Kenapa ini?

1016 Words
Hari ini Aira kembali ke sekolah. Dengan wajah yang masih terlihat pucat, Aira berjalan sendiri menuju ke arah kelasnya. Sedangkan Derren berjalan di belakang bersama dengan Thada dan Diki.   Aira tak menyangka jika group chat kelas itu cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolahan. Saat memasuki kelas, meja Aira terlihat penuh dengan coretan yang menolak gadis itu. Di meja belakang ada Maya yang melihat ke arah Aira dengan tatapan sinis.   Beberapa anak di kelas juga menatapnya tak suka. Baru juga tiga hari gak masuk sekolah, sudah banyak sekali perubahan. Seperti sekarang Tata yang terlihat duduk di bangku depan Maya. Tata menatap seperti orang yang sangat membenci dan juga kecewa.   Aira mencoba biasa saja dan tak menganggap kejadian semalam itu ada. Biar ada juga kenapa? Kan dia dan Derren sah menjadi suami istri, pikir Aira.   Tak berapa lama Derren dan kedua sahabat Aira memasuki kelas secara bersamaan. Ini adalah kejadian yang sangat jarang, bahkan tak pernah terjadi sebelumnya. Semua siswa terpanah melihat ketiga bidadara kelas mereka akur satu sama lain.   Berjalan melewati beberapa siswi yang tengah terpesona oleh ketampanan ketiganya. Derren, THada dan Diki memiliki visual yang mampu memikat hati lawan jenisnya hanya dengan sekali lirik saja. Tapi ketiga orang yang memiliki sikap dan sifat yang berbeda membuat ketiganya tak bisa saling rukun.   Bahkan bisa di bilang kalau ketiganya tak pernah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Terutama persoalan cinta dan pacaran.   Thada selalu di tinggal karena sifat konyolnya yang sering membuat malu pasangannya. Diki yang selalu di putus sama pasangannya karena keinginannya unuk membentuk kkasihnya menjadi seorang Aira. Dan Derren, si serius yang tak pernah jauh dari yang namanya Maya. Gadis cantik yang membuat para siswa mundur teratur.   Tanpa mikir panjang lagi, Thada langsung mengambil duduk di samping Aira, menggantikan Tata. Sedangkan Derren duduk di belakang Aira, menggantikan Thada duduk di samping Diki.   Formasi yang sangat epik sekali.   “Tidak bisakah kalian berdua menjelaskan tentang vidio ini?” salah satu teman kelas menunjukkan vidio semalam pada Aira dan Derren.   “Apa lagi yang kalian mau? Yang di vidio itu memang kita bedua. Kami memang menjalin hubungan, dan itu sudah lebih dari lima bulan,” jelas Derren menjawan apa yang di oertanyakan temannya itu.   “Apa? Lebih dari lama bulan? Lu mikir gak sih perasaan Maya?” Tanya siswa itu lagi.   “Emangnya kenapa sama Maya? Memangnya kamu pernah denger saya mengungkapkan perasaan saya sama dia?” Tanya Derren membuat siswa itu terdiam dan kembali ke bangkunya.   Bel berbunyi, guru kelas pun mesuk kedalam untuk memberikan materi. Awalnya tak ada yang salah, bahkan terlihat biasa saja. Tapi di tengah-tengah mengajar, pak Wang terduduk di kursinya dengan memegangi dadanya.   “Pak Wag, kenapa?” Tanya Derren yang langsung loncat mencari gurunya itu.   “Dadaku sakit,” ucap Pak Wang dengan nada berat selayaknya orang yang tengah menahan sakit.   Derren langsung menggendong Pak Wang di bantu oleh beberapa siswa yang ada di kelas, menuju ruang kesehata. Derren langsung menelfon ambulan untuk datang ke sekolahannya.   Tak berapa lama ambulan pun tiba dan langsung membawa Pak Wang ke rumah sakit. Derren meminta pada guru-guru yang lain untuk menghubungi keluarga dari wali kelasnya.   Derren kembali kekelas setelah mengurus guru kelasnya. Kelas nampak sepi dan hanya ada seorang Aira yang ada di dalam. Dengan menyembunyikan wajahnya, Aira berusaha untyk tak terlihat oleh orang lain.   Derren duduk di samping Aira, memberikan ketenangan pada gadis yang sudah ia nikahi. Sebelum menyentuk, Derren melihat punggung Aira bergerak naik turun. Derren langsung membangunkan Aira dengan paksa.   “Kenapa?” Tanya Derren melihat Aira menangisdalam diam.   “Gak apa, gue mau ke kamar mandi, cuci muka!” Aira tak menjawab apa yang di tanyakan suaminya.   Meninggalkan Derren sendiri adalah hal yang paling tepat saat ini. Menghindar adalah jalan satu-satunya yang di miliki Aira saat ini. Entah sampai kapan dia harus menghindari suaminya, biar bagaimana juga mereka tinggal bersama.   Karena kejadian Pak Wang, sekolah di pulangkan di jam setengah dua belas. Derren kini menunggu Aira yang tak kunjung terlihat. Maya yang melihat mobil Derren masih terparkir di parkiran sekolah pun langsung masuk.   “Lu ngapain masuk ke mobil?” Tanya Derren kaget.   “Bukannya biasa kalau kita pulang dan pergi ke sekolah itu bareng? Apanya yang aneh? Yang aneh itu kalau kamu mulai ninggalin gue dan pegi bareng Aira!” ucap Maya mengingatkan.   “Jangan lupa, kalau gue pacarnya Aira,” Derren juga mengingatkan posisi dia saat ini.   “Kalau lu gak mau Vidio ini tersebar, ikuti aja apa kata gue!” ancam Maya dengan menggunakan Vidio yang ada di dalam ponselnya.   Dengan terpaksa Derren mematuhi apa yang di mau oleh Maya. Sungguh apes nasip Derren yang harus kembali berurusan dengan Maya. Kembali Derren harus menyakiti hati Aira, demi vidio itu.   Setelah mengantarkan Maya ke apartemennya, Derren langsung pulang ke rumahnya dan mencari Aira, sang istri tercintanya.   “Aira…. Aira….” panggil Derren dengan berteriak.   “Ya, gue di dapur, kenapa?” Tanya Aira seakan tak terjadi apa-apa.   “Gue kira lu belum pulang,” kata Derren yang khawatir akan istrinya.   “Maaf ya, tadi gue pulang duluan,” bohong Aira.   “Oh, lu pulang duluan tadi. Syukur deh, oh iya. Nanti malem kita makan di luar yuk,” ajak Derren dengan senyum termanisnya.   “Wah, sayang sekali. Nanti gue mau ke rumah mama, udah janji dari kemaren,” jawab Aira dengan senyum yang di paksakan.   Derren berjalan lambat ke arah kamar dengan memikirkan apa yang ada di dalam ponsel milik Maya. Dia sangat takut jika Vidio dirinya itu sampai jatuh ke tangan Aira. Tapi di sisi lain, Derren juga gak mau jika harus menyakiti hati Aira untuk yang kesekian kali. Terlebih juga dia sudah pernah janji pada orang tua dan juga kedua sahabat Aira.   “Apa yang harus gue lakukan?” tanya Derren pada dirinya sendiri saat tengah menikmati guyuran air dari shower kamar mandinya.   Derren tak tahu harus pa lagi sekarang, pikirannya benar-benar tak tenang untuk saat ini. Semua yang terjadi karena kesalahan yang terdahulu ia lakukan.   “Huuuuuhhhhh, benarkah itu terjadi waktu itu?” Teriak Derren dalam hati.   Tak berapa lama Derren keluar dari kamar mandi dan mendapati bajunya sudah tersedia di atas tempat tidur. Derren mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ingin di peluknya saat ini.   Tenpa berganti baju, Derren langsung keluar kamar dan menuju Dapur. Memeluk dari belakang dan seakan enggan untuk melepaskannya.   “Tolong percayai gue, jangan pernah raguin gue, tetap bertahan dengan gue. Gue hancur kalau lu ninggalin gue, gue gak bisa hidup tanpa elu!” ucap Derren tanpa cela.   Dengan menyandarkan kepanyanya di pundak Aira, seakan Derren melepaskan apa yang menjadi beban untuknya. Aira hanya mengangguk pelan dan tanpa sadar, air mata sudah keluar membanjiri pipinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD