Cinta Itu Lebih Sulit dari Soal Matematika

1818 Words
“Cinta itu lebih sulit dari soal matematika. Cara dan penyelesaian serta hasil akhirnya tidak akan bisa ditebak menggunakan rumus maupun metode apapun itu. Semua begitu misteri. Bahkan ketika yang selalu ada saja tidak akan berarti dengan yang selalu diperioritaskan” *** Dari semua hari yang dilalui oleh Miles, dia tidak pernah merasakan ketakutan seperti yang dirasakannya saat ini. Tubuhnya terlihat begitu kuat dan kokoh dibalut ototnya. Akan tetapi otot yang terbentuk sempurna itu sebenarnya menutupi sesuatu yang tampak rapuh dan mudah sekali terluka.                 Hingga kini dia masih belum siap, jika wanita yang selama ini dia cintai diam-diam itu ternyata sudah melabuhkan hatinya pada pria lain. Sebuah posisi dimana Miles tidak akan bisa raih itu. Miles menghela nafasnya. Dia masih saja betah berada didalam mobil jeep rubicon miliknya, menatap ke arah sebuah mansion mewah yang ada dihadapannya.                 Jika Vera bahagia, lu juga bisa bahagia.                 Miles berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi nantinya benar atau tidak gosip yang beredar Miles harus siap. Itu hanyalah sebuah penyemangat klise saja,tapi sejujurnya tidak ada kebahagian dirasakannya kala Vera bersama dengan pria lain.                 Dia lalu melirik ke arah samping, dimana sudah ada sebuket bunga mawar merah muda terbungkus dengan begitu indahnya. Dimana itu adalah bunga dari kesukaan Vera. Tidak hanya sebuket bunga saja yang akan diberikan Miles, akan tetapi ada sebuah kotak berwarna putih dimana terbalut sebuah pita berwarna hitam disana. Didalam kotak tersebut terdapat sesuatu yang sangat disukai Vera dimana sudah jauh-jauh hari dipesan Miles bahkan langsung ke tangan sang ahli agar Vera sama sekali tidak kecewa dengan pemberiannya.                 Perasaan yang kini sudah bercampur aduk. Miles meraih buket bunga mawar dan kotak putih tersebut lalu keluar dari mobilnya. Penampilannya kini terllihat begitu mempesona. Membuat siapa saja yang meliriknya tidak akan bisa berpaling terlebih lagi untuk kaum hawa. Miles bak titisan dewa yang turun ke bumi berwujud manusia dimana memiliki perpaduan antara wajah Asia dan Kanada.                 Dia lalu memasuki sebuah mansion mewah yang bergaya semi modern dimana didominasi oleh warna putih dan juga cream. Beberapa tamu yang sudah datang dan mengenali sosoknya lalu menyapa dirinya dengan hangat. Miles sesekali akan menganggukkan kepalanya atau menyapa balik. Sebagai anak bungsu dari Huang, siapa yang tidak mengenalinya.                 Netranya berusaha mencari keberadaan seseorang yang kini menjadi bintang dari acara akan dilangsungkan. Tiba-tiba Miles baru menyadari sesuatu. Selama dia mengenal Vera, dia sama sekali tidak mengetahui latar belakang Vera. Siapa ayahnya, ibunya dan juga keluarganya yang lain. Miles menyukai Vera karena sosok dan pribadinya. Bukan latar belakang dimiliki Vera. Jadi wajar saja kalau Miles tidak mengetahui.                 Dilihat dari latar belakang Vera seperti ini, Miles merasa sangat yakin tidak akan ada drama dimana sang orang tua pria menolak kekasih anaknya yang tidak memiliki standar latar belakang terpandang. Ini sudah sangat pas sekali dengan dirinya. Vera sudah cantik, pintar, ramah, dan juga status mendukung. Bukankah mereka akan menjadi pasangan yang begitu serasi bak dalam drama-drama roman.                 Walau Miles datang terlambat karena adanya kecelakaan yang membuat dirinya harus terjebak macet, tapi Miles yakin kalau Vera tidak akan mungkin meninggalkan pesta begitu saja saat acaranya sudah selesai.                 Saat Miles berjalan ke arah taman belakang, netranya tanpa sengaja menatap seseorang yang sangat dia kenali. Miles segera saja mempercepat langkahnya. Namun tiba-tiba langkahnya seketika terhenti kala dia menyaksikan sesuatu. “Kakak!” teriak Vera dengan riangnya. Dari sekian banyak orang yang berdiri disana, ada sesuatu yang membuat Miles tidak tau harus merespon apa. Vera lalu berlari dan mendekati seseorang wanita. “Kakak! Aku sudah lama merindukan Kakak”  “Kebetulan kakak disini. Aku ingin mengenalkan kekasihku kepada Kakak. Kak Tybalt Huang, kekasih yang aku ceritakan itu, tapi nama dan wajahnya tidak aku beri tahu agar menjadi kejutan bagi kakak kalau aku akhirnya bisa memiliki kekasih” Kata demi kata yang di katakan Vera terdengar samar – samar baginya. Miles begitu terkejut, dia masih tidak percaya bahwa wanita yang selama ini dia cintai ternyata kekasih dari abangnya sendiri. Dari sekian begitu banyak pria yang ada dimuka bumi ini. Kenapa harus pria itu, Vera. Bak batu yang begitu besar dan berat jatuh dengan kuat tepat didadanya. Rasanya begitu menyesakkan, bahkan setiap tarikan nafasnya terasa berat. Berkali-kali dia berusaha meyakinkan dirinya kalau apa yang dia lihat bukanlah Abang kandungnya. Ini pasti tidak mungkin. Mereka hanya mirip saja. Pria yang jelas saja terlihat begitu sempurna. Jika dirinya disandingkan dengan sang Abang kandung maka Miles tidak ada apa-apanya sama sekali. Pria yang sama sekali tidak akan bisa dia saingi bahkan kini soal percintaan pun dia kalah talak. Rasanya begitu sakit, bahkan rasa sakitnya sendiri tidak bisa dilukiskan oleh Miles. Tangannya tanpa sadar terkepal dengan begitu kuat, membuat buku tangannya tampak memutih. Obsidian cokelatnya juga ikut merasakan perih dengan apa yang dia lihat. Lingkaran lengan Vera begitu erat di lengan abangnya. Bahkan sebuah senyuman yang begitu indah dan tulus itu tidak pernah dilihat Miles selama ini ketika bersama dengannya. Padahal hampir 24/7 dirinya selalu bersama dengan Vera. Tapi kenapa senyuman itu sama sekali tidak ditunjukkan ketika bersama dengan dirinya. Kenapa! Kenapa aku tidak bisa memilikinya! Dari sekian begitu banyak, kenapa harus b******n itu! Semua umpatan dan makian itu tidak bisa di utarakan Miles dengan lantang dan hanya bisa dia lakukan dalam hatinya saja. Apakah sesakit ini yang namanya patah hati. Miles juga manusia biasa yang bisa merasakan namanya sakit. Namun dia tidak menyangka bahwa luka yang tidak terlihat sama sekali darahnya ini malah mengalahkan rasa sakit luka yang mengeluarkan darah dia alami dahulunya. Disaat dirinya yang selalu ada ternyata bisa dikalahkan oleh seseorang yang selalu diperioritaskan. Ini sungguh sangat menyakitkan buat Miles. Kapan mereka bertemu, sejak kapan mereka menjalin hubungan. Kenapa dirinya sama sekali tidak mengetahuinya. Tidak tahan kalau dia harus melihat pemandangan yang terus saja membuat luka dihatinya terkoyak menjadi lebih besar lagi. Miles memutuskan untuk pergi. Namun saat dia hendak membalikkan badannya, sebuah suara memanggil dirinya dengan begitu hangat seperti biasanya membuat tubuh Miles seketika membeku. “Kakak! Kakak mau kemana?” Miles masih saja diam mematung tanpa membalikkan badannya, dia masih belum siap untuk bertemu dengan Vera saat ini. “Kakak mau kemana? Udah datang telat kok Kakak tiba-tiba mau pulang.” Nada sedih itu jelas saja langsung menyentuh hati Miles. Dia menelan salivanya dengan berat dan membalikkan badannya. “Kakak mau pergi ngambil minuman bukannya pulang. Tenggorokan Kakak kering banget, tadi terkena macet buat Kakak jadi haus setelah sampai disini” sebuah kebohongan mengalir dengan begitu cepatnya. Vera menyipitkan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Miles barusan. “Udah jauh-jauh kesini kenapa Kakak harus pulang” lagi-lagi Miles harus menciptakan sebuah kebohongan saat dia menaikkan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. “Kakak gak usah pergi, aku akan panggilkan pelayan saja” Vera kemudian memanggil seorang pelayan dan menyuruhnya untuk mengambil minuman. “Oh iya, ini” Vera kemudian menunjuk apa yang dibawa oleh Miles. Membuat Miles segera saja menyerahkannya dengan kikuk. “I-iya ini, kado buat kamu” Senyuman sehangat mentari pagi seketika tergambar diwajah Vera. “Kakak selalu tau dengan apa yang aku suka. Terimakasih bunganya Kak. Aku akan simpan bunganya dikamar aku dan kadonya aku akan segera buka ketika acaranya sudah selesai” Walau senyuman Vera terasa begitu hangat, akan tetapi saat bersama dengan pria itu jauh lebih hangat. “Terserah mau kamu simpan dimana. Asalkan kamu senang.” jawab Miles yang kembali mengeluarkan senyuman palsu miliknya. Miles lalu menjulurkan tangannya ke arah Vera. “Selamat ulang tahun my universe. Semoga apa yang kamu citakan segera terwujudkan dan yang terbaik akan selalu menghampiri kamu” Vera menyipitkan matanya sejenak lalu tersenyum. “Formal banget ih Kakak” Bukannya membalas salaman dari Miles, Vera segera mengalungkan lengannya pada leher Miles. Memeluk dirinya dengan begitu erat. Hal ini jelas saja menambah luka bagi Miles karena dirinya tidak bisa memeluk Vera begitu erat lagi. “Aamiin, terimakasih hadiahnya Kak. Aku sempat sedih tadi, aku kira Kakak gak bakalan datang” Miles menggelengkan kepalanya kemudian menjawab. “Kakak gak mungkin gak datang di acara ulang tahun kamu. Bukankah Kakak sudah janji buat datang” Tangan Miles hendak saja ingin menyentuh punggung Vera, namun sebuah deheman kemudian menghentikannya dan segera saja melepas pelukan Vera. Wajah Vera seketika makin cerah kala dirinya melihat pemilik dari suara deheman itu. “Oh iya Kak. Kebetulan Kakak disini, aku ingin mengenalkan sesuatu ke Kakak” Vera lalu menarik lengan seseorang agar bisa berdiri disampingnya. Dua netra yang warnanya sama-sama coklat terang itu saling bertemu satu sama lain. Yang satu menunjukkan ekspresi kesalnya dan satu lagi menunjukkan ekpresi terkejutnya. “Kak Miles, kenalkan ini Kak Tybalt, kekasih aku.” “Kak Tybalt, ini Kak Miles. Pria yang aku ceritakan itu” Krek// Terdengar sebuah bunyi patahan yang begitu kuat, tapi itu bukan berasal dari patahan yang bisa dilihat kasat mata. Ini sebuah patahan betapa patahnya hati seorang pria ketika mendengar orang yang dicintainya telah memiliki kekasih. Miles dan Tybalt masih saja memandang satu sama lain dan tidak ada satu pun diantara mereka yang mau berbicara. Vera mengguncang lengan Tybalt. “Kak..” “Oh iya, Kakak gak ngenalin kamu ya. Dia ini adik kandung Kakak. Kami terpisah karena Kakak memilih untuk menetap di Italia ketimbang di Kanada. Bukan begitu, Mil?” ucap Tybalt dengan jujur. “Aku tidak menyangka kalau kekasih kamu adalah Abang kandung aku sendiri” Hanya kalimat itulah yang bisa dikatakan oleh Miles. Namun ada nada penekanan disetiap kalimat yang dia ucapkan.                 “Dunia begitu sempit. Niat awalnya aku segaja tidak menyebutkan nama Kak Miles dihadapan Kak Tybalt biar kalian langsung kenalan, siapa tau kalau kalian adalah Kakak adik. Ini membuat aku makin senang.” ucap Vera dengan raut wajah riangnya.                 Tatapan Miles seketika mengarah kepada abangnya. Demi apapun itu Bang, rasa sakit yang aku rasakan saat ini harus bisa Abang rasakan juga. Aku sudah cukup banyak mengalah kepada Abang dan kali ini aku tidak akan mengalah. ***                 Sementara Zizu hanya menatap Tybalt dari jauh ketika Vera tampak berbahagia dengan pria yang dia cintai selama ini. Entah kenapa akhir-akhir ini Zizu hanya merasakan bahwa kesedihan seakan betah menemani perjalanan hidupnya. Kehilangan ibunya, kehilangan pekerjaan dan kini dia harus kehilangan pria dia cintai.                 Pandangan Zizu perlahan mengabur, bulir-bulir air mata sudah tampak memenuhi pelupuk matanya dan siap turun bebas mengalir ke pipinya. Zizu sekuat tenaga menahannya, kedatangannya ke Italia justru menambah luka baru bagi dirinya.                 Zizu tidak bisa egois, Tybalt jauh lebih bahagia ketika bersama dengan adiknya. Tapi disatu sisi dia jelas saja belum bisa merelakan Tybalt. Dia ingin memiliki pria itu seutuhnya hanya miliknya seorang saja.                 Ya Tuhan, tidak bisakah akhirnya Tybalt hanya menjadi milikku saja. Tidak masalah kalau saat ini Tybalt memilih Vera, akan tetapi nanti Tybalt pasti menjadi milikku. Sehidup semati berdua.                 Disatu sisi ada sepasang yang sedang tampak berbahagia, disatu sisi ada pria dan wanita menangis pilu melihat orang mereka cintai sudah memiliki kekasih.                 Keduanya kompak terlihat begitu baik-baik saja, tapi didalam hati mereka sudah hancur berkeping-keping. Bnertahun-tahun mencintai dan memedam rasa berharap bahwa ada secercah harapan akan berakhir bahagia, namun siapa tau kalau ini malah menjadi akhir yang begitu memilukan.                  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD