BAB 13

1484 Words
        “Aku pengacaranya. Wali Alena setelah orang tuanya meninggal. Aku berhak tahu siapa saja yang dekat dengan Alena.” katanya dengan kesan wibawa tinggi. Tapi Leo malah mencurigai sesuatu. Tom tidak murni melakukan itu, ada sesuatu di dalam matanya yang seakan menunjukkan bahwa Alena adalah miliknya dan pria manapun tidak berhak memiliki Alena.             Hening.                                           Keheningan yang menegang.             Alena datang dan meletakkan dua cangkir teh di atas meja.             “Ngomong-ngomong, kau ini mirip Jude Law di film Spy, lho.” Leo selalu berhasil mencairkan suasan yang menegang untuk beberapa saat itu.             “Oh ya?” Tom pun bersikap manis mencoba mengimbangi Leo di hadapan Alena.             “Iya, mata-mata CIA. Aku suka film itu. Sumpah!” Leo mengambil cengkir teh yang disediakan Alena dan menyesapnya perlahan disusul Tom.             “Aku sudah pernah menonton film itu. Cukup menghibur.” komentar Tom. Dia menatap Alena yang duduk dengan posisi tidak nyaman. Agaknya Alena tidak nyaman berada di sekeliling pria-pria.             “Iya, Jude Law terlihat sangat tampan di film itu., sama sepertimu. Oke, soal ini aku jujur.” Leo mengambil chocolate chips dan menggigitnya.             “Terima kasih. Alena kurasa kita butuh waktu untuk mengobrol.” Tom tampak muak dengan Leo dan berharap Leo segera pergi.             Leo yang bersikap bodo amat tidak terlalu memusingkan perkataan Tom. “Ngobrol saja. Apa kau mau Alena duduk di sampingmu, Tom?”             Tom melirik tajam pada Leo. Pria ini memang bodoh atau hanya berpura-pura bodoh?             “Leo, aku rasa kau harus pulang. Aku punya urusan dengan Tom.”             Leo tampak kecewa. “Padahal aku ingin sekali mengobrol banyak dengan pengacaramu ini.” Leo menatap Tom dengan kesenduan yang dibuat-buat. Dia suka membuat pria di sebelahnya itu cemburu atau apalah. Intinya dia senang mengerjai Tom.             “Kita masih punya banyak waktu. Tapi sekarang adalah waktuku dengan Alena.” ujar Tom, menegur Leo dengan halus.             “Oke, Jude Law.” Leo nyengir. “Aku akan kembali lagi dan ayo kita bermain kartu UNO.” Leo bangkit. “Terima kasih untuk hari yang menyenangkan ini, Alena.” Leo dan Alena saling tatap. Leo melesat pergi, disusul Alena.             Saat Leo keluar dari rumahnya, Alena mencolek punggung Leo dan pria yang dicoleknya itu berbalik. “Selamat ulang tahun,” ujar Alena.             Leo tersenyum. “Ya, terima kasih. Kau juga selamat ulang tahun.”             “Bukan bulan ini.” sanggah Alena.             “Boleh aku minta sesuatu padamu?”             “Apa?”                                                Leo menjulurkan lehernya mendekati wajah Alena. Namun, dengan sigap Alena membungkam bibir Leo. “Kau tidak boleh menciumku!” ***             Alena menggigit Chocolate Chips. Meskipun dia sekarang bersama Tom tapi pikirannya tentang Leo yang nyaris menciumnya membuat dia terus menerus memikirkan pria itu. Apa rasanya dicium seorang pria? Alena bahkan tak pernah berciuman dengan siapa pun sampai usianya menginjak 25 tahun. Dia pernah membayangkan soal ciuman saat usianya 15 tahun. Tapi dia tak pernah benar-benar menginginkan sebuah ciuman. Dan baru kali ini dia merasa menyesal tidak menolak ciuman Leo. Tapi bukankah akan semakin menyesal ketika dia menerima dan merespons ciuman Leo yang bukan kekasihnya meskipun pria itu seakan menganggap dirinya sebagai kekasihnya?             “Berhati-hatilah berteman dengan pria asing, Alena.”             Alena menatap Tom.               “Tidak semua orang tulus dan baik. Aku tidak mengenal Leo, dia bersikap baik padamu tapi belum tentu kebaikannya tulus. Kau orang yang minim pengalaman soal banyak hal karena sikap antipatimu itu.”             Pernyataan Tom menohoknya. “Aku sudah dewasa dan aku tahu apa yang baik dan buruk untukku, Tom. Jangan bersikap seolah aku anak kecil yang tidak mengerti apa-apa.”             “Aku hanya mengkhawatirkanmu.”             “Aku baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Leo pria yang baik, memang sikapnya begitu tapi aku yakin dia tidak bermaksud apa-apa.” Tanpa sadar Alena membela Leo. Dan dia tidak tahu bagaimana bisa kedua daun bibirnya mengucap hal demikian.             Tom menghela napas berat.             “Semalam kau ke sini?” tanya Alena mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya terjaga sepanjang malam.             Tom mengangguk ragu.             Alena menunggu pembelaan Tom. Tapi pria itu malah terus terdiam hingga Alena kembali bertanya, “Untuk apa?”             “Memberikanmu boneka.”             “Kenapa tidak menelponku?” tanyanya curiga.             “Ponselku mati, Alena.”             “Kenapa tidak mengetuk rumahku?”             “Aku pikir kau sudah tidur.”             “Lalu kenapa kau datang tengah malam?”             Tom merasa diintimidasi. “Begini, semalam aku sudah membeli boneka untukmu. Tapi, aku berniat mendatangi rumahmu besok. Lalu seorang klienku menelponku dan memintaku datang ke rumahnya. Rumahnya cukup dekat dengan rumahmu, makanya sepulang dari sana aku berniat ke rumahmu.”             Alena tidak merasa puas dengan penjelasan Tom. Dia merasa ada kebohongan dari penjelasan Tom. Lalu untuk apa pengacaranya itu berbohong? ***             Perry melahap chocolate chips kemudian menjepit poni miringnya. Mengeluarkan berbagai alat make up dari tas warna peachnya. Pertama-tama dia akan memoleskan wajahnya dengan foundation cair. Setelah foundation tersebut menyapu rata wajahnya, dia mulai memberikan bedak padat pada wajahnya. Tidak lupa pensil alis melukis alisnya. Blush on warna peach di tulang pipinya. Maskara dan eyeliner lalu terakhir lipstick matte warna peach.             “Beres!” Perry menepuk-nepuk tangannya. Dia kembali meraih chocolate chips. “Kau lagi apa sih?” tanyanya pada Alena.             “Membaca artikel.” Jawab Alena acuh tak acuh. Dia fokus pada layar laptopnya.             “Artikel apa?”             “Kekerasan terhadap anak-anak.”             “Emmm,” gumam Perry. Dia tidak punya argumen apa pun. Seketika mata Perry mencilak antusias. “Hei—“ Perry menelan chocolate chipsnya dengan susah payah. “Aku dengar ada seorang wanita yang menjual keperawanannya di salah satu situs apa begitu. Dan, Len, Ya Tuhan, dia bilang dia lebih baik menjual keperawannanya untuk kehidupan yang lebih baik daripada diberikan pada pria lalu meninggalkannya.” Katanya dengan ekspresif.             “Aku tidak membenarkan itu, Per.”             “Iya, tapi kau juga melakukannya.”                       “Itu demi misi sosial dan aku tidak akan hidup lama—“ Alena tercengang seketika. Kenapa kalimat itu meluncur begitu saja.             “Apa? Kau tadi bilang apa?”             “Tidak.” Alena kembali menatap layar laptopnya.             “Len, aku dengar. Kau tadi bilang ‘tidak akan hidup lama’ apa maksudmu?” kali ini Perry tampak serius dan penasaran. Dia tidak suka Alena menyembunyikan sesuatu darinya apa pun itu. Meskipun hanya menyembunyikan satu biji anggur. Alena tidak punya siapa pun dan Perry sangat menyayangi sahabatnya itu.             “Perry, kita hidup di dunia ini tidak akan lama. Aku dan kau dan seluruh makhluk di Bumi. Kita akan pulang, Per. Kita akan pulang ke rumah Tuhan. Alangkah sia-sianya hidup ini kalau kita tidak bisa memberikan manfaat bagi sesama. Tapi, aku tidak membenarkan tindakanku yang menjual keperawananku ya.”             Untuk beberapa saat, Perry tidak bereaksi apa-apa. Dia masih terdiam. Kemudian dengan gerakan perlahan, tangannya kembali meraih chocolate chips. “Kau tidak menyembunyikan sesuatu kan, Len?”             Alena menggeleng.             “Oke,” ekspresi Perry kembali cerah ceria. “Bagaimana dengan Leo?”             “Ya, dia masih seperti itu.”             “Seperti itu bagaimana?”             “Masih sinting.” Jawab Alena yang menuai tawa dari Perry. “Tahu tidak, kemarin ada Tom dan dengan enaknya dia nyuruh Tom duduk di sebelahnya. Terus menyuruhku membuat minuman dan gilanya lagi aku menuruti Leo. Aneh, kan? Ini sebenarnya rumah siapa sih, kenapa malah dia yang bersikap layaknya tuan rumah.” Cerita Alena dengan ekspresi kesal.             Perry melihat keantusiasan Alena menceritakan soal Leo, meskipun wajahnya tampak kesal tapi Perry yakin Alena cukup senang bersama pria itu serta tingkah konyolnya.             “Bagaimana dengan kencannya, Len?”             “Kencan apa? Aku Cuma menemani dia nonton film di bioskop dan makan kentang goreng di kedai kopi.”             “Dia membicarakan soal apa saja?”             “Soal cinta.” Alena menggeleng tak percaya mengingat percakapannya dengan Leo. “Cinta yang membabi buta. Aku tidak suka membahas topik cinta.” Alena menatap Perry dengan tatapan seakan Perry akan menumpahkan fanta pada ponselnya.             “Ya, aku tahu. Kau akan bilang ‘persetan dengan cinta’.”             “Aku hanya tidak yakin apa benar Leo itu manusia?” Alena menoleh pada Perry ynag melebarkan matanya.             “Maksudmu dia itu semacam vampir? Apa dia takut sinar matahari?”             Melihat kepolosan Perry, Alena tertawa. “Zombie.” Kata Alena.             “Tidak mungkin. Kalau dia zombie pasti sekarang kau sudah jadi zombie.”             “Bukan itu, Perry. Maksudku bukan semacam itu. Hanya aneh saja ada pria seperti Leo. Selama aku sekolah dan kuliah aku tidak pernah bertemu dengan pria seeksentrik dan sekonyol Leo. Dia kaya campuran antara tukang topi di film Alice dan Mr. Bean.”             Perry terbahak. “Kau ini kalau mengatai sesuatu suka aneh.” Komentarnya.             Perry mengingat perbincangannya dengan Ranne. Di sana, jelas Ranne merasa terganggu dengan adanya Leo. Seperti yang Perry bilang ada kecocokan antara Alena dan Leo. Dan itu akan membuat Alena semakin tidak menyukai Ranne apalagi sikap Mandy yang Alena anggap suruhan Ranne untuk mengintip rumahnya.             “Perry, aku mau minta tolong.”             “Apa?”             “Bilang pada Ranne agar memasang cctv di kebun anggurnya.”             Dahi Perry mengernyit. “Kenapa?”             “Tidak,” Alena menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. “Kau tahu, kan, ayahku meninggal di kebun itu. Aku rasa dia dan wanita itu tidak bunuh diri.”             “Maksudmu?” Perry berdiri dan mendekati Alena. Dia penasaran sekaligus merasa horor.             “Aku hanya merasa kalau ayahku tidak mungkin bunuh diri bersama wanita itu. Itu yang aku rasakan sejak kematian ayah.” Kata Alena dalam seakan apa yang dikatakannya berasal dari batinnya.             “Pembunuhan?” Perry berkata dengan hati-hati dan sedikit terbata.             Alena tidak menjawab. Dia memejamkan matanya beberapa detik. Membukanya dan kembali menatap Perry. “Bantu aku bilang ke Ranne.”             Satu sisi Perry merasa ngeri tapi di sisi lain dia senang karena itu artinya Alena membuka komunikasi dengan Ranne. Kabar yang cukup menyenangkan bagi Ranne. Perry berharap Alena mau membuka hatinya untuk Ranne. Perry entah bagaimana yakin bahwa Ranne bukanlah pria buruk. Ada niat serius dalam diri Ranne pada Alena. Perry yakin itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD