Moran si playboy

1228 Words
Teng   Teng   Teng   Bunyi bel pulang sekolah yang di tunggu-tunggu pun akhirnya terdengar juga. Aira dan Derren meninggalkan sekolahan dengan kendaraan masing-masing, namun memiliki tujuan yang sama. Dua orang yang menutupi statusnya demi melanjutkan sekolah mereka.   Diki, pemuda yang jelas melihat tubuh neked Aira, kini tengah gelisah. Dirinya tak bisa memungkiri jika tergoda dengan kemolekan teman yang menjadi sahabatnya dari SMP.   Kenapa gue semesum ini sih? Tapi Aira menggoda itu memang kenyataan!   Batin Diki yang tengah melamun di dalam kamarnya. Pikiran Diki belakangan memang di penuhi oleh Aira. Fantasi yang terlalu berani Diki, malah membuatnya tersiksa. Tak bisa melakukan apa-apa memang, selain menjauhi gadis itu.   Pembawaan yang sangat santai Aira, membuat Diki maupun Thada merasa nyaman berteman dengannya. Jelas Aira sangat berbeda dengan cewek lainnya! Dia itu ibarat batu. Batu yang terendam di dasar danau, tak sembarangan orang bisa menemukannya.   ***   Di tengah kesibukan kantor, Derren dan Aira di tunjuk oleh orang tuanya untuk menghadiri pesta. Menggantikan orang tua Derren karena Boy mulai menarik diri dari dunia bisnis. Jadi Derren lah yang di tugaskan untuk mewakili lelaki yang masih belum terlalu tua itu.   “Derren, gue lapeeer,” cicit Aira sedikit bergelayut di lengan kekar Derren.   “Ya sudah, kita cari makan dulu baru cari pak Moran.” Derren memanglah Derren.   Lelaki yang selalu bertanggung jawab, meski dirinya terpaksa menikahi wanita itu. Aira menghampiri meja yang menyediakan beberapa kue dan minuman beraneka warna. Mengambil beberapa kue dan tak lupa juga mengambil minuman berwarna merah pekat di samping meja kue.   Di tengah Aira memakan kuenya, Derren melihat pak Moran pemilik acara. Dia menghampiri lelaki hebat yang beda lima tahun darinya. Moran adalah pebisnis yang terkenal ketampanannya dan juga scandalnya dengan beberapa artis ibu kota.   “hei, Derren kah ini?” tanya Moran ketika melihat Derren mendekat padanya.   “Gak usah basa basi deh, kita beda cuma lima tahun jangan ngerasa tua deh,” ucap Derren yang memang sudah teramat akrab dengan pemilik acara.   “Ya itu karena lu sekarang sangat sibuk. Bagaimana dengan Maya? Masih sama dia? Btw mana dia?” Tanya Moran yang langsung mencari perempuan yang selalu manja pada Derren.   “Mana gue tau! Dia bukan bini gue,” jawab Derren sewot.   “Ya, dia kan selalu gelayutan sama elu, jadi wajar lah kalau gue tanya dia ke elu!” jawab Moran santai.   “Gue ke sini sama orang lain. Gue harap lu gak nyinggung Maya di depan dia,” pinta Derren yang terlihat serius.   “Siapa dia? Pengen tau gue gadis yang udah memikat hati batu kek elu,” moran penasaran.   Tak menunggu lama, Derren mengajak Aira berkenalan dengan Moran. Teman yang di kenalnya melalui pertemuan-pertemuan yang di hadirinya bersama sang papa.   “Ran, ini bini gue. Aira fa…”   “Aira fabian putri tersayang Prayoga Fabian!” sahut Moran memotong ucapan Derren.   “Dari mana lu kenal dia?” Tanya Derren penasaran.   “Lu harus tahu, dia gadis angkuh yang menolak lamaran gue!” ucap sini Moran.   “Maaf, gue gak tau kalau lu serius sama gue,” ucap penyesalan keluar dari mulut Aira.   “Its ok, Derren. Satu pinta gua, kalau elu nyakitin dia. Gue yang akan maju pertama untuk berurusan sama elu!” ancam Moran pada Derren sebelum meninggalkan mereka berdua.   Kadaan semakin canggung, di mana istrinya tak mau membuka mulut sama sekali. Di tambah dengan moran yang terus menatapnya tajam.   Situasi macam apa ini!   Derren mengajak Aira pulang, karena di rasa keadaan semakin tak kondusif. Derren membiarkan kediaman Aira. Sampai di dalam rumah pun Derren masih mendiamkan gadis yang entah kenapa merasa sangat menyesal.   Siapa suruh menjadi seorang playboy! Mana gue mau sama orang macam penjahat kelamin itu.   Rupanya dalam kediaman Aira, dirinya memikirkan banyak sekali kata untuk lelaki yang baru saja di temuinya. Sebenarnya bukan baru saja di temui, tapi baru bertemu lagi.   Setelah beberapa waktu lalu, lelaki itu seakan bercanda ingin melamarnya. Menjadikan dirinya sebagai pengantinnya. Menjadi ratu di kerajaan yang dia bangun dengan susah payah.   Menyesal? Pastinya. Tapi untuk apa lagi? Toh dirinya kini sudah mendapatkan suami yang tak kalah kerennya.   Aira melangkah ke dalam kamar, melihat Derren tengah melepas baju yang di kenakan saat ke pesta.   Aira menghampiri Derren dan mencoba membantunya untuk membuka kemeja putih yang melekat di tubuh kekar suaminya.   “Jangan diamkan gue kaya gini! Entar gue noleh kebelakang lo,” goda Aira yang membuat hati Derren memanas.   “Jangan harap!!!” Deren mengurung Aira dengan menempelkan gadis itu pada lemari di depannya.   Bukannya takut, Aira malah memainkan d**a telanjang milik Derren. Menggambar bebas dengan jarinya, Aira tak sadar jika sudah membangunkan naga tidur dalam diri Derren.   “Ya kalau gitu jangan diemin gue lagi,” ucap manja dari seorang Aira.   “Gue gak diemin elu lagi, tapi tidurin naga gue,” bisik Derren membuat pipi Aira memerah menahan malu.   “Gue gak bisa,” cicit Aira masih menahan malu.   “Ikuti gua, jangan melawan,” bisikan yang beralih menjadi sebuah ciuman lembut di leher, membuat Aira semakin merinding.   “Bisa gak sambil berdiri? Bisa tajuh gue,” ucap Aira yang sudah merasa lemas di persendiannya.   “Gue udah meluk elu, jadi lu gak akan jatuh,” Bisikan Derren semakin membuat Aira tak mampu berdiri seimbang.   Aira berinisiatif untuk mengalungkan tangannya pada leher Derren yang semakin rendah. Mengangkat kakinya dan menumpuhkan pada paha lelaki yang tengah mencumbui dirinya. Ciuman lembut beralih menjadi hisapan, memberikan tanda kepemilikan, juga membuat Aira semakin larut.   Sudah tak tahan lagi dengan apa yang di lakukan, Derren akhirnya menggendong wanita itu ke arah tempat tidur. Membuka resleting gaun yang di kenakan Aira, dan membantunya untuk melepaskan perlahan. Melepas celana kain yang menghalangi aktifitasnya, Derren kembali mencium bibir Aira dengan lembut.   Ciuman memburu yang terus berpindah, membuat Aira tak tahan untuk menahan desahannya.   Aagghh   Sebuah desahan yang lolos dari bibir Aira, membuat Derren semakin terangsang. Membuka bra yang di kenakan oleh Aira, Derren semakin terpancing untuk merasakan kekenyalan isi bra tersebut. Dua gundukan yang lembut dan kenyal membuat Derren tak berhenti memainkannya.   Selain memainkan, Derren juga menghisap seperti bayi gede yang kehausan. Tangan terus bergrelia menyusuri kulit halus yang sesekali berkedut karena menahan rasa geli. Perut rata yang sangat sensitif, membuat Aira tak kuasa menahan untuk mengeluarkan rancauan-rancauannya.   “Derren, lu nyiksa gue,” ucap berat dari Aira pun membuat Derren juga semakin tak kuat menahannya.   “Tahan sebentar sayang, percayalah ini baru permulaan,” tangan halus milik Derren meraba sampai ke paha mulus Aira.   Bermain sebentar di daerah sensitif lainya, Derren sungguh sangat menyiksa Aira. Ciuman yang tadinya hanya di daerah d**a keatas, kini Derren menurunkan hingga ke perut rata Aira. Meloloskan celana dalam milik Aira, sebelum memasukkan satu jari ke dalam l**************n Aira.   Aaggkk   Aira menjerit kesakitan.   “Sungguh ini menyakitiku Derren,” ucap Aira dengan menahan tangan Derren yang sudah berada di antara pahanya.   “Sorry,”   Cup   Ucap Derren sebelum mengecup hangat kening Aira.   “Siap ya, kalau merasa sakit. Lu bisa memukul atau apa ke gue,” bisik Derren sebelum melakukan penyatuannya.   “Derren, Sakiiiitttt!” teriak pelan Aira membuat deren menghentikan aktifitasnya sesaat.   Saat di lihat Aira sudah sedikit tenang, Derren langsung menyentak hingga masuk lebih dalam. Kaget, itulah reaksi yang di berikan oleh Aira.   “gue akan pelan-pelan, habis ini pasti akan enak. Sabar ya sayang, panggil nama gue kalau lu masih merasa sakit sayang,” kecupan mendarat di kening, pipi dan berakhir di bibir Aira, sebelum Derren memimpin permainanya.   Benar apa kata Derren, rasa sakit itu tak lama telah berganti dengan rasa geli. Geli yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, terutama saat lelaki itu menyentak tiba-tiba.   “Oh Baby, gue pengen di sentuh di sini,” Aira memegang buah dadanya karena memang terasa geli.   Tanpa mengulang permintaannya, Derren langsung meremas pelan buah d**a Aira. Memainkan dengan lidahnya, hingga membuat wanita itu menggelinjang keenakan.   Cukup lama penyatuan Derren dengan Aira, hingga mereka merasa sangat kelelahan setelah mencapai punyak untuk yang ke dua kalinya.   Rasa lelah pun mendera mereka dan membuat Aira menutup matanya dengan cepat. Melihat keringat yang membiji di kening Aira, membuat senyum mengembang di bibir sexy Derren.   “Makasih sayang,” Derren menutup tubuh polos Aira dan juga dirinya sebelum ikut menutup mata mengarungi sisa malam mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD