“CCTV?” sebelah alis Ranne terangkat.
“Ya,” sahut Alena tanpa ragu. Dia berharap Ranne mau mengingat pria itu ingin mengenalnya lebih jauh. Dan dia juga berharap Ranne bisa diandalkan. Alena akan memantau CCTV setiap saat. Karena dia penasaran pasti ada seseorang yang yang antagonis dalam hidupnya entah itu dari salah satu pekerja kebun ataupun Tom? Meski tidak sepenuhnya dia percaya Tom jahat. Tom adalah kepercayaan ayahnya. Tidak mungkin pria itu mengkhianati ayahnya dan apa motifnya jika memang Tom seorang yang jahat.
Ranne tampak menimbang-nimbang untuk beberapa saat meski binar di matanya tidak bisa ditutupi. Seperti kejatuhan bintang Fomalhaut, Alena datang secara tiba-tiba dan meminta agr kebun anggurnya diberi CCTV.
“Oke, siang ini juga akan aku pasang CCTV.” Ranne memanggil Kris. Saat Ranne menceritakan keinginannya memasang CCTV di kebunnya, Kris menatap Alena ganjil seolah memasang CCTV sama saja dengan merugikan dirinya.
“Untuk apa, Tuan?” tanya Kris ada nada penolakan di sana.
“Alena memintanya dan aku rasa kita memang butuh CCTV di kebun anggur kita.”
Kris kembali menatap Alena, kali ini tatapan matanya ganjil bercampur tajam. Alena menyipitkan matanya. Dia tidak suka pada Kris, Mandy dan nyaris seluruh penduduk di pemukiman kecuali Evans. Alena menggeleng. Dia tidak boleh membenci siapa pun meskipun orang-orang membencinya. Alena menghela napas perlahan.
“Baiklah.” Akhirnya Kris menuruti perintah Ranne dan melesat pergi.
“Terima kasih.” ucap Alena.
“Ranne, umm—“ Perry memutar otak agar percakapan itu tidak berakhir begitu saja. “Kau ada waktu sebentar?”
“Ya,” sahut Ranne.
Perry mencolek-colek pinggang Alena sehingga Alena menatapnya dan mengangkat dagu seakan bertanya, “Apa?”
“Begini, kalau semisal ada apa-apa di kebunmu, Alena pasti akan menghubungimu. Alena suka sesuatu yang menantang. Dia tahu banyak tikus berkeliaran di mana pun. Dia benci tikus—“ Perry menatap Alena. Dia heran kenapa dia mencerocos dengan ngawur.
“Apa sih?” gerutu Alena tidak paham. Namun, Alena memilih menyudahi percakapannya dengan Ranne. “Oke, Tuan Ranne, saya ucapkan terima kasih.” Alena menarik tangan Perry. “Ayo, Perr, kita pulang.” Sebelum pergi Perry tersenyum dan mengangkat jempol tangannya pada Ranne.
Ranne balas tersenyum.
Semoga menjadi awal yang baik untuk hubungannya bersama Alena.
Si Fomalhaut atau disebut juga Autumn Star. Bintang kesepian miliknya.
***
Beberapa hari berlalu setelah pemasangan CCTV itu, tidak ada yang mencurigakan. Tom juga tidak muncul. Apa mungkin yang dikatakan Tom adalah benar bahwa dia memang sengaja mampir ke rumah Alena setelah ke rumah klien dan karena ponselnya mati, Tom tidak ingin mengganggu Alena malam-malam?
Fle muncul. Dia mengeong. Naik ke pangkuan Alena dan menempelkan kepalanya di lengan Alena. Alena membelai lembut Fle sebelum mematikan layar laptopnya.
“Kenapa, Fle? Kau kangen Evans?”
Fle hanya mengeong.
“Tom bilang, Leo mendekatiku tidak tulus. Aku tidak percaya perkataan Tom tapi, kenapa dia bisa berkata seperti itu.” tiba-tiba Alena penasaran dengan Leo. Kemunculannya di tengah hujan badai dan karakternya yang konyol dan terkadang ganjil.
Siapa dia sebenarnya? Bagaimana bisa dia membuatku penasaran dan tertarik?
Bel pintu rumahnya berbunyi, Alena terkesiap. Dia menurunkan Fle dan bergegas membuka pintu. Tapi, seperti biasa sebelum dia membuka pintu dia akan mengecek terlebih dahulu siapa yang datang lewat jendela rumahnya.
Mandy?
Mandy berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah keranjang.
“Hai, Alena.” Mandy tersenyum paksa pada Alena.
Alena hanya menatapnya tanpa arti. Seperti biasa tatapan khas Alena.
“Ranne menyuruhku untuk minta ma’af padamu.” Kali ini ekspresinya tampak setengah menyesal. Entah menyesal karena kesalahannya pada Alena atau karena Ranne menyuruhnya minta ma’af.
“Aku minta ma’af. Bukan Ranne yang menyuruhku mengintip rumahmu. Kau salah sangka. Aku sendiri yang memang suka mengintip. Kau tahu kan aku orang yang bagaimana.” Mandy menunduk menatap keranjang penuh dengan berbagai hadiah. Dia mengulurkannya pada Alena. “Ini untukmu dari Tuan Ranne sebagai permintaan ma’afnya dan permintaan ma’afku.”
Alena menatap lama keranjang penuh itu.
“Alena,” Mandy memanggilnya dengan nada suara ngeri. “Tolong dong diambil keranjangnya, jangan dilihat begitu terus. Berat tahu.” cerocosnya.
Alena meraih keranjang penuh hadiah itu. Figura lukisan wajahnya, dua gelas pita warna merah muda, bunga mawar imitasi warna merah muda, lilin aroma lavender. Dan dibawahnya ada parfum berwarna merah muda dan sebuah buku romance klasik.
“Terima kasih.” kata Alena datar.
“Ya, sama-sama.” ucap Mandy tanpa dosa. Gadis dengan dress polkadot itu berbalik dan pergi.
Alena meletakkan keranjang itu di atas meja sofa abu-abu. Fle mengeong. Dengan usil dia menjawil plastik yang membungkus keranjang. Alena membiarkannya. Baguslah kalau Fle terhibur keranjang dari Ranne.
“Kenapa pria itu harus repot-repot mengirimkan keranjang dengan menyuruh Mandy. Aku saja sudah tidak ingin membahas masalah itu lagi.”
***
“Ranne memang romantis ya,” gumam Perry saat meminum kopi dari gelas pita berwarna merah muda itu.
Alena masih mengabaikan perkataan Perry. Dia fokus menatap layar laptopnya.
“Len, kurasa Ranne benar-benar tertarik dengamu, deh.” Alena melirik sahabatnya itu.
“Kalau Ranne tertarik denganmu, kau harus mundur dari keinginanmu menjual keperawananmu itu.” cerocosnya lagi.
Alena menggeleng. Dia tahu Perry hanya berimajinasi. Saat matanya kembali menatap layar laptopnya sebuah surel masuk. Seseorang dengan fake akun bernama Seribu Tulip.
Nona Alena, saya sudah membaca soal dirimu yang menjual keperawananmu. Saya berniat untuk membelinya. Saya akan kembali menghubungi Anda dalam waktu dekat.
Entah kenapa surel itu membuat Alena ngeri. Mendadak dia merasa pusing. Surel bernada normal dan sopan tapi kenapa dia bisa merasa ngeri, mungkinkah omongan Perry tentang Ranne yang tertarik dengan Alena membuat dia urung menjual keperawanannya?
“Len, kau kenapa?” tanya Perry saat menyadari wajah Alena yang mendadak pucat dan sedikit ketakutan.
Perry mendekat. Dia membaca surel itu.
“Kenapa dia tidak memperkenalkan dirinya? Nama akunnya; Shakespeare. Emm, mungkin dia tidak ingin identitasnya diketahui.” seketika mata Perry berbinar. “Ya ampun, akhirnya ada yang mau membeli keperawananmu dan kau akan membantu anak-anak untuk melanjutkan hidup ke arah yang lebih baik, Len.”
Merasa tidak ada perubahan ekspresi pada Alena, Perry bertanya, “Hei, kau kenapa?”
“Aku takut...” lirih Alena menoleh dengan dramatis pada Perry.
“Takut? Takut kenapa?”
Alena menggeleng. Dia bahkan tidak tahu darimana sumber ketakutannya itu.
Perry memegang kedua bahu Alena.
***
Malam itu jarum jam menunjukkan pukul 23.00. Alena memperhatikan layar laptopnya yang memperlihatkan area kebun anggur Ranne. Seketika matanya menatap tajam layar laptopnya. Seorang pria—dua orang pria berlarian di kebun anggur milik Ranne. Pria itu mengenakan mantel.
Alena menghubungi Perry meminta kontak Ranne. Karena keinginan kuat untuk tahu siapa yang berada di kebun anggur Ranne, Alena memberanikan diri menelpon Ranne. Ranne mengiyakan dan dia bergegas ke rumah Alena.
Alena membuka pintu dan mendapati Ranne berdiri di ambang pintu dengan ekspresi kedinginan karena angin malam yang cukup ganas menusuk ke dalam tulang Ranne. Kedua tangannya masuk ke dalam saku mantel.
“Terima kasih, kau sudah mau datang.” kata Alena formal.
Ranne tersenyum. “Aku yang seharusnya berterima kasih. Kau mau jadi sekuriti untuk kebunku, Alena.”
Sebenarnya apa yang dikatakan Ranne itu benar juga. Hal ini tentu menguntungkan Ranne secara tidak langsung.
“Kau tidak membawa siapa pun? Maksudku—kaki tanganmu atau siapa begitu?”
“Kenapa? Kau takut?”
“Emm, pria yang berkeliaran di kebunmu ada dua, lho.” Ranne membaca kekhawatiran Alena.
“Selama ada aku, kau aman.”
Alena tidak bisa berkata apa-apa.
Alena dan Ranne memasuki lorong-lorong kebun anggur yang suasananya tampak mencekam. Dengan dua lampu senter yang dibawa dari rumah Alena.
“Sepertinya tidak ada siapa-siapa.” ujar Ranne dengan senter yang mengarah ke segala arah.
“Aku melihat dua orang itu di layar komputerku yang tersambung dengan CCTV-mu.” kata Alena menatap sadis Ranne.
“Oke,” Ranne dengan iseng menyorotkan lampu senter ke wajah Alena yang kesal. “Wow,” dia langsung mengarahkan lampu senter ke arah lainnya karena wajah Alena tampak angker. Benar-benar angker dengan sweater hitam yang dikenakannya. Tapi Ranne suka wajah angker Alena. Dia selalu suka wajah Alena dalam berbagai ekspresi.
“Siapa itu?!” teriak Alena ketika dua orang berjalan tenang ke arahnya.
“Sepertinya dia—“ Ranne menoleh pada Alena. “Pekerja kebun.” Refleks, Alena menatap Ranne.
Pekerja kebun?
“Tuan Ranne,” kata salah satu dari mereka. Mereka berdua mengenakan mantel. Persis seperti yang dilihat Alena.
Alena menelan ludah. Wajahnya memerah karena malu.
“Ada apa, Tuan?”
“Oh, Alena melihat kalian di sini dan dia mengira kalian penyusup jadi aku ke sini untuk memastikannya. Kenapa kalian berkeliaran di sini?”
“Kris menyuruh kami untuk berjaga-jaga.”
“Oh,” Ranne menggut-manggut. “Yasudah, silakan dilanjutkan.”
“Baik, Tuan.” Lalu kedua orang itu melesat pergi.
“Ma’af,” kata Alena tertunduk malu.
Ranne menggigit bibir dalam bawahnya untuk menahan tawa. Bagi Ranne ini ekspresi lucu Alena. Ranne merasa obsesinya terhadap wanita ini bertambah. Membesar dan meluas hingga meluap seperti sebuah tsunami. Gejolak perasaannya kini.
***