Kenapa Kisah Cinta itu Tidak Bisa Seperti Momentum?

1991 Words
“Kenapa kisah cinta itu tidak bisa seperti momentum yang memiliki kemiripan akan saling bertemu pada akhirnya? Tapi malah seperti dua buah garis sejajar yang memilki karakter dan bentuk berbeda dimana akhirnya akan memiliki titik temu yang sama” *** Suara dentuman musik yang terdengar begitu keras, kepulan asap rokok yang terlihat mengudara dan juga aroma pekat dari alkohol terasa begitu kuat. Semua pengunjung tampak begitu menikmati dengan suasana yang disuguhkan. Zizu hanya memandang lurus ke arah tengah bar dimana sudah ada pria dan wanita saling menari satu sama lain mengikuti irama musik yang disuguhkan.                 “Aku tidak menyangka kalau kamu akan kesini, Zizu” ucap salah satu bartender yang dulunya teman sekolah dasar Zizu dahulu.                 Dengan nada malas, Zizu kemudian menjawab. “Aku hanya ingin mengunjungimu saja, kebetulan kamu sendiri yang mengatakannya bukan?”                 “Aku kira kamu akan melupakan aku” ucap sang bartender yang Zizu ketahui bernama Ages.                 “Bagaimana aku bisa melupakan kamu, ketika kamu memfollow instagramku kemudian memberitahukan aku untuk datang mengunjungi bar tempat kamu bekerja ketika aku kembali ke Quebec.” akui Zizu. Pandangannya masih saja terlihat kosong. Di kepalanya saat ini masih saja memutar kejadian dimana Vera memperkenalkan Tybalt sebagai kekasihnya.                 “Zizu, kamu ada masalah ya?” tanya Ages, yang menurut Zizu pria ini sedikit rewel. Dia ingin datang kesini untuk mencari hiburan bukan disuguhkan dengan sesi tanya jawab. Karena malas untuk menjawabnya, Zizu membalasnya dengan sebuah gumaman.                 “Martell Cordon Bleu, seperti biasa” ucap seorang pria yang kemudian memilih duduk didekat Zizu. Dimana berhadapan langsung dengan meja bartender.                 “Ah, tuan Miles. Sudah lama anda tidak datang kesini” Sapa Ages dengan ramah.                 “Masih ada satu botol utuhkan? Aku ingin satu botol khusus buat aku malam ini”                 Zizu hanya diam-diam mendengarkannya. Dia tidak ingin ambil pusing sama sekali. Tujuan kesini adalah untuk bisa melepas stress dari pada dia harus berdiam diri di apartemennya. Jadi Zizu mencoba mencari pelampiasan untuk datang ke bar.                 Namun Zizu bukan seperti pria yang ada disebelahnya ini. Zizu sama sekali tidak berniat untuk kehilangan kesadaran akibat minuman beralkohol. Zizu sudah cukup dengan minuman bersoda sejenis moktail yang sedang diminumnya saat ini.                 Keduanya saling terdiam satu sama lain saling memandang ke arah depan. Dimana Zizu sama sekali tidak tertarik untuk ikut menari disana.                 Seorang pria yang tampak berjalan terhuyung-huyung mulai mendekat ke arah Zizu. Namun karena pria itu sudah kehilangan kesadarannya, dia tanpa sengaja terjatuh dengan tangan yang masih memegang sebuah gelas minuman itu hendak saja menumpahkan isinya kepada Zizu.                 Iris hazelnya seketika membola kala dia menyaksikan sesuatu. Untuk beberapa detik, Zizu sama sekali tidak berbicara. Lidahnya seakan kaku untuk digerakkan. Semua terjadi begitu cepat dan spontan. “Hei pria tua, tidak bisakah anda berjalan dengan benar. Wanita ini hampir saja terkena minuman anda. Ah, Sialan bau orang tua. Bau tanah banget”                 Sebelah sudut bibir Zizu tanpa sadar terangkat mendengar apa yang dikatakan pria yang ada dihadapannya ini. Siapa sangka pria yang ada disampingnya ini malah bergerak cepat dan melindungi dirinya. Menjadikan tubuh pria itu sebagai tameng untuk melindungi Zizu.                 Bahunya terlihat lebar dan juga kokoh untuk seorang pria. Rambut berwarna cinamon highlight itu berada tidak jauh dari hidungnya yang menguarkan bau aroma kelapa yang sangat harum. Zizu sangat tidak menyukai aroma kelapa, tapi entah kenapa kali ini dia sangat suka.                 Zizu hendak saja ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya kembali kelu, saat pria itu memutar wajahnya ke arah samping. “Bang Ages, suruh siapa saja pelayan yang ada dibar untuk menyeret pria ini keluar dan jangan biarkan dia untuk masuk kembali ke sini”                 Zizu masih saja duduk mematung diposisinya. Jarak antara wajah mereka saling berdekatan satu sama lain. Keindahan seorang pria tampan dari sudut menyamping bisa terlihat begitu jelas dimata Zizu walau dengan lampu remang-remang khas sebuah bar.                 Kulitnya tidak seputih pria biasanya dia temui, ini lebih ke arah tanning, sebuah dimple yang cukup dalam terukir dipipinya, tulang hidung yang tinggi, namun ada satu yang membuat Zizu cukup terpana.                 Iris mata coklat terang yang sama persis dengan seseorang. Tybalt.                 Jika Zizu ingat-ingat lagi pria yang ada dihadapannya ini memiliki figure tubuh yang sama mirip dengan Tybalt. Hanya saja wajah mereka tidaklah sama.                 “Aish, pria ini selalu saja mencari celah. Dasar penjahat s**********n” Gerutunya. “Udah tua ingat anak istri dirumah” tepat saat pria itu menghentikan katanya, pria yang menolong ini lalu menjatuhkan pria tua yang hendak saja menabrak Zizu itu ke lantai.                 Pria itu segera saja membenarkan posisinya dan kembali duduk dikursinya lagi. Hingga akhirnya Zizu melihat dengan jelas rupa wajahnya seperti apa. Bentuk mata mereka tidaklah sama. Tybalt memiliki bentuk mata dalam sedangkan pria ini berbentuk almond. Terlihat jelas perbedaan dari keduanya akan tetapi sama-sama memiliki iris yang membuat Zizu terpana akan keindahannya.                 “Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat kamu.” pria itu menjeda kalimatnya sejenak kala melihat Zizu. “Apakah kamu datang ke acara ulang tahun Vera?”                 Zizu menganggukkan kepalanya. “Mn.” Zizu lalu mengalihkan pandangannya menatap ke arah hoodie pria itu. Karena hoodie yang dikenakan pria yang baru saja menolongnya ini berwarna hitam jadi tidak memperlihatkan dengan jelas tumpahan minuman tadi.                 Sadar ke arah mana pandangan Zizu, pria itu lalu melambaikan tangannya. “Tidak perlu cemas, ini sama sekali tidak memperlihatkan nodanya. Lagian minumannya tidak banyak dan hanya tertumpah sedikit dibajuku.”                 “Maaf sudah merepotkan anda, saya merasa tidak enak. Saya akan mengganti baju anda yang sudah kotor. Jadi anda bisa berikan nomor rekening milik anda kepada saya.” Zizu lalu tersenyum. “Terimakasih sudah menolong saya”                 “Aku tidak ingin gaun yang kamu kenakan jadi rusak hanya karena minuman pria tua itu. Kamu tidak perlu menggantinya. Aku akan langsung buang hoodie ini ketika sampai apartemen” Jawab pria itu dan membalas senyuman Zizu.                 “Sekali lagi saya ucapkan terimakasih” Zizu mengalihkan pandangannya dan meminum moctail miliknya. “Kalau saya boleh tau, berarti anda datang ke acara ulang tahun Vera. Apakah sebagai kolega dari tuan Alfero?” Dia hanya ingin memastikan saja saat ini karena Zizu tidak mau kalau salah satu kolega Papanya mengetahui kalau dirinya memasuki sebuah bar.                 Kemudian terdengar sebuah kekehan kecil. “Apa tampang aku setua itu untuk disamakan dengan kolega Tuan Alfero? Jelas saja aku adalah sahabat dari Vera. Justru aku malah mengira kalau kamu adalah kolega Tuan Alfero atau saudara sepupu Vera.”                 Kini gantian Zizu yang terkekeh. “Saya bukan kolega dari Tuan Alfero atau sepupu Vera. Saya adalah Kakaknya.”                 “Kakak?” ulangi pria itu seakan tidak yakin.                 “Ya, Kakaknya. Intinya begitulah. Saya sudah lama tidak kembali lagi ke Kanada dan karena alasan lain yang membuat saya kembali lagi ke sini.” Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menegak minumannya.                 “Karena kamu adalah Kakak Vera. Apa kamu sama sekali tidak mengetahui kalau Vera sudah memiliki kekasih??” mendengar pertanyaan tersebut membuat Zizu segera mengalihkan pandangannya dengan tatapan kaget.                 “Dari sekian begitu banyak pertanyaan yang ada, kenapa anda menanyakan hal itu?” Zizu jelas saja kaget, dia jadi penasaran dengan pria ini. “Apa kamu menyukai adik saya?”                 Pria itu lalu tertawa seakan apa yang dikatakannya barusan sesuatu yang lucu. Zizu mengernyitkan alisnya tidak mengerti.                 Apa pria ini tidak waras sama sekali? Bagian mana dari kalimat aku yang terdengar lucu?.                 Tiba-tiba saja pria itu mengubah ekspresinya dari yang terlihat begitu bahagia berubah menjadi sedih. Tampak jelas diwajahnya kalau pria itu tidak bisa menutupi luka yang dia rasakan. Dia lalu menganggukkan kepalanya lemah. “Benar, aku menyukainya. Bahkan orang lain bisa melihatnya dengan jelas. Tapi kenapa Vera sama sekali tidak bisa melihatnya.”                 Zizu merasa tertarik dengan pria ini, secara tidak langsung sebenarnya keduanya memiliki situasi yang sama saat ini. Dimana sama-sama mengalami patah hati.                 “Sedih karena tidak bersama dengannya dan senang melihat orang yang dicintai tampak bahagia dengan pasangannya dimana kebahagian itu tidak pernah di capai oleh kita. Kedua rasa itu bersatu padu membuat d**a terasa sesak dan juga berat. Tidak tau bagaimana cara mengobatinya. Luka itu terus saja terbuka menyesali takdir yang tidak mempersatukan.” “Vera dan kekasihnya, mereka adalah sebuah garis yang tidak sejajar. Karakter mereka terlihat begitu berbeda. Kekasihnya itu dengan sikap perfeksionis dimilikinya, bertindak secara logika dan kaku sedangkan Vera adalah gadis yang bertindak sesuai dengan apa yang dia mau dan juga urakan serta ramah. Namun siapa sangka garis dimiliki satu sama lain yang berbeda itu malah memiliki akhir titik temu. Kenapa kisah mereka tidak terjadi seperti sebuah momentum. Yang dimana akan terlihat saling menjauh karena sifat dan segi apapun mereka tidak sama.” tambah Zizu.                 “Tunggu..” pria itu menjeda kalimatnya sejenak. Matanya menyipit seakan mencari sesuatu. “Maaf, katakan kalau aku salah dalam menanggapi hal ini. Apa kamu menyukai Tybalt? Wajah kamu terlihat begitu sedih saat mengatakannya.”                 “Kamu mengenalinya?” kaget Zizu ketika dia sama sekali tidak menyebut namanya. Namun Zizu akhirnya menyadari sesuatu. “Oh, anda tau namanya waktu Vera memperkenalkannya bukan?”                 Secepat kilat Miles segera menggelengkan kepalanya. “Apa namanya Tybalt Huang?”                 Zizu menganggukkan kepalanya. “Benar, namanya Tybalt Huang”                 “Sepertinya kamu tidak mengetahui latar belakang dari Huang seperti apa dan aku baru sadar kamu baru sampai kanada. Jadi kamu tidak mengetahui Huang. Aku beri tahu. Aku adalah adik kandung dari Tybalt Huang.”                 Sejenak Zizu terdiam. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Miles barusan. Ini sungguh seperti lelucon.  Miles menyukai Vera dimana Vera adalah adik tiri Zizu yang berpacaran dengan Tybalt- Abang kandung dari Miles.                 “Ah, ternyata anda adalah adiknya. Tybalt sama sekali tidak pernah mengatakan adiknya, jadi saya sama sekali tidak mengetahui kerabatnya yang mana saja. Siapa sangka saat saya bersama dengan Tybalt, ada begitu banyak hal yang tidak saya ketahui mengenai dirinya. Yeah, saya baru menyadari kalau Abang anda sudah memiliki kekasih. Ba-“                 “Bahkan yang selalu ada kalah dengan diperioritaskan bukan?” celetuk Miles. Seakan sudah mengetahui apa yang akan dikatakan Zizu. “Rasanya begitu sakit, ketika aku tau kalau Vera bersama dengan abangku. Aku yang selalu bersama dengan dirinya selama ini. Tapi malah bersama dengan Abangku dimana entah kapan bertemunya”                 “Ketika orang yang saya cintai memiliki kekasih dan itu adalah adik tiri saya sendiri. Itulah yang kini saya rasakan” Zizu bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi.                 Miles menepuk dadanya dengan kuat. “Aku membenci diriku sendiri yang tidak bisa mengatakan aku mencintainya sejak dahulu.” menghela nafasnya sejenak kemudian melanjutkan. “kenapa posisi aku tidak bisa lebih dari sebagai sahabatnya. Tidak bisakah dia melihat kalau apa yang aku lakukan selama ini karena aku mencintai sebagai seorang wanita bukan sebagai seorang sahabat”                 Walau tau kalau pembahasan mereka akan menambah luka bagi keduanya. Zizu tidak peduli, dia ingin mencurahkan semua kesedihan yang dia alami saat ini. “Aku mencoba untuk mengikhlaskannya, tapi-“ Zizu lalu menunjuk dadanya dimana hatinya berada. “Disini begitu sakit, sakit sekali. Dahulu tempat ini terasa kosong dan bahkan tidak menginginkan seseorang untuk menempatinya terlebih lagi akan masa lalu yang saya lalui. Namun ketika dia muncul, perlahan mulai mengisi ruang disini hingga seutuhnya hanya dialah pemiliknya. Tapi sekarang dia sudah pergi, rasanya seperti seseorang merobek bagian ini dengan paksa dan kasar. Sangat menyakitkan.”                 “Saya dulunya hidup berdua dengan Ibu saya, tanpa ada pria lain yang masuk dalam kehidupan saya dan sudah terbiasa akan hal itu. Namun begitu Tybalt masuk dan bahkan menjalani hari-hari kami hampir selalu bersama hingga sekarang. Begitu saya tau harus merelakannya disaat saya ingin memiliki seutuhnya. Saya tidak tau bagaimana menjalani hari-hari selanjutnya setelah mengetahui ini seperti apa. Saya sudah terbiasa dengan kehadirannya. Saya tidak bisa kembali menjadi diri saya sendiri ketika sebelum bertemu dengannya. Saya ingin melepaskannya dan ingin melihat Tybalt berbahagia dengan adik saya. Sangat ingin melepaskannya tapi saya menyadari, saya tidak bisa. Saya tidak bisa melakukannya”                 Zizu tidak bisa lagi menahan air matanya. Dia membenci dirinya yang begitu mudah menangis dihadapan orang lain bahkan orang yang baru dia temui saat ini. Tapi dia juga manusia, dia sama sekali tidak bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan.                   To be continue..                                 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD