Bab 5. Rekayasa Kebohongan

1151 Words
“Dia pikir siapa menjadikan gue supir pribadi,” dengus Sakha saat mendapati Xella justru tertidur dengan menghadap jendela mobil. Bukan, bukan karena tidak tega membangunkan tidurnya, hanya saja Sakha terlalu malas membangunkan. Padahal tinggal sentuh saja lengannya biar bangun, tapi dia malas. Jadinya dia juga ikutan bersandar di kursi dengan kedua tangan bersedekap d**a. Bola matanya tertutup rapat. Tidak memedulikan barangkali ibunya menunggu di butik. Setengah jam kemudian mata Xella mengerjap. Awalnya dia bingung karena mendapati dirinya tidur di mobil, tapi begitu tersadar barulah dia tenang. “Pegel banget,” desis Xella merentangkan tangannya. Menoleh kaget mendapati Sakha tidur di sebelahnya. “Lo kalem kalau merem doang.” Dering ponsel miliknya berbunyi. Tak mau mengganggu si pemilik mobil buru-buru diangkat. Deretan nomor asing membuat kening Xella mengernyit bingung. “Gue angkat aja kali, ya, siapa tahu kenal terus ganti nomor.” Monolog gadis itu. “Hallo—” “Syukurlah kamu angkat teleponnya, Xella.” Seseorang di seberang sana menyerobot. “Jadi, kalian ada di mana sekarang?” Xella terdiam karena masih kaget sebab seseorang di seberang sana adalah Merida, pasalnya dari mana Merida mengetahui nomornya. Ah, pastinya sangat mudah bagi Merida. “Sayang, Xella? Hallo,” panggil Merida karena tidak ada tanggapan. “Oh itu ….” “Kamu sama Sakha, ‘kan? Bunda mau ngomong sama Sakha sebentar.” “Sakha tidur,” cicit Xella tidak enak, saat menoleh ke samping memang benar adanya bahwa Sakha masih tidur. “Tidur? Kalian ke hotel? Atau di apartemen? Astaga, Ayah!” Xella menepuk jidatnya. Dia masih mendengar suara grasak-grusuk di seberang sana, suara Merida juga. Jadi begini rasanya salah paham. Bikin pusing. “Eungh ….” Xella langsung menoleh dengan cepat. Matanya siap membunuh Sakha yang mengerjap-ngerjapkan kelopak mata dengan raut bingung. “Ngapain lo ngeliatin gue sampai segitunya.” Sinis Sakha dengan mata memicing. Bukan menjawab malah hela napas panjang banget sampai membuat Sakha keheranan dibuatnya. “Apa, sih?” tanya laki-laki itu seraya mengangkat lengan, kepalanya mengangguk-angguk. “Yuk, turun. Bunda pasti udah ngomel-ngomel karena kita telat.” Lagaknya seperti orang pacaran saja. Xella mendengus. “Lo kenapa, sih?” “Bunda lo udah telepon gue,” beritahu Xella. “Oh, baguslah.” Apa itu katanya, kenapa santai sekali ditengah Xella pusing dibuatnya begini. Selain ikut keluar tidak mungkin juga Xella menunggu di dalam mobil. Jadinya dia ikutan turun. Tidak seperti pas pertama datang dia ditinggal oleh Sakha, sekarang ditunggui bahkan tangannya digenggam membuat Xella tersentak dibuatnya. Saat berusaha melepaskan nyatanya susah karena pegangan laki-laki itu erat sekali. Sampai masuk ke butik tangan keduanya saling bertautan. Mereka menghadap Merida yang kebetulan di lantai dasar, tangan wanita itu berkacak pinggang mendapati anak dan calon menantunya. Muka bantal keduanya membuat Merida memicing kesal. “Tidur di mana? Bunda cariin hotel dekat sini nggak ada nama kalian. Tidur di mana kalian?” Lebih tepatnya jengkel kepada anaknya sendiri karena setiap yang diperbuat Sakha pasti akan menimbulkan masalah. Sudah paham sekali. “Bunda kenapa langsung marah-marah, sih. Kita tidur di mobil, ngapain juga ke hotel. Walaupun hotel punya ayah Sakha nggak akan gunakan untuk hal nggak benar, Bunda.” Merida lega. “Beneran nggak ke hotel, Sayang?” tanyanya merujuk kepada Xella yang diam memperhatikan. Tiba-tiba saja tangan kanan Xella yang bebas ditarik oleh Merida, ditarik bahunya dengan kepala bersandar. Hidungnya mengendus dengan mata menjelajah leher gadis di pelukannya. Melihat perlakuan sang ibu sontak membuat bola mata Sakha berputar jengah. “Masih saja nggak percaya.” “Bunda menolak percaya sama kamu, tapi kalau sama Xella Bunda percaya seratus persen.” Persetan dengan itu Sakha langsung pergi ke lobi, duduk tidak berniat masuk. Malah meluruskan kakinya karena masih merasa mengantuk. Dia membiarkan Xella dibawa pergi oleh Merida. *** Setelah dipaksa membawa kebaya berlengan pendek dengan bawahan jarit modern yang sudah jadi seperti rok. Kini Xella dipulangkan oleh Sakha. Namun, yang tidak Xella duga mobil familiar seseorang ada di depan rumahnya. Segera saja Xella langsung turun diikuti oleh Sakha yang membawakan tote bag pemberian Merida. Sakha tak banyak bertanya, dia cukup menyimak saja. Berdiri di depan pintu. “Mama,” panggil Xella langsung berdiri di dekat ibunya. Jika dilihat dengan keadaan dua orang tuanya pertanda Pandora datang lalu tidak lama setelahnya tinggal dia yang datang. “Kamu nggak bilang kalau motornya mogok, La. Mama khawatir,” kata Marina menatap anak semata wayangnya dengan raut wajah sendu. Lalu tatapannya jatuh pada sosok Sakha yang berdiri gagah di depan pintu. Karena hal itulah Pandora mengikuti arah tatapan mantan istrinya. Sadar diperhatikan oleh dua orang dewasa Sakha pun masuk, meletakkan paper bag di atas sofa, lantas menyalami Marina dengan sopan. Namun, tidak berlaku untuk Pandora. “Sore, Tante.” “Sore,” jawab Marina. Melemparkan tatapannya kepada sang anak. “Siapa, Nak?” Xella diam saja dengan kepala menunduk. “Calon suaminya Xella, Tante.” Dua perempuan berbeda generasi sama-sama mendelik. Tidak percaya dengan pengakuan Sakha, sedangkan Pandora diam-diam menyunggingkan senyum. “A-apa maksud ucapannya, Xella? Pacar kamu? Sejak kapan, kenapa nggak kasih tahu Mama.” “Lebih baik kita bicara sambil duduk, Marina,” sela Pandora yang dituruti oleh mantan istrinya. Sakha duduk di sebelah Pandora sedangkan Xella duduk di sebelah Marina yang sedari tadi menunggu jawaban darinya. “Ma,” panggil Xella dengan mata berkaca-kaca. Marina masih menunggu. Tiga pasang mata sama-sama menunggu apa yang akan dikatakan oleh Xella. “Kalau aku nikah muda apa Mama izinkan?” “Kamu hamil, La?” “Enggak, Ma. Aku masih virgin,” bantah Xella dengan tegas, kepalanya menggeleng ribut. Boro-boro hamil, kissing saja sudah membuatnya menyesal seumur hidup. Kepala Xella makin menunduk, malu dengan pengakuannya. Saat dia mendongak malah ngeri karena seringai laki-laki yang duduk tepat di depannya. “Alasan kamu menikah kalau nggak hamil apa, dong? Jangan bikin Mama khawatir, La.” Benar, dia juga tidak tahu alasan menikah karena apa. Setidaknya di depan orang tua alasannya apa. Nggak mungkin juga mengatakan yang sejujurnya, ‘kan?! “Tante, saya minta maaf karena saya membuat kita berdua terjebak dalam masalah.” Selaan Sakha membasahi bibir bawahnya gugup. “Kalian dapat masalah apa? Kenapa Xella tidak pernah cerita sama Mama, Nak. Kamu ada masalah di kampus apa ini berkaitan sama kamu yang berangkat pagi buta. Ayo kasih tahu Mama.” “Mampus,” batin Xella. “Mungkin Xella malu karena kita kepergok berbuat m***m di toilet.” Hening. Ucapan Sakha yang begitu enteng membungkam semuanya. Tapi dari tatapan lirikan kedua orang tuanya membuat gadis yang kembali menunduk makin meremas roknya. “Kedatangan saya ke sini mengantar Xella pulang sekaligus memberitahu nanti malam akan datang kembali bersama orang tua saya, Tante.” “Ekhem, Nak Sakha,” sela Pandora. Dia merasa tidak dianggap di sini. “Apa tidak sebaiknya kalian tunangan saja dulu. Menikah dengan status mahasiswa tidaklah mudah.” “Saya mengambil keputusan menikahi Xella bukan tanpa alasan. Saya tidak bisa menjamin kalau setelah kejadian itu Xella tidak hamil. Kita melakukannya dengan menggebu-gebu.” “H-hamil?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD