Group chat kelas rame karena vidio mesrah ketua kelas yang selalu bareng dengan sang wakil dengan bendahara sekaligus sekertaris kelas.
Ada apakah ini?
Itulah kata yang banyak ditulis oleh teman-teman satu kelasnya. Merekan tidak ada yang percaya jika Aira dan Derren menjalin hubungan di belakang Maya. Bahkan ada Tata yang juga tak percaya dengan apa yang di vidio.
Semua pihak menyalahkan Aira, karena telah tega merebut Derren dari tangan Maya. Karena selama ini yang mereka tau Maya adalah pasangat yang sangat ideal untuk Derren.
Derren pemilik wajah yang sangat tampan, berpaling ke Aira si tomboy yang memiliki sifat konyol. Meninggalkan Maya yang memiliki wajah yang rupawan dan juga memiliki kepribadian yang lucu.
Maya yang melihat vidio itupun hanya bisa menangis di dalam kamarnya. Dia tak mau makan atau bahkan keluar dari dalam kamarnya. Maya tak menyangka jika Derren benar-benar sudah memilih Aira dari pada dirinya.
“Maya, keluar sayang. Besok kita temui Derren untuk meminta penjelasan,”ucap papa dari Maya dari balik pintu kamar sang putri bungsunya.
“Dek, jangan kaya gini lah. Besok biar abang cari Derren kalau perlu, tapi sekarang kamu makan ya,” bujuk Alfan kakak dari Maya.
“Gak perlu bang, Aira sama Derren sudah melangkah jauh di belakang Maya. Bakhan kemaren Maya ke rumah sakit dan Derren telah menggungurkan kandungan cewek itu. Maya udah dikhianati habis-habisan bang,” tangis Maya pada sang Abang dari balik pintu kamar.
“Ya sudah, sekarang kamu buka pintunya dulu. Kita bicara baik-baik dan abang juga mau buat kamu tenang,” ucap Alfan yang mencoba untuk masuk ke dalam kamar Maya.
“Masuk saja bang, gak di kunci juga kamarnya.” ucap Maya dalam tangisannya.
Alfan masuk ke dalam kamar Maya dan langsung memeluk adik tersayangnya. Alfan elalu memperlakukan Maya selayaknya adik balita yang tak pernah tumbuh. Bukan karena pendek, tapi selalu memanjakan sang adik.
Di saat Maya tengah menangis sesenggukan Derren dan Aira masih belum menyadari jika group kelas tengah heboh dengan vidio mereka. Sedangkan Diki dan Thada sudah meradang dengan beredarnya vidio itu.
Diki mengajak Thada untuk menyatroni kediaman wanita yang selalu di jaganya selama ini. Diki awalnya mengajak Thada ke rumah orang tua Aira. Namun Thada berpendapat jika Aira tidak akan ada di rumah itu. Sebagai gantinya, Thada menyarankan untuk ke sebuah rumah sesuai dengan arahannya.
Benar saja saat mereka datang, berbarengan dengan mobil yang biasa di gunakan oleh Derren memasuki rumah itu.dari balik jendela mobil, Diki dan Thada mengamati siapa saja yang akan turun dari mobil tersebut.
Betapa kagetnya Thada saat melihat Derren membukakakn pintu mobil untu seorang cewek. Cewek yang selama ini menjadi sahabat karibnya.
“Berepa banyak rahasia yangmereka tutupi dai kita?” tanya Thada pada Diki yang berada di balik kemudinya.
“Yang jelas hubungan mereka ini sudah di ketahui para orang tua Thada, kemaren gue ke rumah sakit dan ada orang tua dari Derren juga menunggui Aira. Dan mungkin keguguran Aira itu karena kita ajak minum,”
Deg
Jantung Thada serasa terhenti mendengar apa yang di sampaikan oleh Diki sahabatnya.
“Maksud lu ngomong itu apa?” tanya Thada yang merasa sedikit bersalah.
“Dia keguguran sehari setelah kita mabuk di sekolahan, mungkinkan itu karena minuman keras kita?” Diki terus menduga-duga sebelum akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil.
Kedua orang itu berjalan menuju gerbang rumah yang tak lebih tinggi dari pada d**a mereka. Diki membuka gerbang lalu berjalan lebih masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di depan pintu, Thada langsung memencet bel rumah untuk bertemu sang pemilik rumah.
Tak berapa lama, seorang lelaki keluar dari dalam rumah dengan wajah kagetnya.
“Diki, Thada, ada apa kalian kemari?” Tanya Derren sedikit gugup.
"Kenapa? Kaget, kami bisa di sni sekarang?” Tanya Diki seperti tengah menangkap maling ayam.
“Bu, bukan itu, tapi…”
“Tapi apa? Tapi gak mnyangka kami bisa mencari kalian di sini?” Thada seakan tengah menangkap basah Derre yag melakukan kejahatan.
“Ah, sudah lah. Ayo masuk, Aira mungkin masih nonto tv,” ajak Derren pada kedua sahabat istrinya itu.
Banar saja Aira masih menonton televisi di dalam kamarnya. Gadis itu keluar setelah mendengar suara ramai di luar kamarnya.
“Kalian!!” Aira terkejut melihat kedua sahabatnya sudah berada di ruang tamunya.
“Kalian sebenarnyamenyembunyikan apa dari kami? Sumpah, berasa cengoh gue di depan kalian berdua. Kalian itu sudah menyebarkan kegaduhan tau di group kelas!” ucap Thada gemas sendiri dengan kelakuan kedua manusia yang ada di depan mereka.
“Group kelas? Memangnya ada apa?” Derren langsung mengambil ponselnya yang ia tinggalkan di dalam kamar sedari tadi.
“Jadi kalian berdua gak tau sama sekali masalah ini?” Diki memperjelas pertanyaannya dan hanya mendapat jawaban gelengan kepala dari kedua orang yang kini tengah fokus pada layar ponselmasing-masing.
“Ini kejadiannya tadi pas kita lagi di restoran,” ucap Aira yang merasa memang mereka yang ada di dalam vidio ini.
“Iya, tapi siapa yang mengunggah ini? Pasti ini Maya, gue yakin ini pasti dia,” ucp Derren mantab.
“Bukan, gue yakin kalau sekarang dia sedang nagis di dalsm kamarnya.”Thada membela Maya.
Kini keempat orang itu tengah berusaha untuk mecari tau siapa pemilik nomer tersebut. Ada satu nama yang terlintas di benak Aira. Tapi wanita yang baru saja kehilangan calon anaknya itu langsung mengenyahkan pikirab jelek itu.
“Kira-kira siapa yang gak suka sama elu Ai?” Tanya Thada dengan nada konyolnya yang sok mikir.
“Elu deh kayaknya yang gak suka sama gue,” jawab Aira dengan nada celetukan.
“Ya ela Ai, jahat banget lu nuduh gue kaya gini,” ucap Thada dengan gaya memelasnya.
“Gak usah sok teraniaya lu, gak ada yang percaya ma elu,” Aira mendorong Thada dengan satu jari tengahnya tepat di jidat lebarnya yang tertutup rambut.
“Ini apa kalau bukan bukti gue selalu di aniaya ama lu?” Thada tak mau kalah dengan Aira.
“Sudah-sudah, kalian berdua ini kalau ngumpul selalu aja ribut!” Diki memisahkan keduanya.
“Emangnya mereka bisa ribut juga?” Tanya Derren yang tak percaya jika kedua orang konyol kalau di satuin bisa berantem juga.
“Mereka berdua kalau akur ya berarti satunya lagi sakit,” jawab Diki.
“Lu harus jauhi Maya mulai saat ini Derren,” ucapan yang sama dengan Diki perintahkan pada Derren.
“Ini semua karena kerjaan gue yang mengharuskan kami terus bersama,” jawab Derren dengan nada lemas.
“Udah gak usah di fikirin lagi masalah pekerjaan,bentar lagi gue yang gantiin itu perusaan papanya Maya. Beliau sudah mau di pensiunkan lebih awal,” jawab Thada dengan wajah seriusnya.
“Maksdunya apa?” tanya Diki dan Derren secara bersamaan, namun Thada hanya menanggapinya dengan senyuman jenaka miliknya.