Marina membuka pintu kamar Xella. Wanita itu bukan sengaja kepo. Dia menunggu anak dan mantu sarapan. Sarapan dengan sayur kangkung dan ikan asin. Sangat sederhana, Marina sengaja tidak memberikan hal spesial—mengetes Sakha di hari pertama menjadi menantunya.
“Alhamdulillah,” gumam Marina memanjatkan doa. Sebelum menutup pintu kembali wanita itu menyempatkan mengabadikan di ponselnya. Kenang-kenangan supaya nanti bisa diperlihatkan ke Xella sekalian menjadi bahan ledekan. Marina terkekeh sendiri membayangkan wajah masam sang putri karena isengnya.
Wanita paruh baya itu pergi, sarapan sendiri karena harus ke pasar belanja. Tak enak rasanya jika tidak ada syukuran. Marina berencana membagikan nasi kotak ke tetangga.
***
“Lo masak?”
Xella abai. Menonton TV sambil makan buah pepaya yang sudah dikupas oleh Marina. Sekilas melirik saat Sakha duduk di sebelahnya merebut piring berisi pepaya.
“Kalau lapar itu makan bukan rebut punya orang,” ujar Xella bangkit meninggalkan suaminya.
Tak lama kemudian sosok Sakha membuntuti, duduk di meja makan persegi dengan empat kursi saling berhadapan. Sengaja Sakha duduk di depan Xella bukan di sebelahnya. “Lo masak?” tanya laki-laki itu, sekali lagi.
“Nggak. Gue bangun 10 menit duluan daripada lo. Mama yang masak,” jawabnya mendengus. “Makan tinggal makan nggak usah ribet.”
Sikapnya itu menyembunyikan rasa malu saat bangun tidur dialah yang menguasai tubuh Sakha. Untung saja Sakha tidak tahu, kalau sampai tahu bisa-bisa jadi bahan bully-an laki-laki itu.
Xella berdeham kecil, meraih segelas air putih. Matanya berkeliling demi menghindari tatapan Sakha kepadanya. Xella tidak biasa sampai diperhatikan seperti itu, dia malu. “Kita bolos nggak, sih?”
“Bunda atur cuti kita berdua, seminggu.”
“Lah? Ngapain cuti selama itu?” Xella merespon cepat.
“Honeymoon,” jawab Sakha santai seolah sudah jadi hal biasa. Namun, tidak bagi Xella yang langsung tersedak usai meletakkan gelas langsung mengangkat gelas lagi dan minum dengan tergesa-gesa. Kagetnya Xella, tingkah lucunya Xella tanpa sadar membuat sudut bibir Sakha tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman kecil.
“Kenapa lo biasa saja?” tanya Xella menggebu-gebu menepuk dadanya yang sesak. “Lo yang merencanakan ini?”
Pletak!
Tanpa segan Sakha menjitak kening istrinya. “Fitnah mulu jadi orang.”
Xella mendesis lalu menatap tajam suaminya. "Gimana gue nggak curiga kalau sejak awal tindakan lo tuh kayak gerakan bawah tanah. Nggak ada yang tahu, gue curiga karena antisipasi."
"Ya-ya-ya. Antisipasi sialan. Gue nggak sepicik itu, lagian setelah dipikir-pikir ada baiknya juga siapa tahu pulang-pulang ngasih cucu—WADAW ampun buset tenaga lo samson banget, La!"
Sakha mengaduh seraya mengusap rambutnya yang dijambak oleh Xella bahkan dengan bangga gadis itu memamerkan hasil jambakannya. Rambut brokoli Sakha nyangkut di sela-sela jari Xella.
"Jadi istri anggunly, La. Untung suaminya gue, kalau suami lo Sathir bisa-bisa pingsan dengan perlakuan lo."
***
"Mama belanja banyak banget kenapa nggak ngajak aku, sih? Aku kan bisa bantu bawain," ucap Xella membuntuti sang ibu yang ke teras hendak membayar bajaj akan tetapi, Sakha sedang melakukan transaksi dengan uang berlembar-lembar.
"Ambil saja, Pak," ucap laki-laki itu balik badan. "Nggak pa-pa, Mah. Seharusnya bilang ke Sakha biar dianterin."
Marina tersenyum, menatap menggoda anak kandungnya yang cemberut. "Makasih, Nak Sakha. Repot-repot segala. Mama sudah biasa ke pasar sendirian."
"Lanjutin-lanjutin," katanya merujuk kepada Sakha yang tadi sedang bongkar-bongkar motor. "Mama mau susun belanjaan. Xella suaminya temenin, ya."
Marina mengusap rambut anaknya lalu berlalu meninggalkan Sakha dan Xella yang berhadap-hadapan.
"Apa?!" Xella sewot lalu duduk di kursi plastik yang ada di teras melihat Sakha yang melanjutkan otak-otak motor. Entah kapan datangnya Xella tidak tahu karena semalam tidak ada motor ini.
"Lo nggak masalah kalau ke mana-mana dibonceng motor, 'kan?" Sakha menoleh ke belakang. "Gue bukan Sathir yang ke mana-mana naik mobil."
Gara-gara pembahasan Sathir membuat Xella badmood. Sakha? Jangan ditanya. Laki-laki itu acuh saja padahal dia sedang mengolok-olok adiknya sendiri. Pagi-pagi sudah ribut meminta supir keluarganya untuk mengambil motornya di bengkel lalu membawanya ke rumah sang mertua.
"Lo kenapa selalu bawa-bawa Sathir, sih? Lo ada masalah keluarga jangan bawa-bawa gue, Ka."
"Loh?" Sakha berdiri menjatuhkan baut lalu melangkah menghampiri Xella. Laki-laki itu duduk di bawah kaki istrinya, di lantai, ngemper. "Sekarang lo kan keluarga gue."
“Ah tahu, deh! Kesal banget ngomong sama lo.”
“Mau ke mana?” tahan Sakha memanjangkan tangannya ke kursi membuat pergerakan Xella terkunci lalu kembali duduk. “Gue mau ngomong.”
Xella mendengus, tapi tenang. Tidak grasak-grusuk berusaha lepas karena sadar Sakha bukan lawannya. “Apa?”
“Lo keberatan kalau kita pindah? Maksudnya kita nggak mungkin tinggal sama orang tua. Lo paham sama omongan gue, ‘kan?”
“Mau tinggal di mana?”
Diluar dugaan respon Xella bijak tidak ngajak gelud.
“Di apartemen gue.”
“Oh … ya udah,” putus Xella enteng.
“Lo nggak kecewa? Maksud gue kita tinggal di apartemen, berdua, bukan di rumah orang tua gue rame-rame.”
“Nggak, tuh,” balas Xella. “Justru lebih baik memang tinggal berdua. Kita nggak perlu sandiwara di depan orang tua.”
“Iya.”
Sakha memperhatikan punggung kecil istrinya yang perlahan ditelan dinding. Tubuhnya menyandar ke kursi bekas diduduki oleh Xella.
Tangannya meraih ponsel yang ada di meja plastik. Mengetik sebuah pesan kepada seseorang lalu beranjak saat pesannya sudah terbalas. Laki-laki itu masuk ke dalam rumah, langsung menuju kamar saat melihat aktivitas istri dan mertuanya di dapur. Benar kata Xella bahwa mereka perlu privasi dari orang tua.
Jika Xella berpikir bahwa Sakha tidak bisa hidup susah di rumahnya maka jawabannya salah. Sakha tidak masalah walaupun bibirnya kerap kali mengatai fasilitas rumah ini yang terbatas. Seperti tadi pagi saat hanya ada berdua saja terang-terangan Sakha memaki karena mandi dengan air dingin disaat biasanya mandi pun dilayani.
Sakha hanya ingin berdua?
Entahlah. Ide yang datang dadakan.
"Nak Sakha mau ke mana?" tanya Marina saat Sakha menghampiri ke dapur sudah rapi dengan hoodie dan celana pendek. Laki-laki itu ke kamar ganti baju terus keluar tidak lama kemudian.
"Mau ke bengkel sebentar, Ma," jawab laki-laki itu mengulurkan tangan. Namun, pandangannya mengarah kepada Xella.
"Sama Xella? Sana siap-siap, padahal Mama sudah bilang bisa menata sendiri."
"Loh eh, Ma? Nggak, kok," bantah gadis itu karena Sakha memang tidak mengajaknya dan dia juga nggak mau berinisiatif ikut-ikutan.
Dua orang ini memang aneh dan ajaib. Yang cewek takut ikut-ikutan tanpa diajak, sedangkan yang cowok mau ngajak, tapi gengsi. Alhasil beginilah. Dorong-dorongan dengan Marina lalu Xella kalah. Pasrah masuk kamar berganti baju.
"Xella emang gitu, gengsi. Saran Mama kamu paksa-paksa saja soalnya nunggu dia mau pasti kelamaan."
Sakha senyum-senyum nggak jelas. Semacam nggak jelas juga sama otaknya yang mikirnya ke mana-mana. Dipaksa, ya?