Ciuman hot

1109 Words
Pagi sudah menyapa Aira dan juga Derren. Membangunkan dari tidur malam yang melelahkan. Aira memang terlihat sangat kelelahan sekali semalam, jadi Derren tak membangunkan Aira saat alarm berbunyi.   Jam enam tepat, Derren membangunkan Aira. Setelah dirinya mandi sebelum memakai seragamnya.   “Capek, boleh ya gue bolos sehari aja,” pinta Aira yang merasa badanya remuk semua.   “Kalau lu gak sekolah, gue juga gak sekolah,” ucap Derren merebahkan diri di samping Aira.   “Hmm, entar kerjaan elu di sekolah gimana?” Tanya Aira yang memikirkan tugas dan tanggung jawab suaminya.   “Ada Maya sebagai wakil gue. Kenapa gue harus terlalu repot sendiri,” jawab Derren beralasan.   “Hmm, kasian Maya. Lu itu selalu ninggalin dia kerjaan. Ya sudah kalau gitu gue masuk,” Aira mengambil kaos milik Derren yang tak jauh dari dirinya.   Dengan lemas, Aira berjalan memasuki kamar mandinya. Sedangkan Derren memakai seragam sebelum merapikan buku-buku pelajaran miliknya dan Aira.   “Aira, lu lama banget sih mandinya. Lu gak tidur lagi, kan?” Tanya Derren dari balik pintu kamar mandi.   “Enggak, gue lagi ganti baju ini,” teriak Aira dari dalam kamar mandi.   Tak lama Aira keluar dari kamar mandi, melihat tasnya sudah siap di meja belajar. Aira tersenyum pada sang suami yang juga teman sekelasnya. Aira lebih dulu keluar kamar dan langsung ke dapur.   Menyiapkan sarapan super simple untuk rentang waktu sangat singkat ini. Roti dengan beberapa jenis selai telah di siapkan Airra yang masih memakai handuk di atas kepalanya.   “Lu mau ke sekolah pakek handuk?” Tanya Derren mengingatkan.   “Ah iya, lupa,” Aira berjalan ke arah belakang dan menjemur handuk basah yang di kenakan di atas kepalanya.   Karena malas, Aira ikut dalam mobil Derren saat berangkat sekolah. Tapi di halte bus dekat sekolahannya, Aira minta di turunin. Apa lagi kalau tak menghindari gosip yang akan datang nantinya.   Belum lagi di tambah mulut rusak milik Maya yang akan membuatnya malu selama ia sekolah. Seperti kejadian adik kelas yang berani menyatakan cintanya pada Derren saat mos. Bukan tak berani melawan, tapi Aira menganggap itu hanya menguras tenaga untuk hal sia-sia.   Aira berjalan lambat, setelah Derren menurunkannya di halte. Berharap untuk tak ada yang melihat, rupanya ada teman satu mereka yang memergoki. Tata, adalah orang yang menjadi saksi saat Aira turun dari mobil Derren.   Pewaris tunggal Alinsky group itu tengah menurunkan Gadis selain Maya. Siapakah gadis itu? Perlahan dan pasti, Tata mendekati gadis itu.   Betapa terkejutnya Tata setelah tau jika wanita itu Aira, teman sekelasnya.   Jadi selama ini gue cerita sama pacarnya Derren tentang Maya? Gila, saingan gue nambah lagi. Batin Tata yang selama ini sudah menyukai Derren diam-diam.   Berlagak tak tahu apa-apa, Tata menghampiri Aira yang berjalan lambat menuju sekolahannya yang sudah tak jauh lagi. Tata menyamakan langkah Aira, berusaha untuk mendekati gadis itu dan berusaha menggali informasi tentang Derren.   “Aira, tumben lu gak bawa motor?” Tanya Tata pura-pura tak tahu.   “Iya, tadi motor gue kempes di tikungan sono. Terus ketemu Derren di depan, jadi ya gue ikut saja,” jawab Aira santai.   Sepertinya Aira merasa jika Tata melihatnya turun dari mobil Derren.   “Terus, kenapa lu turun di halte?” Tanya Tata sangat terlihat sekali kalau sedang ingin tahu.   "Malas denger gosip." Jawab Aira singkat Aira cewek cuek, bukan berarti dia tak tau apa yang tengah terjadi di sekitarnya. Cuek, bukan berarti mati rasa. Entah kenapa Aira merasa jika Tata itu sedikit ada rasa sama yang namanya Derren alinsky.   Tapi selama ini Tata selalu menceritakan Derren sama Maya. Hmm, entah lah.   Aira mencoba untuk tak perduli, ya meski dia juga harus merasa was-was juga. Tapi kalau kembali mengingat cerita Tata, Aira merasa penasaran. Bagaimana manjanya Maya jika sudah di luar sekolah.   Perjalanan kedua gadis itu harus terhenti tepat di bangku keduanya. Ya, Tata pindah di bangku Aira setelah Derren menata ulang kelasnya.   “Lu udah sarapan Ai?” Tanya Tata menaru tasnya di atas bangku tanpa masuk ke dalam bangkunya.   “Udah, tapi gue pingin ngemil deh. Mau ke kantin bareng?” Tanya Aira yang merasa sangat haus.   Di tengah jalan menuji ke kantin, Aira di kejutkan oleh pemandangan yang sangat menggetarkan hatinya. Sebuah desahan yang terdengar dari balik pintu ruang osis, dua orang yang di kenal Aira tengah memadu kasih.   Ciuman pagi yang terlihat sangat hot itu membuat hati Aira merasa nyeri. Sedangkan Tata melihat itu terjadi di depannya, dia terlihat sangat-sangat emosi.   Brak!   Tata menggebrak pintu yang sedikit terbuka, kedua orang itu tampak kaget. Terlihat Derren seperti seorang maling ayam yang tertangkap oleh warga. Bukannya marah, Aira hanya tersenyum seperti orang yang tengah menahan tawanya.   Apa Aira ini tak punya hati ya? Kenapa dia bisa tersenyum geli seperti itu melihat gue ciuman? Batin Derren yang malah bingung harus bagaimana.   Aira meninggalkan ketiga orang itu dan menganggapnya tak terjadi apa-apa.   Bohong sebenarnya jika Aira tak menganggapnya tak terjadi apa-apa. Tapi dia memang pintar menyembunyikan rasa sakitnya selama ini. Dia yang terkenal cuek dan berani itu kadang membuatnya susah mendapatkan apa yang selama ini di inginkan. Misalnya saja tentang seorang yang di suka.   Aira yang memendam rasa pada teman yang selama ini menemaninya. Entah itu rasa suka atau hanya karena merasa terlindungi saja. Diki memang orang yang paling posesif di bandingkan Thada.   Thada dan Diki memang terlihat konyol, tapi karena itu mereka bisa bisa berteman dengan Aira.   Gadis yang tengah tersenyum, menertawakan kehidupannya. Rupanya menarik perhatian kedua orang yang selalu mendampinginya, Thada dan Diki.   “Ngapa lu senyum-senyum sendiri kaya gitu?” tanya Thada menepuk pundak Aira dari belakang.   “Obat elu abis?” sambung Diki yang mengambil minuman di tangan Aira.   “Abis mergokin ketua kelas lagi ciuman, hot bener,” adu Aira.   “Lu pengen?” tanya Diki yang terlihat sangat serius.   “Sama elu?” Aira balik bertanya dan mendapat anggukan dari teman yang rupanya juga menyimpan rasa padanya.   “Ngarep!” ucap Thada dan Aira bersamaan sebelum berlari meninggalkan Diki sendiri.   “Sialan kalian ya,” Diki mengejar kedua temannya ke kelas.   ***   Aira pulang ke rumah dengan rasa malas. Dia berusaha untuk meneguhkan hatinya dan menguatkan dirinya sendiri.   “Kalian menikah bukan karena cinta! Jadi lu harus sadar diri Ai,” ucap Aira ketika mendapati pantulan dirinya dalam cermin.   Berjalan menuju tempat tidurnya, berharap akan melupakan kejadian tadi setelah dia membuka matanya nanti.   Tanpa mengganti bajunya, Aira tidur pulas di atas tempat tidurnya.   Malam telah tiba, dan Derren pun tiba di rumah dengan perasaan yang tak karuan. Derren sedikit kaget mendapati lampu rumahnya belum menyala sama sekali. Berjalan masuk lebih dalam, Derren kini sudah masuk ke dalam kamarnya.   Melihat Aira masih dengan seragam sekolahnya, lengkap dengan sepatu di kakinya tengah tidur di atas tempat tidur miliknya. Amarah Derren langsung meledak melihat hal itu.   “Aira!!” bentak Derren membangunkan istrinya.   “Gak usah teriak bisa gak sih? Sakit pala gue,” Aira terbangun langsung memegangi kepalanya yang terasa sakit.   “Pergi lu dari sini!” pinta Derren dengan nada dinginnya.   “Pergi ya pergi!” jawab Aira masih dengan kecuekannya.   Tanpa banyak bicara lagi, Aira mengambil kunci motor miliknhya sebelum meninggalkan kamar itu. Derren melihat itu malah menjadi bingung.   “Mau kemana lu malam-malam gini!” bentak Derren sambil menahan Aira yang hendak meninggalkan rumah itu.   “Lu bilang pergi ya gue pergi. Gak susah buat gue pergi dari sini. Kalau masalah kemana, itu bukan urusan elu,” Aira menghempaskan tangan Derren yang mencekalnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD