Kepergok

1043 Words
Tiga hari sudah Aira tak pulang ke rumah. Selain itu, saat di sekolahan juga gadis itu selalu menghindarinya. Derren merasa ada yang hilang selama tiga hari ini.   Derren kembali mendekati Aira saat jam pelajaran di mulai. Derren mencari perhatian dengan meminta ijin pada pak Wang untuk pindah duduk bersama Aira. Karena tak ingin menimbulkan masalah, Aira memilih untuk diam dan menerima perpindahan tempat duduk.   Derren terus memperhatikan Aira selama pelajaran. Gadis itu tampak sangat serius memperhatikan Pak Wang di depan.   “Gue tau, gue cantik. Tapi dengan ngeliatin gue terus seperti ini, lu gak akan dapet apa-apa,” kata Aira tanpa memandang ke arah lelaki yang sedari tadi mengamatinya.   Malu-malu, Derren kembali memfokuskan pandangannya ke papan tulis. Sedangkan di belakang, Maya sudah memasang tampang masamnya melihat tingkah Derren. Diki juga memiliki perasaan tak suka saat Derren memandangi gadis pujaannya, tepat di depan matanya.   Jam pelajaran pak Wan berakhir dengan mengumpulkan tugas kemarin. Sebagai ketua kelas, Derren di minta untuk membawa buku-buku itu keruang guru. Di bantu oleh Maya dan Aira, Derren merasa tak keberatan.   “Aira, gue mau ngomong sama lu sebentar,” Derren menghentikan langkah Aira yang hendak pergi meninggalkan ruang guru.   “Gak usah sok deket! Lagian ngapain lu pindah ke bangku gue?” jawab Aira tak suka.   “Kita harus bicara!” Derren langsung menyeret Aira kegudang kosong yang tak jauh dari ruang guru.   “Apa lagi yang mau lu omongin, cepet omongin sekarang juga!” kata Aira dingin.   Bukannya bicara, Derren malah memeluk Aira. Namun Aira sendiri tak menolak atau membalas pelukan suaminya. Sudah seperti patung, Aira menanggapi perlakuan Derren.   “Lu tiga hari ini di mana? Pulang ya,” pinta Derren masih dengan pelukan eratnya.   “Lu suruh pergi, gue harus pergi? Lu suruh gue pulang dan gue harus pulang, gitu? Tak semudah itu Derren. Gue punya perasaan yang harus gue jaga sendiri. Kalau lu gak bisa menjaga, tolong menghilang saja,” ujar Aira sebelum akhirnya Derren melepaskan pelukannya.   “Gue, gue minta maaf atas kejadian waktu itu. Gue di paksa sama Maya,” kilah Derren.   “Itu terserah elu, gue gak akan mengikat elu. Karena gue sadar, di antara kita tak ada cinta. Begitupun sebaliknya, gue gak mau diikat. Gue mau bebas jalan sama siapa saja dan kapan saja,” tukas Aira.   “Lu gak bisa kaya gitu, lu itu seorang istri!” bentak Derren.   “Lantas, hanya suami saja kah yang bisa untuk jalan dengan perempuan lain?” Tanya Airta dengan tatapan yang semakin tajam.   “Aira, gue mau entar lu pulang sama gue. Gue cuti,” Derren meninggalkan Aira yang masih mematung.   “Lu anggap gue boneka elu? Naif sekali lu punya pikiran Derren! Lu bisa dengan leluasa jalan dengan Maya, sedangkan gue? He, kalo itu mau lu, gue akan ikuti permainan elu,” ucap Aira pada dirinya sendiri.   Aira menyusul Derren keluar dari ruangan pengap nan gelap itu. Kedua orang itu tak menyadari jika ada orang di dalam gudang itu. Entah apa yang di lakukan orang itu ke gudan kosong sendirian.   Setelah Derren dan Aira meninggalkan gudang itu, orang itupun juga keluar dari gudang. Memperbaiki baju yang sempat berantakan, berjalan ke ruang guru. Duduk di bangkunya dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi di antara kedua muridnya.   Pak Wang lah orang yang memergoki Aira dan Derren di gudang gelap itu. Mencerna setiap kata yang di lontarkan dekua muridnya. Apa dia tak salah dengar? Suami? Istri? Bagaimana bisa? Mereka berdua bisa di bilang bukan orang yang saling dekat, apalagi pacaran.   Kepala pak Wang tiba-tiba merasa sakit memikirkan apa yang di lihat juga di dengarnya barusan.   Bell masuk pun berbunyi, Pak Wang masuk ke dalam kelas. Menyaksikan anak-anak didiknhya satu persatu. Setelah itu melihat ke arah Derren dan juga Aira.   “Derren, Aira. Bisa kalian ikut bapak sebentar?” ucap pak Wang yang sedikit melemah.   “Bisa pak,”   Kedua siswa itu berjalan di belakang guru kelasnya. Derren dan Aira hanya mampu menerka-nerka, kesalahan apa hyang sudah di perbuat oleh keduanya. Pak Wang membawa siswanya itu ke perpustakaan yang sudah jelas aman dan kosong di jam pelajarang tengah berlangsung.   Pak Wang mendudukkan keduanya. Memandang Aira dan Derren secara bergantian, sebelum mengutarakan apa yang ingin di ucapkan.   “Derren, Aira. Apa kalian tau untuk apa nawa kalian ke sini?” Tanya pak Wang pelan nan terdengar sangat tegas.   “Tidak pak. Memangnya kami melakukan salah apa?” Tanya Derren.   “Kalau benar yang bapak dengar, berarti kalian tengah melakukan kesalahan yang fatal.” jawab pak Wang dengan memijat pelipis wajahnya.   “Apa itu pak?” Tanya Aira sedikit merasa ketakutan.   “Benar kalian sudah menikah?” tanya pak Wang langsung membuat keduanya panik.   “Dari siapa bapak denger itu?” Tanya Derren panik.   “Dari kalian sendiri, tadi di gudang.” jawab pak Wang.   Derren dan Aira menundukkan kepalanya merasa bersalah. Apa yang di fikir Derren jika gudang badalah tempat paling aman. Rupanya malah membuat keduanya ketahuan oleh wali kelasnya langsuing.   “Maaf pak, pernikahan kami terjadi karena sebuah kesalahan,” terang Derren.   “Kesalahan?”   Keduanya menceritakan apa yang bisa di ceritakan selengkapnya. Karena mereka tak bisa lagi berbohong masalah ini lagi. Dan mereka juga sudah siap menerima resiko yang akan di berikan oleh pihak sekolahan.   “...Kami minta maaf pak. Kami bersedia menerima segala resikonya,” ucap Derren mengahiri ceritanya.   “Baiklah, kalian masih boleh sekolah disini. Tapi dengan satu syarat. Jangan sampai ada yang mengetahui keadaan kalian, apa lagi halim. Usahakan kalian berusaha untuk tidak melakukan hal lebih fatal lagi.” pak Wang meninggalkan mereka berdua di dalam perpustakaan untuk merenung sejenak.   ***   Bel pulang sekolah pun berbunyi, Aira dan Derren kini sudah di parkiran sekolah. Derren dan Aira akhirnya pulang bersama ke rumah mereka berdua.   Selama perjalanan, keduanya hanya diam seribu bahasa. Lantunan dari Rossa yang berjudul hey ledys pun memanjakan pendengaran mereka. Hingga sampai di rumah minimalis milik keduanya.   “Mau belanja?” Tawar Derren saat melihat Aira membuka lemari pendinginnya.   “Hmm,” jawab Aira dingin.   Keduanya kini sudah memakai baju rumahannya. Derren menggunakan kaos berwarna putih polos dan celana pendek. Sedangkan Aira memakai baju over size dengan celana pendek pula.   Derren dan Aira kini berada di salah satu supermarket terdekat dari rumahnya. Membeli bahan-bahan makanan yang di butuhkan. Tak lupa Aira membeli beberapa cemilan untuknya. Setelah selesai membeyar, derren mengajak Aira ke sebuah toko perhiasan.   “Ngapain lu ngajak gue ke sini?” Tanya Aira.   “Gue mau beliin elu kalung. Ini gaji pertama gue, jadi gue mau beliin lu sesuatu.” Derren memilih kalung bermotif simple dengan bandulan berbentuk hati.   Di kenakannya pada Aira. Wanita itu tersentuh dengan apa yang di perbuat oleh suaminya. Aira merasa sangat bahagia dengan apa yang di perbuat Derren padanya. Hingga ia melupakan amarah atau rasa jengkel dalam dirinya.   Di pegangnya kalung pemberian Derren selama perjalanan. Tersenyum yang tak pernah merasa lelah. Dia merasa, inikah namanya pernikahan? Bisa ikit merasakan keberhasilan suami? Meski hanya hadiah kecil, ini sungguh sangat berarti.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD