Bab 6. Sama-sama Diuntungkan

1077 Words
Xella dikurung. Ibunya kecewa berat karena pergaulannya sudah sejauh itu. Syoknya Marina bukan hanya mengurung Xella, tetapi juga menyita ponselnya. Xella yang di kamar melamun memandangi paper bag yang isinya belum terjamah, baju Marina juga sudah disiapkan oleh Merida dan belum dikasihkan ke wanita itu. Dalam lamunannya Xella tersentak saat bayangan hitam seperti sedang ngedepes—menempel di tembok dekat jendela kamarnya. “Siapa di sana?” Bunyi grasak-grusuk, congkelan dan tidak lama kemudian jendelanya terbuka, ke atas disusul dengan sosok laki-laki yang meloncat ke kamarnya. “He-he.” Orang itu cengengesan menatap Xella bahkan terang-terangan memberikan kiss dari jarak jauh. “Takut, ya?” “Kriminal.” “Emang,” sahut Sakha santai. Ya, orang itu adalah Sakha yang mengenakan hoodie dan celana selutut. “Gue telepon lo nggak diangkat, nomor gue nggak diblokir, ‘kan?” Xella mendengus. Memilih menutup jendela dan gordennya. Lampu yang tadinya nyala terang-benderang langsung dimatikan oleh Xella. Pintu kamarnya sudah dikunci dari luar oleh sang ibu. “Eits … mau ngajak kawin, ya?” “Mulut lo dijaga!” sentak Xella. “Gue jaga-jaga siapa tahu orang ronda ngeliat bayang-bayang di kamar gue.” “Oh ….” Sakha mengangguk sok peduli. “Padahal nggak pa-pa kalau digrebek warga biar sekalian dinikahin.” Xella memilih mengabaikan. Sakha tidak akan berani berbuat asusila walaupun track record laki-laki itu sangat toxic. Yang terjadi di toilet kampus karena kesengajaan Sakha untuk menjebaknya. Permainan yang mudah ditebak, hanya saja Xella tidak tahu tujuan laki-laki itu. “Ngapain ngeliatin gue.” “Ngapain ke kamar gue?” Mereka bertanya bersamaan membuat Sakha terkekeh dan Xella membuang muka. Duduk di meja belajar kunonya sedangkan Sakha berbaring menyamping di ranjang kecil gadis itu. “Kita bikin kesepakatan. Gue rasa kalau lo nikah sama gue … kita sama-sama diuntungkan untuk balas dendam?” “Maksud lo?” “Gue tahu hubungan lo dan bokap nggak baik. Hancur banget, ya, La? Dengan kita menikah lo menghancurkan satu orang yang bikin keluarga kalian retak. Zoey suka sama gue, tapi lo nikah sama gue.” “Keuntungan untuk lo apa, Ka?” tanya Xella selidik. Dia tidak bisa menerima kerjasama begitu saja tanpa tahu tujuan laki-laki itu. “Seks?” “BERENGSEK LO!” Teriakan Xella disusul dengan bunyi kunci yang diputar lalu tak lama setelahnya pintu terbuka disertai dengan lampu menyala. Marina berdiri di depan pintu, tetapi arah pandang Xella menuju ke ranjangnya yang sudah kosong. Tanpa sadar dia mengembuskan napas lega. “Kenapa teriak-teriak? Sana mandi! Pakai baju yang bagus karena keluarganya Sakha mau ke sini.” Marina datang karena saat melewati kamarnya mendengar teriakan sang anak. Memastikan lalu pergi lagi, kali ini tidak dikunci. “Sial jantung gue.” Xella balik badan, menunggu Sakha muncul dari kolom ranjang. Ke mana lagi ngumpetnya selain tempat strategis bersama tikus. “Bisa-bisanya lo betah tinggal di tempat seperti ini iyuh! Ada telur kataknya!” pekik Sakha lebay jingkrak-jingkrak mengibaskan lengannya. Hoodie seharga jutaan terkena kotoran yang nampak asing. Tanpa peduli dengan tubuhnya yang telanjang laki-laki itu melompat ke jendela meninggalkan hoodie begitu saja. Pergi tak diundang pulang tak diantar. Sudah seperti jelangkung dan Xella hanya memperhatikan lalu kembali menutup jendela. Memungut hoodie laki-laki itu lalu dimasukkan ke keranjang baju kotor. Xella pernah kaya. Bohong jika dia langsung nyaman tinggal di tempat kecil seperti kontrakan ini, semua butuh adaptasi. Namun, mau bagaimana lagi. Awalnya Xella tidak terima saat ibunya menolak harta gono-gini, tetapi setelah tahu bagaimana ibunya berulang kali ingin bunuh diri dia pun merendahkan egonya. Menerima tersisa. Dan rasa kecewa terhadap ayahnya semakin hari semakin besar. Apalagi melihat ayahnya hidup bahagia tanpa peduli dengan Marina yang bangkit seorang diri. Mengingat adik tirinya yang bebas keluar negeri membuat tekad Xella bulat. Dia akan membalasnya lewat orang lain. Katakanlah licik karena menggunakan power Sakha untuk menyakiti orang lain. “Kita lihat apakah setelah ini lo masih bisa sombong di depan gue.” Xella smirk. *** “Saya tidak menyangka kita akan menjadi besan, Marina. Kita sudah kenal lama, tapi baru punya kesempatan main ke rumah dan sekalinya main langsung melamar anakmu,” ujar Merida sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangan Marina. Dua wanita itu temu kangen. Dulu saat Marina masih menjadi istri sultan mereka seringkali bertemu di acara-acara penting. Kini pertemuan setelah sekian lama saat Marina sudah melarat. Bekerja di butik Merida pun tidak pernah bertemu. Marina bekerja dari rumah sedangkan Merida sibuk dengan sosialitanya. “Aku kurang memperhatikan sama karyawan butik. Aku pikir bukan Marina kamu.” “Tidak pa-pa. Aku lebih senang tidak dikenali soalnya kita sudah berbeda.” “Hus! Jangan berpikir begitu.” Kabar perceraian sudah menyebar di kalangan sosialita. Merida berbeda dari ibu-ibu yang lain ketika mengasihani Marina yang sok menolak harta gono-gini. Merida bahkan terkesan tidak menyinggung perceraiannya. Fokus pertemuan mereka adalah anak-anak. Jika dua ibu-ibu sedang temu kangen maka berbeda dengan Pradana—Dana—yang memperhatikan kos milik mantan istri rekan kerjanya. Tatapan Dana jatuh pada gadis yang diam saja dengan kepala menunduk. Dia adalah Xella. Xella tidak banyak bergerak karena merasa mati kutu. Padahal yang datang hanya Shifkha. Beruntungnya karena Sathir tidak datang. Tak bisa membayangkan kehadiran Sathir semakin membuatnya blingsatan. Bagaimana pandangan laki-laki itu terhadapnya ketika mendapati dirinya melemparkan diri kepada kakaknya untuk balas dendam dan mengesampingkan perasaan hatinya. “Oh iya, Ayah mau ngucapin sesuatu?” tanya wanita paruh baya yang menoleh ke samping. Suaminya diam sedari tadi. Pradana menggeleng. Dia tidak banyak bicara. Sepertinya juga sudah diwakilkan oleh Merida. Semuanya sudah diserahkan kepada Sakha. Anak itu yang harus bertanggungjawab sendiri atas tindakannya. “Sakha,” panggil Pradana. Sakha mengangguk mengerti. Berdeham sekali untuk membasahi kerongkongannya yang kering. Pertemuan ini tanpa kehadiran Pandora selaku ayah kandung gadis yang akan dipinang. “Tante Marina, aku minta maaf karena sudah mengecewakan Tante. Di sini aku yang salah bukan Xella.” Permulaan Sakha dengan pembawaan yang tenang, mungkin jika situasinya tidak sedang serius dengan senang hati akan menjitak kepala Shifkha yang cengengesan meledeknya. “Termasuk juga menyelinap ke kamar anak gadis saya, Nak Sakha?” “Eng … he-he. Tante lihat?” tanya Sakha meringis, mengusap-usap tengkuknya di hadapan Merida yang sudah melotot tajam. “Xella nggak mau diajak ketemu, Tante.” “Ponselnya saya simpan.” Sakha kicep. Bukan menyelesaikan masalah yang ada nambah masalah. Apalagi wajah Pradana menatapnya sangat datar. Tak ada suara yang terucap, tapi Sakha yakin sang ayah sedang menahan malu karena ulahnya. “Abang udah sejauh ini. Berani banget lebih baik langsung dinikahin aja, deh, Bun.” Celetukan Shifkha enteng.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD