Kenapa harus pria itu? Dari sekian banyaknya pria

2315 Words
Suara riuh tepuk tangan dan deru mesin motor sport menggema dengan begitu kerasnya. Yenzi begitu bersemangat menatap Liev yang kini melaju dengan motor biru kesayangannya bernomorkan 85. Penampilan Liev begitu memukau kala pria itu sudah beraksi di sirkuit. Satu persatu lawannya sudah tertinggal jauh di belakang dan hanya menyisakan dirinya sendiri yang berada didepan. Namun karena permukaan sirkuit basah karena hujan yang sempat turun sebentar, membuat Liev tidak bisa memacukan motornya itu dengan kecepatan lebih tinggi lagi karena itu bisa saja membuat dia kehilangan posisinya yang kini berada di garda terdepan. Yenzi tak hentinya meneriakkan semangat kepada Liev. Gio juga tak kalah antusiasnya karena dia sudah taruhan dengan teman sesama asdosnya kalau Liev akan menang kali ini, jadi dia harus menyemangati Liev sekuat tenaga agar pria itu menang. Sementara Miles tidak terlalu bersemangat di kala akhir - akhir ini dia mendapat isu kalau Vera selama ini menjalin hubungan dengan salah satu senior-nya di kampus dahulu yang kini menjadi salah satu Dokter spesialis di rumah sakit ternama di kotanya. Dia berusaha menepis rumor itu, tapi saat dia melihat belakangan ini kalau Vera tampak menghindarinya. Membuat Miles yakin kalau gosip yang beredar itu benar adanya. Selama ini dia sudah berusaha untuk bisa berdekatan dengan Vera namun siapa sangka kalau dirinya malah di tikung oleh profesi yang kini sedang di tempuh Vera untuk meraihnya, yaitu Dokter. Dia merenungi kurang apa dari dirinya bagi Vera. Semua apa yang di mau wanita itu pasti akan dikabulkan Miles secepat kedipan mata. Kasih sayang yang dia berikan rasanya sampai tumpah-tumpah saking banyaknya. Masalah status, tampang, dompet semua sudah di milikinya.             Apa yang dimiliki pria itu, sehingga aku sama sekali tidak bisa memilikimu, Vera. "Kyaaa!!!!!! LIEV MENANG!!!!" teriak Yenzi dengan begitu antusiasnya. “Kakak menang! Kakak menang! Liev Lion~ Liev Lion~” kini yel – yel kemenangan dari Liev menggema. "Yes! Aku menang taruhan kali ini" ucap Gio yang begitu senang akan kemenangan dirinya mengingat lawan Liev kali ini yang tidak main – main. Namun kebahagian itu sama sekali tidak tertular pada Miles. Dia hanya bertepuk tangan seolah senang dengan kemenangan Liev akan tetapi  menampilkan raut wajah sedihnya seakan dia ikut berkabung dengan rider lain yang tidak bisa menjadi juara kali ini. Ketiganya lalu keluar dari bangku penonton dan segera menghampiri Liev yang sudah menunggu para sahabatnya ini untuk menyambut kemenangannya. "Selamat Kak.." ucap Yenzi dengan begitu riangnya, Liev yang melihat Yenzi tersenyum bahagia seketika mengelus kepala Yenzi dengan lembutnya kemudian di balas Yenzi dengan mengalungkan lengannya pada lengan Liev. "Ini berkat usaha keras Kakak yang berlatih dengan giat selama ini” "Jangan pamer kemesraanlah, iritasi mata aku ngeliatnya" kesal Miles dan memilih untuk menatap ke arah sekitar dari pada menatap ke arah kedua sahabatnya yang terlihat sangat lengket kali ini sebatas seorang sahabat. Tidak, bukan sebagai sahabat tapi lebih ke arah sepasang kekasih. "Mood si kawan lagi jelek nih kayanya. Bahaya entar kalau kita cari perkara" sindir Gio yang kemudian memberi kode ke arah Yenzi dan juga Liev. ”Bagaimana kalau malam ini kita merayakan kemenangan Liev” usul Gio yang sangat suka dengan yang namanya pesta. “Tapi aku ada acara malam ini. Kakak kedua aku mengadakan acara ulang tahun dan aku harus datang” cicit Yenzi sedih. “Ya sudah kalau begitu besok malam bagaimana?” usul  Gio lagi. Tanpa menolak sama sekali dan dengan gaya angkuhnya Liev lalu menjawab. “Ok karena malam ini Yenzi gak bisa. Ya udah jadinya besok, karena aku habis menang balapan juga hari ini kalau gitu aku yang akan menjadi bandarnya. Kalian bisa minum dan makan sepuasnya” Yenzi dan Gio kemudian saling bertatapan satu sama lain dengan menampilkan sebuah senyuman yang dimana hanya mereka berdua mengerti. “ Aku bisa makan sepuasnya. Batin Gio. Kapan lagi aku bisa mencoba minuman. Batin Yenzi yang kali ini ingin mencoba yang namanya minuman. Karena selama ini dia masih saja dibawah umur untuk bisa mencicipi sejenis minuman yang memiliki kadar alkohol. “Terserah kalian aja deh. Aku ngikut aja” ucap Miles dengan malas. “Kabarin dimana dan kapan. Aku akan segera kesana” “Baiklah, kalau gitu aku akan cari tempat yang bagus untuk bisa merayakan kemenangan aku” Ujar Liev. *** Dokter manisku -          Kakak jangan lupa untuk datang ke acara pesta ulang tahun aku hari ini   Melihat pesan tersebut membuat Miles agak kurang bersemangat untuk memilih kado apa yang akan di berikannya kepada Vera. Lagi – lagi gossip yang beredar mengenai Vera menjadi ketakutan terbesar baginya. Dia takut kalau acara ulang tahun Vera nantinya, pria itu bisa saja datang dan menunjukkan batang hidungnya. Parahnya, Miles belum siap kalau Vera bisa berdekatan bahkan bermesraan dengan pria lain selain dirinya. Miles lalu berjalan ke walk in closet miliknya yang dimana lebih terlihat seperti toko baju dari pada sebuah rak pakaian. Semua warna dan brand ternama tergantung manis disana. Tangannya kemudian terulur mengecek pakaian apa yang akan dia kenakan. “Sedikit lebih dewasa?” monolognya yang ingin mengenakan stelan jas. Tapi dia merasa itu terlalu dewasa dan formal, tidak menunjukkan kalau dirinya masihlah seorang mahasiswa. Miles begitu pusing dengan pakaian apa yang dia kenakan. Lagi – lagi karena mood-nya yang jelek membuat dia tidak bersemangat untuk datang dan otaknya jadi tidak bekerja untuk memilih pakaian apa dia kenakan nantinya.   “Oh Tuhan, bisakah engkau tutup mata hati Vera buat pria lain dan  membuka hatinya buat aku saja?” doa Miles dalam hati dengan miris. *** Zizu merasa bingung saat memilih ada begitu banyak bentuk boneka yang ada di hadapannya kini, semuanya terlihat begitu lucu – lucu dan menggemaskan. “Menurut kamu mana yang bagus, Ty?” tanya Zizu “Kalau untuk wanita yang modelan feminim begini akan terlihat bagus.” Jawab Tybalt dan menunjuk salah satu boneka beruang yang begitu besar. “Baiklah kalau begitu aku akan pilih yang ini, selera kamu boleh juga” jawab Zizu senang. “Nanti malam adalah acara ulang tahun adikku, bisakah kamu ikut menemani aku kesana?” Tybalt tampak terdiam sejenak dengan raut wajah sedih dia kemudian berkata. “Maafkan aku, nanti malam aku ada acara juga. Mungkin lain kali aku bisa menemani kamu” Zizu menghela nafasnya dan memaksakan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. “Ya udah, gak apa. Terimakasih buat hari ini yang udah mau repot-repot ke toko boneka buat milih kado adik aku” “Tidak masalah, kamu selama ini sudah banyak membantu aku saat kuliah dahulu terutama mengetikkan tugas aku. Jadi sekarang aku mulai mencicil untuk membalas kebaikan yang kamu lakukan dulu.” ucap Tybalt yang mengingat akan masa lalu mereka dahulu. “Mn.. kenapa harus dibalas, kita juga saling membahu saat itu.” jawab Zizu yang hingga kini dia belum bisa melepaskan Tybalt dalam hatinya. Sudah bertahun lamanya pria itu menjadi pemilik hatinya dan tidak ada satu pun yang dia biarkan masuk. Padahal ada begitu banyak pria yang berusaha mendekatinya. Namun dia hanya menyukai Tybalt. Apa yang ada dalam diri Tybalt, tidak bisa dia temukan di pria manapun di dunia ini. Sosoknya begitu membekas di hatinya, terlepas terbentang ruang dan waktu serta jarak memisahkan mereka. Zizu masih menjadikan hatinya dimiliki oleh Tybalt seorang. “Kamu mau apa lagi? Biar aku temani selagi aku masih ada waktu” tawar Tybalt. “Atau kamu mau beli buku ? Aku tau kamu suka sekali dengan buku bukan ?” Zizu bukannya menggelengkan kepakanya dia malah menganggukkan kepalanya dan tidak menyia – nyiakan ajakan dari Tybalt. Karena dia tau sebagai seorang Dokter waktu luang adalah sesuatu yang begitu berharga dan ketika Tybalt ingin menghabiskan waktu senggangnya itu bersama dengan dirinya, Zizu tidak akan berpikir dua kali menolak. Mereka memutuskan untuk mengunjungi sebuah toko buku tak jauh dari mereka berada. Semua buku yang menarik perhatian Zizu sudah masuk kedalam keranjang belanjaanya dan Tybalt sama sekali tidak marah atau melarangnya karena dia tau Zizu adalah tipikal orang yang suka membaca. Jadi dia menganggap ketika Zizu membeli buku dan dia membayarnya maka dia juga mendapatkan pahala. Ada ilmu yang secara tidak langsung mengalir berkat buku yang dibelinya.   Padahal bukan dirinya yang berulang tahun saat ini, akan tetapi Zizu merasa begitu senang. Itu karena dia bisa menghabiskan waktu bersama dengan Tybalt. Hal yang sangat jarang untuk bisa mereka lakukan ditengah kesibukan keduanya masing-masing. Dimana Zizu kini menjadi seorang Dosen dan Tybalt menjadi seorang Dokter Spesialis. Puas membeli buku dan mencari kado, kini keduanya harus berpisah di parkiran. “Hati – hati di jalan Zizu” “Kamu juga hati – hatim dijalan” jawab Zizu dengan tulus. Tybalt melambaikan tangannya dan berjalan masuk kedalam mobilnya. Dia lalu menghidupkan mesin mobilnya dan membuka kaca jendelanya”Aku pergi duluan ya, gak apa kan?” “Tidak apa, pegilah. Kamu juga harus bersiap – siap bukan untuk pergi lagi” jawab Zizu. “Ya udah, kalau gitu aku pergi dulu, bye” ucap Tybalt, Zizu melambaikan tangannya dan Tybalt segera saja pergi meninggalkan dirinya. Walau Zizu merasa sedikit kecewa karena Tybalt tidak bisa datang. Zizu merasa dia tidak bisa begitu egois, pria itu juga memiliki sebuah kesibukan lain. Zizu kemudian memutuskan untuk tidak langsung datang ke acara, namun dia memilih untuk berbelanja membeli sebuah pakaian untuknya dan juga ke salon guna untuk merias dirinya serta menata rambutnya yang cukup pendek bagi seorang wanita ini agar terlihat cantik. Karena mood-nya yang jauh lebih baik dari bisanya. Jadi Zizu kali ini memilih sebuah dress berwarna soft pink untuknya yang dimana memperlihatkan sedikit punggungnya dengan potongan bawah lutut. Sederhana memang, tapi ini adalah kemajuan besar bagi dirinya yang kurang menyukai tampilan khas feminim wanita. Setelah membayar bajunya, Zizu segera ke salon langgangan adiknya. Setidaknya dia juga ingin ada sedikit pemerah menempel dipipinya. *** Manusia memang bisa merencanakan, tapi tidak tau kedepannya bagaimana, dan itu yang sedang di alami oleh Zizu. Dia sudah selesai ke salon sejam yang lalu, namun karena ada kemacetan melanda membuat dirinya datang terlambat. Berkali – kali dia melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Kegelisan kini sudah mulai menyerang dirinya. “Ya Tuhan..” cemasnya. “Kenapa harus di saat seperti ini macetnya” Zizu adalah wanita yang sangat on time jadi dengan kondisi saat ini sudah membuatnya stress. Ponselnya tiba-tiba saja berbunyi. Ketika dia melihat panggilan itu berasal dari adiknya dia segera menjawab. “Kakak dimana ?” “Maafkan kakak Yenzi, Kakak saat ini terjebak macet. Tidak tau penyebabnya apa, mungkin terjadi sebuah kecelakaan. Ya sudah kalau gitu acaranya di mulai saja tanpa Kakak” Zizu sudah berjanji pada adik tirinya itu untuk bisa datang sebelum acara dimulai, tapi dengan keadaanya sekarang Zizu mau tidak mau harus melanggar janji yang sudah dia buat.   Dengan nada yang terdengar kecewa, Yenzi lalu menjawab. “Ya udah kalau gitu, kakak hati – hati. Aku tidak ingin Kakak kenapa – kenapa. Lagian ini juga bukan kesalahan Kakak datang terlambat” “Kalau begitu sampaikan permintaan maaf Kakak ya” ucap Zizu yang tak kalah sedihnya. “Baik Kak.” panggilan pun terputus. Ingin rasanya Zizu pergi keluar dan menerobos kemacetan ini dengan berlari. Namun dia tidak bisa melakukan hal itu mengingat ada gaun yang sedang ia kenakan serta make up-nya yang akan luntur kala saja dia lari. Berjibaku dengan kemacetan yang panjang di karenakan adanya kecelakaan terjadi, akhirnya hampir dua jam lamanya Zizu bisa sampai di rumahnya yang dimana jika arus normal hanya memakan dua puluh menit dengan kecepatan sedang. Dia menghela nafasnya dengan berat, berharap kalau acara adiknya itu belum lah berakhir. Walau Zizu tidak peduli dengan keluarga baru Papanya itu, akan tetapi adik tirinya sama sekali tidak pernah merasa lelah untuk terus menghubungi dirinya bahkan sudah menganggap dirinya sebagai Kakak kandung mereka. Zizu merasa mungkin ini akan terkesan aneh, akan tetapi Zizu sejujurnya tidak membenci adik tirinya itu, karena walau bagaimanapun adik tirinya sama sekali tidak bersalah atas apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya. Jelas saja yang bersalah adalah istri baru Papanya itu dan terlebih lagi Papanya sendiri. Zizu kemudian melirik kaca tengah pada mobilnya merapikan anak poninya yang terlihat sedikit berantakan. Setelah memastikan kalau penampilannya sudah terlihat baik. Dia lalu keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam sebuah mansion mewah yang dimana sudah bertahun – tahun lamanya dia tidak tinggali lagi yaitu rumah utama keluarga Fernandes menetap. Beberapa tamu segera saja menyapa dirinya yang dimana dikenal sebagai anak tertua dari keluarga Fernandes. Anak dari pemilik rumah sakit ternama Bronislav Fernandes. Penampilan Zizu yang sangat anggun kali ini menarik beberapa pemuda yang hadir. Namun semua itu tidak ada artinya sama sekali bagi Zizu, hatinya sudah tertambat buat Tybalt dan dia tidak akan berpaling pada pria manapun. Kesetiaan dari dirinya ini tidak perlu di ragukan lagi ketika sudah bertahun lamanya dia mencintai Tybalt. Karena sudah lama tidak melihat adik nomor duanya itu. Zizu segera mencari bintang dari acara kali ini. Hingga irisnya itu kemudian tertuju pada seseorang. Darahnya seketika berdesir dengan begitu kuat. Berusaha apa yang netranya ini tangkap tidaklah mungkin akan seseorang yang dia kenali. “Kakak!” teriak adiknya itu begitu riangnya. Membuat beberapa tamu yang sedang mengobrol dengan adiknya itu seketika menoleh ke belakang. Dari sekian begitu banyak sorot mata, ada satu sorot mata yang membuat dirinya tidak tau harus merespon apa. Adiknya itu lalu berlari mendekati dirinya di ikuti dengan seseorang “Kakak! Aku sudah lama merindukan Kakak” Zizu tidak akan pernah salah mengenali orang, dia hafal betul dengan figure-nya seperti apa dan keterkejutan Zizu tidak hanya sampai disana saja kala lengan adiknya itu melingkari lengan seseorang itu. “Kebetulan kakak disini. Aku ingin mengenalkan kekasihku kepada Kakak. Kak Tybalt Huang, kekasih yang aku ceritakan itu, tapi nama dan wajahnya tidak aku beri tahu agar menjadi kejutan bagi kakak kalau aku akhirnya bisa memiliki kekasih” Kata demi kata yang di katakan adiknya itu terdengar samar – samar baginya. Zizu begitu terkejut dan masih tidak percaya bahwa pria yang selama ini dia cintai ternyata kekasih dari adik tirinya.             Dari sekian begitu banyak pria yang ada dibelahan dunia ini kenapa harus Tybalt Huang. Pria yang selama ini aku cintai, Vera.   To be continue..  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD