Sekarang sudah menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit, itu berarti sebentar lagi kelas akan di mulai. Yenzi, Liev dan Gio sudah duduk dibangkunya, dengan posisi berada di barisan tengah. Mereka sepakat untuk tidak duduk di belakang dan di depan untuk mencari aman dimana tidak akan di panggil dahulu jika disuruh mengerjakan tugas. Karena badan mereka yang tergolong tinggi, membuat mereka membagi dua kubu. Liev dan Yenzi duduk di bagian dua dari depan pinggir dan Gio dan Miles di belakang mereka. Pola duduk inilah yang tidak berubah dimanapun kelas mereka masuk.
Semuanya pada heboh dengan kegiatan masing – masing menjelang Dosen masuk, ada yang bersenda gurau, mengerjakan tugas dan juga bermaian game seperti F4 dari teknik yang ketiganya tampak heboh dengan game online mereka mainkan. Hingga seorang komandan tertinggi di kelas alias ketua kelas masuk dan memberi kode. “Ibu Zizu masuk.” Setelah mendengar itu, semua yang ada dikelas segera menghentikan kegiatan mereka dan bersiap – siap untuk menerima pelajaran.
Aura mencekam seketika menyelimuti ruangan 303. Raut wajah mereka tampak tegang, begitu juga dengan garis bibir mereka yang terlihat datar, tidak menunjukkan ekspresi ramah dan santai sama sekali disana. Buku – buku yang akan di gunakan sudah tertata rapi di meja dan segala sesuatu yang bernama ponsel dengan bentuk dan model apapun itu sudah mereka matikan. Pasalnya jika ada yang ketahuan berdering atau bermain ponsel, maka konsekuensinya bukan hanya satu orang tapi seluruh kelas yang akan menanggung bebannya.
Peraturan sudah di tegakkan sejak kontrak kuliah dan tidak ada yang berani menentang peraturan apa yang di buat oleh seorang dosen yang bernama Zizu Vencentio. Siapa saja yang berani menyela, maka Zizu akan menampilkan mata elangnya dan menunjukkan intimidasi yang begitu kuat bahwa dirinya sama sekali tidak suka di bantah.
Jika saja dengan sebuah tatapan bisa membunuh seseorang, maka sudah tak terhitung banyak korban yang sudah dilenyapkan Zizu. Semua yang menyangkut mengenai Zizu akan membuat bulu kuduk merinding baik itu tatapannya serta statusnya sebagai Dosen muda dengan segudang prestasi.
Dibalik semua kekejaman yang di miliki Zizu. Para pria akan mengesampingkan hal itu ketika mereka bisa menatap wajah Zizu yang sangat cantik. Memiliki wajah yang berbentuk oval, bibir tidak besar dan kecil namun berwarna merah muda bak mawar pink yang terlihat begitu alami dan jika kedua sudut bibir itu terangkat akan memperlihatkan dua buah gigi kelinci begitu menggemaskan, tulang hidung yang mancung, mata yang bulat bak boneka dengan warna iris iris hazel dan rambutnya berwarna coklat karamel sebahu dan memiliki kulit yang seputih s**u bersih tanpa ada noda sama sekali.
Dari semua bentuk fisik yang di miliki oleh Zizu. Beredar kabar bahwa Zizu masih memiliki darah Rusia yang di wariskan sang Ibunda dimana diketahui memiliki bibit unggul mengenai wanita berparas cantik. Ekspresi yang selalu ditampilkan Zizu tampak kesal dan tidak bersahabat namun sebenarnya Zizu terlihat wanita yang sangat cantik bak aktris.
Untuk masalah penampilan, Zizu juga tergolong bukan wanita yang suka berpenampilan formal. Dia hanya mengenakan kemeja serta jeans dan untuk sepatu sendiri dia menggunakan sepatu skets. Jika mahasiswa baru yang tidak mengenali siapa dosennya, maka mereka sepakat akan menyebut Zizu sebagai senior mereka.
Zizu memiliki prinsip sendiri dalam hal style saat mengajar. Zizu berpikiran bahwa dirinya tidak hanya berprofesi sebagai Dosen di kampus, tapi Zizu juga ikut menghandle beberapa proyek dilapangan yang menuntutnya untuk terjun langsung ke lokasi. Lagian sebagus apapun baju mereka semua akan tertutupi dengan rompi safety, sebranded apapun sepatu yang di kenakan akan tidak terpakai ketika sudah menggunakan boots khusus di lapangan. Jadi lebih baik menggunakan pakaian santai. Dan untuk drinya, tidak tepat menggunakan baju wanita yang memiliki rumbai – rumbai dan model apapun itu karena bisa nyangkut di tulangan dan akan kotor terkena semen dan juga debu serta aspal. Jadi penampilan Zizu kali ini sudah sangat pas buatnya ke kampus.
“Semuanya, kumpulkan tugas yang sudah saya berikan, tidak perlu mengantarkan ke meja saya, cukup dari bagian belakang opor kedepan. Dan bagian depan geser kesamping terus berikan ke komting” jelas Zizu dengan tegas yang membuat mahasiswanya segera saja melakukan apa yang di katakannya barusan.
Seratus tiga puluh lima menit atau 3 sks adalah mata kuliah yang harus mereka ikuti, tidak peduli betah atau tidak saat berada dikelas dan harus bisa menyerap materia apa yang disampaikan. Tak tanggung-tanggung ketika mata kuliah yang cukup berat yaitu Baja 2. Sebelumnya mereka yang bisa bersantai-santai mendapatkan Dosen yang enak di Baja 1. Kini mereka harus menjerit dalam hati untuk memahami materi Baja 2 yang jika tidak bisa menguasai dengan baik, maka akan kesulitan memahami Baja 2, dan itu yang sedang mereka alami saat ini.
Tak terasa waktu yang begitu Panjang seakan setiap detiknya adalah jam bagi mahasiswa yang sedang di ajarkan Zizu pun berakhir. “Saya tidak mau tau, tugas yang saya berikan harus di kumpulkan tiga hari lagi dan antarkan di meja saya tepat jam delapan. Batas akhir pengumpulan adalah delapan lima belas. Jika telat dari itu maka tugasnya akan saya anggap nol. Apa kalian paham?”
Menangis.
Hal itulah yang ingin dilakukan mahasiswa yang ada didalam kelas Zizu saat ini ketika mendengar tugas yang begitu berat itu harus segera diselesaikan. Namun dengan berat hati mereka kemudian serentak mengatakan paham. Zizu yang mendengarnya kemudian mematikan macbook miliknya dan mengemas barangnya cepat. “Baiklah, saya rasa sampai disini dulu pertemuan kita. Selamat siang”
Langkah yang begitu mantap, Zizu kemudian keluar dari kelasnya. Secara perlahan mahasiswa yang lain juga ikut keluar dari kelas dengan menghela nafas berat mereka seakan mereka sudah diberi beban yang begitu berat untuk mereka pikul. Tidak ada hari mereka bisa tidur tanpa diberi bayangan tugas sejak menyandang status sebagai seorang mahasiswa.
Liev yang sudah berusaha untuk tidak menatap Yenzi, akhirnya bisa menatap Yenzi dengan leluasa. “Gila, leher aku kram banget, lain kali aku akan bawa koyo, terus aku tempel di leher. Pegal banget harus natap ke depan terus.”
“Cara mengajarnya enak sih, Aku gak nyangka aja ternyata penyampaiannya juga mudah di mengerti” bukannya mengeluh, Gio malah memuji Zizu dengan senang. “Kemaren karena aku gak pakai kacamata kali ya, jadi aku gak memperhatian kalau Bu Zizu ternyata ok juga, Bu Zizu kelas premium banget ini mah.”
Yenzi yang mendengarnya kemudian memukul lengan Gio. “Kakak puji wajahnya atau cara mengajarnya?” Gio hanya terkekeh. Dia tidak akan mungkin membahas hal begini di kelas terlebih lagi ini adalah Kakak dari Yenzi.
“Ayo kita ke kantin buat makan” ajak Gio dan segera saja di anggukin oleh dua orang di depannya ini. Liev lalu merangkul bahu Yenzi dengan begitu akrabnya, sementara Gio berjalan lebih dahulu seorang diri.
Setiap kali mereka berjalan, maka akan ada wanita yang menatap mereka dengan tatapan lapar dan kagum. Bukan hal baru lagi ketika mereka menjadi pusat perhatian di kampus. Siapa yang tidak mengenal F4 Teknik. Personilnya itu adalah anggota high class yang tidak main – main. Kaum rakyat jelata biasa menangis melihat kemewahan yang terpancar begitu jelas diantara Genk Teknik Vikesha. Sebuah nama genk yang beranggotakan Miles, Yenzi, Liev dan Gio.
Miles Huang, sang leader dari Vikesha yang juga tertua diantara genknya. Hobi olahraga apa saja, tapi lebih menyukai basket dan bermain golf. Bahkan namanya sudah terdaftar menjadi salah satu atlet nasional dalam olahraga golf. Mendapat predikat campus badboy karena hobi bolos di kelas dan jarang mengikuti pratikum. Ayahnya adalah seorang Perdana Menteri terkenal dan Universitas dia berada sekarang adalah milik dari ibunya yang merupakan salah satu orang berpengaruh di negaranya. Untuk masalah tubuh dan wajah tidak perlu di ragukan lagi, wajahnya begitu tampan dengan ada dumple kecil di pipinya ketika tersenyum, tingginya juga di atas rata – rata yaitu 189cm dan masalah otot jangan diragukan lagi semua terbentuk dengan bagus dan tidak berlebihan terutama di perutnya yang memiliki delapan kotak tahu disana.
Zeno Grigori, tertua kedua di Vikesha. Paling pintar dari yang lain sehingga dia menjadi beberapa asisten dosen di kampus. Pelit kalau udah menyangkut dengan keuangan, padahal ayahnya adalah jendral panglima ternama dan ibunya adalah seorang pengusaha tas terkenal. Hobinya makan, terkadang sahabatnya ragu dan cemas, apa pria ini cacingan atau lambungnya yang tidak ada batas sama sekali, karena semua makanan masuk aja di mulutnya dan tidak ada kata kenyang. Jadi wajar terkadang mereka menyebut Gio dengan bakul nasi alias rice cooker.
Liev Maksimilian, tertua ke tiga. Kalau masalah emosian jangan di tanya, tensinya selalu di atas dua ratus. Peredaran darahnya lancar banget mengalir seperti air bah jadi bisa di bayangkan bagaimana pemarahnya Liev. Namun seperti di siram oleh es yang begitu banyak, emosinya yang meledak – ledak itu akan padam ketika sudah menyangkut Yenzi. Otaknya memang pas – pasan, tapi dia bisa sangat di andalkan terutama mengenai jadwal. Maka dari itu dia dijuluki alarm. Setiap ada tugas, deadline-nya kapan dan dimana harus di kumpulkan, serta di mana kelas mereka akan masuk, Liev akan selalu mengingatkan. Kalau untuk masalah tampang, wajahnya beda tipis dengan Gio walau dia terlihat garang dan bawaannya kesal mulu. Namun memiliki kulit paling bersinar dari yang lainnya. Hobinya adalah mengikuti street dance, bermain skateboard, serta salah satu pembalap kelas 250cc. Mengenai latar belakang, Ayah Liev merupakaan Keduataan Besar Perancis dan Ibunya yang juga satu profesi dengan Ayahnya merupakan Keduataan Besar Peru.
Terakhir, anggota yang termuda dan juga seorang wanita satu – satunya karena saat duduk di bangku menengah pertama dan akhir, Yenzi Fernandes atau dipanggil Yenzi ini pernah ikut kelas akselarasi yang membuat dirinya lebih muda dari pada anggota yang lain. Yenzi sendiri lebih suka dengan potongan rambut pendek ala boys flower gitu, yang membuat dia terlihat tampan dan cantik dalam satu waktu. Wajahnya juga terlihat polos dan seperti anak – anak smp ketimbang mahasiswa. Jadi tidak heran kalau Liev sangat protektif kepada Yenzi dimana ada begitu banyak penggemar Yenzi yang secara terang – terangan menyatakan cinta kepadanya. Dari mereka semua, Yenzi lah yang bersikap ramah kepada fansclubnya dikampus. Tidak hanya itu saja, Yenzi adalah anak bungsu dari Kepala Rumah Sakit terkenal dinegaranya dimana Rumah sakit itu adalah milik kakeknya.
Semua genk Vikesha terlihat begitu sempurna dengan segala kesempurnaan yang mereka miliki. Tapi ke empatnya malah menganggap diri mereka tidak sesempurna yang orang lain pikirkan. Saat kesempurnaan yang orang lain lihat itu sama sekali tidak bisa membalas cinta mereka. Jadi tidak heran kalau status ke empatnya masihlah menyandang status sendiri.
Yenzi mempoutkan bibirnya, membuat pipi putihnya itu terlihat menggembung. “Kak Miles lagi-lagi gak masuk kelas. Padahal tadi katanya mau masuk. Janji busuk aja nih Kak Miles.” keluhnya.
Liev yang kini menyandarkan sebelah tangannya di bahu Yenzi kemudian menyahut. “Aku akan menghubunginya kalau begitu, walau aku tau alasannya pasti ini karena Vera.” Ia segera saja menekan layar ponselnya dan menghubunginya.
***
Miles masih setia duduk di dalam mobilnya sembari bermain game online. Dia mencurahkan semua kebosanannnya pada game kesayangannya itu. Hingga akhirnya sebuah panggilan membuatnya terpaksa harus mengalah, sebab sebuah panggilan dari ‘Alarm Hidup’tertera pada nama kontak yang memanggilnya, membuatnya mau tidak mau harus menjawab.
“Ya” jawabnya dengan malas.
“Lu udah bosan hidup? Lu gak masuk tadi kupret” cerocos Liev dengan nada kesalnya.
“Sorry, tadi Vera mobilnya mogok dan aku membantunya untuk mencari bengkel dan mengantarnya ke kampus. Waktu aku mau masuk, udah telat banget. Ya udah aku gak masuk sekalian saja, lagian jatah aku masih adakan?. Minggu depan aku janji aku bakalan masuk” jawab Miles santai seakan itu bukan masalah besar baginya.
“Aku gak mau tau, minggu depan kakak harus masuk” Celetuk Yenzi yang merasa jengkel dengan sikap Miles. Mereka tidak melarang kalau Miles bersama dengan Vera, hanya saja mereka ingin lulus bersama. Jadi mau tidak mau mereka harus bahu membahu satu sama lain agar bisa lulus bersama.
“Maafkan aku Yenzi, aku janji kalau minggu depan aku akan masuk. Lu bisa pegang kata – kata aku” kini nada bicara Miles terdengar begitu antusias, namun antusias dari Miles segera dipatahkan oleh Gio. “Janji Miles bisa di pegang apapun itu, tapi tidak jika sudah menyangkut ada nama Vera disana. Mau jalan kebelah dua juga bakal di sebranginya jika Vera yang menyuruhnya untuk datang dan membatalkan janji yang sudah dibuat sebelumnya”
“Wah ngomongnya gak ada akhlak memang. Tapi emang benar sih demi Vera akan aku lakukan. Ya udah kalau gitu aku matikan dulu, aku mau nunggu Vera, siapa tau dia udah keluar dan tidak melihat aku” sebelum ketiga temannya menjawab, Miles lebih dahulu memutuskan sambungannya.
Dia lalu melirik jam yang ada di ponselnya. Ini sudah dua jam lebih dia menunggu Vera dan wanita itu sama sekali tidak memberinya kabar. Tak ingin mengganggu saat kuliah, Miles hanya menunggu diam didalam mobil, walau dia sangat ingin mengechat untuk menanyakan kenapa wanita itu belum pulang. Padahal dirinya sudah menungu sangat lama untuk menjemput pulang dan mengajak makan siang bersama.
Sebuah pesan kemudan masuk kedalam ponselnya.
Dokter manisku
- Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa pulang bersama dengan kakak, aku sudah janji pulang bersama dengan yang lain.
- Maaf ya Kak Mil
Miles menghela nafasnya, dua jam lebih dia menunggu dan ternyata Vera lebih memilih untuk pulang bersama dengan yang lain.
Sesak rasanya bagi Miles lalu dengan raut wajah sedih dia kemudian menghidupkan mesin mobilnya dan melajukan mobil SUV kesayangannya itu keluar dari area kampus Vera.
Ini bukan sekali dua kalinya dia diperlakukan seperti ini. Tapi Miles sama sekali tidak marah kepada wanita yang dia cintai sudah bertahun lamanya. Lagian statusnya bukanlah kekasih Vera, jadi tidak mungkin bisa dia marah atau cemburu atas apa yang sudah Vera lakukan kepadanya selama ini.
To be continue..