Bab 7. Solusi Ampuh

1119 Words
“SAH!” Suara bergema dengan saksi warga sekitar. Yang menikahkan adalah Pandora. Pria itu sampai membatalkan flight ke Bali saat rekan kerjanya menghubungi secara pribadi mengatakan kabar yang sangat mengejutkan. Pernikahan dadakan tidak ada yang bisa mencegah. Baru menikah secara agama, belum didaftarkan secara hukum mengingat waktu yang sangat singkat. Nyatanya celetukan Shifkha menjadi solusi ampuh kedua keluarga. Saksi yang datang dipimpin oleh ketua RT dan warga-warganya. Pradana tidak tanggung-tanggung meminta saksi satu kampung bahkan dengan entengnya memberi amplop sebagai ucapan terima kasih yang tidak tanggung-tanggung. 500 ribu untuk satu orang. Bisa dibayangkan berapa uang yang dikeluarkan Pradana. Belum lagi mas kawin berupa aset jalan berupa bengkel. Pernikahan yang membuat warga gempar karena sederhana, tapi mematok budget yang luar biasa besar. Kedua pengantin yang duduk di sofa panjang saling diam karena tidak ada kegiatan penting. Bahkan cincin pun belum ada. “Kalau sekalian diukir nama kira-kira bisa dikirim malam ini nggak, Lau?” tanya Merida kemudian mengangguk-angguk puas lalu menutup teleponnya. “Dua jam lagi cincinnya datang. Aduh. Foto-foto biasa saja nggak pa-pa ‘kan, Sayang? Besok kita foto di studio atau gimana kita langsung bikin resepsi?!” “Bunda,” sela Shifkha. “Xella syok loh.” “Eh sorry. Excited banget soalnya. Abangmu sudah married, terus kamu kapan, Kak?” “Bunda ….” “Bercanda, Kakak.” Interaksi ibu dan anak yang menyita perhatian Xella. Gadis itu mengulas senyum tipis. Marina pun turut bahagia dan lega karena Xella sudah menikah. Seakan sudah menitipkan anaknya ke tangan laki-laki yang tepat. Yang kelak akan membahagiakannya tanpa Marina tahu ada perjanjian dibalik pernikahan ini yang tidak diketahui oleh semua orang. Andai Marina tahu alasan Xella menikah dengan Sakha sebagai ajang balas dendam, mungkin pernikahan ini akan ditentang. *** “Dadah! Abang jangan usulin istrinya, ya!” pesan Merida di dalam mobil seakan tidak rela meninggalkan gadis yang baru saja menjadi menantunya. Tentu Sakha tinggal malam ini karena statusnya sudah jelas. Mobil Pradana pergi dari halaman rumahnya. Tersisa empat orang saja. Marina, Pandora, Sakha, dan Xella. Marina masuk lebih dulu dengan alasan membereskan gelas padahal Pradana sudah mempekerjakan orang untuk mengurus kebersihan rumah besannya. Itu hanyalah alasan saja karena enggan berlama-lama dengan mantan suaminya. “Xella,” panggil Pandora menatap penuh tepat pada manik mata sang putri. Melihat bahwa Xella dan Pandora butuh waktu membuat Sakha sadar diri masuk ke rumah. Laki-laki itu semena-mena di rumah mertuanya. Langsung masuk ke kamar Xella, pun Marina tidak mempermasalahkan karena mereka sudah menikah. “Rasanya Ayah baru saja bermimpi menikahkan putri kecil Ayah. Ayah masih ingat pertama kali menggendongmu ketika baru lahir dan sekarang sudah menikahkan kamu. Ayah tahu tanggung jawab sebagai seorang ayah hilang sejak lama, tapi Ayah lega karena kini laki-laki yang menjadi pilihanmu akan membahagiakan kamu melebihi Ayah.” Tidak ada balasan apa pun dari Xella. Wajahnya memang tidak berpaling, tapi enggan menyahut. “Ayah pulang dulu, ya. Masuklah, di luar dingin.” *** “Kayaknya bokap lo sedih banget deh anaknya nikah. Nggak mau peluk dulu gitu? Sekali-kali biar bahagia.” “Lo pikir lucu?” Tanggapan Xella menutup pintu kamar tanpa menguncinya. Kalau terjadi apa-apa di malam pertama supaya bisa langsung kabur dari kamar. “Gue cuma nebak dan kasih saran,” ujar Sakha mengendikkan bahunya acuh. Kembali terlentang memenuhi ranjang kecil Xella membuat gadis itu berdecak sebal karena posisinya pasti akan sangat dekat. “Kita nggak mungkin tidur bareng, ‘kan?” tanya Xella memicing curiga. “Jangan mengambil kesempatan!” “Wajar. Kita sudah nikah. Masa gue tidurnya sama nyokap lo, sih? Sarap, ya?!” “Argh! Lo tidur di lantai, Ka. Gue nggak mau tidur seranjang sama lo.” “Ogah banget.” Sakha semakin memeluk guling. “Kalau mau sini tidur, kalau nggak mau lo aja yang di lantai. Gue nggak mau tidur sama tai katak.” Belum semalam menjadi suaminya sudah membuat Xella menahan emosi. Gadis itu melayangkan tangannya meninju udara. Memilih keluar dari kamar dan berpapasan dengan Marina yang hendak ke dapur. “Kok keluar lagi?” “Ambil air, Ma,” jawab Xella spontan. “Nggak bawa botol?” Ketahuan bohong. Mata Xella memohon pada sang ibu. “Aku tidur di kamar Mama, ya?” “Loh?” “Aku belum siap, Ma. Kita nggak mungkin tidur bareng. Itu sangat nggak mungkin, Ma.” “Kalian pacaran, ‘kan? Saling suka dan … kamu nggak sedang menyembunyikan sesuatu, ‘kan?” Xella menggigit bibir dalamnya kencang menahan diri tidak mengumpat karena tersadar baru saja membuka celah kecurigaan sang ibu. Tiba-tiba ketika sedang buntu dan gelisah seseorang datang langsung merangkul bahunya, nyengir. "Xella ketakutan aku apa-apain, Ma. Makanya dia kabur. Aku disuruh di bawah, Ma." "Kalian ... nggak malu ngomong gini di depan Mama?" tanya Marina terbelalak. Malu sendiri. Padahal Sakha sedang membicarakan posisi tidur. Bukan makna tidur dengan tanda kutip. Setelah Marina pergi Xella langsung menyikut perut Sakha membuat laki-laki itu mundur dua langkah. "Sama-sama." "Bodo amat." Dengus Xella. "Bikin malu aja!" "Woy-woy gue datang di waktu yang tepat. Coba kalau gue nggak datang lo mana mungkin bisa ngelak. Lo kan orangnya lurus. Jangan-jangan lo siap bongkar rahasia di depan nyokap." "Nyokap gue, Sakha!" bantah Xella memberi koreksi tegas. "Mertua gue, kok." Sakha juga tak mau kalah beradu argumen dengan istrinya. Suami? Istri? Geli sekali membuat Xella menepi saat Sakha brutal masuk kamar. Misuh-misuhnya Sakha sangat berbanding terbalik dengan Sakha yang trouble maker. "Sekarang kita bahas posisi tidur," putus Sakha berkacak pinggang memindai ranjang. Menghitung panjang dan lebarnya tanpa berucap. "Harusnya muat. Badan lo kecil. Gue bisa tidur miring sampai pagi. Yang dibikin susah karena lo banyak aturan, La." Xella memutar kedua bola matanya jengah. "Gue aja yang tidur di bawah daripada tidur sama lo," ucap gadis itu membuka lemari kayu yang nampak usang. Sekali tonjok keroposnya bakalan ambruk. Xella membentangkan sprei cadangan yang warnanya pudar di lantai tanpa peduli dengan Sakha yang menatapnya dalam hening. Hanya ada satu bantal dan satu guling membuat gadis itu bingung ambil bagian yang mana. Xella nggak bisa tidur tanpa meluk guling, alhasil menyisakan bantal untuk Sakha dan dirinya tidur dengan guling. Sedari tadi hening tidak ada percakapan apa pun. Sakha pun memperhatikan tanpa menegur lalu membiarkan selama sepuluh menit berdiri mengamati Xella yang tidur meringkuk seperti bayi. Laki-laki itu menghela napas jengah dengan perdebatan unfaedah ini. Dia menunduk lalu mengangkat tubuh mungil Xella dalam gendongannya ke atas ranjang. Pekikan gadis itu disertai berontakan tidak dipedulikan. “Tidur atau mau gue tidurin?!” ancam Sakha telak membuat Xella diam takut. Wajah Sakha sangat tidak bersahabat. Xella pun diam saja dipeluk Sakha, dijadikan guling dadakan. Mereka tidur dengan satu bantal untuk dua kepala meninggalkan guling di lantai. “Mau gue tidurin beneran?” tanyanya meniup poni gadis itu saat masih melek memperhatikan Sakha dari bawah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD