2. Dimitri yang Sama

1479 Words
Dua minggu sebelumnya... "Perkenalkan ini Bu Nola, mulai hari ini beliau akan menggantikan posisi pak Arman sebagai manager pemasaran." ucap pak Irawan memperkenalkan wanita cantik di sampingnya. Dimitri tertegun sejenak, mencoba mencerna apa yang terjadi di hadapannya. Pandangannya tak sekali pun berpindah dari sosok cantik yang juga tersenyum membalas tatapannya. Dimitri mengenalnya, sangat mengenalnya. Belasan tahun silam, perempuan itulah yang selalu menemaninya sejak bangku SMA hingga ke perguruan tinggi. Nola Yumita, nama cantik untuk perempuan yang cantik pula. Dia adalah sahabat Dimitri sejak di bangku sekolah, gadis populer yang menjadi incaran banyak pemuda di masanya kala itu. Hanya Dimitri satu-satunya pemuda yang dekat dengan Nola, kemana pun Nola berada di situ juga ada Dimitri yang menemani. Persahabatan sederhana antar remaja. Namun benar seperti yang banyak orang bicarakan, tidak ada persahabatan yang murni terjalin antara pria dan wanita, melainkan ada salah satu di antara mereka yang menyimpan rasa cinta. Dimitri adalah buktinya, ia diam-diam menyimpan perasaan lebih pada Nola. Sayang, ketika Dimitri mengutarakan perasaannya pada Nola ketika mereka baru saja menyelesaikan masa kuliah, Nola menolaknya secara halus dengan alasan ia tak bisa menjalin hubungan asmara dengan sahabatnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, Nola dan Dimitri dipisahkan oleh kesibukan masing-masing di dunia kerja. Nola memutuskan pindah ke Jakarta, sedangkan Dimitri tetap bertahan di Surabaya. Hingga beberapa tahun berselang, Dimitri mendengar kabar Nola yang sudah menikah dengan salah satu putra dari pengusaha jamu ternama di Jakarta. Tok... Tok.. Suara ketukan di pintu ruangan Dimitri mengusik fokusnya yang sedang menandatangani surat kesepakatan kerja sama antara kantornya dengan pihak penyedia alat berat yang baru. "Masuk." suara Dimitri memecah keheningan ruang kerjanya, yang memang sedari sepi. "Sibuk pak Dim?" suara lembut seorang wanita memecah lamunan Dimitri. Saat Dimitri mengangkat wajahnya, Nola sudah berdiri dengan anggun di sebelah pintu yang sedikit terbuka. "Hai ... Nola, nggak sibuk kok." Dimitri tersenyum canggung lantas berdiri menyambut sahabat masa remajanya itu. "Masuk La." sambungnya lagi menutupi kegugupan. Bagaimana tidak gugup, Nola yang sekarang tampil lebih memukau bila dibandingkan dengan Nola versi remaja belasan tahun silam. "Sudah lama kerja di sini Dim?" Perempuan itu menarik kursi di depan meja besar Dimitri. Nola siang itu memang sengaja mampir ke ruangan Dimitri yang kebetulan bersebelahan dengan ruangannya. "Ya begitulah, sekitar enam atau tujuh tahun silam, ketika masih dipimpin oleh Pak Sastro." Pak Sastro adalah pemilik perusahaan konstruksi tempat Dimitri bekerja. Namun karena masalah kesehatan, kini perusahaan dikelola sepenuhnya oleh pak Irawan, putra sulung dari pak Sastro. "Waah, lumayan lama ya." gumam Nola menyunggingkan senyum manis. Dimitri mengangguk pelan. "Hmm.. kamu sendiri, ada angin apa tiba-tiba pindah ke perusahaan yang.. hmm.. terbilang kecil dibandingkan tempatmu bekerja sebelumnya." Dimitri tau jika Nola sebelumnya bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh mertuanya sendiri dan sudah memiliki posisi yang cukup tinggi di sana. "Aku udah resign lama dari sana Dim. I have a situation." "Situasi apa?" Nola mendadak duduk gelisah dan mengedarkan pandangannya ke segala arah. "A- aku sudah bercerai dengan Rayhan Dim, hampir satu tahun yang lalu, tinggal menunggu sidang sih." perempuan cantik itu sedikit terbata dengan raut wajah yang tak tertebak. Jantung Dimitri bergeming sejenak, mendadak ada sedikit rasa nyeri yang menjalar di hatinya saat mengetahui wanita yang pernah ia puja mengalami kegagalan dalam rumah tangganya. Entah kenapa Dimitri selalu tak tega ketika melihat perempuan bersedih, Nola terutama. Kilasan-kilasan masa lalu mereka tiba-tiba saja menyeruak dan mengganggu benak Dimitri. "Bag- bagaimana bisa? kalian terlihat baik-baik saja." Dimitri tak sedang mengarang cerita, ia memang beberapa kali membaca portal berita yang terkadang meliput kehidupan pribadi keluarga Sasongko, mertua dari Nola yang memang seorang pengusaha ternama di tanah air. Dan tak jarang disana juga terdapat kabar dari Rayhan Sasongko, suami dari Nola. "Jalan hidup Dim, apa yang terlihat tak bisa ternyata sangat bisa terjadi." Nola mendesah pelan dan menatap lagi Dimitri yang tampak iba padanya. "Udah ah... ini pertemuan pertama kita lho setelah sekian lama. Kenapa bahas hal yang nggak enak sih." Nola mengerucutkan bibir menggemaskan. "Ahh.. iya benar. Maaf karena menanyakan hal yang bikin kamu gak nyaman." Dimitri terkekeh pelan. "Hmmm... Makan siang bareng yuk Dim, aku masih belum kenal siapa-siapa disini selain kamu dan Pak Irawan. Lagian gak mungkin kan aku ngajak Pak Irawan makan siang, mending ngajak kamu yang udah jelas-jelas kenal lama." kata Nola menerbitkan tawa di bibir Dimitri. Nola nya yang dulu telah ia lihat lagi, perempuan ceria dengan sejuta tawa yang mampu membuatnya terpesona. "Boleh, yuk." Dimitri mengangguk dan membalas senyum Nola. "Aku beresin dokumen ini dulu ya." "Oke, aku ambil ponsel sama dompet dulu di ruanganku kalau gitu." Dimitri lekas mengangguk lalu menatap Nola yang langsung berdiri dan beranjak keluar ruangan. Dimitri segera merapikan beberapa dokumen di atas mejanya. Menoleh sekilas, ia menutup lagi dua kotak tupperware berisikan bekal yang beberapa saat lalu dikirimkan oleh Fawnia ke kantornya lewat jasa kurir. Sedikit menyesal karena ia tak memakan bekal sehat buatan sang istri kali ini. Semua karena kedatangan Nola yang mendadak membuat gejolak di hati dan pikirannya. "Fawnia pasti mengerti." gumamnya pada diri sendiri. Hanya berselang sepuluh menit, akhirnya Dimitri dan Nola memutuskan untuk makan siang bersama di restoran cepat saji yang tak begitu jauh dari kantor mereka. Mengingat Dimitri dan Nola yang memang sahabat dekat, tak butuh waktu lama untuk memupus canggung yang sebelumnya tercipta. Sepanjang makan siang berlangsung tak ada habisnya percakapan diantara mereka. Mulai dari membahas sahabat-sahabat lama mereka, pekerjaan masing-masing hingga masalah keluarga. "Mama papa kamu sehat Dim?" Nola menutup sendok dan garpunya di tepian piring yang sudah kosong. "Alhamdulillaah sehat La." "Mereka masih di rumah lama?" "Masih, yang di Wonokromo itu. Mampir lah kapan-kapan." Dimitri tersenyum samar mengetahui Nola masih mengingat kedua orangtuanya. "Hmm.. lain kali mungkin, kalau kerjaan udah agak berkurang. Tau sendiri lah, masih jadi pegawai baru di kantor, perlu banyak penyesuaian." jawab Nola sembari menyesap coklat panasnya. "Istri kamu... hmm.. orang mana?" tanya Nola tampak ragu-ragu. Dimitri mendesah pelan, entah kenapa bahasan seputar sang istri menjadi tak begitu menarik untuk dibicarakan dengan perempuan cantik di hadapannya ini. "Fawnia, asal Padang sih. tapi sudah beberapa tahun ini pindah ke Surabaya." "Pasti cantik nih gadis Minang, kenapa jarang posting foto berdua sih di sosial media?" celetuk Nola penasaran. "Biasa aja, males main sosmed La. Udah tua juga." jawab Dimitri datar. Memang benar adanya, Dimitri yang setiap hari sibuk dengan pekerjaan merasa tak punya waktu untuk sekedar bermain sosial media. Kalaupun sempat membukanya, selalu ia gunakan untuk mencari berita tentang teman-teman lamanya, termasuk Nola. "Tua dari mana sih, masih tiga puluh dua kan? It just a number. Emang anak kamu udah berapa?" kekeh Nola memperlihatkan lesung pipinya. "Anak?" Dimitri memicingkan mata. Selama ini tak pernah sedikitpun ia berpikir akan memiliki anak dari Fawnia. Ya, meskipun mereka berdua pernah beberapa kali melakukan hubungan suami istri, entah kenapa bayangan buah hati belum pernah tersemat dalam benaknya. Mungkin juga karena rasa cinta yang belum pernah hadir di hatinya untuk sang istri. Dimitri menggeleng pelan. "Belum.. aku belum ada anak La." "Fawnia belum hamil?" Dimitri hampir tersedak mendengar pertanyaan Nola. "Belum." jawabnya singkat setelah menenggak jeruk hangat yang ia pesan. Kembali hening. Canggung yang tadi sirna menyeruak kembali setelah nama Fawnia mereka bawa dalam perbincangan di awal pertemuan ini. Bagaimanapun, dulu Dimitri sempat menaruh hati pada Nola. Membicarakan perempuan lain didepan perempuan yang ia cintai tentu akan menjadi hal yang tak menyenangkan baginya. "Dim.." panggil Nola memecah keheningan. Dimitri mendongak melihat raut wajah Nola yang tiba-tiba nampak sendu. Kenapa lagi wanita cantik ini. "andai aku dulu terima perasaan kamu ya. Mungkin sekarang kita sudah jadi pasangan yang bahagia. Mungkin juga aku gak akan jadi ibu tunggal seperti sekarang." lanjutnya dengan nada getir. Hati Dimitri sesak bagai dihujam ribuan anak panah. Tangan kanannya terulur mencoba mengusap pelan punggung tangan Nola yang sedikit berkeringat dingin. "Aku masih Dimitri yang sama La, kamu bisa datang kapanpun sesuka hatimu, aku pastikan akan selalu ada untuk kamu." Entah apa yang merasuki Dimitri hingga bisa mengeluarkan kalimat manis pada perempuan yang bukan siapa-siapanya ini. Mereka tak berdua tak ada hubungan apa-apa selain sahabat lama kan? Nola tersenyum tipis. "Bagaimana bisa Dimitri yang sekarang masih sama dengan Dimitri ku yang dulu." kalimat Nola terjeda, mata wanita itu tertuju pada jari manis Dimitri yang tersemat cincin pernikahan. "Karena ada ini." lanjut Nola sambil membuat gerakan melingkar di atas jari manis Dimitri, mengusap pelan cincin yang melingkar di sana. Dimitri paham apa yang dimaksud Nola. Dengan gerakan cepat tangannya menggenggam erat jemari Nola. Membuat perempuan itu terkesiap dan mengangkat wajah seketika. "Aku masih Dimitri yang sama La, dan ini...." Dimitri melirik sekilas pada cincin pernikahan yang ia maksud. "nggak pernah berarti apa-apa buat aku." lanjutnya lantas memaku pandangannya pada Nola. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD