Bab 4. Nggak Ada Kesempatan

1109 Words
Bukan cuma mata Xella yang melotot, tapi tangannya hendak terulur menampar pipi Sakha andai saja pergerakan gadis itu tak terbaca oleh Sakha. “Sayang, kamu mau nemenin aku sarapan di kantin nggak?” Rasanya Xella mual mendengar panggilan mesra dari laki-laki yang tidak semestinya. Dia berusaha menahan kakinya supaya tarikan Sakha tidak berpindah posisi. Namun, sialnya dia salah lawan karena saat ini …. “KYAAA! Turunin gue, Sakha!” Teriakan Xella disahuti pekikan tak percaya dari orang-orang yang melihatnya. Bukan salah Sakha karena gadis itu terus saja membantah dirinya. Jangan dikira Sakha akan melepaskannya karena tujuan dia menjemput Xella udah terencana. “Lo diam lo aman.” Gumaman laki-laki itu menepuk pelan p****t Xella. Xella langsung bungkam dibuatnya. Sakha nggak mungkin diam tanpa ancaman. Daripada malu karena wajahnya terpampang nyata di koridor menuju kantin dia memilih menyembunyikan di d**a bidang laki-laki itu. d**a bidang yang sudah terlapisi hoodie hitam, padahal waktu di mobil masih mengenakan lengan pendek. “Lo mau pesan sesuatu?” tanya Sakha membuat mata Xella memicing curiga karena kebaikan laki-laki itu. “Nggak, gue udah sarapan,” jawab gadis itu melengos. Masih digendong oleh Sakha. “Turunin gue, udah sampai di kantin.” Tidak mengindahkan bisikan Xella yang terlalu kecil. Masih dengan menggendong membawa Xella menuju ke stand penjual nasi goreng. “Satu, jangan pedas, nggak pakai toping selain telur. Jus buah naga satu sama cola satu.” “Ada lagi, Mas?” tanya penjualnya begitu mencatat pesanan Sakha. Padahal bisa saja melambaikan tangan sedang pembeli cukup duduk diam. Kurang kerjaan sekali si Sakha ini. Seakan sengaja pamer ke penghuni kantin. “Sementara itu saja. Oh, ya, nasi goreng jumbo, Mbak,” ralat Sakha, berbalik badan tanpa menunggu jawaban si penjual. Kembali ke meja andalannya yang berada di tengah-tengah. Karena posisi itulah jadi pusat perhatian semua yang ada di kantin, apalagi dengan posisi menggendong Xella. Dengan gosip yang sedang hangat-hangatnya. “Sakha sialan,” umpat Xella ketika bokongnya menyentuh bangku panjang cukup keras sampai terasa ngilu karena tidak berperasaan sekali. “Gue nggak asal bawa lo. Nanti malam kami akan ke rumah lo.” Xella tersedak ludahnya sendiri. “Ngapain?” tanya gadis itu berbisik, badannya condong ke depan. Tanpa skenario malah Sakha ikutan maju sehingga wajah keduanya berdekatan. Kecupan didapati kedua kali di tempat yang sama pula, kening. Xella ingin marah, panas sekali ubun-ubunnya. “Ish,” dengus gadis itu. Kepalanya mundur. "Nggak usah aneh-aneh, Ka. Lupakan saja masalah itu, gue nggak masalah walaupun di sini gue yang rugi karena lo." Mengambil jeda sejenak untuk menghela napas. "Jangan diperpanjang, Sakha." Wajah memelas Xella sama sekali tidak mengusik pendirian Sakha. "Karena itulah gue berniat bertanggung jawab. Kurang baik apalagi coba." "Nama baik gue udah tercoreng karena ulah lo Sakha, tapi gue nggak mau mikirin nama baik. Tolong, udahan aja, ya." "Udah basah kenapa nggak sekalian nyebur aja." Celetukan Sakha dengan cuek. Rasanya ngomong sama Sakha tidak akan membuahkan hasil apa pun. Xella memijat keningnya perlahan. Rasanya lelah sekali menghadapi Sakha. Masalahnya, dia nggak enak. Juga ada seseorang yang dia sukai secara diam-diam. Atau lebih tepatnya mereka yang sama-sama tak sanggup membawa status ini lebih spesial. Sekedar melihat penampakan dari jarak jauh sudah cukup bagi Xella. "Malah bengong!" "Hah?" Xella gelagapan. "Jujur gue bingung, pusing sama rencana lo. Yakin mah ini ada rencana yang nggak gue ketahui. Sekarang gini aja, deh, kasih tahu gue rencana lo apa sampai melibatkan orang lain begini. Lo paham sama kata 'Merugikan', 'kan?!" "Buka mulut," perintah tegas Sakha. "Dih! Lo nggak usah sok asik, deh." Xella galak, dia menolak disaat Sakha menyodorkan nasi goreng, menyuapinya. "Nggak usah drama di depan orang-orang, Sakha." "Okay, gini." Sakha pasrah, sendok diletakkan di atas piring. "Lo yang rugi karena first kiss diambil sama gue. Nama baik lo sebagai mahasiswi beasiswa tercoreng. Seorang Argaxella Fermonica Kuncoro tidak bisa menjaga nama baiknya sendiri. Hem? Lo yakin? Menurut lo saja deh setelah ini mereka akan membicarakan lo. Bicara yang buruk-buruk, anggapan lo menggoda gue atau sejenis penghangat ranjang gue maybe ... sangat mudah gue manipulasi." Sial! Kedua tangan Xella terkepal erat di atas pangkuan. Ingin sekali melarang memberikan bogeman mentah, tetapi Xella menahannya. Jangan sampai semakin menjadi bualan anak-anak kampus, apalagi Sakha mengetahui identitasnya. Xella tak dapat melawan fakta yang ada. Sakha tentu dengan begitu mudahnya mengetahui asal-usul dirinya di tengah dia sedang menyembunyikan marganya. "Lo berengsek, Sakha." "Gue tahu. Makanya nurut sama gue. Jangan sampai marga lo berhasil gue bongkar. Lo tentu nggak mau—" "Fine!" sentak Xella memotong ucapan Sakha. "Good, dari tadi kek. Sekarang makan, nanti sore setelah kelas lo selesai hubungi gue. Gue perlu ketemu sama nyokap lo. Atau perlu ketemu sama bokap lo juga?" *** “Bagaimana caranya lo berurusan sama Sakha. Badboy kampus, Xella. Lo nggak salah, ‘kan?” “Lo bisa diam dulu nggak? Gue lagi pusing banget loh. Gue yakin ada yang sedang direncanakan sama Sakha. Tapi masalahnya bukan itu.” “Permisi,” ujar seseorang yang menggendong tas ransel di punggungnya. Tas yang Xella yakini berisi laptop. Xella dan Lovina saling pandang. Keduanya menatap kehadiran Sathir yang terlihat serius. “Gue tinggal dulu, deh, ada urusan setelah ini.” Kelas memang sudah selesai, bodohnya Xella tak menuruti perintah Sakha, dia justru mendatangi gazebo di belakang kampus dengan mengajak Lovina. Belum selesai curhat malah sosok Sathir datang tanpa diduga. “Gue boleh duduk, ‘kan?” tanya Sathir karena tidak dipersilakan oleh Xella. “Oh? Sorry, silakan duduk.” Inisiatif Xella memberi jarak, lebih mentok ke sisi. Keduanya saling diam karena Xella sendiri pun bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Sebab Sathir yang menemuinya. “Sorry kalau ganggu waktu lo,” ucapnya seperti merasa tidak enak. “Gue lagi santai, kok.” Xella bingung mau jawab apa sebenarnya. “Oh? Baguslah.” Ada jeda sejenak. “Lo beneran mau nikah sama abang gue, La?” “Seperti yang lo dengar kabarnya.” Kepala Xella menoleh untuk pertama kali semenjak Sathir datang. Keduanya saling tatap dengan isian kepala masing-masing. “Jadi, nggak ada kesempatan buat gue, ya?” gumam Sathir merujuk pada dirinya sendiri. “Gue nunggu sampai lumutan malah berduaan sama adek gue.” Sontak dua kepala langsung menoleh terkejut. “Nggak sengaja lihat Xella di sini terus gue samperin, Bang. Ada yang salah?” Sakha mendengus tidak suka. Mengabaikan kehadiran dan penjelasan adiknya dia menarik pergelangan tangan Xella. Pergi begitu saja walau berulang kali Xella mencoba melepaskan tautan tangannya. “Lo apa-apaan, sih! Nggak sopan asal narik gitu aja.” “Lo suka sama calon adik ipar?” sinis Sakha. “Lo ngomong apaan, sih. Nggak jelas banget.” Menyentak tangan Sakha yang memegang pergelangannya, lantas berjalan dan berdiri seraya bersedekap d**a di depan mobil Sakha yang terkunci.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD