alena dengan ekor mata, “apa? Kalau bukan minta pendapatku tentang dia.”
“Agar matamu tidak menatapku terus menerus.” Alena mengatakannya seakan tatapan Leo mampu memporak-porandakan keutuhan hatinya.
Leo kembali menjulurkan lehernya. “Mataku memang indah, kan?” katanya dengan seringai nakal.
Alena menatap mata hazel Leo yang memang indah. Dia masuk ke dalam lubang keindahan yang menghipnotisnya dalam sepersekian detik hingga Alena tersadar dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Apakah pria ini punya sesuatu yang semacam—magnetar? Bintang neutron yang memiliki magnet sangat kuat hingga benda yang tidak mudah tertarik menjadi tertarik.
“Mirip Voldemort.”
Leo memberengut. “Kau ini, aku sebegini tampannya dibilang mirip Voldermort.”
Alena tertawa kecil. “Oke, kau mirip—“
“Mirip siapa?” Leo mendesak Alena dengan ekspresi kekanak-kanakkan.
“Mirip Tom.”
“Siapa Tom?” Dahi Leo mengernyit. “Mantanmu?”
Alena kembali tertawa. “Tom, pengacara ayahku. Dia seumuran dengan ayah tapi dia single dan tidak punya kekasih atau apalah.”
“Kenapa?”
Alena mengangkat bahu. Mengangakat cangkir espressonya dan menyesapnya. Dia menatap jendela yang berembun karena air hujan. “Dia pengagum Aphrodite.”
Sebelah alis Leo terangkat. “Mitologi Yunani?”
“Iya. Dia terlalu terobsesi pada Aphrodite.” Alena memandang air hujan melalui jendela. Bayangannya menelusuri wajah Tom yang masih muda. Tubuhnya atletis dan dia tampak berwibawa dengan jas hitamnya. Lawyer yang selama ini bertindak seperti saudaranya. Alena curiga kalau Tom juga tahu satu rahasia yang selalu disembunyikannya dari semua orang termasuk Perry. Rahasia tentang dirinya. Rahasia yang entah kapan akan terungkap. Alena sama misteriusnya dengan Tom. Dia sama misteriusnya dengan obsesi Tom terhadap Aphrodite.
“Sebenarnya kau tidak terlalu mirip. Tapi, sedikit mirip. Hanya sedikit.”
“Tapi Tom tampan, kan?”
“Tidak. Dia sangat jelek, Leo.” kata Alena meyakinkan.
Sungguh, demi apa pun, Alena merasa dia keluar dari sosoknya yang dingin. Dia bahkan senang mengobrol dan mengerjai Leo.
Leo tampak kecewa. “Hemm, seperti apa si Tom itu?”
Alena membayangkan wajah Tom yang jelek. “Tom sangat gendut. Wajahnya dipenuhi bintik-bintik merah dan jerawat sebesar biji kacang.” kata Alena agak ekspresif.
“Woho... mengerikan juga.” Leo menempelkan sebelah tangannya di dagu dan mengelus-ngelus dagunya yang dipenuhi bulu-bulu pendek. “Terus mirip apanya denganku?”
“Mata.” jawab Alena lugas.
“Jadi hanya matanya yang bagus?”
“Tidak juga.”
“Ya ampun, Alena! Jadi maksudmu apa yang ada di diri Tom itu jelek dan aku mirip Tom yang jelek?” Wajah Leo penuh amarah tapi bukannya membuat Alena takut, ekpresi pria itu malah membuat Alena terbahak.
“Iya betul!” timpal Alena terkikik geli.
Leo merasa uap panas keluar dari atas kepalanya. “Ngomong-ngomong, kau mirip seperti adikku, lho.” Meskipun agak kesal karena dimiripkan dengan orang jelek, Leo tetap senang atau bahkan sangat senang karena bersamanya wanita dingin ini bisa tertawa.
“Oh ya? Seperti apa adikmu? Kau tidak akan bilang kalau adikmu jelek, kan?”
“Haha!” Leo terdiam sejenak. Dia memilih menyesap espresso-nya sebelum benar-benar menceritakan soal adik kesayangannya.
“Adikku itu memiliki mata almond sepertimu, Alena. Dia sangat cantik. Usianya 23 tahun sekarang kalau dia masih hidup.”
Alena merasa terkejut dan berkata, “Ma’af, dia sudah meninggal?”
Leo mengangguk. “Beberapa tahun lalu setelah ditinggalkan orang yang sangat dicintainya. Setelah semua yang ada pada dirinya diserahkan pada pria berengsek itu.”
Wajah Leo yang serius dan nada suaranya yang seakan memendam amarah serta dendam memperlihatkan sosok lain dari Leo yang lucu, ceplas-ceplos dan humoris. “Aku tak habis pikir bagaimana adikku rela menghancurkan hidupnya dan memilih mati dibandingkan meneruskan hidup. Tanpa pria itu pun dia masih tetap hidup dan akan baik-baik saja tapi dia memilih mati, Alena.” mata hazel Leo tampak begitu tajam hingga Alena membeku. Aneh, dia malah terpesona pada amarah Leo.
“Cintanya buta pada pria itu. Aku benar-benar menyesal karena tidak tahu menahu soal pria itu. Adikku dan aku tinggal terpisah. Aku baru tahu setelah adikku meninggal.” Leo melihat Alena yang menatapnya. “Ma’af, Alena—“
“Tidak, Leo. Aku mengerti perasaanmu.”
***
Sepulangnya Alena dan Leo ke rumah, Alena melihat Tom duduk dengan kaki bersilang di teras rumahnya. Rambut pria itu tampak klimis karena sentuhan pomade. Dia mengenakan jas hitam seperti biasa. Tom tersenyum miring menyambut kedatangan Alena dan seorang pria asing yang untuk pertama kalinya Tom lihat bersama Alena selama dia mengenal Alena.
“Dia siapa?” tanya Leo. Namun Alena tidak menjawab apa-apa. Dia fokus mendekati Tom. Bukan fokus pada Tom—tapi pada boneka besar yang sama persis dilihatnya tadi malam. Duduk di sebelah kursi Tom. Jadi, pria yang berkeliaran semalam itu... Tom?
Tom bangkit dan tersenyum. “Selamat ulang tahun, Alena.” ujar Tom dengan senyum tulus.
“Ulang tahun?” Leo agak terkejut karena hari ini pun dirinya ulang tahun. Tapi, Alena tidak bilang bahwa dia juga ulang tahun.
“Ulang tahunku bukan bulan ini,” sanggah Alena.
“Ya, aku tahu. Karena pada saat kamu ulang tahun nanti, aku ada di luar negeri. Jadi, lebih baik,” Tom berbalik dan mengambil boneka berwarna cokelat tua itu dan memberikannya pada Alena. “kuserahkan sekarang.”
Butuh waktu beberapa waktu bagi Alena untuk menerima boneka itu. Dia hanya heran kenapa Tom berekeliaran pada malam hari di sekitar rumahnya?
“Hai, ummm—“ Leo mengulurkan sebelah tangannya. “aku teman Alena—Leo.”
Tom menatap uluran tangan Leo dengan tatapan ganjil. Seolah-olah uluran tangan Leo memberikan seekor ular padanya. “Tom.” sahutnya seraya menjabat tangan Leo.
“Tom?” sebelah alis Leo melengkung. “Alena bilang kau jelek, Tom. Dia bilang kau gendut dan wajahmu penuh dengan jerawat.” kata Leo dengan ekspresi wajahnya yang khas. Sedikit drama.
Tom melirik Alena yang agak kikuk. “Masuklah,” ujar Alena membuka pintu rumahnya. Fle yang duduk di sofa abu tua langsung berhambur ke arahnya. Menatap Leo kesal karena membawa Alena cukup lama.
Leo duduk seperti biasa. “Duduk sini, Tom.” katanya seraya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya seakan Tom adalah tamu di rumahnya. Tom menatap dengan tidak suka tapi berusaha untuk menutupi ketidaksukaannya pada Leo.
“Alena buatkan minuman untuk tamu kita.” Tom secara otomatis melirik ke arah Leo, pria itu bersikap seperti suami Alena saja.
Alena yang sudah meletakkan boneka cokelat tua itu di atas kursi kayunya bergegas ke dapur. Anehnya, dia menuruti perintah Leo. Mantra apa yang diucapkan pria dari dimensi Rapunzel itu? Sebelum membuat teh untuk Tom, Alena memberikan makanan pada Fle. membelai lembut kepalanya dengan perasaan ganjil tentang Tom. Entah kenapa dia malah mencurigai Tom sebagai... entahlah. Alena menggelengkan kepala. Tom bukan orang jahat, dia yakin itu. Memang dia dan Tom punya kesamaan, sama-sama misterius. Tapi, kemisteriusan Tom memberikannya teka-teki aneh. Alena berusaha membungkus pikiran buruknya tentang Tom.
“Alena bilang, kau mirip denganku, Tom.” Leo memperhatikan wajah Tom dan Tom merasa diintimidasi dengan tatapan Leo. “Menurutku kita tidak mirip. Dan kau tampan, kenapa Alena bilang kau jelek ya?” Leo menggeleng-geleng tak mengerti.
Tom tidak bisa berkata-kata. kosa katanya lenyap menghadapi pria asing ini. “Apa kau kekasih Alena?” tanya Tom serius.
“Ehmmm,” Leo menimbang-nimbang. “Menurutmu?” dia bertanya balik.
“Bukan.” jawab Tom lugas.
“Lebih tepatnya belum. Tapi aku yakin Alena dan aku akan menjadi sepasang kekasih.” Leo tersenyum penuh percaya diri.
Menyadari Alena bukanlah tipe gadis yang mudah jatuh cinta, terpikat atau kagum terhadap lawan jenis, Tom kembali bertanya, “Bagaimana kau bisa mengenal Alena? Kau teman semasa sekolahnya?”
“Bukan, aku malah baru mengenalnya sekarang-sekarang ini.” Leo menjulurkan lehernya pada Tom. “Kau cemburu ya?” tanya Leo dengan mata menyipit.
***